Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 45 pertempuran di akademi part 6


__ADS_3

Simo mengeluarkan pedangnya. Dia mengambil ancang-ancang, kemudian melemparkannya seperti gangsing ke salah satu jendela.


Dam benar saja, sebuah rantai melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Anulika dengan sigap melompat mundur, sedangkan simo memegang pinggang namila melompat lalu mengambil pedangnya kembali yang muncul lewat jendela yang satunya lagi, lalu melompat mundur seiring muncul rantai yang satunya lagi.


“sudah aku bilang! Jendela itu aneh! Dasar gadis sok pemberani.” Ejek namila kepada anulika. Entah mengapa emosinya melonjak ketika berhadapan dengan anulika.


Anulika terlihat tidak peduli dengan perkataan namila. Dia memilih memalingkan wajahnya ke arah lain dari para melihat namila.


“Simo, apa yang kita lakukan sekarang?” namila menoleh.


“Kita akan menghindari semua jebakan yang ada.”


“Kenapa kau tidak mundur saja? Ini terlalu berbahaya, apalagi kau baru sembuh. Mengkhawatirkan orang lain memang baik, tapi... jika sampai terluka itu tidak baik.”


“aku tahu, kau tenang saja. Aku janji, aku tidak akan terluka lagi.”


“kau terus berjanji, tapi aku tahu... Janji itu tidak mudah kau tepati, bahkan bisa di bilang mustahil. Kau hidup dalam dunia yang kacau ini, bagaimana bisa berjanji untuk tidak terluka di dunia seperti itu? Terlebih lagi, kau sangat suka bertarung.”


“lalu apa yang harus aku katakan?”


“Berjanjilah untuk tidak selalu memaksakan diri, hanya itu yang aku inginkan darimu. Apakah kau bisa menepatinya untuk selama-lamanya?”


Entah mengapa simo merasakan kekhawatiran yang besar terhadap kata-kata yang di keluarkan oleh namila. Dia dengan ragu -ragu mengangguk.


Namila ingin berkata lagi, akan tetapi anulika yang berada tidak jauh darinya berkata, “apa kalian sudah selesai? Aku tidak ada waktu untuk mendengar ucapan kalian yang tidak berguna seperti itu.”


Tanpa mendengar jawaban simo dan namila, anulika mengeluarkan Serulingnya kemudian meletakkan di dua lapis bibir yang merah merona itu, lalu meniupnya dengan lembut.


Perlahan-lahan di udara terbentuk pecahan-pecahan es lalu berkumpul di satu tempat, membentuk dewi es yang memegang tombaknya. Saat munculnya dewi es, suhu sekitar melonjak turun drastis, membuat tumbuhan-tumbuhan membeku.


Perlahan-lahan kedua kelopak matanya terbuka, mengeluarkan aura dingin yang mencekam. Ekspresi wajah lembut seketika berubah tajam, kemudian melesat ke depan pintu seraya mengarahkan tombaknya ke depan.


Bunyi nyaring terdengar saat tombak itu menyentuh pintu besi gedung itu. Percikan-percikan api dan membekunya pintu itu mengiringi bunyi yang nyaring itu.


Bag!


Akhirnya pintu itu terbuka lebar. Lalu rantai besar dengan ujung yang tajam keluar. Dewi es langsung menebasnya dengan mudah. Namun, tidak hanya itu saja, dua rantai muncul di belakang dewi es, tepatnya dari tanah. Tapi, sebelum mencapai Dewi es, rantai itu membeku lalu pecah menjadi butiran-butiran es.


Tanpa menunggu waktu, dewi es kemudian terbang ke dalam. Suara-suara jeritan pun terdengar seiring terdengar suara pertarungan di dalam. Beberapa detik berlalu, akhirnya dewi es kembali dan berubah menjadi butiran-butiran es, lalu menghilang.


Anulika menghentikan permainannya, kemudian menoleh ke arah simo dan namila. Dia kemudian mengangguk mengisyaratkan tempat di dalam sudah aman.


Namila dan simo mengerti, lalu mengangguk. Mereka kemudian masuk dengan senjata masing-masing. Walaupun anulika sudah mengatakan sudah aman, belum tentu keamanannya terjamin, bisa saja masih ada jebakan-jebakan.


Patung-patung orang membeku dan tergeletak tidak bernyawa menghiasi Lantai ketika mereka masuk.

__ADS_1


Alat-alat dan barang-barang aneh pun ada di sana, mungkin sebagai alat untuk penelitian mereka.


Di langit-langit beberapa tempat terbuka, lalu mengeluarkan rantai lagi. Sebelum mencapai rombongan simo, rantai itu membeku dan hancur.


Melihat ini, seorang berjubah dan dua orang gendut di sebuah ruangan memperlihatkan ekspresi tidak senang atas kehadiran mereka. Di depan mereka terlihat gambar-gambar tempat-tempat yang ada di gedung itu. Itu semacam kamera pengawas.


“bos, apa yang akan kita lakukan?” tanya salah satu gendut di belakang.


“tenang, hehehe, kita masih punya yang lain,” saat mengatakan itu senyum jahat terlihat di wajahnya.


“Bos memang hebat.” Timpa yang lainya. Mereka kemudian tertawa.


...****************...


Di langit, akhirnya Hoshi Berhasil menghancurkan pedang besar milik Theo dan membuatnya meledak menjadi ribuan keping lalu samar-samar menghilang. Bersamaan dengannya juga, langit tampak mulai kembali normal.


“akhirnya.” Hoshi tersenyum seraya mengusap keringat di dahinya. Dengan nafas tersengal-sengal, dia akhirnya menjatuhkan diri karena kehabisan tenaga dan energi.


Perlahan-lahan kedua matanya tertutup dan akhirnya tidak sadarkan diri.


Aoba berteriak, lalu menangkap tubuh Hoshi kemudian meletakkannya di tanah.


“tetua, kau beristirahatlah, biarkan aku yang melanjutkannya.”


Aoba Kembali terbang dengan bola apinya, kemudian diam tidak jauh dari Theo yang terlihat kecewa dan kesal karena tekniknya di hancurkan.


Pedang besar muncul di tangan kanan Theo. Pedang ini memiliki aura merah darah dan Kematian yang mencekam. Wujudnya sama seperti pedang besar yang sebelumnya muncul di langit, hanya saja ukurannya lebih kecil.


Sebenarnya, Theo bisa saja mengeluarkan pedang besarnya lagi untuk membunuh aoba dan Hoshi, tetapi ada batas waktu untuk melakukannya.


“mati!”


Theo muncul di belakang aoba dengan kecepatan yang sangat tinggi, membuat aoba tidak sempat bereaksi sehingga dia harus merasa tebasan pedang Theo dan terpental di tanah dengan kecepatan tinggi.


Setelah melancarkan serangannya, Theo berbalik, melihat tempat Hoshi berada. Dengan senyum jahat, dia kemudian muncul di depan Hoshi.


“Hari ini adalah hari kematianmu!”


Theo mengangkat pedangnya. Aura merah dari segala arah berkumpul di pedangnya.


Klarika, Hendry dan kai melihat ini, langsung bergegas menghampiri Hoshi, tapi, mereka di halangi oleh dara, nayaka dan rani.


“mau ke mana kalian?” Tanya rani seraya tersenyum menyeringai.


“Hehehe, selesaikan urusan kita dulu.” Kata dara tersenyum.

__ADS_1


“kurang ngajar!” geram klarika lalu melihat rekan-rekannya kemudian mengangguk. Kai dan Hendry melihatnya mengangguk setuju.


“Jika ini yang kalian inginkan, baik, kami akan melakukannya.” Balas klarika Kemudian tersenyum dingin lalu melesat.


Rani dengan cepat melesat dan melompat ke arah Klarika berada. Saat di udara, rani berkata, “kau tidak akan bisa membantunya!”


Rani ingin mengayunkan pedangnya, tetapi ada suara yang terdengar dari sampingnya.


“Maaf nona.”


Sebuah tendangan mengenai kepala rani dengan keras sebelum akhirnya dia benar-benar melihat ke samping.


Klarika mengangguk kepada kai yang di balas anggukan olehnya. Klarika lalu melewati kai.


Nayaka yang melihatnya kemudian memandang sosok di depannya, yang ternyata sebuah patung tanah liat.


Seraya geram dia kemudian hendak menghalangi klarika, akan tetapi suara tidak jauh darinya terdengar.


“Kau harus melayaniku dulu!”


Hendry muncul di belakang lalu mengayunkan tombak petirnya. Nayaka berbalik, dan dengan cepat mengerakkan kedua tangannya ke depan untuk menghalangi serangan Hendry. Meski nayaka melakukan itu, dia tetap terdorong dan menjauh dari Klarika yang terus bergerak maju.


“Sial!” seraya memperlihatkan ekspresi kesalnya, nayaka berusaha menghentikan laju tubuhnya.


Di sisi lain, dara memutar pilarnya. Kemudian saat sudah beberapa putaran, dia langsung melepaskannya, membuat pilar itu berputar kencang ke arah Klarika.


“hehehe, rasakan itu.”


Klarika menoleh, lalu tersenyum penuh kemenangan. Tanah di beberapa tempat bergetar, kemudian muncul ledakan tinggi, bersamaan dengan itu, muncul tiga tangan tanah yang langsung menahan serangan dara. Selain itu, di susul lagi beberapa tangan memegang kaki nayaka dan rani.


“kurang ngajar!” umpat rani berusaha melepaskan kakinya.


Ekspresi kesal terlihat di wajah nayaka setelah kakinya di tahan.


Dara yang melihat Pilarnya di tahan kemudian berlari cepat ke arah Klarika dengan ekspresi kesal.


“Maaf kau harus diam di sini.”


Setelah Klarika mengatakan itu, muncul lagi beberapa tangan tanah yang langsung menyerang dara.


Dara langsung berusaha menghancurkan tangan-tangan tanah, namun, jumlahnya terlalu banyak. Sehingga membuatnya kesulitan untuk menghancurkannya. Dia kemudian merelakan Klarika lolos.


“aku harus cepat!” gumam klarika berlari seraya melihat Theo yang masih mengumpulkan energinya.


“hahaha! Matilah!” ujar Theo lalu mengayunkan pedangnya.

__ADS_1


Klarika langsung melemparkan dua pedang tanahnya tepat ke arah tangan theo.


“apakah sempat?” gumamnya Seraya berlari dan di penuhi rasa khawatir.


__ADS_2