Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 13 terancam


__ADS_3

Beberapa saat, simo berusaha untuk menggapai salah satu pedang air dari tiga pedang yang selalu menyerangnya, tetapi ketiga pedang itu, seperti memiliki roh tersendiri dan memiliki kerja kelompok yang baik, sehingga membuat simo kesusahan saat mengambilnya.


Karena tidak dapat mengambilnya dan tidak menguntungkan jika hal itu di lanjutkan, simo memutuskan untuk menyerangnya dengan serangan kilat, yang bahkan kecepatannya sudah tidak di ragukan lagi.


Suara-suara adu pedang terus bergema di dekat tebing. Terlihat percikan-percikan api dari pedang simo. Percikan-percikan itu bagaikan kembang api yang indah di bawah bulan yang menggantung.


Sementara itu, namila masih melayang. Bibirnya yang seksi melengkung membentuk senyuman manis, yang siapa saja akan memerah dan tersipu malu karenanya.


Meski, dia tersenyum, dia tidak mengalihkan perhatiannya ke objek lain selain simo. Di dalam pikirannya, namila berusaha mengendalikan pedang-pedang air itu, agar dapat mengalahkan simo. Hal itu sangat berat. Apalagi ketiga pedang itu, memiliki arahnya masing-masing. Jadi namila harus mengendalikan ketiganya dengan memusatkan perhatian kepada tiga arah gerak pedang itu.


Jika orang lain dengan kemampuan yang kurang melakukannya, itu akan kesulitan, mengingat betapa cepatnya serang simo dan betapa lelahnya mengendalikan ketiga pedang itu dengan cepat!


Tidak beberapa lama, akhirnya salah- satu pedang itu berhasil simo tangkap. Meski dia terlihat bertarung, dia ternyata masih ingin berusaha mendapatkan pedang itu.


Namun saat pedang itu, di tangan simo. Seperti es meleleh dengan suhu tinggi, pedang itu menjadi air dan membentuk pedang kembali.


Melihat itu, simo sedikit terkejut, dia mulai mengerti jika bukan pedang itu yang harus hancur, tapi namila yang harus di serang.


simo terus bertarung, dia berusaha mendesak ketiga pedang namila seraya mendekatinya. Sebenarnya, dia bisa saja menggunakan teknik cepat untuk muncul seketika di depan Namila, tapi mengingat dirinya yang ingin melatih ilmu pedangnya, membuatnya enggang menggunakannya.


Ekspresi namila terlihat lebih serius. Dia lalu menambah dua pedang lagi untuk menyerang simo, dan tentu saja pikirannya akan lebih berat.


Saat dua pedang bertambah, pergerakan simo menjadi lebih lambat dan mulai ke belakang lagi.


Kejadian itu tidak berlangsung lama, karena simo mulai mengerti arah serangan kelima pedang itu, dan memahami bagaimana cara mengatasinya.


Simo mengambil pedang air dengan cepat, lalu menggunakan sebelum mencair. Dia melakukannya beberapa kali hingga dia dapat bergerak maju. Meski pedang itu akan mencair saat simo pegang, tapi sekarang itu tidak berpengaruh, sebab kecepatan simo sangat cepat bahkan lebih cepat dari cahaya.


Saat tinggal 4 meter dari namila melayang, tiba-tiba saja kelima pedang air itu kembali.

__ADS_1


“apakah sudah selesai?” tanya simo seraya memandang namila dengan wajah sedikit kesal. Jika saja masih ada waktu mungkin saja dia dapat mengalahkan namila.


Namila perlahan-lahan turun. Saat kakinya menyentuh rumput, dengan suara lembut, dia berkata, “ya, sekarang sudah larut malam, tidak baik untuk berlatih. Apalagi kau akan bersekolah besok. Kita lanjutkan besok sore lagi dan ingat jangan sampai lupa ataupun berusaha tidak datang ya.” Dari nada awal yang lembut, kemudian berubah sedikit ada ancaman dan penekanan.


“tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja kok. Kau tidak perlu khawatir denganku. Bisakah kita lanjutkan?”


“Tidak! Kau harus pulang!” bentak namila dengan wajah marah.


“baiklah.” Jawab simo dengan kesal. Dia ingin sekali berlatih lagi. Apalagi jika berlatih bertarung pasti akan menyenangkan, tapi sepertinya namila sama saja seperti adiknya, jauzan yang sulit di bantah dan tidak suka jika ada yang membantahnya.


“Ingat ya besok.” Kata namila cerita kemudian menghilang menjadi air.


Simo diam sebentar lalu pergi dari sana.


Keesokkan harinya, klarika memberikan latihan fisik kepada semua siswa, tapi bukan latihan seperti bisa. Dia menyuruh semua siswa untuk lari 200 putaran lapangan, tepat di bawah cahaya Matahari yang menyengat.


Semua siswa terkejut mendengarnya akan tetapi tidak ada hal yang bisa mereka lakukan. Apalagi saat mereka terkejut, tatapan kematian menyambar mereka satu persatu.


Di antara semua siswa itu, simo tidak merasa keberatan ataupun kesal dengan perintah klarika, karena baginya setiap wali kelas ingin membuat siswanya hebat. Meski sulit.


30 menit waktu berlalu dari di mulainya latihan itu. Keringat tiada henti-hentinya keluar dari tubuh semua siswa. Beberapa juga ada yang memilih istirahat karena kelelahan. Meski begitu masih ada beberapa siswa yang memilih untuk bertahan, di antara simo, jauzan, Kenzo dan beberapa lagi siswa laki-laki, yang sepertinya siswa yang masuk ke dalam peringkat 10 besar.


Simo sudah berlari 50 putaran dari tadi. Keringat terus dia sekat. Setiap langkah yang dia lakukan itu terasa berat dan panas. Berlari di bawah matahari yang sudah tepat di atas, itu sangat tidak sehat dan berkemungkinan akan ada orang-orang yang pingsan, karena tidak kuat menahannya.


Tidak beberapa lama, Kenzo menyusul lalu berkata, “maafkan aku untuk yang kemari.” Dari nadanya, dia seperti memang tulus untuk meminta maaf.


“untuk apa? Bukankah kemarin itu merupakan pertarungan yang adil?” tanya simo yang sedikit ketus.


Kenzo menggelengkan kepalanya pelan. “bukan. Aku berada jauh di atasmu. Jika aku tidak sembrono menantangmu, mungkin kau tidak akan terluka dan mungkin juga sekarang tidak ada berita itu.”

__ADS_1


“berita apa?” simo sedikit mengerutkan keningnya seraya mengusap keringat.


“Berita tentang seorang siswa yang memiliki kekuatan di tingkat alam.” Kenzo menarik nafas kesal. “jika saja aku tidak mengeluarkannya mungkin berita itu tidak ada. Mungkin juga keberadaanku menjadi aman.” Ucap kenzo dengan nada yakin, karena tidak ada orang lain di sekitarnya kecuali mereka berdua.


“Apa maksud mu?” tanya simo yang tidak mengerti.


“aku adalah hasil penelitian.” Jawab Kenzo yang seketika membuat simo diam beberapa detik.


“Apakah hasil penelitian itu membuatmu tidak aman?”


“Bukan hanya itu saja. Bahkan nyawaku bisa saja akan menghilang sewaktu-waktu jika aku tidak waspada.”


Simo semakin memperlambat larinya dan begitu pun kenzo.


“Bisakah kau menceritakannya?” tanya simo.


“apakah kau bisa menjaganya?”


Simo mengangguk.


Kenzo mulia menceritakan apa yang terjadi padanya, mulai dari sejak dia lahir sampai ditangkap dan di jadikan eksperimen.


Mendengar itu, simo mengepalkan tangannya dengan erat. Dia tidak menyangka pemerintah berani melakukan itu. Setahunya pemerintah kekaisaran gunung salju sangat menyanjung kemanusiaan dan melindungi semua warganya, akan tetapi ternyata mereka bergerak dalam bayang-bayang untuk berusaha meningkatkan kekuatan mereka secara instan.


Bagi semua orang yang tidak di ambil, akan menganggapnya hal yang baik, tapi bagi yang di ambil akan merasakan penderitaan yang menyakiti oleh eksperimen yang di lakukan.


“simo, sudahlah, yang berlalu, biarlah berlalu. Sekarang aku sudah bebas bersama kakak ku.” Ucap kenzo yang melihat simo geram.


Simo menarik nafas panjang. “aku akan merahasiakannya dan berjanji akan menghapus organisasi itu.”

__ADS_1


Mendengar itu, wajah kenzo bercahaya seperti terharu oleh kata-kata yang di keluarkan simo.


__ADS_2