
Namila mengajak simo ke luar rumah, saat tiba di luar, Namila melepaskan tangan simo. “aku ingin berbelanja, bisa kau temani aku hari ini?”
“Sekarang?” simo sedikit terkejut mendengar itu. Pasalnya, hari sudah malam, dan juga pasar sudah tutup, jadi sangat mustahil untuk berbelanja sekarang.
“Jika....kau tidak mau, baiklah.” Kata namila menunduk seraya memainkan jari-jarinya.
“Bisa kita pergi besok?”
“bisa, tapi ada syaratnya, apa kau mau?”
Simo mengangguk.
“baiklah, kita pergi besok saja.”
Keesokan harinya, Namila pagi-pagi sekali datang mengunjungi simo, gadis itu berpakaian merah muda dengan beberapa hiasan, rambutnya yang hitam bercahaya membuatnya tampak bersinar, apalagi ditambah dengan parasnya yang cantik, dia bagaikan bunga sakura yang baru mekar yang dapat memikat orang-orang dengan harumnya saja.
Pintu Perlahan-lahan terbuka, memperlihatkan sosok simo yang masih menguap. Dia sebenarnya sangat kelelahan, apalagi, jika sebelumnya bertarung dan kehabisan energi alam dan fisiknya. Jika bukan karena namila, dia pasti akan memilih tidur hari ini, apalagi jika besok mulainya ujian pertarungan tahap dua.
Dia seharusnya beristirahat di rumah, tapi meski begitu, simo sudah memiliki beberapa cara untuk mengatasinya, jika dia belum pulih besok. Saat melihat Namila berdiri di depannya dengan paras yang sangat cantik, simo memandang lama dan terbengong oleh kecantikannya. Apalagi namila kini tersenyum manis.
“Apakah aku sudah can...tik?” tanya Namila malu-malu. Dia kedua pipinya memerah. Ini sungguh aneh! Gadis ini terlalu berubah dengan cepat.
Apakah ini mungkin karena dia teralu khawatir dengan hubungannya di antara simo setelah melihat anulika, atau mungkin ini disebabkan karena dia sangat ingin pergi bersama simo sebagai hadiah untuknya setelah berhasil melewati maut? Hanya dia yang tahu.
“C-cantik,” simo menjawab dengan masih terbengong.
“sudah ayo kita pergi.” Namila berlari menghampiri simo dan menarik tangannya, membuat simo terkejut.
Waktu yang mereka habiskan tidak lebih setengah hari dari mulai mereka pergi ke pasar. Mereka membeli beberapa makanan dan minum. Makanan yang Namila beli tidak lain, kue yang diinginkannya kemarin.
Jika Namila senang dengan kuenya, maka simo sedih dengan dompetnya. Padahal dia sudah menduganya, tapi ternyata itu tidak cukup membuat namila puas.
“Simo, ayo ke sini.” Panggil namila riang. Namila berada tidak jauh dari simo, dia sedang melihat-lihat gelang.
Di sana ada beberapa gelang giok yang berwarna-warni. Selain itu, gelang emas juga ada, dan sisanya beberapa gelang jenis lainnya, tapi juga indah.
“apakah ini indah?” Tanya namila seraya memperlihatkan gelang ungu di tangannya.
“Indah,” jawab simo sedatar yang dia bisa. Hal itu dia sengaja lakukan, karena gelang itu terlihat sangat mahal, bisa jadi akan menguras uang di kantongnya yang masih tersisa sedikit.
“Kenapa kau berbicara seperti itu?” namila cemberut dan kesal melihat simo seperti itu, padahal gelang di tangannya sangat indah.
“yo, nona akhirnya kita bertemu lagi.” Suara pemuda tidak jauh dari simo dan namila.
Seorang pemuda datang dengan pakaian mewahnya, dia tidak lain pemuda yang kemarin. Di belakannya ada beberapa orang pengikut. Yang paling mencolok adalah seseorang gagah dengan kumisnya yang panjang dan wajah sangar.
Di punggungnya ada dua pedang besar menyilang.
“Kau lagi?” Tanya namila seraya mengerutkan keningnya. Dia tidak suka dengan pemuda di depannya, yang selalu menggunakan ketampanan dan gelar kebangsawanan untuk menarik Wanita.
“Kau sangat cantik sekarang nona, aku sungguh terkesan denganmu hari ini. Bisakah kau berkunjung ke rumahku sebentar, aku ingin mengenalmu lebih dalam.”
__ADS_1
“Tidak perlu, kau bisa mengenalku sekarang. Namaku Namila,” jawab namila acuh tak acuh.
Mendengar itu, pria itu marah, Tapi dia tidak memperlihatkanya. Dia memilih tersenyum dan menahannya. Dia kemudian memandang simo yang tidak jauh berada.
Ekspresi meremehkan terlihat di wajahnya. Melihat simo berpakaian biasa-biasa saja, hal itu membuatnya diduga orang rendahan.
Simo biasa-biasa saja dilihat seperti itu dan lagi pula tidak ada hubungannya dengannya. Baginya, apa salahnya menilai orang dari tampilannya, meski itu tidak akurat. Dia juga senang melihat pemuda ini datang. Simo berharap dia akan membelikan namila gelang itu.
Atau setidaknya menahannya untuk membelinya. Walaupun itu seharusnya dia yang membelikannya, tapi kini uangnya tidak cukup. Asalkan tidak macam-macam, simo tidak akan melakukan tindakan apapun.
Melihat simo seperti biasa, membuat pemuda itu kecewa. Dia kemudian beralih menoleh Namila yang cuek dengannya. Meski demikian, pemuda ini sangat tertarik dengan gadis di depannya, apalagi memiliki kecantikan seperti dewi.
“nona, salam kenal, namaku Tristan, anak dari Jendra theo. Merupakan suatu kehormatan, jika nona berkunjung ke rumahku.” Tristan memberi hormat.
“Jika aku tidak mau, bagaimana?”
“ah, tidak apa-apa nona, itu hakmu.”
“Baiklah, aku menolaknya.”
“Simo, ayo.” Namila menarik tangan simo, dia ingin secepatnya pergi dari Tristan, orang yang telah mengacaukan harinya.
“Tunggu nona.”
“Apa lagi?” Tanya namila marah.
“Apa kau akan pergi dengan memakai gelang itu, tanpa membayarnya?”
Mendengar ucapan namila, simo kini menjadi khawatir jika dirinya akan dimintai uang. Jika itu sampai terjadi, maka dia tidak akan memiliki muka dan pasti di ejek habis-habisan.
Namun ternyata tidak, namila langsung menanyakan berapa harga gelang di tangannya itu. Setelah itu mengeluarkan beberapa koin emas, lalu menyerahkannya.
“Terima kasih nona.” Ucap pedagang itu yang dijawab anggukan oleh namila.
“yo, apa ini? Kau sebagai laki-lakinya tidak mampu membelikannya sebuah gelang, ini sungguh memalukan, hahaha.”
“jika aku jadi dirinya, maka aku tidak akan pernah mendekati Wanita seperti itu,” bawahannya menambahkannya.
“Sungguh sayang, jika wanita seperti itu, dilayani dengan buruk.” Yang lainya menambahkan.
“nona, kau sungguh tidak beruntung memiliki pemuda kumuh seperti itu.” Ucap Tristan
“Aku tidak mempedulikannya, memangnya siapa kalian, beraninya menghina dirinya? Simo ayo.”
Saat hendak pergi, bawahan Trista tidak membiarkannya, mereka menghalangi Setiap akses keluar.
Melihat ini, pedagang itu merasa khawatir jika ada perkelahian di tempatnya. Oleh karena itu, dia mengamankan barang dagangannya.
Ekspresi tajam terlihat di wajah Namila, kini dia sedang marah dan kesal. “aku ingin pergi! Berikan jalan.”
“Jangan terburu-buru nona, hari masih panjang.”
__ADS_1
“apa kalian ingin menghalangiku?”
“Tidak, tidak, tidak, untuk apa aku harus melakukan hal itu? aku hanya ingin menghabiskan waktu sebentar bersamamu.”
Melihat situasi semakin rumit, simo menghentikan namila berbicara dan menyuruhnya berada di belakangnya.
Walau pun namila enggan, dia tetap mematuhi simo.
“Maaf atas ketidak sopanannya.”
Mendengar ucapan simo, namila bingung mengapa simo berkata seperti itu.
Tristan juga sama seperti namila, dia pikir simo akan berusaha untuk pergi dan menantangnya bertarung, tapi ternyata tidak. Meski begitu, keinginan Tristan akan lebih mudah untuk mendekati namila dan mengusir simo tanpa usaha sedikit pun.
“tidak apa, tidak apa. Aku akan memaafkannya, asalkan kau....harus pergi dan jangan pernah bertemu dengannya lagi. Bagaimana?”
“Kau!” ujar namila marah. Jika bukan simo menghalanginya, dia pasti akan memukulnya atau melemparkannya sepatu.
Amarahnya sedikit meningkat setelah melihat ekspresi wajah Tristan, tapi setelah beberapa saat, namila sadar ada beberapa orang kuat di bawa Tristan.
‘berani bermain keroyokan saja’ geram Namila seraya mengepalkan tangannya erat-erat. Dia ingin sekali memukulnya, tapi dia harus beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
Setelah menyadari namila tidak berusaha maju, simo melanjutkan, “aku bisa melakukannya, tapi aku adalah bawahannya dan orang tuanya ingin aku menjaganya.”
“ternyata kau seorang pelayan!?” Tristan terkejut menyadari itu, dia pikir sebelumnya simo adalah pacarnya.
Namun, Tristan tidak mudah percaya, setelah mengingat-ingat Namila menggandeng tangannya, layaknya seperti sepasang kekasih, membuatnya curiga.
“Lalu mengapa majikanmu mau memegang tanganmu seperti sepasang kekasih?”
“itu karena agar terlihat lebih dekat, dan supaya orang-orang menganggap kami begitu.”
“Mengapa seperti itu?”
“karena selalu ada yang mengganggunya, oleh karena itu aku di perintahkan seperti itu.”
Tristan diam sejenak, berpikir, kemudian mengangguk. “baiklah. Sekarang kau pergi dan berhenti menjadi pelayan, biarkan aku yang menggantikan tempatmu.”
Mendengar itu, namila sangat marah, dia mulai bergerak, tapi lagi-lagi simo menghalanginya.
Namila diam dari tadi, karena dia memikirkan mengapa simo berbohong, tapi setelah beberapa saat berpikir, dia menyadari mereka sama-sama kelelahan dan harus beristirahat.
Menunggu orang-orang lalu lalang, untuk menunggu bantuan, adalah cara yang tepat untuk dilakukan Sekarang, tapi masalahnya seberapa lama kebohongan ini akan bertahan.
“Maaf, untuk itu, aku tidak bisa melakukannya tuan, anda harus membicarakan ini kepada orang tuanya.”
“Orang tuanya? Mereka pasti akan menerimanya, siapa yang tidak akan menerima diriku ini.” Katanya sombong.
“tapi tuan....”
“minggir!” Tristan menggeser simo dengan kasar.
__ADS_1