
Setelahnya, mereka akhirnya menuju lapangan yang tidak terlalu luas di dekat jalan. Pertarungan ini tentu saja adalah pertarungan yang tidak seimbang, tetapi mau bagaimana lagi, Andra terlalu naik darah dan ingin menantang simo. Meski dia sudah mengetahui Simo lebih kuat darinya, dia terlalu marah, dan tanpa sengaja menantangnya.
Mundur sekarang, adalah pilihan yang buruk. Dia pasti akan di caci maki karena perkataannya yang tadi. Dia kini hanya perlu berjuang sangat keras melawan simo.
Andra berdiri 30 meter dari simo. Rina, Delisa dan yang lainnya berada tidak jauh dari sana. Sementara Naria, dia akan menjadi wasit pertarungan ini. Dia menoleh, menatap Andra prihatin, dan berkata, “apakah kau memang ingin bertarung? Kini tidak lambat untuk mundur...”
“Tidak. Aku akan bertarung dengannya!”
Naria menghela nafas. Dia tahu, bahkan sebelum pertarungan di mulai, Andra pasti akan kalah. Bertarung seperti ini, hanya membuang-buang tenaga.
Dia kemudian menoleh ke arah simo dan mengisyaratkan sesuatu.
Simo mengangguk. Dia mengerti apa yang di inginkan Naria.
“Baiklah! Jika itu yang kau mau!” Naria menghela nafas. “Pertarungan ini akan di menangkan bagi yang bisa mengunci lawan dan membuatnya tidak bisa bertarung lagi.” Naria mengangkat tangannya. Ketika dia menurunkannya dengan cepat, dia berseru pertarungan di mulai.
Andra mengangkat tangannya ke depan. Sebuah dinding tanah dengan tinggi 10 meter dan lebar 20 meter muncul di depannya. Ketika dia hendak berlari, ada suara yang mengejutkannya.
“Kau sudah kalah.”
Andra terkejut. Dia sedikit melirik simo, kemudian menoleh ke bawah. Bilah pedang sudah ada di lehernya. Jika dia berlari sebelumnya, dapat dipastikan dia akan mati.
“B-bagaimana bisa?” kedua mata Andra bergetar. Dia tidak pernah menyangka bisa di kalahkan begitu saja, bahkan sangat cepat. Seberapa cepat dia bergerak?
“baiklah! Sudah di putuskan! Simo memenangkan pertarungan ini!”
Naria mendekati simo dan Andra.
“Andra, kau sudah melihatnya? Dia sangat kuat, dan mampu melindungiku. Tidak perlu bertarung lagi. Jika kau masih ingin pergi bersama kami, aku akan mengizinkannya.”
“Aku memerlukan waktu sebentar. Aku akan kembali.”
__ADS_1
Andra pergi dari sana dengan perasaan kecewa. Dia menunduk dalam. Kekalahannya adalah aib, dia kalah dengan sangat telak, bahkan belum mengeluarkan serangannya. Sebagai pangeran, dia sungguh malu. Dia tidak mempunyai muka lagi. Yang menantang di kalahkan dengan telak!
Simo dan Naria memberikannya pergi. Mereka mengetahui, mungkin Andra sedang sangat kecewa.
Semua orang yang ada di sana memperlihatkan keprihatinannya masing-masing. Tetapi, yang paling terlihat prihatin, adalah Rina. Dia merasa sangat kasihan dengan pangeran itu. Meski dia dan pangeran itu adalah musuh, dengan permusuhan itu, mereka menjadi lebih dekat. Dia tidak tahu, perasan apa yang muncul di dalam hatinya sekarang.
Dia tanpa ragu berjalan, dan berbalik, “Aku akan menyusulnya. Dia akan membuang-buang waktu kita saja!”
Dia kemudian berlari mengejarnya. Simo dan Naria tidak menghentikannya. Bagaimana pun juga, itu akan sangat menguntungkan bagi mereka.
...****************...
Andra berjalan dan duduk sekitar pohon-pohon yang rendah nan rindang. Dia menghela nafas, mengambil ranting yang tergeletak, kemudian memain-mainkannya sambil mengingat-ingat kekalahannya.
Dia sudah ceroboh menantangnya. Dia sangat marah, dan ingin menantang simo lagi. Tapi, dia menahannya, dia dikatakan tidak tahu malu jika melakukan itu.
“Sungguh aneh, pangeran terhormat sepertimu kalah dengan orang rendahan seperti itu.”
Andra Kemudian pergi menjauh. Dia semakin kesal dan marah dengan kedatangan Rina.
Tetapi tiba-tiba dia merasakan sesuatu menabrak punggungnya. Dia berbalik dan menggertak giginya. Rina menendangnya. “Apa yang kau inginkan!? Aku membencimu! Jangan membuatku marah, aku bisa saja membunuhmu!”
“Dasar pangeran lemah! Jika anda bersikap menyerah seperti ini, anda mungkin akan di gantikan oleh saudara anda yang lain. Negara anda tidak hanya butuh orang yang terpelajar, tetapi juga orang pantang menyerah! Jika anda bersikap seperti ini, anda hanya akan menjadi sampah tidak berguna untuk seumur hidup anda!”
“ya! Kau benar, aku adalah sampah! Aku pergi!” Andra menggertakkan gigi dan mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak peduli dari mana Rina mengetahui hal itu.
Ketika dia hendak pergi, Rina kembali berkata, “Maaf, kami hanya membutuhkan waktu sebentar untuk menunggu sikap kekanakan anda. Jika anda pergi lebih jauh, kami akan meninggalkan anda.”
Andra berbalik dengan kasar. “Kalau begitu ayo kita pergi!”
Andra menyambar tangan Rina dan berjalan menjauh dari sana.
__ADS_1
Rina sedikit terkejut dengan perlakuan Andra yang kasar dan tiba-tiba. Dia menggenggam erat tangannya. Tetapi kali ini, dia tidak marah. Dia mengetahui Andra saat ini marah. Dia melakukan itu hanya semata-mata untuk meluapkan amarahnya.
Sekembalinya mereka dari sana, Naria, simo, Delisa dan chan memandang mereka aneh dan terlihat terkejut.
“Apa yang kalian lihat!?” di tatap seperti itu, Andra menjadi kesal.
“Ada hubungan apa di antara kalian berdua?” Delisa bertanya.
Andra terkejut. Dia memandang tangannya yang memegang tangan Rina. Dia cepat-cepat melepaskannya. “Tidak ada yang baik! Kami berdua adalah musuhan!”
Andra memandang tajam ke arah Rina. “Kenapa kau tidak memberitahuku tentang itu?”
“maaf sekali pangeran. Aku merasa anda yang tinggi ini, memiliki perasaan terhadap diriku yang rendah ini.” Rina mendengus lalu masuk ke dalam kereta.
Ketika Rina berkata, semuanya sudah masuk ke dalam. Tentu saja mereka semua tidak percaya. Mereka melihat dengan mata mereka sendiri, Andra memegang pergelangan tangan Rina dengan erat.
“Ini tidak seperti apa yang kalian pikirkan!”
...****************...
Kereta akhirnya melewati gerbang timur dengan lancar. Dari kejauhan, ala memandang tanpa ekspresi. Kedua matanya terlihat kosong, tetapi kadang-kadang terlihat sedikit kejernihan.
“Yang mulia, apakah tidak akan terjadi apa-apa bila kita mengirim mereka saja?” ala bertanya kepada dira di sampingnya.
“Tidak. Mereka semua akan baik-baik saja. Aku sudah mengetahui bagaimana kekuatan mereka. Terlebih untuk anakku. Dia sudah seperti monster yang mengerikan. Dia bahkan sudah mampu membunuh beberapa orang yang berada di tingkat alam. Di tambah lagi, dia suka pertarungan, dia tidak akan mundur, meski sudah terdesak. Dia pantang menyerah. Mengirimnya seperti ini, adalah surga baginya. Dia tidak perlu berbelas kasih kepada para raksasa yang di temuinya. Dan, dia akan memuaskan rasa haus akan pertarungan.”
“Di sampingnya berada ada tuan putri Naria. Setelah aku mendapatkan informasi mengenai simo dan Naria, mereka adalah dua sosok yang saling melengkapi. Mereka tidak akan terpisahkan, dan saling mendukung. Kekuatannya juga tidak kalah kuat. Kelebihannya lagi, Naria sangat melindungi simo. Ini akan menjadi kombinasi yang sangat pas. Jika simo bertindak gegabah, Naria akan siap menasihatinya. Dia adalah figur penting yang harus ikut dalam petualangan ini.”
“Untuk dua gadis itu?” tanya ala tenang.
“Mereka hanya pelengkap. Mereka akan siap membantu ketika dalam keadaan bahaya.”
__ADS_1
Ala menghela nafas. “Meski apa yang anda katakan tidak membuatku tenang dan yakin dengan keselamatannya, aku harap mereka akan kembali dengan selamat.” Ala berbalik dan pergi.