
Di dalam kegelapan malam yang indah, Diana berdiri di tengah-tengah jembatan dengan ekspresi marah. Dia marah, karena di permalukan oleh pemuda, dan gadis, yang bahkan tidak setengah dari umurnya itu. Dia sesekali mencengkeram kayu jembatan, sebagai penyaluran emosinya yang memuncak kala mengingatnya.
Namun ingatan-ingatan tentang seorang pemuda, dan gadis yang mempermalukannya tidak henti-hentinya mengusiknya. Dia tidak menyangka harinya akan sejelek itu, padahal sesuai ramalan bintang, dia akan mendapatkan sesuatu yang berharga. Tentu saja ramalan pasti tidak selalu benar, dan tidak dapat di percaya seratus persen.
Dia menghela nafas, “aku pasti akan Membalasnya!” Diana bergumam.
“Apa kau ingin bergabung denganku?” suara seorang gadis terdengar tidak jauh darinya. Suaranya sedikit berat.
“Siapa kau!?” Ujar Diana melihat sesosok bayangan dari kegelapan malam yang berada di ujung jembatan.
Perlahan-lahan, dengan pasti, sosok itu memperlihatkan tubuhnya. Dia adalah Lucia, gadis siren yang dekat dengan Karla. “apa kau ingin bergabung denganku?”
“maksudmu apa!?”
“aku ingin membunuh pemuda itu.” Jawab Lucia, yang tidak lain adalah simo.
“Heh! Bagaimana aku percaya kepada seseorang sepertimu!? Seorang yang dekat dengan Karla dan seperti menyukai pemuda itu.”
Lucia mendekati Diana, dan ikut memandang air biru kolam. “apa kau mau? Aku akan memenuhi semua yang kau inginkan, tapi dengan syarat setelah membunuh pemuda itu. Lagi pula kau juga memiliki dendam dengannya. Pikirkan baik-baik, tawaranku itu”
Mendengar itu, Diana terdiam. Apa yang dikatakan Lucia memang benar, dia dapat membunuh pemuda, dan gadis itu, dan mungkin akan ada hadiah besar menantinya, tetapi ada satu hal yang membuatnya bingung sekaligus keheranan, mengapa Lucia menawarkan sesuatu yang di butuhkannya? di tambah itu sangat menggiurkan.
Pasti ada sesuatu di balik semua itu!
“aku akan menjawabnya besok.”
Lucia tersenyum, kemudian berbalik pergi seraya mengatakan, “ aku akan menunggunya, semoga kau tidak mengecewakanku.”
...****...
“Ayu, apakah kita akan mengikutinya? Setelah apa yang dia berbuat sekarang?” Tanya Andros seraya duduk di atas batu.
“kita lihat saja sampai besok, paman. Jika sampai sore simo tidak melakukan penyerangannya terhadap para siren, kita akan melakukannya dengan cara kita sendiri.” Ayu menarik nafas, kemudian melanjutkan, “ aku pikir semuanya akan selesai, tapi ternyata dia malah berbalik membantu para siren itu. Maafkan aku paman, aku salah mengambil keputusan yang salah.”
“tidak perlu meminta maaf, manusia tidak akan pernah meninggalkan bayangan kesalahan. Anggap saja itu adalah pengalaman berharga, yang akan selalu kau ingat.”
__ADS_1
Ayu mengangguk.
“Baiklah, Paman pergi dulu.”
Ayu mengangguk.
“kenapa kau melakukan itu.” Ayu membatin. Dia tidak menyangka simo, dan namila bisa menerima permintaan siren itu, setelah apa yang telah mereka perbuat terhadap para penduduk desa pasir putih. Seharusnya para siren itu di hukum! Bukan sebaliknya di tolong. Ayu mengira setelah datangnya simo, dan namila semuanya akan selesai, tetapi yang terjadi malah seperti itu.
Keesokan harinya, rapat diadakan lagi. Selama rapat, mereka kembali membicarakan rencana penyerangan, dan memastikan semuanya sudah di persiapkan dengan baik, dengan persentase kemungkinan gagal rendah.
Selama itu juga, Karla memutuskan simo pergi mencari tanaman itu dengan cepat, tetapi simo dengan tegas menolaknya, dengan berkata, “itu bukalah rencana yang terbaik untuk saat ini. Aku akan mencoba kekuatan raksasa itu dulu, dan memastikan seberapa kuat dia.”
Tanaman yang di maksud tanaman teratai biru yang mampu menangkal semua aura jahat dari radius jarak 10 km. Jadi dengan teratai itu, kekuatan jendral raksasa itu akan berkurang karena di serap, dan ditangkal.
Simo lalu bergegas pergi. Keputusan sudah bulat, tapi Karla tidak membiarkannya pergi. Saat simo hendak melewati pintu, tiba-tiba saja pintu itu tertutup rapat-rapat.
“jika kau merasa kuat, aku akan mengujimu. Jika kau bisa mengalahkanku, aku jamin kau boleh pergi memeriksanya sendiri.” Ujar Karla berdiri.
“Karla, tenanglah.” Ucap Lucia melihat wajah Karla yang marah.
“Menarik. Aku juga ingin merasakan seberapa kuat pemimpin siren yang ada dini sini.” Ucap simo berbalik sebelum melanjutkan. “ aku tunggu.”
“Karla tenangkan dirimu. Jangan melawannya, kau tahu kan, itu bisa membuat simo terluka. Dan jika terluka maka dapat di pastikan dia tidak akan bisa pergi memetik tanaman itu.” Kata Lucia.
Mendengar itu, Karla menarik nafas, kemudian duduk. “ah, seperti aku sudah berlebihan, anak muda memang seperti itu. Kenapa aku tidak menanyakan Pendapatnya mengenai rencana yang ada di dalam pikirannya?”
Setelah itu, Karla datang menemui simo di jembatan, dia langsung menanyakan apakah ada rencana yang terpendam di dalam pikiran simo, sehingga membuatnya memiliki tekad seperti itu.
“ada, tapi aku tidak akan menyampaikannya sekarang, sebelum di antara kita ada yang kalah, dan menang. Aku ingin, jika aku menang, aku akan memimpin, dan menetapkan rencana penyerangan. Jika aku kalah, maka kaulah yang melakukan.”
Mendengar itu, Karla lalu menatap simo. Dia ingin melihat apakah simo memang ingin sekali melawannya, atau cuma ingin mengujinya. Tidak sesuai yang dia harapkan, simo ternyata ingin sekali melawannya.
Sementara itu, Diana dan Lucia terlihat takut, tapi di dalam hati, mereka berdua tertawa bahagia. Tentu saja dengan pertarungan ini akan melemahkan kekuatan simo dan Karla sebelum jendral raksasa datang.
Sebelumnya, Lucia sudah mengirimkan pesan kepada Jendral raksasa. Dan Tidak sesuai perkiraannya, setelah membaca Surat itu, ternyata Jenderal raksasa akan pergi ke sana segera, dan mungkin akan tiba di sore hari.
__ADS_1
Selain itu, namila terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya, dia seperti sudah mengetahuinya.
Mengenai ayu, dan Andros, mereka berdua tidak terlihat di sana, tetapi karena saking tegangnya, mereka terlupakan begitu saja.
Beberapa Siren lainya juga ada, mereka tampak bersemangat, dan sangat menantikan pertarungan ini. Bagaimana tidak, seorang pemuda akan bertarung dengan pemimpin mereka, yang bahkan 10 orang dari mereka tidak bisa mengalahkannya. Ini adalah petarung yang sangat langka.
Selain rasa bersemangat, di dalam hati mereka berpikir anak muda yang akan bertarung hanya terbawa emosi saja.
Wuss!
Simo melesat setelah membanting pedangnya yang di perban. Saat berlari, angin yang kencang berembus. Selain karena teknik yang dia pelajari, itu juga karena tubuhnya membelah angin.
Bagaikan melesat seperti peluru dengan kecepatan kedipan mata, itu sungguh membuat para siren kagum sekaligus heran. Bagaimana bisa seseorang semuda itu memiliki kecepatan di atas rata-rata.
“perkiraanku tidak meleset.” Karla membatin seraya tersenyum, kemudian melesat.
Saat simo sudah dekat dengan Karla, Secara mendadak Karla melompati simo, tapi simo tidak terkejut sedikit pun, dia dengan erat memegang pedangnya, dan memutar ke belakang.
Teng! Wusss
Akhirnya dua senjata bersentuhan, dan menimbulkan gelombang angin yang mampu membuat beberapa siren kehilangan keseimbangannya.
Pedang simo mengenai senjata yang aneh! Senjata itu seperti biola, tapi memiliki senar yang lebih banyak, bisa dibilang itu biola dengan senar tambahkan.
Petak!
Salah satu senar biola itu terputus, tetapi tidak ada rasa senang di wajah simo. Sebaliknya, Karla tersenyum, lalu mengatakan, “pertarungan sebenarnya, sudah di mulai.”
Senar yang putus itu bergerak, dengan cepat menyerang simo. Itu membuatnya terkejut, serangan itu di luar perkiraannya. Simo memutuskan untuk melompat ke belakang. Namun senar-senar itu, memanjang, dan berusaha menyerang simo, tetapi selalu gagal.
Beberapa detik senar-senar itu berusaha menyerang simo, hingga membuatnya mengeluarkan bola api, dan menghancurkannya dalam sekejap mata.
Api biru itu membuat semua orang terkejut kecuali Namila. Sepanjang hidup mereka tidak pernah melihat api berwarna biru seperti itu. Mereka tahu ada manusia yang memiliki kemampuan mengendalikan Elemen, tapi tidak ada api biru seperti itu!
Tanpa memperdulikannya, simo melesat menyerang Karla dengan berbagai ayunan, dan teknik.
__ADS_1
Dia melakukannya dengan sangat cepat, seperti melebihi kecepatan cahaya!
Sebagai pemimpin siren, Karla tentu sulit di kalahkan. Walaupun kecepatan simo sudah cukup membuatnya kagum, dia masih bisa menahannya.