Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 6 raja tidak bisa berkata apa-apa


__ADS_3

Setelah di tarik dan di bawa ke depan sebuah gubuk kosong di pinggir hutan terdekat, Naria melepaskan tangan simo, kemudian berseru dengan gembira, “kita sudah sampai!”


Simo mengangguk.


Tiba-tiba gubuk itu meledak seperti ada bom di dalamnya. Serpihan-serpihannya melayang entah ke mana. Dua orang wanita berdiri tegap di dalam ledakan. Mereka tersenyum menyeringai. Keduanya masing-masing membawa dua pedang panjang dan rambut di ikat satu. Mereka memiliki Tubuh yang bagus dan langsing. Masing-masing dari mereka berpakaian indah, sesuai dengan tubuh mereka. Keduanya mempunyai rambut pendek dan tidak terlalu cantik


Simo mengangguk pelan seolah mengiyakan sesuatu.


“Simo, kita sudah sampai...” Naria di depan simo tersenyum tipis setelah mengatakannya.


Simo mengangguk lagi.


“Apa kau tidak terkejut?” melihat ekspresi simo yang datar, membuat Naria bingung dan penuh tanda tanya.


“Tidak.” Simo menghela nafas seolah sebelumnya dia bekerja keras. “kalian sudah muncul di sini, aku ingin bertanya, di mana Naria?”


“Oh, jadi kau sudah mengetahuinya?” Naria palsu tersenyum. Tidak ada jejak keterkejutan di wajahnya, sepertinya dia sudah menduganya dari awal.


Simo mengangguk dan menatap dingin ke arah mereka. Ketika dia mengeluarkan pedangnya dan bersiap bertarung, dia bertanya, “aku tanya sekali lagi, di mana Naria?”


“jika kami tidak menjawabnya, apa yang akan kau lakukan dengan kami?” Naria palsu tersenyum tipis.


“Aku tidak punya pilihan lain. Kalian semua harus mati!” Ketika simo berkata seperti itu, aura merah, putih dan hitam keluar dari bilah pedangnya, membawa tekanan yang kuat kepada tiga gadis itu. Dia tidak main-main dengan ucapannya. Naria adalah kekasihnya, dia tidak akan pernah membuatnya terluka ataupun hilang sekali lagi. Jika nyawanya sebagai bayarannya, dia tidak akan mempedulikannya.


Ketiga gadis itu terkejut setelah merasakan tekanan simo. Mereka diam seribu bahasa ketika melihat kekuatan simo.


“K-kekuatan apa ini!?” salah satu gadis tidak bisa menahan keheranan dan keterkejutannya. Dia tidak pernah mendengar kekuatan seperti ini dan anak muda seperti simo yang memiliki kekuatan sekuat ini.


Otomatis, setelah merasakan tekanan seperti ini, tiga gadis itu menjadi waspada. Naria palsu mengubah tampilannya, dan bergabung dengan yang lainnya. Sebuah pedang panjang sama dengan rekannya muncul di tangannya. Dia adalah gadis cantik dan memakai gaun indah.


“Kita harus melaksanakan perintah! Dia adalah ancaman bagi kerajaan! kita harus berjuang hingga titik penghabisan!”


“semuanya ikut aku!” gadis yang baru mengubah tampilannya melesat mengarah simo.


Dia langsung mengayunkan pedangnya tanpa rasa takut sedikit pun.


Simo menangkisnya dengan mudah. Dia dapat melihat kedua mata gadis di depannya penuh dengan tekad, sebuah kehendak yang sangat kuat.


“apa yang kau maksud dengan demi kerajaan?” simo menjadi penasaran dengan apa yang di maksud gadis di depannya.


“kau tidak perlu mengetahuinya!”


Gadis itu kemudian melompat ke atas. Di udara, dia berputar indah dan melakukan gerakan pedang yang sangat cepat. Pedangnya seolah terlihat tiga, kadang-kadang empat, atau lima.

__ADS_1


Meski kecepatannya tinggi, itu bukan apa-apa bagi simo, dia dapat dengan mudah menangkis semua serangannya.


“Ardia! Kami akan membantu!” dua gadis berseru secara bersamaan dan mulai menyerang simo dari berbagai arah.


Simo yang sudah berpengalaman dan menggunakan aura pedangnya tampak tidak kesulitan untuk meladeni tiga gadis itu. Tetapi, sebenarnya dia mengeluarkan sedikit usaha untuk melakukannya. Tiga gadis itu menyerang sangat bervariasi, kadang-kadang tiba-tiba muncul di depan, di belakang atau di samping. Mereka sulit di tebak.


Kemampuan pedang mereka juga tidak bisa di pandang remeh. Mereka sangat cepat dan bertenaga. Dari gerakan yang di keluarkan, mereka sudah setara dengan master.


Namun, mereka tentu saja kalah dari simo yang menggunakan aura pedangnya. Lambat laun tiga gadis itu mundur dengan kelelahan.


Simo tidak memanfaatkan itu, dia langsung bertanya di mana Naria dan apa maksudnya demi kerajaan. Di dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah memang benar, raja mengirim mereka untuk membunuhnya. Dan jika iya, dia ingin meminta penjelasan.


“Kami tidak akan memberitahunya!” pekik Ardia selaku pemimpin mereka.


“Sepertinya aku tidak harus berbelas kasihan dengan kalian!”


Simo mengambil ancang-ancang, kemudian melesat seperti peluru. Dalam sekejap mata, dia sudah berada di depan salah satu dari gadis itu.


“Mati!” simo mengayunkan pedangnya ke samping dengan kecepatan tinggi. Sangat tinggi, sehingga membuat gadis itu tidak menyadari gerakannya, tahu-tahu dia sudah terpental dan menabrak batang pohon.


Mulutnya keluar seteguk darah, pohon yang di hantam, remuk. Gadis itu bisa merasakan tulang punggungnya hancur berkeping-keping. Dia kemudian tergeletak di tanah dan tidak sadarkan diri. Darah keluar dari mulutnya.


Ardia dan satunya lagi terkejut dan tidak akan pernah menyangka kecepatan simo sangat cepat, mereka tidak menyadari pergerakannya sama sekali. Itu sangat cepat!


“Tidak mungkin, kami akan–”


Ketika gadis yang satunya lagi hendak berkata, Ardia menghentikannya. Dia menghela nafas sebelum berkata, “Kami akan menjelaskannya.”


...****************...


Rina, Delisa dan Chan di bawa ke hadapan raja. Mereka masuki ruangan aula yang megah. Dekorasi kain tersebar di sudut-sudut ruangan. Beberapa ukiran dinding terpajang.


Raja duduk di singgasana. Dia menatap tajam ke arah mereka bertiga. Dua orang besar memberikan hormat.


“Yang mulia, kami telah membawa mereka bertiga.”


Raja mengangguk dan menyuruh mereka pergi.


“Aku ingin bertanya beberapa hal kepada kalian. Setiap jawaban kalian, akan menentukan nasib kalian ke depannya,” Tanya raja dengan serius setelah dua pria berotot pergi.


Chan memandang gemetar kepada raja. Dia tidak pernah melakukan kriminal, tetapi mengapa dia bisa terlibat dalam hal seperti ini. Dia menjadi takut, jika dia telah melakukan kesalahan tanpa sengaja, dan itu akan membuat nyawanya terancam.


Rina hanya bisa diam saja. Dia tidak mempunyai informasi dan sebab apa pun.

__ADS_1


Tetapi, Delisa mengangkat wajahnya tinggi-tinggi, memandang tepat ke arah kedua mata raja. Dia menganggap dirinya tinggi dan dia tidak akan merendahkan diri jika dia tidak bersalah.


Raja sedikit terkejut dengan tatapan itu, itu adalah tatapan elang yang sangat tajam, tetapi dia tidak memperlihatkan keterkejutannya.


“Kalian beri aku hormat.”


Rina dan Chan ingin segera memberi hormat, tetapi Delisa tiba-tiba berseru, “Kami tidak akan melakukan itu! Jika kau ingin diberi penghormatan, maka perintahkan saja semua rakyat dan bawahanmu. Kami bukan rakyatmu ataupun bawahanmu, untuk apa kami melakukan itu! Wahai raja yang agung, kami akan memberi hormat bagi siapa saja yang anggap kami layak untuk mendapatkannya.”


Delisa memang sombong. Dia benar-benar mendapatkan pengaruh dari ibunya.


“Lancang!” seru raja tanpa sadar menepuk sisi singgasana.


Dua penjaga yang ada di dalam ruang hendak menendang punggung mereka bertiga, tetapi tiba-tiba mereka di kejutkan dengan api ungu yang muncul mengitari Delisa dan yang lainnya.


Melihat keadaan semakin memanas, Chan menjadi lebih takut.


Raja memandang tajam ke arah mereka bertiga, kemudian menghela nafas. Seorang raja tidak boleh bersikap tergesa-gesa.


“panggil dua orang bayaran.” Perintah raja kepada dua orang penjaganya.


Sebelum para prajurit itu pergi, Delisa berseru, “Kami tidak akan melawan!” ketika dia berkata seperti itu, api yang mengelilinginya hilang seketika.


Salah satu prajurit yang diperintahkan memandang raja. Raja mengangguk mengisyaratkan untuk kembali ke tempatnya.


Dua penjaga mengangguk, kemudian kembali ke tempatnya.


Raja kembali memandang tajam ke arah Delisa. Yang membuatnya kagum, Delisa tidak menurunkan ekspresinya.


“Dari mana kalian berasal?”


“Untuk apa yang mulia menanyakannya?” Delisa bertanya dengan nada keras.


“Cepat jawab saja.”


“tidak.”


“Aku bilang jawab.”


“Tidak.”


“Aku sekali lagi bertanya, ayo jawab! Mengapa kau melawan, kau tadi berkata tidak melawan. Jika kau tidak menjawabnya sekarang, aku akan memanggil mereka berdua lagi.”


“aku sudah menjawab tidak! Aku tidak melawan semua perintahmu, Mengapa kau ingin memanggil mereka berdua lagi? Di sini aku yang bodoh atau anda yang mulia?”

__ADS_1


Yang mulia raja tidak bisa berkata-kata lagi.


__ADS_2