
Setelah sadar dari keterkejutannya, Lais meraih tombaknya, dia berputar hendak melempar tombaknya sekali lagi akan tetapi seseorang menghentikannya.
“ivander.” Ujar lais lalu menghilangkan tombaknya seketika setelah melihat ivander di depannya.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya ivander seraya mengerutkan keningnya.
“Aku hanya ingin mengujinya.” Ucap lais dengan nada yang sedikit sombong.
Ivander menarik nafas panjang. “bukankah itu di larang. Aku bisa melaporkanmu ke pada wali kelas.”
“j-jangan. Aku mohon.” Ucap lais seraya memohon. Wajahnya terlihat ingin belas kasihan. Walaupun dia ingin sekali memeras jauzan, tapi jika di laporkan ke wali kelasnya, dia bisa di hukum habis-habisan, karena itu merupakan aturan yang sangat tidak boleh di langgar. Apalagi jika dia ingin bertarung melawan ivander, jelas dia akan kalah, karena ivander lebih kuat darinya.
Alasan lais memeras jauzan, karena dia adalah siswa baru, jadi memerasnya tidak akan ada masalah, tetapi kejadiannya berbanding terbalik dengan di harapkan.
“Pergi dari dini.” Ujar ivander.
Lais mengangguk lemas. Meski sekarang dia tidak mendapatkan rampasan, itu lebih baik ketimbang harus di laporkan. Walaupun ivander tidak mengatakanya secara gamblang, lais masih mengerti. Lais lalu mengisyaratkan kepada tiga temannya untuk pergi dari sana.
Setelah empat orang itu pergi, ivander menghampiri jauzan. “apa kau tidak apa-apa?” Tanya. Walaupun jauzan terlihat, tidak apa-apa, ivander tetap menanyakannya, sebab dia ingin berusaha bertindak baik. Apalagi sekarang ada simo yang mengawasinya dari jauh.
“Tenang saja, aku tidak apa-apa. Kau pergilah sekarang, aku ingin menghukum orang itu.” Ucap jauzan. Nadanya terasa sedikit marah.
“Aku mengerti.” Jawab ivander, lalu pergi.
“Keluarlah.” Ujar jauzan setelah ivander pergi.
Perlahan-perlahan simo mendekat. Setelah beberapa lama berpikir, dia mengetahui, jika jauzan menyembunyikan kekuatannya, dia juga mengingat kembali pedang air yang di arahkannya saat kemarin. “apa kau tidak apa-apa?”
“Baru sekarang kau bertanya begitu. Aku ingin tahu alasannya, kenapa kau hanya menonton. Apa kau lupa dengan janjimu kepada kakakku!?”
“tidak. Aku kira empat orang itu adalah temanmu, jadi aku memutuskan untuk diam.”
“lalu setelah mengetahui jika mereka bukan temanku, kenapa kau hanya diam saja?”
“karena aku ingin bertindak di saat yang tepat dan juga sepertinya kau mampu melawannya.” Jawab simo apa adanya.
“aku akan melaporkannya.”
“j-jangan, aku akan menuruti perintahmu apa pun itu.” Ujar simo dengan cepat. Ekspresi ketakutan terlihat di wajahnya.
“Baiklah. Asalkan kau dapat memetik bunga di balik air terjun itu.” Syarat jauzan seraya menunjuk ke arah air terjun.
“bunga? Apa kau suka bunga atau ingin menembak seseorang?”
Jauza tidak menjawab, tapi dia memperhatikan wajah memerahnya, yang seketika simo mengerti.
__ADS_1
“Baiklah, tapi bukankah kau dengan mudah bisa mencapainya.”
Mendengar itu, jauzan terdiam sejenak, lalu berkata, “karena aku terlalu baik menghukummu dengan cara seperti itu. Apa kau ingin hukuman yang berat?”
“T-tidak.” Jawab simo sedikit takut. Meski dia bisa melawan jauzan, dia tidak akan melawannya, sebab dia ingin sekali belajar sihir. Apalagi sekarang dia sangat bersemangat untuk mempelajarinya. Melawan bukankah keputusan yang baik.
“kalau begitu ayo.” Ujar jauzan lalu menarik tangan simo, kemudian berlari menuju depan air terjun.
Saat tiba di depan air terjun, Jauzan mengarahkan tangannya ke depan. Segera air yang jatuh berubah menjadi pusaran yang membesar dan akhirnya terlihat gua yang berada di balik air terjun.
Gua itu di penuhi lumut-lumut hijau dan bunga-bunga putih di langit-langitnya. Saat melihatnya, simo dapat merasakan wewangian yang segar dari bunga-bunga itu. Selain itu, dia juga sedikit terkejut setelah melihat ada tempat tersembunyi di taman belakang akademi yang indah.
“Apakah kau ingin bunga itu?” Tanya simo setelah masuk ke dalam.
“bukan, aku ingin bunga yang berada di dalam sana.” Jawab jauzan seraya menunjuk ke arah dalam gua. Ekspresi wajah sangat bergembira saat menunjukkan, rasa-rasanya dia seperti seorang perempuan!
“Bukankah bunga itu juga indah?”
“Kau itu memang ingin memetikanku atau tidak?” jauzan memperlihatkan ekspresi curiga kepada simo. Kedua matanya dia fokuskan kepadanya.
“tentu saja, tapi jika ada yang lebih mudah, kenapa di persulit.” Jawab simo tenang, seperti tidak terpengaruh oleh tatapan jauzan.
“dasar kau itu, jika bunganya sama dengan itu, untuk apa aku harus menyuruhmu dan memetiknya. Ayo nanti keburu habis waktunya.” Jauzan menarik tangan simo yang membuatnya seketika harus mengikuti jauzan.
Mereka mulai menjelajahi ke dalam. Tidak beberapa lama mereka melihat kunang-kunang yang berjejer di langit-langit gua. Mereka. Seperti ribuan bintang-bintang di langit. Simo tidak bisa menahan kekagumannya, saat melihat itu. Sedangkan jauzan terlihat berbinar-binar dan kagum melihatnya.
“Aku ingin bunga itu.” Tunjukan jauzan ke arah bunga biru itu. Ekspresi wajahnya sangat bergembira dan senang.
“Bunga apa itu?” tanya simo. Dia sangat heran dengan bunga biru yang bercahaya itu. Sepanjang hidupnya, baru kali ini dia melihat bunga yang melayang seperti itu. Apalagi bercahaya dan besar.
“jangan banyak bertanya. Cepat ambilkan untukku, dan jangan sampai rusak sedikit pun. Kau tahu kan apa yang terjadi jika rusak?”
Simo mengangguk lalu melesat. Saat tangannya hendak meraih bunga itu, tiba-tiba saja, bunga itu melayang menjauh, seperti tahu ingin di tangkap.
Simo terkejut, lalu dengan refleks melompat ke atas dahan pohon, kemudian berusaha menangkapnya akan tetapi lagi-lagi bunga itu menghindar.
“Tangkap sampai dapat ya!” Ujar jauzan seraya tersenyum melihat simo.
Simo mengangguk, lalu mempercepat gerakannya menggunakan lauthing linght. Meski simo menggunakan teknik itu, dia masih saja tidak bisa menangkap bunga itu. Oleh karena itu dia terus berusaha mengambilnya beberapa kali, walaupun sulit untuk mendapatkannya.
Sementara itu, jauzan yang duduk, hanya bisa melihat kilatan-kilatan cahaya yang terus memantul dan tersenyum manis.
Tidak beberapa lama, akhirnya simo berhasil mendapatkannya. Saat tangannya menyentuh bunga itu, tangannya terasa dingin, seperti membeku dan menjalar ke tubuh simo yang membuatnya berteriak keras lalu tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Jauzan lalu melesat menangkap tubuh simo.
“ternyata apa yang dikatakan kakek memang benar.” Gumam jauzan seraya turun dan melihat tanda yang aneh yang bercahaya di dahi simo.
...*****...
Sementara itu, di sebuah aula yang mewah dan megah dengan karpet merah panjang menjulur ke luar terlihat Amelia sedang berdiri menghadap seorang yang duduk di singgasana, orang itu memakai pakaian yang mewah dan berkilau, namun wajahnya tidak terlalu kelihatan, karena pencahayaan yang kurang.
Orang itu adalah galen yang merupakan kaisar gunung salju sekarang. Tidak banyak yang tahu tentangnya, begitu saat dirinya naik takhta. Semua warga mengetahuinya saat dia sudah naik takhta dan berorasi saat hari peringatan kekaisaran gunung salju yang selalu di adakan setiap tahun. Meski begitu semua warga menerimanya, walaupun terasa aneh. Apa lagi keberadaan kaisar terdahulu belum di ketahui.
Di samping kanan dan kiri Amelia ada 6 orang yang masing-masing memakai topeng yang menutupi semua wajah mereka.
“apa kau sudah menemukan kelinciku?” tanya galen. Nadanya berat, sedikit penekanan dan ancaman. Kelinci yang galen maksud adalah kenzo dan ivander yang membuatnya takut jika aktivitasnya diketahui oleh warganya.
Amelia mengangguk. “iya, yang mulia, hamba sudah menemukannya, dan ada berita baik untuk anda selain itu.” Lapor Amelia dengan nada hormat.
“Apa itu, cepat katakan.” Galen terlihat bersemangat.
“Hamba sudah menemukan pangeran.”
Semua orang terkejut dan begitu pun galen.
“pangeran? Keponakanku?” Galen memastikannya.
“Iya yang mulia, hamba melihat dia sehat dan tubuh dengan baik.”
“Baguslah kalau begitu, kau tangkap dia dan kelinciku. Pastikan semuanya berjalan baik. Ingat jangan sampai para warga tahu.”
“Baik yang mulia.” Amelia hendak berbalik, tetapi, seseorang menghentikannya.
“Tunggu!” salah satu orang bertopeng melangkah maju.
“Atas dasar apa kau melihat pangeran, rani?” nadanya serak, yang menyatakan, dia sudah tua. Orang itu lalu membuka topengnya, kemudian memperlihatkan wajah tuanya yang di hiasi kumis panjang dan rambut putih. Orang itu merupakan orang yang bertarung melawan toru. Dia merupakan Jenderal kekaisaran gunung salju yang bernama theo.
Alasan, dia memanggil Amelia dengan nama Rani adalah Amelia sebenarnya adalah rani yang menyusup ke akademi. Rani menggunakan semacam teknik untuk mengelabui orang-orang di akademi.
“Aku tidak salah, memang benar, jika orang itu memang pangeran. Jika tuan tidak mempercayainya, anda bisa melihatnya sendiri.” Ucap Amelia dengan wajah sedikit kesal, karena di ragukan.
Mendengar itu, theo tertawa, kemudian berkata, “aku hanya mengujimu, Kenapa kau harus kesal. Mungkinkah karena kau terlalu lama berada di akademi Yang menyebabkanmu kembali menjadi seperti anak kecil?” ucapnya seraya memandang tajam ke arah Amelia.
“tidak ada hubungannya dengan akademi, dan jangan kait-kaitkan dengan akademi, karena sebentar lagi aku akan pergi dari sana.” Ucap Amelia lalu pergi dari sana tanpa mempedulikan reaksi theo.
...*****...
mohon maaf jika ada yang salah.
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya biar author semangat nulisnya ya.