
Mendengar ucapan delisa, membuat Tristan marah. Dia marah karena Delisa terlihat acuh tak acuh dengannya dan terlebih lagi dia tidak memiliki rasa takut sedikit pun di wajahnya. Walaupun dia gadis yang cantik jika itu bukan Namila dia tidak punya alasan untuk menahan diri.
Tristan memerintahkan bawahannya lagi untuk menyerangnya. Bawahan yang Tristan bawa terdiri dari 5 orang laki-laki. Dua orang terikat, dua orang lagi dia perintahkan menyerang, dan satunya lagi yang paling kuat di antara semua berdiri menunggu perintah.
Delisa melompat ke dalam area pertarungan sembari berputar-putar, menyebabkan selendangnya ikut berputar-putar dan menari-nari di udara.
Semua orang terkagum-kagum melihat keindahan itu.
Dua orang bawahan Tristan melompat. Menarik pedangnya dan menyerang Delisa.
Namun, saat di udara dan hendak menyerang, dua bawahan Tristan langsung di lilit oleh selendang delisa dengan erat yang membuat gerakan mereka terhenti dan akhirnya menggeliat -lihat di tanah seperti cacing demi melepaskan diri.
Senyuman mengejek langsung delisa arahkan Kepada Tristan.
“paman keen, lawan dia!” ujar Tristan memerintahkan pria berkumis.
Orang yang di sebut keen itu tidak bergerak, dia tetap berdiri seraya memandang delisa.
“paman keen, apa kau tidak mendengarkan perintahku?” Tristan menoleh.
“maaf tuan, aku tidak bisa melakukannya.”
“Mengapa?”
“apa anda tahu siapa gadis di depan anda sekarang?”
“tentu saja orang yang ingin mencari gara-gara denganku.” Jawab Tristan asal-asalan.
“Tidak tuan, dia adalah anak gadis jendral kedua. Aku tidak bisa melawannya. Melawannya, sama saja dengan mencari mati.”
“aku tidak mempedulikannya! Paman kau harus maju atau tidak, aku akan melaporkannya kepada ayah.” Emosi Tristan melonjak.
Keen tetap pada pendiriannya. Dia menggelengkan kepalanya. “Maaf tuan. Aku lebih memilih di laporkan dari pada harus berurusan dengan jendral kedua.”
Keputusan keen sangat benar, jendral kedua adalah Salah satu orang kuat yang ada di kekaisaran gunung salju. Dia tidak terlalu mencolok, tapi namanya terkenal di masa lampau. Karena dia tidak pernah muncul, orang-orang beranggapan dia sudah mati.
Tetapi, tentu saja tidak. Anaknya akhirnya muncul ke publik mengatakan dirinya anak jendral kedua. Hal itu tentu saja membuatnya di hormati, Lantaran Jendra Kedua sangat berjasa kepada kekaisaran gunung salju.
Jenderal kedua adalah jendral perempuan cantik yang selalu menggunakan selendang dan pedang sebagai senjatanya. Dia terakhir kali terlihat saat kaisar Galen berpidato, tapi setelah itu dia menghilang.
__ADS_1
Keen tahu betul siapa Jendral kedua itu. Oleh karena itu, dia berani menentang perintah atasannya. Jika dia dipecat dan dihukum, dia tidak akan mempermasalahkannya, karena hukuman itu lebih ringan daripada melawan jendral kedua.
“Baiklah! Jika kau tidak mau melawannya, maka aku akan mencari orang lain saja!” Tristan mendengus kesal. Dengan marah dia pergi tanpa mempedulikan bawahannya.
Melihat tuannya marah, keen hanya bisa menghela nafas panjang dan berharap tuannya bisa memaafkannya.
Saat beberapa langka berjalan, Tristan berhenti. Tanpa menoleh dia berkata, “aku akan mendapatkanmu Nona.”
Setelah itu, orang-orang secara bertahap bubar dan melepaskan bawahan Tristan.
Namila dan simo mendekati Delisa.
“terima kasih telah menolong kami,” Ucap Namila.
“Tentu saja. Aku tidak ingin lawanku tidak bisa menghadiri ujian besok karena hal sepele seperti ini. Aku harap kau mengerti, aku akan melawanmu seperti apa yang telah aku ucapkan.”
Setelah mengatakan itu Delisa pergi tanpa menoleh sedikit pun.
“Aku juga.” Balas Namila dingin lalu tersenyum.
Melihat ini, simo hanya bisa diam. Dia tahu apa yang harus dikatakannya.
Di pagi hari yang cerah seperti biasa para siswa kelas satu berkumpul di lapangan guna untuk melanjutkan ujian pertama tahap menengah.
Dari 160 siswa, setengahnya berhasil masuk dan setengahnya gagal termasuk Thomi. Tapi bukan berarti mereka gagal naik kelas, mereka di nilai dari pertarungan yang mereka lakukan. Jika layak, maka mereka akan di loloskan, tapi jika tidak, mereka akan tetap tinggal di kelas satu. Walaupun ini menyakitkan, mereka yang bakatnya kurang harus menerima kenyataan pahit seperti ini.
Mereka yang gagal juga akan di berikan kesempatan untuk ujian tahap kedua dan ketiga sesuai dengan nilai mereka di ujian tahap pertama.
“Selamat pagi semuanya.” Ujar klarika dengan nada semangat. “tidak terasa ujian hari ini dimulai. Ibu tahu kalian semua pasti ada yang gugup, ada yang takut dan memiliki keyakinan yang tinggi. Ibu harap hal itu tidak mempengaruhi jalan pertarungan Kalian, dan ibu harap kalian tidak mengecewakan para wali di sini. Buatlah mereka bangga dengan kemampuan kalian. Tunjukkanlah, bahwa para guru yang mengajar kalian hebat dan termasuk Kalian. Baiklah, tanpa basa-basi lagi, mari kita mulai ujian hari ini.”
“Ujian kali ini seperti biasa akan di undi dengan nomor, ibu harap Kalian tidak melupakan nomor kalian.”
Klarika tersenyum lalu berjalan mengambil undian setelah semua siswanya mengangguk.
Klarika mengaduk-aduk nomor undian, lalu mengambilnya secara acak. Setelah membuka gulungan dia berujar memanggil nomor 20.
Namila terkejut menyadari nomornya terpanggil. Dia tidak gugup. Tapi dia sekarang tidak bisa bertarung karena masih dalam tahap pemulihan. Jika saja nomornya terpanggil besok, maka dia tidak perlu khawatir dengan ujian hari ini.
Namun apa yang bisa dia buat? Dengan masih percaya diri Namila berjalan ke arena pertarungan.
__ADS_1
Setelah tiba, Klarika tersenyum, menyadari salah satu siswa terbaiknya sekarang bertarung. Dia lalu mengambil nomor undian berikutnya.
Tidak di sangka-sangka Namila, musuhnya sekarang tidak lain gadis yang ingin bertarung dengannya beberapa hari dan orang yang sama menolongnya kemarin. Ya, dia adalah delisa.
Delisa melompat lalu berputar-putar di udara beberapa saat sebelum akhirnya mendarat di arah berlawanan dengan namila. Gadis ini tersenyum menyadari musuh yang dia tunggu-tunggu kini berada di depannya.
Namila melihatnya dengan tajam dan ada sedikit kecurigaan dengan pertarungannya hari ini. Dia menduga pasti pertarungannya sudah direncanakan oleh seseorang. Yang paling namila curigai Adalah Delisa dan Klarika.
Walau Klarika seperti orang yang tegas, dia belum tentu orang yang baik. Bisa saja penampilannya tegas di luar, tapi di dalam seorang penerima suap. Kemungkinan ini sangat kecil. Namila menyadarinya karena dia sangat mengenal Klarika beberapa tahun. Namun, sikap manusia bisa berubah-ubah. Oleh karena itu Namila wajib mencurigainya.
Namila mengangkat tangannya.
“Ada apa Namila?” tanya klarika dengan wajah heran.
Delisa masih tersenyum melihat namila mengangkat tangannya. Gadis ini tidak peduli entah apa yang akan Namila katakan.
Simo, Talina, thomi dan anulika merasa heran dengan namila. Di dalam hati mereka, mereka yakin namila tidak mungkin menyerah semudah itu sebelum bertarung.
Simo dan anulika menduga itu mungkin ada kaitannya dengan pertarungan dua hari sebelumnya, karena pertarungan itu memerlukan energi yang sangat banyak yang tentu saja memerlukan istirahat yang banyak juga dalam memulihkannya.
“Bu Klarika, aku ingin bertarung besok.”
“mengapa?”
“aku belum pulih setelah bertarung beberapa hari ini. Ada penjahat yang menyerangku. Mereka berjumlah 5 orang. Aku bertarung habis-habisan untuk menyelamatkan diri. Bisakah ibu mengundurkan jadwal pertarunganku?” Tanya namila yang tentu saja berbohong. Dia tidak berani mengungkapkan hal yang sebenarnya. Dia takut jika mengungkapkannya dia dan beberapa orang yang melakukan penyelidikan itu akan terancam bahaya.
Pecah kemudian keributan di antara para siswa. Ada yang menduga itu alasan saja untuk mengelak, ada yang menganguk setuju, ada juga karena ingin mempersiapkan pertarungan supaya mendapatkan hasil yang lebih baik. Tentunya simo dam anulika tidak termasuk didalamnya dan begitu pun Thomi dan talina.
Klarika tidak langsung menjawab, dia mengamati namila dan memang benar apa yang dikatakannya. “delisa, apa kau setuju jika pertarungannya di undur?”
“jika memang harus seperti itu, aku setuju. Lagi pula tidak akan adil jika bertarung dengan orang yang masih dalam tahap pemulihan. Aku menyetujuinya sekarang, tapi besok aku tidak akan memberikan kemudahan.”
Klarika mengangguk. “baik. Pertarungan akan dimulai besok. Walau ini sangat disayangkan, kita harap di pertarungan selanjutnya tidak ada yang seperti ini lagi.”
Setelah Namila dan Delisa kembali ke tempat masing-masing, Klarika kembali mengambil nomor undian.
Nomor Talina yang di panggil.
Seketika perasaan gugup muncul di hati Talina setelah nomornya di panggil. Walau ini sudah beberapa kali, tidak di pungkiri perasan gugupnya masih muncul.
__ADS_1
“tunjukan kekuatanmu,” Kata Thomi seraya menepuk bahu Talina, menyemangati gadis itu.