Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 39 pembicaraan yang merenggut perhatian


__ADS_3

“Baiklah, kita harus pergi dari sini. Sepertinya pertempuran sudah berakhir, kita harus pergi untuk melihat situasinya bukan?”


Simo bangun. Kali ini Naria membiarkannya. Simo memandang sekelilingnya. Mayat-mayat para prajurit tergeletak begitu saja. Darah Segar mengalir deras bercampur dengan darah yang lainnya, menciptakan bau amis dan pemandangan yang mengerikan.


“Siapa yang melakukan ini?”


“Itu tidak lain adalah anak angkatmu.”


“Safia?”


Naria mengangguk.


“Ayah!”


Simo menoleh. Safia berada di belakangnya tengah berlari mendekatinya. Gadis itu terlihat sangat ceria ketika melihat Ayahnya sudah siuman. Dia berlari dengan cekatan seolah kedua kakinya memiliki mata sendiri, bisa menghindari setiap mayat yang tergeletak begitu saja selagi kedua mata gadis itu memandang ke depan.


“ayah! Akhirnya ayah sadar. Apa ayah sehat?” tanya gadis itu ketika berada di depan simo. Nadanya sedikit mengandung kekhawatiran.


“Tidak. Ayah baik-baik saja.” Simo mengelus-elus kepala Safia dengan lembut. Entah mengapa dia merasa bahagia melihat gadis ini mengkhawatirkannya. Dia juga merasakan bahagia ketika melihatnya sehat dan memanggilnya ayah.


“Kakak, terima kasih telah menolong ayahku.” Safia menoleh ke arah Naria setelah simo mengusap kepalanya.


Kali ini Naria tersenyum lembut dan mengangguk, seolah rasa kesalnya menghilang begitu saja dari sebelumnya.


“Ayah! Apa yang akan kita lakukan sekarang?”


“Selanjutnya kita akan pergi melihat keadaan ibu kota. Meski ayah tidak mendengar suara-suara pertarungan lagi, kita harus memeriksanya.”


Naria menghampiri simo, dan berkata, “ingat, jangan memaksakan diri lagi.” Naria menggapai tangan simo dan memegang erat-erat.


Simo menoleh dan mengangguk.


“Jika seperti itu, Ayah! Ayo kita pergi.”


Simo mengangguk sebagai tanggapan. Namun ketika dia melangkah, Naria berhenti dan menarik tangan simo. Gadis itu memegang erat tangan simo seolah dia tidak mau meninggalkannya.


“Ada apa?” simo menoleh dan bertanya.

__ADS_1


Naria diam. Wajahnya terlihat sangat khawatir, Namun tidak tahu apa yang tengah dia pikirkan. Naria menatap simo beberapa saat lalu menjawab, “Apa kau tidak akan memaksakan diri? Ya, meski aku rasa tidak ada lagi pertempuran, tapi aku tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, aku mohon, kau harus menepati janjimu saat ini. Jika nanti terjadi kenapa-kenapa denganmu, aku tidak akan bisa membantumu. Apa kau mengerti?”


Saat berkata seperti itu, wajah Naria dan nadanya sangat khawatir.


Simo mengerti. Perasaannya menjadi tidak tenang setelah melihat wajah Naria mendadak di liputi khawatiran. Dia sangat mematuhinya, tapi ketika dia di hadapkan situasi yang mendesak, dia mudah lupa dengan janjinya. Namun hari ini apa pun yang terjadi, dia tidak akan melanggar janjinya.


Simo memegang tangan Naria dengan satu tangannya lagi. “baiklah, aku akan menurutimu. Kau juga bisa melihatnya kan?”


Naria tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


Simo menjadi penasaran dengan jawaban Naria seperti itu.


“Maaf, aku tidak bisa mengikutimu saat ini. Aku akan diam di sini saja menunggumu. Jadi, datanglah dengan selamat ya.”


Meski Naria berkata ceria, simo merasakan ada kesedihan di balik wajah dan nada cerianya itu.


“Ada apa denganmu? Apakah kau kelelahan karena telah menyembuhkanku?”


Naria tersenyum tipis. “Tidak, bukan itu. Aku hanya diam dan ingin duduk saja. Oleh karena itulah, aku harus diam di sini. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, biarkan saja Safia berada di sini. Jika dia tidak mau, tidak....”


“Iya ayah! Jika ayah yang memintanya, kenapa aku harus menolaknya?”


Simo tersenyum. “Baiklah. Aku harus pergi.”


“ingat, kau masih lemah, sebisa mungkin menghindari setiap pertarungan.”


Simo mengangguk. Dia secepat kilat menghilang dengan teknik lauthing linght.


Setelah melihat kepergian simo, wajah Naria menjadi pucat dan memutih, bahkan dia seperti tidak memiliki darah sedikit pun. Tangannya sangat putih seolah dia sebelumnya berenang selama 1 jam.


Dia memejamkan kedua matanya dan membiarkan tubuhnya jatuh tanpa halangan.


“kak!” Safia langsung berlari dan menangkap tubuh Naria. Karena dia masih kecil, dia tidak bisa membatu Naria berdiri, dia hanya bisa membaringkan kepala Naria di pangkuannya.


“Biarkan aku istirahat sebentar,” lirih Naria memejamkan matanya.


Safia yang mengerti, tidak berkata apa-apa, dia hanya mengangguk. Dia mengerti, bagaimana pengorbanan yang di lakukan Naria ketika mengobati simo. Dia sangat berusaha keras melakukannya. Bahkan dia mengorbankan sebagian darahnya untuk simo.

__ADS_1


Saat itu, tubuh simo sangat kekurangan darah, sehingga di antara Safia dan Naria harus mengorbankan darah mereka. Safia ingin mengorbankan darahnya, tetapi Naria lebih dulu melakukan dengan mengores tangannya. Dia kemudian membuka mulut simo, dan membiarkannya meminum darahnya.


Safira saat itu tidak tahu, apakah dengan seperti itu berhasil atau tidak, dia tetap percaya dengan Naria.


Simo saat itu tidak sadarkan diri, namun entah bagaimana dia bisa meminum darah Naria.


Simo sangat kekurangan darah, dia meminum setengah darah Naria. Tentu saja, Naria menjadi lelah setelahnya. Dia juga menjadi lemas. Namun dia senang, dengan seperti itu, simo selamat dan melewati masa kritisnya.


Setelah itu, Naria tertidur dan menjaga simo.


Melihatnya seperti itu, Safia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya bisa berdoa dan menjaga Naria dan simo hingga matahari terbit.


Selama itu, dia bertarung sengit dengan para prajurit. Dia awalnya mengira tidak mungkin bisa melawan orang-orang yang begitu banyak, namun keberuntungan menghampirinya. Entah bagaimana caranya, para prajurit itu lemas dan tidak sadarkan diri, Bahkan auranya samar-samar menghilang.


...****************...


Setelah beberapa saat melangkah, akhirnya simo tiba di tempat orang-orang akademi dan ibunya. Sepanjang perjalanan ke sana, dia menanyakan berbagai hal mengenai apa yang terjadi sebelumnya, dan bagaimana dia bisa di sembuhkan oleh Naria kepada kaisar pedang.


Namun sayang sekali, ketika itu, kaisar pedang juga berusaha membantunya, sehingga dia tidak tahu apa yang terjadi di luar dan fokus kepada penyembuhan simo.


Setelah tiba, semua orang-orang terlihat sangat kelelahan. Mereka ada duduk di antara prajurit-prajurit yang sudah tumbang. Mereka terlihat sangat kelelahan dan mengatur nafasnya. Orang-orang akademi terlihat lebih banyak dari sebelumnya. Simo menduga adanya bala bantuan tadi malam tiba.


Situasinya tampak terkendali. Tidak ada para prajurit yang masih berdiri. Namun, simo belum menemukan di mana ibunya.


Dia memutuskan untuk mencarinya, tetapi ada satu pembicaraan yang merenggut perhatiannya.


“Untung saja yang mulia ratu membantu kita, jika tidak, bagaimana kita harus melawan mereka semua,” ucap salah satu pemuda sambil mendesah. Tampaknya dia sangat kelelahan.


“Yang mulia ratu memang sangat hebat. Dia adalah sosok pemimpin yang sangat dibutuhkan di negeri ini. Selain itu, dia juga kuat dan pandai mengatur negara. Jika dia tidak memiliki kekuatan untuk mengalahkan para pemberontak itu, maka kehancuran negeri ini sudah di depan mata. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanku di bawah para pemberontak itu,” ujar pemuda yang lainnya.


“Hey, jangan membayangkan yang tidak-tidak. Sekarang, situasinya sudah lebih normal. Ngomong-ngomong yang mulia ratu setelah bertarung dengan lima orang itu pergi ke mana? Mengapa dia tidak menyapa kita?”


“Aku tidak tahu. Mungkin yang mulia sedang ada hal yang mendesak. Selain itu, pemuda yang kuat itu juga ke mana? Apakah dia selamat dari dua orang itu?”


“Aku tidak tahu. Pemuda itu sangat aneh dan muncul begitu saja. Jika dia berasal dari akademi, maka ada siswa yang lebih kuat dari Amara dan Jerome.”


“Hey, suuutttsss, kecilkan suaramu. Jika itu benar, maka akan terjadi persaingan lebih sengit lagi di akademi,” bisik Pria itu sambil memberi isyarat.

__ADS_1


__ADS_2