Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 43 pertempuran akademi part 4


__ADS_3

Di sisi lain, Hoshi masih bertarung di langit melawan Theo. Mereka sudah lama bertarung, namun masih belum ada pihak yang mengalami penurunan yang drastis. Tapi yang paling jelas terlihat, Hoshi sudah mulai kewalahan melawan Theo. Nafasnya sudah tidak terkontrol lagi, keringat membasahi tubuhnya, dan sebagian besar energi sudah habis.


Kini, dia melayang di udara dengan dua pedang angin besar di tangannya sedang menghadap Theo dengan formasi pedang cakramnya di udara.


Hoshi memandang tajam ke arah Theo, seolah membencinya.


“hahaha! Hoshi! Sepertinya kali ini aku akan menang.” Ujar Theo tersenyum di dalam keributan pertarungan di bawahnya. Meski ribut, itu tidak memengaruhi ucapannya ataupun pendengaran Hoshi.


“belum tentu.” Kata Hoshi dingin. Meski Hoshi di sini yang terlihat kalah, dan memiliki energi yang lebih sedikit, dia tahu, Theo pun juga begitu. Oleh karena itu, bersikap seperti biasa dan tidak terlihat lemah adalah salah satu kunci dari Kemenangannya.


Dengan keringat terhempas, hoshi bergerak cepat menyerang Theo dari segalah arah.


Formasi pedang Theo langsung menyerang tanpa belas kasih.


Pedang-pedang ini berputar-putar Dengan sangat cepat, menerjang Hoshi. Tidak hanya satu, melainkan ada 10 pedang yang menyerangnya.


Melihat ini, hoshi langsung mengarahkan pedangnya ke depan secara horisontal. Saat 10 pedang itu menerjangnya, pedang hoshi berputar-putar untuk menghalau laju 10 pedang itu. Tentu saja hal ini membuatnya kewalahan, tetapi dia masih bisa menahannya.


Namun tentu hal ini tidak di sia-siakan oleh Theo, dia mengeluarkan gerbang di atas kepala Hoshi. Perlahan-lahan gerbang itu terbuka mengeluarkan pedang yang sangat besar dengan aura membunuh yang mencekam.


Panjangnya tidak lebih 100 meter dengan aura merah seperti api di sekitarnya.


“matilah!” ujar Theo seraya mengarah telunjuknya ke bawah dengan cepat. Dan seperti menuruti perintah Theo, pedang itu bergerak cepat.


Hoshi mendongak, melihat betapa besarnya pedang itu, dan Betapa kuatnya aura terpancar darinya.


Melihat ini, Klarika, dara, kai, dan beberapa orang lainnya memilih berhenti dan melihat pedang yang sangat besar itu. Rasa takut bergetar di dalam hati mereka.

__ADS_1


“Hahaha! Sepertinya orang terkuat kalian akan mati.” Ujar rani lalu tersenyum.


“kau pikir induk nyamuk bisa mengalahkannya?”


“kau!” mendengar itu, ekspresi kesal terlihat di wajah rani. Dia langsung melesat menyerang Klarika.


Sementara itu, perlahan-lahan angin di sekitar Hoshi berputar-putar dan berpusat di sana. Badai yang tinggi dan kencang seperti tsunami terbentuk perlahan-lahan membentuk tangan besar yang sedang mencakup seolah ingin menelan pedang besar Theo.


“aku harap ini bisa menahannya.” Gumam Hoshi lalu sedikit mundur, membiarkan pedangnya berputar-putar menahan pedang Theo.


Bomm wusss!


Saat dua tangan itu tercakup, itu menimbulkan ledakan dan angin kencang di sekitar akademi, dan menjadi sorotan para siswa.


Kemudian energi yang begitu besar terpancar darinya. Saat dua tangan angin besar 100 meter itu menekan pedang Theo, menimbulkan guncangan yang besar seperti gempa bumi dengan skala 9 lichter


Di tempat simo, Carissa juga menghentikan pertarungan dan menahan sosok monster di depannya bersama Lasmaya. Mereka berdua sama-sama memandang langit yang kini di penuhi awan hitam dan dua senjata yang sangat besar.


Di tempat aoba, dia menghela nafas melihat fenomena aneh di langit dari balik jendelanya. Di tangannya ada minuman yang selalu dia nikmati setiap saat seperti ini. Dengan wajah khawatir dia berkata, “ aku harap semuanya akan baik-baik saja.” Nadanya bercampur dengan rasa kekewahtiran yang tinggi dan di balut dengan rasa takut yang tak kalah tingginya.


Dia Lalu pergi dari sana. Ekspresi khawatir tergambar jelas di wajahnya. Tentu saja, dia mengkhawatirkan cucunya. Sebab, selain cucu yang dia miliki satu-satunya, itu juga merupakan seorang pangeran yang harus dia lindungi dengan nyawanya sendiri.


Akhirnya pedang merah darah itu di tahan oleh dua tangan yang tercakup, menimbulkan ledakan energi yang begitu tinggi dan menekan. Semua warga terlihat takut dan khawatir dengan pertarungan yang terjadi, mereka takut jika pertarungan itu akan memakan korban dan menimbulkan kekacauan yang tinggi.


Meski pasti akan menimbulkan itu, mereka berharap setidaknya bisa di minimalkannya. Beberapa Orang terlihat mulai pergi menjauh ke pegunungan untuk menyelamatkan diri, beberapa juga memilih menyelamatkan diri di ruangan bawah tanah masing-masing.


Delisa pun ikut merasakan ketakutan saat melihat senjata besar itu. Dia lalu melompat ke salah satu atap rumah. Seraya mengerutkan keningnya, dia berkata, “apa yang terjadi? Mungkinkah! Tebakan Wanita tua itu benar?”

__ADS_1


“Aku harus memeriksanya.” Gumamnya lalu melompat dari satu atap ke atap yang lain untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Walaupun dia mengetahui ada dua orang di atas langit, dia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk mendekatinya, dam supaya tahu apa yang sedang terjadi.


Ledakan energi kedua pun terjadi, ini menimbulkan kehancuran di area yang lebih luas, pohon-pohon hancur Tidak terwujud, rumah-rumah yang tadinya berdiri kokok, kini hancur berserakan tidak tersisa.


Di langit, Hoshi mengertakkan giginya seraya mengangkat kedua tangan ke atas seperti ada sesuatu yang dia tahan. Sesekali dia mengeram karena betapa kuatnya serangan Theo kali ini.


Tidak jauh darinya, Theo juga sama dengannya, berusaha mengarahkan jarinya ke bawah untuk membunuh Hoshi.


“hahahahah! Matilah Hoshi!” Theo mengeluarkan energi yang lebih kuat, membuat Hoshi lebih kewalahan mengatasinya.


Di bawah mereka, pertarungan terus berlanjut, tapi belum ada pihak yang tumbang. Meski dengan keadaan yang seburuk itu dan semenekan itu, mereka tetap bertarung, Bahkan masih seimbang. Klarika masih terus berusaha menjatuhkan rani dengan elemen tanahnya, kai dengan senjata pedang dan teknik-teknik, dan terakhir, Hendry dengan elemen petirnya.


Walaupun mereka terlihat seimbang, tentu saja, mereka sudah kelelahan, terlihat jelas kecepatan mereka dari waktu ke waktu menurun.


Di tempat Lasmaya dan Carissa, mereka mulai melanjutkan pertarungan lagi. Carissa melesat. lalu di udara, dia melempar selendangnya untuk menahan latif yang kini bagaikan monster. Jika sebelumnya latif berada di tahan alam tahap akhir, maka kini dia berada di tingkat surgawi tahap dua, yang artinya lebih kuat dari Carissa saat ini.


Saat sebelumnya, saat melihat Lasmaya datang, Carissa memerintahkan anak kecil itu untuk pergi dan tidak usah menolongnya, karena Carissa menganggap Lasmaya hanya anak kecil biasa saja. Tapi, saat Lasmaya mengeluarkan energi dan pusaran anginnya untuk menyerang latif, itu mengubah penilaiannya terhadap gadis cilik itu.


Dua sudut selendang melesat ke dua arah kiri dan kanan. Lalu melilit latif dari kedua arah tersebut. Latif sendiri mengeram dan berusaha merobek selendang itu.


Carissa tahu selendang tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu, dia cepat-cepat memerintahkan Lasmaya untuk menyerangnya.


Lasmaya mengangguk lalu terbang dengan indah seperti kupu-kupu, melingkari selendang Carissa. Lalu saat tiba di depan latif yang masih berusaha melepaskan diri, gadis itu langsung mengeluarkan teknik terkuatnya, yaitu 5 bayangan angin.


5 bayangan angin terbentuk di langit, lalu mengepakkan sayapnya dari segala arah, menciptakan hempasan angin yang setara dengan hempasan yang di buatnya saat membunuh Tristan.

__ADS_1


Hempasan itu menimbulkan kekacauan yang sangat parah, meninggalkan cekungan seperti kawah gunung berapi, dan membunuh hewan dan tumbuhan-tumbuhan di sekitarnya dalam jarak 100 meter yang sampai ke bawah tempat Hoshi dan Theo bertarung


__ADS_2