
“Bagus, bagus! Dengan seperti ini. Tidak akan ada lagi pertumpahan darah.”
Pria itu kemudian pergi bersama mereka dengan senyuman kegembiraan di wajahnya. Ini adalah pencapaian yang besar baginya. Seorang terkuat di kerajaan bertekuk lutut di bawahnya. Seolah surga bersamaannya hari ini atau malaikat menjatuhkan bulu di atas kepalanya.
Perlahan-lahan mereka akhirnya pergi. Suara langkah kaki yang banyak itu akhirnya menghilang tiada jejak.
Sementara itu, simo sudah mencapai di luar. Ketika dia melihat cahaya terang dari luar gua, hatinya menjadi lega dan berseri-seri.
Sudah beberapa lama dia berada di gua itu, tidak terbayangkan bagaimana rindunya akan matahari yang cerah dan menghangatkan itu.
Namun setelah di perhatikan lebih jelas, terlihat seorang gadis di sana yang berjalan mendekat. Gadis itu berjalan melambat dan menunduk seperti ada beban berat di pikirannya. Simo memicingkan mata. Setelah lama, hatinya menjadi gembira, dia tanpa sadar berseru, “Safia!”
Safia mengangkat wajahnya dan mencari-cari sumber suara. Gadis itu sedikit kesulitan mencarinya karena tempatnya berada masih gelap dan sedikit jauh. Ketika menyadarinya, Dia tersenyum dan memanggil ayah, kemudian mendekati simo dan memeluknya.
Gadis ini bisa-bisanya melompat setinggi itu hingga di dada simo. Safia memeluk erat leher simo seperti ini adalah terakhir memeluk ayahnya itu.
Simo membalasnya. Dia merasakan kehangatan gadis itu. Entah mengapa ketika dia bertemu dengannya, dia merasakan kebahagiaan yang sangat tinggi.
“ayah! Apa kau tidak apa-apa? Apa ada yang menyerangmu? Aku sangat takut,” kata Safia setelah memeluk ayahnya.
Sebelum menjawab, simo menggendongnya di depan “Tidak, ayah tidak apa-apa. Kau bagaimana?”
“Ayah! Lihatlah, anak gadismu ini sangat hebat. Bukan hanya sehat, aku sudah membunuh dua orang, dan orang-orang itu sangat kuat!” matanya berseri-seri ketika Safia berkata seperti itu.
“kau memang anakku yang hebat!”
Simo membelai kepala Safia dengan lembut.
Dia berkata seperti itu bukan karena ingin membuat gadis itu tertawa dan bangga tapi memang, dia tulus memujinya. Di tambah lagi dia ingat, Safia ada hubungannya dengan Azka, tentu saja dia tidak akan menganggap itu bohong semata.
“Ayah siapa kakak itu?” Safia menunjuk putri Naria yang memperlihatkan ekspresi tidak senangnya ketika melihat Safia. Walaupun seperti itu, Safia tidak takut dan terlihat tidak senang. Sebaliknya, dia tersenyum.
“dia adalah putri Naria. Kau harus menghormatinya.”
“emm.” Safia melompat dan mendekati putri Naria. “kakak, perkenalkan, namaku Safia, senang bertemu denganmu.”
“namaku Naria, kau bisa memanggilku kakak Naria.”
Ketika putri Naria berkat seperti itu, dia menatap tajam ke arah Safia dan mendaratkan dendam. Sepertinya dia memiliki dendam dan kebencian dengan gadis itu.
Walaupun seperti itu, Safia tetap tersenyum dan mengulurkan tangannya.
“kau tidak perlu mengulurkan tanganmu seperti itu.”
“Baik!” Safia menarik tangannya, kemudian mendekati simo dan memegang tangannya.
__ADS_1
Mereka kemudian berjalan.
“aku tidak menyangka kau sudah mempunya anak,” ucap Naria tidak senang, seolah keramah-tamahannya lenyap begitu saja dan juga dia sangat berubah dari sebelumnya.
Simo hanya bisa tersenyum pahit mendengarnya.
“kalian bisa pergi duluan, aku ingin menunggu seseorang di sini.” Putri Naria tiba-tiba berhenti. Dia menyilangkan kedua tangan di dada, dan menoleh ke arah lain.
“ada apa denganmu?”
“apa maksudmu? Aku dari dulu memang seperti ini. Kita baru bertemu, kau jangan sok akrab denganku.”
“kakak, jika kau bersama kami, kau akan aman.” Safia menengahi. Dia merasa perlu untuk membujuk putri Naria.
“Apa yang kau tahu? Huh! Kita tidak ada hubungannya, jadi tolong, biarkan aku sendiri di sini.”
“Kakak, apa kakak cemburu?”
“Anak kecil! Jangan sembarang berkata! Aku tidak menyukainya.”
Di sisi lain, simo terkejut mendengar Safia berkata seperti itu, tapi dia memilih diam, dan menganalisis apa yang sebenarnya terjadi.
“Kakak, aku bukan anak kandung ayah.”
“Kakak, kakak jangan seperti itu.”
“memangnya kenapa?” Naria masih mempertahankan wajah marahnya.
“Ayah, jika kakak tidak mau, kita tinggal saja dia di sini, biar dia tahu bagaimana rasanya berada di hutan sendirian.”
Safia menyabar tangan simo dan menariknya.
“kita tidak ada waktu mengurusi satu orang, para warga dalam bahaya. Aku kira mungkin ada beberapa orang lagi yang berada dalam peristiwa ini, jadi kita harus bergegas untuk menyelamatkannya.”
“hey kalian, apa kalian tega meninggalkanku di sini sendirian?” Akhirnya putri Naria mengalah. Dia berteriak ketika simo dan Safia mulai menjauh.
“Jika kakak tidak ingin sendiri, maka ikutilah dengan kami,” seru Safia menoleh.
“tunggu aku!”
Naria berlari mendekati simo. Ketika tiba dia berkata, “ simo, aku tidak menyangka kau bisa berubah seperti ini.”
“Apa maksudmu?”
“ah, tidak, tidak, maksudku, kau bisanya meninggalkan putri cantik ini sendiri di hutan.”
__ADS_1
...****************...
Setelah beberapa jam mereka berjalan, akhirnya mereka tiba lagi di pemakaman. Mereka menjaga jarak dan mengintai dari pohon-pohon yang jauh.
Para warga sudah tidak sadarkan diri, dan di kurung dengan perisai ungu. Beberapa orang menjaga di sekitarnya.
Mereka berjumlah 50 orang, dan semuanya berada di tingkat bumi.
Simo mungkin saja bisa membunuh mereka semua, tapi dia harus melakukannya dengan sedikit demi sedikit. Dia tidak mungkin bisa melakukannya secara bersamaan. Selain itu, mungkin saja ada beberapa orang bersembunyi.
“Safia, apa kau bisa mengalahkan beberapa dari mereka?” tanya simo.
“Ayah tenang saja. Sudah aku bilang, aku bisa membunuh beberapa orang.”
“Naria, apa kau bisa diam di sini.”
“Jangan panggil namaku secara langsung! panggil aku tuan putri.”
“baiklah, tuan putri.”
“Aku bisa membunuh beberapa dari mereka.”
Simo mengangguk. Dia percaya dengan Naria. Meski dia tidak pernah melihatnya bertarung, simo merasa Naria bersungguh-sungguh mengatakannya.
“Baiklah, ayo kita berangkat!”
Mereka lalu pergi ke tempat masing-masing.
Simo langsung menggunakan teknik lauthing linght dan membunuh satu orang dengan mudah.
10 orang yang ada di sekitarnya terkejut dan mendekatinya. Mereka semua menarik pedang dan bergerak maju menyerang simo.
Beberapa dari mereka langsung menggunakan elemen mereka, tapi simo dapat dengan mudah mematahkan setiap serangan mereka dengan aura pedangnya.
Melihat aura simo, orang-orang di sekitarnya mulai serius dengan simo. Mereka tidak menyangka simo memiliki tekanan seperti ini dan sudah memilikinya saat masih berusia 16 tahun.
Beberapa dari mereka berteriak dan melancarkan serangan 5 bola api sebesar bola sepak bola.
Simo tersenyum dan melompat mendekati salah satunya kemudian menebas lehernya. Dia bergerak cepat seperti cahaya dan membuat satu orang mati di tempat.
Kini tersisa 9 orang lagi yang harus simo bunuh.
“kau anak kurang ngajar!” umpat salah satu dengan mengangkat tangannya.
Bola api muncul di atasnya, kemudian di ikuti yang lainnya. Energi api dari beberapa orang itu menjadi satu di atas pria itu.
__ADS_1