Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 5 kepergian


__ADS_3

Di sebuah tempat yang merupakan bagian dari danau, juga merupakan tempat rahasia yang dikabarkan di huni oleh monster yang kuat dan mengerikan. Di tempat itu memiliki pohon yang besar dengan akar-akar yang meliak-liuk seperti ribuan ular dengan kubah dedaunannya yang lebat membuat tempat itu sulit di lalui oleh cahaya matahari, sehingga hanya sebagian kecil cahaya itu berhasil masuk.


Terlihat seorang wanita paru baya sedang duduk di salah satu akar pohon. Wanita itu bersenandung merdu dan sesekali tangannya yang terlihat perawan menyentuh air danau yang jernih. Wanita itu adalah Dira. Meski dia sudah lama berada di sana, wajah, tubuhnya serta pakaian yang dia kenakan selalu bersih dan tentu saja itu ada hubungannya dengan Watariana, si gadis air yang selalu membersihkan dan merawatnya hingga sekarang.


Tidak beberapa lama, dia tersenyum lalu berkata, “ Watariani, kau tidak perlu mengejutkanku seperti itu lagi. Jika kau ingin sekali membuatku terkejut maka gunakanlah trik yang baru dan belum pernah kau gunakan.”


Dira berbalik. Dalam sekejam mata akar-akar pohon itu bersatu membentuk seorang wanita dengan tubuh yang elok dan elegan.


“ah, aku ketahuan lagi.” Ucap Watariani, si gadis akar.


“makanya, kau gunakan cara yang baru dan lain dari semuanya dengan begitu mungkin saja aku akan terkejut.” Ucap Dira seraya tertawa kecil.


“Kau menertawakanku ya.”


“Tidak, tidak. Mana mungkin aku menertawaimu yang seorang gadis cantik yang penuh dengan keindahan.”


“benar, kau menertawakanku.”


Dira ingin membela dirinya, namun salah satu akar Watariani memeluk pinggangnya lalu melemparkannya ke danau.”


“Benarkan, jika kau tidak menertawaiku, kau tidak mungkin basah oleh air itu.” Ujar Watariani seraya melihat Dira yang basah oleh air danau.


“Riani kau jahat, aku tidak suka denganmu. Lebih baik aku bersama Wara saja.” Dira lalu memanggil watriana beberapa kali hingga akhir dia muncul juga.


“Wara, lihat apa yang telah saudarimu lakukan kepadaku.” Ujar Dira kepada Watariana seperti seorang anak yang mengadu kepada ibunya.


“e....kakak, pelayan mu itu lah yang memulai dulua dengan menertawaiku. Itu bukan salahku.”


“Eh! Ohhh kau ingin melempar kesalahan mu kepadaku ya. Apa kau tidak ingat jika kau ingin mengejutkanku dan karena kau gagal maka sebagai gantinya kau melemparkanku begitu saja ke air. Jika saja aku masih menjadi permaisuri maka nyawamu tidak bisa di ampuni.”


“Tidak, aku tidak salah kau yang salah!” bentak Watariani.


“aku juga tidak salah.”


“tidak kau salah!”

__ADS_1


“Bukan! Kau seharusnya yang salah!”


Perdebatan itu berlangsung dalam beberapa detik yang membuat Watariana bingung dengan siapa yang benar dan siapa yang salah. Maka demi menghentikan itu, Watariana mengambil jalan tengah dengan mengatakan kedua belah pihak benar.


“bagaimana bisa begitu?” jelas-jelas saudarimu yang salah kenapa tidak ada yang salah?” bantah Dira karena merasa dirinya benar yang kemudian di susul oleh bantahan Watariani yang menganggap dirinya benar.


“aduh kalian. Kalian ingin jawaban kan? Maka kalian dengar penjelasanku dengan baik karena aku tidak akan mengulanginya dua kali.”


Watariani dan Dira pun memasang kedua telinga mereka dengan baik. Bahkan serangga yang menghuni di tempat itu senyap seperti mereka mengerti apa yang Watariana perintahkan.


“begini, Dira kau salah karena telah menertawai Watariani.”


Dira ingin membantah, tetapi dia tidak mempunyai kesempatan.


“jangan kau mengelak karena aku mendengarnya dengan jelas dan kau saudariku yang tidak terlalu cantik dan memiliki rambut sekeras akar pohon.”


“Hey! rambutku memang seperti itu!” tungkas Watariani.


“iya, iya. Kau bersalah karena kau ingin mengejutkan Dira dan aku ingatkan jangan pernah diulangi lagi, karena, itu dapat membuat orang serangan jantung. Jika aku pikir-pikir kau lah yang lebih banyak berbuat salah karena telah mengganggu Dira.


“baiklah, ada yang protes lagi?” tanya Watariana yang di jawab gelengan oleh Dira dan Watariani. Setelah itu Watariani menghilang sedangkan Dira hendak ingin mencari makanan, tetapi di hentikan oleh Watariana.


“Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?” Tanya Dira dengan serius seperti wanita paru baya pada umumnya.


“ya, tapi kita lakukan di tempat lain saja.” Saran Watariana yang di jawab anggukan oleh Dira. Mereka memutuskan untuk berbicara di seberang pohon karena tempat itu adalah tempat yang sangat tenang dan nyaman, jadi pastinya akan membuat pembicara akan tenang dan jelas. Dira pergi ke sana dengan menaiki tangan Watariana yang lembut, meski tangan itu terbuat dari air. Itu tidak menghilangkan kelembutan kulit Watariana.


“baiklah, sekarang bisakah kau utarakan maksudmu?” tanya Dira yang sudah duduk di salah satu batang pohon.


“Dira, apa kau sudah tahu beberapa lama kau tinggal di sini?” tanya Watariana yang masih berada di danau.


Mendengar itu, Dira sedikit terkejut karena dia tidak mengetahui hari, bulan bahkan tahun sudah lewat. Yang dia ketahui hanyalah pagi, sore dan siang, itu pun jika hari sedang cerah. Dira menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Sudah aku duga. Kau sebenarnya sudah bebas dari perjanjian kita, bahkan itu sudah lewat beberapa tahun.”


Dira terkejut lalu berdiri dan memperlihatkan ekspresi marah. Dengan tajam dia memandang Watariana. “apa kau sudah gila! Kenapa kau baru mengatakannya? Apa kau ingin aku menjadi pelayan seumur hidupmu!?”

__ADS_1


Mendengar itu, membuat Watariana terdiam. Dia tahu Dira sedang marah dan kemarahannya di sebabkan oleh kelalaiannya karena tidak menghitung hari. Bukan karena dia sengaja, tetapi dia merasa senang dan bahagia saat bersama Dira. Saat bersamanya, dia dan adiknya tidak pernah merasa kesepian. Apalagi Watariani yang selalu membuat hal-hal baru bersama Dira, yang membuatnya senang, karena terlalu senang dia lupa menghitung hari dan tahun.


“Maaf...” hanya kata itu saja yang keluar dari mulut gadis air itu seraya memperlihatkan wajah bersalah.


“baiklah, apakah aku bisa pergi sekarang?”


Watariana mengangguk. “sebelum kau pergi biar Riani yang akan membuatkanmu perahu dan sebagai permintaan maaf aku akan memberikan sebuah ramuan.”


“Untuk apa?” wajah Dira yang sebelumnya marah berubah menjadi penasaran.


“Dengan ramuan itu, kau akan memiliki kekuatan air dan akar-akar yang dapat melilit musuh lalu membunuhnya dalam sekejap mata. Dengan kekuatan itu juga, kau tidak akan kesulitan untuk melindungi putramu dan dirimu sendiri.”


“baiklah, ayo kita pergi.” Ucap Dira yang terlihat lebih tenang. saat hendak berjalan dengan cepat Watariana menghentikannya.


“ada apa lagi?”


“A-Apa kau masih marah?” tanya Watariana ragu-ragu. Bagaimana pun Watariana sudah menganggap Dira sebagai salah satu keluarganya. Menenangkannya adalah salah satu hal yang harus Watariana lakukan. Meski dia memiliki kekuatan yang lebih besar, tetap saja dia tidak berani dengan Dira. Apalagi dia juga tidak pernah melihat Dira semarah itu selama dia bersamanya.


“Sudahlah. Sekarang kita impas. Aku ingin pergi dari sini secepatnya.”


“cepat antar aku.” Ucap dira yang sudah berada di pinggir danau.


Watariana langsung membawa Dira ke seberang dan memanggil Watariani untuk membuatkan sebuah perahu. Saat mendengar itu, Watariani terlihat sedih, terlihat jelas bahwa Watariani tidak ingin Dira pergi.


Dengan berat hati, dia membuatkan sebuah perahu kecil. Sebelum Dira menaikinya, dia mengucapkan selamat tinggal kepada Watariana dan watariana, mereka saling berpelukan dan mengucapkan selamat tinggal.


Setelah itu Dira menaiki perahu dan mendayungnya. Saat beberapa meter, dia melambaikan tangannya yang di balas lambaian dan senyuman Watariani dan Watariana. Meski mereka berdua tidak ikhlas, mereka tetap terlihat senang.


“Aku harap kita bisa bertemu dengannya lagi.” Ucap watariana setelah melihat Dira yang sudah menghilang dari pandangnya.


“Aku juga kakak, aku harap suatu saat nanti bisa bertemu dengannya lagi.”


...*****...


jangan lupa like dan komentar nya biar author semangat nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2