Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 4 sesuatu yang hilang


__ADS_3

Api itu meledak dan melahap semua yang ada. Jeritan-jeritan kesakitan terdengar sebelum akhirnya api itu padam seketika, dan menyisakan debu yang halus.


Delisa cepat kembali. Saat berpapasan dengan simo, simo mengangguk. Delisa tidak mempedulikannya, dia masuk ke dalam dan duduk dengan tangan di depan dada.


Setelah itu kereta kembali berjalan.


Saat menjelang malam, mereka memilih beristirahat di bawah pohon dengan di temani langit kuning keorangean dan ada beberapa awan hitam seperti kapas melayang.


Segerombolan burung-burung terlihat beterbangan, sepertinya mereka mencari tempat untuk bernaung. Jangkrik dan para serangga mulai bersuara menghiasi sore itu.


Simo makan bersama Safia. Mereka makan dengan bahagia dan lahap, bahkan tidak mempedulikan hal-hal yang ada di sekitarnya.


Delisa duduk tidak jauh dari mereka di atas batu besar. Dia sedikit melirik simo dan Safia, kemudian melirik putri Dhiya kahrya yang hanya bisa duduk dan menunduk.


Delisa mendekatinya.


“Apa kau lapar?” dia lalu duduk di sampingnya.


“tidak,” jawabnya pelan, akan tetapi setelah itu terdengar suara dari perutnya.


“perutmu tidak bisa berbohong.”


“i-iya.” Warna merah padam menghiasi wajah cantiknya.


“Ini makan. Mari makan bersama-sama. Aku tidak ada teman untuk makan bersama.” Delisa menyodorkan makanannya.


“A-apa tidak apa-apa?”


“tidak. Sebaliknya aku senang bisa makan bersamamu. Biasanya aku makan bersama ibu. Walaupun berbeda rasanya, tapi tidak apa-apa. Asalkan ada, aku akan menghargainya.”


“Benarkah!?” tiba-tiba putri Dhiya kharya gembira. Kedua matanya cerah.


Tanpa ekspresi Delisa mengangguk.


Mereka lalu makan bersama. Keakraban perlahan-lahan tubuh di dalam hati mereka. Putri Dhiya kahrya akhirnya memperlihatkan sikap aslinya. Dia bercerita panjang lebar dan penuh kegembiraan. Dia menceritakan tentang bibinya yang sangat di sayangkannya. Menceritakan berbagai mainan yang pernah di miliki. Saking gembiranya, dia sapai sempat berbicara walaupun makanan penuh di mulutnya.


Delisa hanya memandang datar, tapi dia menikmatinya, dan Putri Dhiya kahrya tahu itu.

__ADS_1


Matahari akhirnya menghilang di ufuk barat, di gantikan bintang-bintang dan bulan yang indah. Tidak ada awan-awan hitam lagi.


Mereka lalu mulai melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan mereka hanya bertemu beberapa desa, dan itu pun penduduk sangat sedikit dan kurang menarik. Mereka terus berlanjut, hingga hari ke 3 mereka akhirnya merasakan sesuatu yang aneh. Simo menghentikan kereta Kudanya.


Dia memandang sekitarnya, merasakan jejak dan mendengarkan bunyi-bunyian. Jika sudah seperti itu, maka orang-orang yang dikirim Klarika sudah di kalahkan. Dan benar saja, tiga bayangan muncul, lalu mendarat di depan kereta kuda.


Di dalam, Delisa menginstruksikan untuk diam. Putri Dhiya kahrya mengangguk. Rasa takut menjalar di tubuhnya. Sementara itu, Safia tidak terlihat takut, dia bersikap biasa-biasa saja dan menunggu apa yang akan terjadi.


Mereka bertiga tidak lain adalah Nayaka, dara dan rani.


Simo tersenyum lalu berdiri. “Apa kalian tidak bosan-bosan mengejarku?”


“sebelum kau mati, kami tidak akan bosan.” Jawab Rani lalu tersenyum.


“Hehehe. Bocah, hari ini adalah hari kematianmu.” Ucap dara.


“baiklah. Hari ini hanya ada aku yang mati atau kalian. Aku berharap kalian hari ini bisa lolos dari kematian.”


Mendengar itu, ekspresi rani sedikit pucat lalu berkata, “dasar sombong! Aku akan membunuhmu hari ini!”


Rani mengangkat pedang ke atas. Bersama dengan itu, muncul pusaran angin merah. Berputar-putar seperti tornado. Daun-daun pohon di sekitar beterbangan dan di tarik olehnya. Semua tumbuhan dan pohon bergoyang-goyang.


Delisa keluar. Wajahnya datar dan memandang pusaran angin itu. Dia seolah terbiasa dengan hal itu. Dan seperti menganggap sangat membosankan.


“apa ada bagian untukku?” Tanya Tanpa menoleh.


“Tentu, tapi nanti.” Jawab simo tanpa menoleh.


Simo lalu mengeluarkan kerincingannya dan membunyikannya. Setelah itu muncul Lasmaya. Dia terlihat terkejut dan bahagia. Gadis itu langsung memeluk simo.


“kakak! Aku yakin kau masih hidup!” Lasmaya lalu melepaskan pelukannya.


“kau bisa menceritakannya nanti. Sekarang, aku ingin kau membunuh mereka bertiga.” Tatapan tajam mengarah kepada tiga orang di depannya.


“baik kak.”


Angin di sekitarnya menjadi lebih kacau. Pohon bergerak lebih tidak teratur dan sangat kuat. Suara angin Mendesis dan ada warna benang putih melintas-lintas di udara.

__ADS_1


Nayaka, Rani dan dara mengerutkan kening. Mereka tentu merasakan kekuatan besar mengalir dari tubuh Lasmaya. Kekuatannya sangat kuat dan setara dengan tuan mereka.


Selain itu, Delisa juga terkejut dan heran, bagaimana bisa simo memiliki teman sekuat itu. Di dalam hatinya, dia bertanya, mengapa harus ada dirinya, sementara dia sudah memiliki teman sekuat itu.


...****************...


Hamparan bunga itu sangat indah. Mereka berkembang indah di musim ini. Berwarna-warni. Ada lebah dan kupu-kupu di sana. Terbang dari satu daun ke daun lainnya. Dari bunga satu ke yang lainnya.


Di tengah-tengahnya ada undakan menuju Istana yang sangat besar dan megah. Jika memandangnya dari jauh istana itu bagaikan benteng karena tingginya tembok yang mengelilinginya. Ada beberapa prajurit lengkap dengan amor di sana. Mereka gagah dan kuat, meski ada baju besi yang berat di tubuhnya.


Jika mereka berjalan akan terdengar suara yang indah.


Tapi bukan itu fokus kita. Di jalan undakan itu, ada seorang gadis cantik Sedikit membungkuk. Dia menghirup harum bunga dan menikmati lebah yang sedang bekerja. Mungkin dia penasaran bagaimana lebah itu bekerja. Bagaimana dia mencari madu.


Gadis itu sangat cantik. Dia memakai gaun putih dengan campuran biru. Mempunyai rambut yang panjang dengan warna perak biru yang indah seperti langit. Hidungnya mancung, alisnya terbentuk sangat indah seperti di buat-buat. Tatapannya tajam. Kedua matanya jernih.


Dia tersenyum memandang bunga kuning di depannya.


“tuan putri! Yang mulia memanggilmu!”


Tiba-tiba wajah cantiknya berubah sedikit pucat.


“rara! Bisakah kau tidak mengganggu di saat seperti ini?” dia menoleh, seorang gadis seumuran dengannya berlari. Dia sedang mengatur nafasnya.


“tapi... Tuan... putri, yang mulia ratu memanggilmu. Katanya...”


Gadis itu memegang bahu pelayannya. “bisa kau tenang. Aku tidak senang mendengar kau berbicara seperti itu.”


“Di panggil, Aku akan ke sana, tapi aku ingin diam beberapa menit lagi. Katakan kepada ibu, anak gadisnya sibuk hari ini. Tidak ada koma hanya ada titik.”


“tapi tuan putri.”


Tiba-tiba tatapan tuan putri dingin dan tajam sedingin es dan seputihnya juga.


“baik, baik, akan aku laporkan.” Rara menunduk dan undur diri.


Setelah suara langkah kaki Rara menghilang, dia menghela nafas. ‘apa yang aku cari di sini?’ dia terus bertanya seperti itu dan terus. Ketika bangun, ada perasaan aneh muncul di dalam hatinya. Dia akan pergi ke undakan ini dan menikmati harum bunga.

__ADS_1


Tapi bukan itu yang dia cari, itu sesuatu yang lain, tapi entah apa. Ketika tiba, dia akan berkata, ‘bukan, bukan ini yang aku cari. Itu sesuatu yang lain, yang aku tidak tahu.’ Setiap hari dia akan terus menanyakannya. Namun tidak ada jawaban.


__ADS_2