Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 3 penginapan


__ADS_3

Perjalanannya lancar. Mereka tidak memiliki kesulitan sama sekali dalam perjalanan. Ketika mereka lapar, mereka bisa makan bekal yang telah di persiapkan; ketika mereka ingin mandi, mereka dapat menemukan aliran sungai jernih di dekat jalan.


Dengan adanya mata air, mereka terlihat segar sepanjang perjalanan. Ini adalah suatu keunggulan saat melakukan perjalanan menuju kerajaan timur. Ya! Kerajaan tempat rumah Naria berada. Kerajaannya tidak terlalu besar. Tetapi, tetap membutuhkan beberapa hari untuk mencapainya, tentu saja karena kerajaan radia memiliki luas yang lumayan besar dari tiga negara yang berada di daerah barat.


Yang paling besar, tentunya tidak lain adalah kekaisaran gunung salju. Luas wilayahnya membentang ke barat yang sangat luas.


Mereka akan singgah beberapa jam ketika menemukan tempat-tempat yang indah, atau yang menarik hati mereka. Tidak hanya itu, mereka akan tetap singgah di tempat-tempat biasa untuk beristirahat, atau hanya sekedar makan di sana. Menikmati makanan yang belum pernah di cicipi rasanya akan sangat menyenangkan.


Sepanjang perjalanan, simo tidak banyak berbicara. Dia memikirkan bagaimana caranya untuk melewati daerah tengah dengan aman.


Naria yang menyadarinya, langsung memberikan solusi. Tetapi, tidak banyak membantu.


Yang lainnya sangat menikmati petualangan ini, terutama Rina. Gadis itu sangat suka petualangan. Dia sangat ceria dan bergembira seolah sedang berada di surga. Delisa, meski dia tidak memperlihatkannya, semua orang tahu, dia sangat menikmati petualangan ini.


Kecuali Andra, dia sepanjang perjalanan tidak banyak berbicara, bahkan sangat sedikit berbicara. Waktunya banyak di penuhi dengan renungan. Tidak tahu apa isi Kepalanya. Dia juga kadang-kadang terlihat menggertak gigi. Mungkin dia sangat marah dan kesal telah di kalahkan simo. Setelahnya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


Berhari-hari melakukan perjalanan, akhirnya mereka tiba di gerbang kerajaan timur. Saat itu sudah sore hari. Mereka memutuskan untuk mencari penginapan. Tidak butuh waktu lama untuk mencarinya. Tempat yang mereka datangi adalah tempat yang ramai dan banyak bangunan-bangunan penduduk. Itu adalah kota yang tidak terlalu besar.


Ketika mereka tiba di penginapan, Andra terlihat senang dan gembira. Dia berseru, “A-aku akan pergi lebih aw– B-bukan, maksudku, aku akan pulang. Ada pesan mendadak dari ibuku, aku harus pergi sekarang. Maafkan aku semuanya, aku harus pergi sekarang. Ini situasi yang mendesak.” Ketika dia berkata, ekspresinya mendadak gelisah. Mendadak gelisah seperti ini, sangat mencurigakan.


Naria memandang tajam ke arahnya. “Apakah kau serius?”


“T-tentu saja. Lagi pula kau sudah aman, dan tidak memerlukanku lagi. Aku lebih baik pergi saja, dari pada di sini, bukan?”


Naria menghela nafas. “baiklah.”


“Pergilah jauh-jauh pangeran! Anda hanya beban di sini!” seru Rina sambil tersenyum.


Andra marah, tetapi dia tidak membalas, dan hanya mendengus. Dia lalu berlari menjauh.


Delisa, Rina dan Chan langsung masuk ke dalam penginapan, sementara Naria dan simo masih berada di luar.


“Apakah kau tidak mencurigainya?” Naria memulai.


“Biarkan saja. Kita harus fokus pada tujuan kita.”


“Tetapi... Jika dia bertindak membahayakan bagaimana?”


“Kita akan mengatasinya.”


“kau tenang saja. Aku akan berusaha mencegahnya. Dia tidak mungkin akan diam saja setelah semua yang terjadi.”

__ADS_1


“Naria, apakah kau sungguh tidak akan mengunjungi orang tuamu?” tanya simo tiba-tiba


Naria sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia diam sejenak. “Jangan bertanya tentang itu lagi, aku tidak mau mendengarnya. Ayo kita masuk.”


Naria memegang tangan simo kemudian membawanya masuk.


Simo tidak lanjut bertanya, dia mengerti apa yang di rasakan Naria. Dia hanya menurutinya saja. Simo merasa bersalah menanyakannya.


Setelah melakukan pemesanan, mereka di arahkan ke kamar masing-masing. Penginapan mengambil harga lebih mahal dari sebelumnya, melihat mereka semua terlihat bukan orang sembarangan. Tetapi tidak ada yang protes karena pegawai itu menawarkan layanan yang lebih baik dari pada orang lainnya. Mereka sangat senang mendengarnya. Dengan begitu, mereka dapat menikmati malam dengan nyaman dan tenang.


Simo keluar setelah makan. Dia duduk di bawah pohon dekat penginapan. Orang-orang kota terlihat lalu lalang di jalanan. Semakin lama simo duduk memandangnya, semakin sedikit orang-orang lalu lalang. Lampu-lampu pun satu persatu padam.


Simo menikmati waktu santainya. Dia merasa lebih tenang setelah duduk beberapa menit. Meski pun melakukan perjalanan hanya duduk saja, dia merasa lelah dan tidak nyaman, terlebih lagi ini adalah pertama kalinya dia melakukan perjalanan jauh dengan kereta kuda.


“Apa kau lelah?”


Melihat simo duduk sendirian, dan menatap ke satu arah, membuat Naria ingin menghiburnya. Meski dia juga kelelahan, dia harus memastikan kekasihnya baik-baik saja. Kebiasaan ini memang membebani, tetapi dia tidak merasa seperti itu. Ketika dia melihat kekasihnya baik-baik saja, dia merasa sangat bahagia.


Sebelum simo menjawabnya, Naria duduk di sampingnya. Gadis itu kemudian memegang tangannya.


“Di luar dingin, kau tidak merasakannya?”


Simo menggelengkan kepalanya. “Aku merasa lebih tenang setelah duduk seperti ini.”


“Belum, tapi saat itu tiba, aku pastikan akan memilikinya.”


“Tidak perlu memaksakan diri melakukannya. Aku masih ada, dan yang lainnya juga. Jika kau merasa tidak bisa, aku dan yang lainnya akan membantu. Tidak perlu melakukannya sendiri. Tugas ini milik kita bersama, Jangan ragu mengungkapkannya.”


“Ini tidak seperti biasanya.”


Naria terkejut. Dia menggenggam tangan simo lebih erat. “yang seperti apa yang kau inginkan!?”


Simo terkejut merasakan genggaman Naria, tetapi dia berusaha tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Dia sedikit menyesal menggodanya.


“Tidak, tidak ada, hanya seperti biasa.” Simo menjadi takut.


Naria menghela nafas. “Aku terlalu keras ya?”


“Tidak.”


“Aku terlalu lembut ya?”

__ADS_1


“Tidak juga.”


“Lalu apa yang kau inginkan!?” Naria mendengus kesal. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Maaf, jika itu membuatmu tersinggung.”


“Tidak. Hanya kesal saja.”


“Aku akan mendengarkanmu.”


“Kau memang seharusnya seperti itu. Sudah cukup kau membuatku khawatir. Nanti, saat kita berada di pandang pasir, kau harus mengungkapkan semua rencanamu. Aku tidak mau lagi kerepotan demi dirimu. Jika nanti kau mati akibat tidak mengungkapkan risikonya, aku akan mencarimu di surga atau di neraka, memberikanmu hukuman berat.”


Ekspresi simo takut. “itu terlalu seram.”


Naria tertawa renyah. Dia lalu tersenyum lembut. Perlahan-lahan menggenggam erat tangan simo. Tubuhnya perlahan-lahan bersandar di bahu simo.


“Malam ini terasa indah. Aku belum pernah mengalaminya.”


“Kau akan selalu mengalaminya.”


“Malam ini tidak seperti biasanya. Alangkah indahnya malam ini. Tidak ada hujan, ataupun awan menutupi langit. Hanya ada angin sepoi-sepoi.”


“Jika nanti, terjadi apa-apa terhadapku... Kau harus melindungiku.”


“Tentu saja. Aku tidak akan melakukan kecerobohan lagi.”


“Aku percaya.”


...****************...


“kau lihat, apakah kau pernah mengalami hal seperti itu?” tanya Delisa ketika menatap simo dan namila. Dia ingin sekali merasakan hal seperti itu. Rasa penasaran membuatnya tidak tahu malu mencari seorang pria muda di penginapan ini.


“Aku sama sepertimu.”


“Apa maksudmu? Apakah kau tidak pernah mengalaminya?” Delisa mengerutkan kening. Pria di depannya yang dia pilih salah satu pria tampan, mustahil jika dia tidak pernah merasakannya.


Pria itu tidak menjawab, sebaliknya bertanya, “jika kau penasaran kenapa kau tidak Tanyakan saja kepada mereka berdua dan yang lainnya? Aku bukan orang yang bisa memberikan jawabannya.”


“Aku mempunyai alasan.”


“Kau juga punya alasan untuk menanyakannya.”

__ADS_1


“Kau tidak mengerti.” Delisa menutup jendela.


__ADS_2