Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 6 tiba di kerajaan radia


__ADS_3

“Kenapa kalian tidak menyerang?” Tanya simo sambil berjalan mendekat. Dia tersenyum menyeringai dan aura haus darah muncul dari dalam tubuhnya. Jika di perhatikan baik-baik, seseorang pasti akan melihat kedua mata simo bercahaya merah dan sepertinya sedang melihat dewa kematian mendekat.


Safia tersenyum melihat ayahnya seperti itu. Gadis ini sangat aneh. Seharusnya dia takut dan bergetar melihatnya, tapi sebaliknya, dia menikmati semua pertarungan yang terjadi. Dia seolah sudah terbiasa dengan semua itu.


Rani dan nayaka mengerutkan kening. Tentu saja mereka penasaran dengan anak muda di depannya yang sangat aneh dan memiliki kekuatan sekuat itu dalam waktu beberapa bulan saja. Itu sangat mustahil dan aneh.


Ekspresi meremehkan dara di gantikan ekspresi pucat dan sedikit takut. Dia tahu di depannya ini adalah monster muda yang sangat ganas. Hari ini dia tahu mengapa dulu tuanya ingin membunuhnya ketika saat melahirkan. Anak di depannya sungguh luar biasa.


“rani, nayaka, apa yang akan kita lakukan?”


walaupun mereka bertiga berada di tingkat alam, mereka tentu saja akan kalah jika berhadapan dengan kelompok simo. Meski aura yang di pancarkan simo sangat kelam, rani, nayaka dan dara tidak kehabisan akal dan pikiran.


“kita hanya bisa mundur. Kita harus berpencar. Cepat!” ketika nayaka menyelesaikan kata-katanya, dia pergi dan di ikuti rani dan dara.


Simo tidak langsung mengejarnya, dia memerintahkan Delisa dan Lasmaya untuk mengejar rani dan dara, sementara dirinya akan mengejar Nayaka.


“Aku akan memperlihatkan bagaimana kekuatanku!” Delisa pergi.


Saat Lasmaya ingin menyusulnya, simo memerintahkannya untuk cepat membunuh Rani, dan langsung membantu Delisa. Baginya, Delisa belum cukup melawan dara.


“baik kak.”


“Safia, apa kau tidak takut berada di sini?”


Safia tersenyum dan mengangguk. “tidak ayah! Aku akan baik-baik saja. Siapapun yang datang menyerangku, aku akan membunuhnya.”


Simo lalu pergi mengejar Nayaka, tapi setelah beberapa puluh meter dari kereta, dia mengeluarkan salah satu siren dan memerintahkannya untuk menjaga Safia. Dia khawatir jika terjadi apa-apa dengannya.


Meski pun kekuatannya akan berkurang, dia tidak perlu risau dengan hal itu lagi. Kekuatannya saat ini lebih banyak dari sebelumnya, jadi bukan apa-apa baginya sekarang.


Setelah melewati beberapa pohon, akhirnya simo menemukan nayaka. Dia langsung melompat dan menebaskan pedang tepat ke arah kepala Nayaka.


Nayaka dengan refleks menahannya dengan pedang dan melompat ke depan, lalu mendarat di tanah.


“anak muda, bakatmu sangat tinggi.” Nayaka mau tidak mau harus memuji simo tapi bukan berarti dia lebih lemah darinya dan akan memilih Kabur. Alasan dia kabur karena jika melawannya secara berkelompok akan sangat sulit.

__ADS_1


Di tambah lagi, mereka tidak tahu secara pasti semua kemampuan kelompok simo. Jadi bisa di bilang memecahnya dan melawan satu persatu adalah pilihan yang bijak. Hanya saja mampukah menahan Lasmaya?


“Paman, apa ini sebuah pujian?” Meski simo tahu itu sebuah pujian, tapi dia yakin itu tidak tulus.


“apa saja yang kau nilai begitulah yang aku katakan.” Nayaka mengambil ancang-ancang.


“pertarungan dengan pedang, ini sungguh menarik.” Simo mempersiapkan diri.


Mereka lalu saling berjalan memutar mencari celah dan sudut yang baik untuk bertarung. Setelah beberapa saat, mereka secara bersama-sama menyerang. Simo dengan aura pedang dan api birunya, sementara nayaka dengan anginnya.


Mereka bergerak cepat. Suara bilah pedang terdengar nyaring. Kecepatan tangan mereka sudah menyamai kecepatan cahaya dan sangat keras. Bilah-bilah pedang yang beradu seperti sudah hancur lebur akan cepatnya gerakan mereka.


Setelah beberapa saat mereka berhenti. Nafas mereka tergesa-gesa dan harus membuka mulut untuk menghirup udara yang banyak. Keringat mulai menetes di pelipis mereka. Simo memegang erat pedangnya. Aura hitam, merah dan biru samar-samar mengalir lebih keras dan tambah keras.


Sejurus, dia sudah berada 100 meter dengan nayaka. Dia mengeluarkan panah api dan menjadikan pedangnya sebagai anak panah. Setelah pas, dia langsung melepaskannya, membuat angin di sekitar bertiup kencang.


Kecepatannya sangat tinggi. Ketika melewati pepohonan, semua daun-daun terbakar dan menyisakan abu.


Nayaka tidak sempat menghindar. Dia melompat, dan melesat menuju panah itu. Ada rasa percaya diri untuk menahannya. Dia meraung dan mengayunkan pedangnya. Langit menjadi hitam seketika. Jika orang-orang melihatnya, mereka akan melihat kedipan-kedipan yang cepat di tempat nayaka.


Gurunya berkata, mungkin. Oleh karena itu simo melakukan. Kaisar pedang dan roh -roh akan menyatu dengan Pedangnya, bersama dengan semua energi alam kecil simo, sehingga menjadi serangan terpusat. Dan dapat memenangkan pertarungan dengan cepat.


Pohon-pohon di sekitar Nayaka hancur dan terpental. Dua energi saling berlawanan. Simo berusaha berdiri. Dia kesulitan melihat karena kerasnya angin dan cepatnya kedipan-kedipan itu.


Setelah beberapa saat ledakan pun terjadi. Simo terpental beberapa meter, namun dia masih bisa berdiri dan menahannya.


Langit kembali cerah. Simo melompat-lompat mencari pedangnya. Dia menemukan tergeletak begitu saja dan langsung mengambilnya. Dia membersihkan debu-debu yang menempel. Setelah itu merasakan keberadaan Nayaka.


Simo tersenyum setelah tidak merasakannya. Dia lalu pergi dari sana tanpa mempedulikan apa pun.


Saat tiba, semua sudah kembali. Setelah siren yang dia keluarkan kembali, Simo langsung memacu kudanya dan pergi dari sana. Setelah satu hari tersebut, mereka memilih beristirahat di sebuah pohon lagi.


Safia dan Lasmaya bersamanya, sedangkan Delisa dan Putri Dhiya kahrya pergi mencari kupu-kupu. Mereka sudah tampak sangat akrab dan saling menyukai.


“apa ada yang kau ketahui?” tanya simo kepada Lasmaya. Dia tahu, apa yang terjadi di gedung tua pasti ada hubungannya dengan Lasmaya. Di tambah Lasmaya memeluknya dan mengatakan masih hidup.

__ADS_1


Safia duduk di samping simo dan menyandarkan kepala di pangkuannya. Dia memandang Delisa dan Putri Dhiya kharya yang sedang bercanda gurau.


“Iya kak.” Lasmaya menarik nafas bersiap-siap menceritakan semua hal yang ingin dia katakan. “ kakak, waktu itu aku pergi ke sana. Aku melihat kakak tidak sadarkan diri tengah di bawah oleh tiga orang. Aku langsung geram dan membunuh mereka. Namun siapa sangka ada lagi beberapa orang berpakaian hitam dan kuat-kuat datang. Maka aku langsung bertarung dengan mereka dengan hasilnya aku kesulitan karena harus melindungi kakak.”


“di saat seperti itu, ada beberapa tahanan meminta untuk di lepaskan dan dia berkata akan menolong. Oleh karena itu dengan cepat aku melepaskan semuanya. Aku langsung pergi dari sana dan saat hendak membawa kakak, kakak sudah menghilang. Aku ingin mencarinya, akan tetapi tidak menemukannya. Saat aku ingin mencarinya, ibu menyuruhku pulang dan mendesak. Oleh karena itu, aku pun pulang. Itu saja yang aku tau.”


“apa kau melihat Namila?”


Lasmaya diam sejenak lalu menjawab, “tidak kak, aku hanya melihat kakak.”


Mendengar itu, simo menghela nafas panjang. Dia belum bisa menemukan petunjuk tentang Namila dan apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Mengapa dia bisa berada di hutan perbatasan?


Setelah itu, mereka mulai melanjutkan perjalanan lagi. Siang berganti malam dan malam berganti pagi. Dari hujan, angin dan terik matahari. Dari tempat yang ramai sampai tempat yang sepi. Setelah beberapa hari perjalanan, akhirnya mereka tiba di kerajaan radia.


Saat tiba, para penduduk lalu lalang di pintu gerbang. Rombongan simo langsung masuk dan mencari istana.


Saat perjalanan tersebut, beberapa kali putri Dhiya kharya melihat-lihat keluar. Dia sangat merindukan tempat tinggalnya dan ingin bertemu dengan bibi serta Ibunya. Namun dia juga takut, jika ibu tahu, dia pergi diam-diam mengikuti bibinya ke kekaisaran gunung salju.


“mengapa kau bisa berada di kekaisaran gunung salju tuan putri?” Tanya Delisa dengan tangan berada di depan dada.


“itu ... karena aku mengikuti bibi pergi.” Putri Dhiya kharya tidak bisa menolak menjawab setelah melihat tatapan tajam Delisa.


“bisa kau ceritakan semuanya yang telah terjadi?”


Putri Dhiya kahrya mengangguk. Dia lalu mengatakan, dia melihat bibinya pergi. Karena ingin mengikutinya, dia pergi diam-diam bersama para prajurit. Namun setelah tiba di perbatasan, bibinya menghilang entah ke mana. Putri Dhiya kahrya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. mengikuti jalan yang ada. Dia yakin, pasti bibinya mengikuti jalan tersebut.


Namun setelah berjalan beberapa hari, dia bertemu dengan para bandit. Para prajuritnya menyuruhnya lari. Dengan sekuat tenaga, dia berlari, akan tetapi dia bertemu dengan para bandit lagi. Saat bandit itu ingin menangkapnya, ada seseorang menyelamatkannya dan membawanya pergi ke kekaisaran gunung salju.


“sejak kapan?”


“mungkin sekitar satu bulan yang lalu.”


“Mengapa kau baru di pulangkan?”


“aku ingin mencari bibi, aku yakin bibi pasti berada di sana. Akan tetapi ternyata tidak, bu Klarika mengatakan bibi sudah pulang.”

__ADS_1


“baiklah. Sudah tiba.” Ujar simo dan menghentikan kereta kudanya.


__ADS_2