Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 12 gadis yang seperti Dewi perang


__ADS_3

Saat simo duduk di samping gadis itu, bau harum yang mengharumkan dan nyaman masuk ke lubang hidungnya. Meski jaraknya 1 meter dari gadis itu, dia dapat merasakan rasa nyaman yang tidak pernah dia rasakan selama hidupnya. Walaupun kakeknya memberikannya segudang kasih sayang, itu belum dapat memberikan rasa nyaman yang dia rasakan sekarang.


“Apa kau masih mengingatku?” tanya gadis itu yang masih memandang senja. Dari nadanya jelas sekali dia memiliki sikap yang lembut, tenang dan menyegarkan, seperti ada tumbuhan-tumbuhan segar yang mengitarinya.


Simo mengangkat kepalanya ke atas seraya melihat dedaunan dan bunga-bunga bermekaran. Dia memikirkan, apakah dia mengenal gadis itu atau tidak.


Tidak beberapa lama, dia menurunkan wajahnya dengan kesal lalu berkata, “aku tidak mengenal mu. Mungkin karena aku hanya melihat mu sekilas saja. Jadi tidak mengingatnya.”


Mendengar jawaban yang keluar dari mulut simo, gadis itu tetap memandang senja yang semakin turun. “sudah aku duga.” Dia lalu menoleh. “ namaku namila, apakah kau mengenalnya?”


Simo diam sejenak lalu menggelengkan kepalnya pelan.


“mustahil! Bagaimana kau bisa melupakannya!?” ujar namila yang seketika membuat simo tersentak kaget. Dia tidak menyangka gadis yang tadinya lembut seketika mengeluarkan suara yang keras.


“Maaf.” Kata namila dengan nada lemah, merasa sedikit bersalah ketika melihat simo terkejut.


“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut saja, kau tidak perlu sampai minta maaf seperti itu.” Jawab simo seraya berharap rasa bersalah di wajah gadis itu menghilang. Jujur saja baginya itu sangat buruk untuk di pandang.


“dari mana kau tahu jika aku ke sini?” tanya simo yang penasaran.


“tentu saja, karena aku mengawasimu setiap hari. Bahkan saat kehidupan mu di hutan sampai ke kota ini aku tahu. jangan tanya bagaimana, karena aku ingin menghukum orang yang telah menyakiti pohon ini dulu.” Jawab namila dengan nada cerita, seolah rasa bersalah di wajahnya tadi menghilang lalu di gantikan dengan wajah marah seraya mengusap-ngusap kulit kayu pohon sakura yang tergores akibat ulah simo.


Mendengar itu, simo lagi-lagi terkejut, tapi kali ini keterkejutan dia sembunyikan dengan baik. “kenapa kau ingin menghukumnya?” simo berusaha seolah-olah tidak tahu siapa orang yang menggores pohon sakura itu.


“kau bertanya mengapa? Lihatlah pohon ini, betapa indahnya saat berbunga, betapa romantisnya saat ada sepasang kekasih memadu kasih di bawahnya. Apa kau sudah tidak waras atau karena selalu berlatih pedang di sini? Membuatmu bertanya mengapa?” ujar namila dengan nada tinggi, yang langsung menusuk hati simo dan membuatnya terkejut ke tiga kalinya.


“oh, aku tahu jika kau kan yang melakukannya.”


“ah, sudah malam, aku pulang...” ucap simo berusaha mengelak seraya memandang ke kota.


“jangan mengelak, aku tahu kau melakukan semua ini. sudah aku bilang kan, aku mengetahui semua kehidupan mu, jadi jangan coba-coba untuk kabur!” namila dengan cepat berdiri menyambar tangan simo.


“T-tapi sudah malam, aku harus pergi sekarang.” Ucap simo ragu-ragu. Dia ingin sekali menghindar namila setelah mengetahui sikapnya yang bisa berubah-ubah. Apalagi namila yang sepertinya bukan orang bisa.


Namila menghela nafas panjang. “kau sudah lebih pandai untuk mengelak ya.” Namila kembali duduk.


“Maksud mu?” simo bertanya, karena dia tidak mengerti apa yang namila katakan. Bahkan sedikit pun tidak ada ingatan tentang namila. Yang dia tahu, hanya merasa familiar dengan namila , tapi di mana.


“kau dulunya tidak padai mengelak. Apalagi setelah melihat tatapan ku yang dulu.” Namila tertawa. “tapi sekarang seperti aku sudah banyak berubah ya.” Namila merapikan poninya.

__ADS_1


“Aku tidak mengerti.” Simo kembali duduk.


“Ah, sudah aku duga, kau memang lupa denganku. Apalagi dengan gadis pemarah sepertiku kan?”


“tidak.” Jawab simo dengan singkat.


“lalu Mengapa kau berusaha menghindari ku?” tanya namila menoleh dan sedikit mengangkat kepalanya. Dari wajahnya jelas sekali dia memiliki rasa penasaran yang tinggi.


“s-sebenarnya aku yang memang melakukan itu, tapi aku tidak bisa mengembalikannya. Oleh karena itu, aku harus pergi.” Ucap simo ragu-ragu, karena tidak mau melihat perubahan sikap namila yang mendadak.


“aku bisa menyembuhkannya.” Namila lagi-lagi menoleh.


“maksudmu?” tanya simo kebingungan.


“lihat ini.” Namila menyentuh salah satu titik yang tergores lalu menyalurkan energi berwarna hijau dalam beberapa detik, goresan itu menghilang. “lihat. Aku bisa melakukannya.” Kata namila setelah mengangkat telapak tangan dan memperlihatkan hasilnya kepada simo.


Simo mengerutkan keningnya. Dia heran bagaimana bisa kulit pohon itu bisa sembuh dalam beberapa detik saja. Apalagi dia tidak merasakan tanda-tanda adanya energi yang di keluarkan oleh namila. “bagaimana kau bisa melakukannya?”


“dengan sihir.” Jawab namila ringan.


“Sihir?”


“Bisakah kau mengajariku?” tanya simo. Meski dia adalah ahli pedang, dia juga memerlukan sihir itu untuk menyembuhkan tumbuhnya.


“apa kau tahu apa saja kegunaannya?”


“pasti untuk menyembuhkan semua luka kan?” Jawab simo tanpa keraguan sedikit pun.


“Ya, kau benar, tapi aku punya syarat untuk itu. Apa kau bisa menerimanya?”


“katakan saja, mungkin aku bisa.” Jawab simo tanpa keraguan. Baginya sihir itu sangat berguna.


“pertama kau tidak boleh melukai pohon ini lagi. Kedua kau harus melindungi andiku di sekolah dan ketiga kau harus berlatih denganku setia hari.”


Simo diam sementara sebelum akhirnya mengangguk. “siapa adikmu?”


“orang yang menolongmu.” Jawab namila singkat lalu menyembuhkan semua goresan yang ada di pohon sakura itu.


Simo diam sejenak memikirkannya. Tidak beberapa lama wajah jauzan terbayang-bayang dalam pikirannya lalu menjawab, “baiklah.”

__ADS_1


Akhirnya namila berhasil menyembuhkan semua goresan yang ada di pohon sakura itu, yang membuatnya tampak lebih indah.


“kapan kau bisa berlatih denganku?” tanya Namila.


“Sekarang aku juga bisa melakukannya.”


“Baiklah, hati-hati ya.” Namila melompat ke belakang dengan berputar di udara, membuat simo sedikit terkesima.


Setelah sadar dari terkesimanya, Simo mengeluarkan pedangnya.


Namila perlahan-lahan melayang seraya sedikit merentangkan kedua tangannya, kemudian perlahan-lahan menutup matanya.


Buih-buih embun perlahan beterbangan mengitari namila, seperti menari-nari di tubuhnya. Mengitari pinggang, kedua lengannya.


Simo tidak bisa menahan kekagumannya saat melihat fenomena itu. Apalagi sekarang adalah bulan purnama, sehingga itu tanpa lebih indah.


Setelah menari-nari, akhirnya buih-buih itu membentuk beberapa pedang besar yang melingkar seperti matahari pedang air dan formasi pedang, yang melayang di belakang namila.


Saat ini, namila terlihat seperti dewi yang sangat cantik dan menebarkan pesonanya, yang siapa saja akan kagum dan memuji-mujinya. Selain itu dia juga seperti perang yang sangat mengerikan.


Saat melihat pedang air itu, simo dapat merasakan dia pernah melihatnya, tapi dia tidak tahu di mana.


“apa kau siapa?” tanya namila dengan tenang setelah membuka matanya perlahan-lahan.


Simo mengangguk lalu melesat setelah menendang tanah.


Matahari pedang itu berputar lalu beberapa pedang melesat menuju simo.


Sebelum mencapai simo, dia dengan cepat memindahkan pedangnya ke depan untuk mengantisipasi serangan Namila.


Trangkk!!


Simo berhasil, tapi dia di dorong oleh pedang itu beberapa meter dari tempat berdiri sebelumnya.


Pedang yang lain mengarah menuju simo dengan refleks dia melompat beberapa meter lagi ke belakang, tapi pedang-pedang itu lagi-lagi menyerangnya, sehingga simo memutuskan untuk menyerang pedang itu dan berusaha menghancurkannya.


Pertarungan simo tidak berlangsung lama, karena dia menyadari pedang yang terbuat dari air itu bukan pedang yang hanya terbuat dari air saja, tapi itu sudah seperti pedang sungguhan yang memiliki daya tahan dan kekuatan yang tinggi.


Oleh karena itu, simo berusaha menghindarinya dan mencari-cari cara untuk menangkap pedang itu.

__ADS_1


__ADS_2