Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 40 siren


__ADS_3

“begitu ya.” Kata Namila lemas setelah mendengar cerita Andros yang menyedihkan. Nanila mengucapkannya seraya tertidur. Gadis itu seperti sadar, tapi kedua matanya terpejam seperti tidur.


Simo, ayu, dan Andros yang mendengar, tidak mempermasalahkannya; malahan mereka menerima apa yang di ucapkan Namila dengan tulus. Apalagi andros, dia sangat mengharapkan ceritanya di dengar semua orang, sebagai penyaluran kesedihannya yang dalam.


“Aku harap teman-teman paman mendapatkan tempat yang terbaik.” Kata simo dengan nada sedih. Dia dapat merasakan bagaimana kehilangan orang-orang terdekat dengan cara seperti itu.


Andros mengangguk pelan. Walaupun itu hanya beberapa kata-kata rangkaian, Andros merasa perasaannya lebih tenang. Selain itu, dengan simo berkata seperti itu, membuat Andros lebih lega dan mengikhlaskan kepergian teman-teman


Sementara itu, ayu tetap memandang ke luar jendela. Bukan karena dia ingin melihatnya, tapi dia berusaha melupakan tragedi ayahnya bersama Andros. Baginya itu adalah kenangan terburuk yang pernah dia alami selain kehilangan ibunya.


Tidak beberapa lama seperti layar televisi yang di matikan, tiba-tiba saja langit menjadi cerah terang seperti tidak ada hujan sebelumnya. Bahkan sebekas cahaya masuk dari jendela yang ayu lihat.


Ayu merasa keheranan dan bingung. Ayu lalu menoleh, kemudian bertanya kepada Andros yang memiliki pengalaman di laut melebihi pengalamannya.


“I-ini...” jawab andros ragu-ragu seraya memandang ke luar jendela.


“Tenang paman, semuanya akan baik-baik saja.” Potong simo setelah melihat Andros seperti ketakutan melihat keluar. Simo mengetahui sebekas cahaya itu adalah cahaya yang menandakan adanya siren di dekat mereka yang bersiap-siap memangsa mereka.


Selain itu, dia juga tahu Mengapa ada hujan lebat sebelumnya dan mendadak cerah. Hal itu tidak lain adalah ulah siren yang ingin menenggelamkan kapal mereka, lalu membunuhnya bersatu-persatu di dalam air, dan jika tidak, maka sebekas cahaya itu akan muncul sebagai rencana kedua mereka untuk membuat para manusia terkejut dan heran, lalu keluar. Kemudian bisa di tebak apa yang terjadi


Andros mengangguk.


“ayu, bisakah kau menjaga namila untukku? Aku akan pergi sebentar untuk melihat sekitar. Kalian tetap di sini sampai aku tiba dan jangan keluar jika Kapal ini tidak tenggelam.” Hal itu simo lakukan untuk mengantisipasi musuh memanfaatkan keberadaan mereka berdua untuk mengalahkannya. Selain itu, itu juga demi keamanan mereka.


Ayu dan Andros mengangguk. Meski Kedua telinga mereka tersumbat, mereka masih bisa mendengar ucapan simo. Mereka tidak bisa mendengarkan suara-suara yang jauh seperti petikan arpa contohnya yang sekarang bisa di dengar simo.


Meski terdengar di telinga simo, dia masih bisa mengendalikan dirinya dengan baik, dan hal itu tidak lain berkat penyumbat telinga itu.


Tidak seperti simo duga ayu tanpa bertanya langsung menerimanya, lalu duduk menjaga namila yang masih kelelahan.


“hati-hati.”


Simo mengangguk, kemudian keluar.


Saat tiba di luar, simo menyebarkan Padang ke segala arah dan menemukan satu siren berdiri seraya memainkan arpa dengan anggun dan mata tertutup. Rambutnya yang indah menari-nari kala sang angin bertiup. Tentu saja simo kagum melihat kecantikan dan keindahan siren itu yang layaknya seperti malaikat. Walaupun dia pernah melihatnya potonya dia tidak pernah melihatnya secara langsung.


“Benar-benar makhluk yang indah.” Simo mengeluarkan pedangnya lalu melesat ke arah siren itu berada.


Siren itu mengerutkan keningnya setelah menyadari simo tidak terpengaruh oleh musiknya. Dia perlahan-lahan membuka matanya, melihat keberadaan simo.


Saat membuka matanya hal tidak terduga terjadi di depannya.

__ADS_1


Trangkk!


Simo sudah berada di depannya seraya mengayunkan pedangnya dengan kuat. Walaupun terkejut siren itu berhasil menahan serangan simo dengan Arpanya.


“siapa kau?” tanya siren itu kepada simo yang berdiri tidak jauh darinya setelah menyerang. Ini adalah pertama kalinya siren itu mendapati manusia tidak terpengaruh oleh alunan musiknya yang indah, dan terlebih lagi manusia di depannya menyerangnya. Tentu saja hal itu membuatnya heran.


“Aku adalah orang yang akan membunuhmu.” Ujar simo dingin seperti saat dia melawan para raksasa yang tidak ada belas kasihan sedikit pun. Wajahnya pun kembali dingin.


“Cih! Sombong sekali, kau pikir mudah membunuhku? Lihatlah ini.” Setelah mengatakan itu siren itu melompat tingginya ke belakang seraya memainkan arpanya. Pada saat hari-jari tangannya yang putih itu memetik Arpa, terlihat gelombang nada bagaikan sesuatu yang di jatuhkan ke air mengembang.


Sepersekian detik kemudian ombak besar yang entah dari mana muncul lalu mulai mengarah simo.


Sudut-sudut bibir siren itu terangkat membentuk senyuman manis setelah melihat simo terdiam. Sekarang siren itu terbang layaknya malaikat.


Wuss!


Akhirnya ombak itu menghantam tubuh simo dan melenyapkannya dari pandangan. Siren itu ingin tertawa dan pergi, tapi saat hendak melakukannya, ada bola air melayang tepat di tempat simo berada.


“Wah, ternyata siren itu sangat cantik ya.” Ujar namila setelah melelehkan perisai bola air yang melindunginya.


“kau jangan sampai tergoda dengannya ya.” Kata namila Kepada simo dengan nada sedikit penekanan. Gadis itu muncul di saat yang tepat! Wajahnya terlihat kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa dengannya sebelumnya.


“Tentu.”


Setelah mengatakan itu, namila mengeluarkan ombak besar yang membuat siren itu terkejut. Setahunya hanya para siren lah yang bisa mengendalikan air.


Setelah terlepas dari keterkejutannya, siren itu langsung memainkan Arpanya untuk membuat ombak besar seperti tadi. Perlahan-lahan, tapi pasti kedua ombak itu saling mendekat dan akhirnya berbaur satu sama lainya, membuat kapal yang di tumpangi Andros dan ayu terombang-ambing tidak karuan.


Meski begitu, Andros dan ayu masih bisa bertahan di kapalnya.


Merasa kekuatannya kurang kuat, siren itu, kemudian memetikan Arpanya dengan cepatnya dan beraturan membuat alunan nada yang indah.


Pada saat Alunan nada itu terdengar, di permukaan laut membentuk paus besar yang semakin mendekati Namila dan simo. Tentu saja itu dengan mudah dapat mereka hindari akan tetapi siren itu membuat beberapa paus air yang mengelilingi simo dan namila.


“Ternyata siren itu kuat juga, tapi maaf, aku bisa mengatasinya.” Saat mengatakan itu namila mengangkat tangannya. Air-air laut terangkat dengan cepat membentuk bunga teratai besar dan tanpa pikir panjang namila menghantamnya ke laut membuat ledakan besar yang menghancurkan beberapa paus itu seketika.


“sekarang giliranku.” Simo melesat setelahnya dan menyerang siren itu.


Saat menyerangnya, simo tidak menyangka siren itu bisa menggunakan teknik pedang yang mampu menahannya. Namun karena simo Memiliki teknik pedang yang lebih unggul membuatnya dengan mudah menjatuhkan siren itu


Saat terjatuh, sekujur tubuh siren itu di penuhi luka sayatan. Darah segar mengalir dari beberapa tumbuhnya. Walaupun begitu, parasnya yang cantik tetap terlihat.

__ADS_1


“brengsek!” ujar siren itu seraya memegang tubuhnya yang tersisa sakit, kemudian mengambil Arpanya yang beberapa senar sudah putus, lalu memainkannya.


Tidak beberapa lama simo melesat dan menghancurkan arpa itu, membuat siren itu terkejut.


Namun tidak beberapa lama siren itu tertawa keras layaknya mendapatkan kemenangan yang besar.


“kalian sudah terlambat! Teman-temanku akan datang dan membunuh Kalian.”


“oh, iya?”


Namila muncul lalu menggulung tubuh siren itu dengan air hingga membuatnya tidak bisa bergerak, kemudian mengangkatnya.


“saat mereka datang, mereka akan menyaksikan kami membunuhmu.” Kata namila kepada siren yang sudah ada di depannya.


“hahahha! Bagaimana kau akan melakukannya?” siren itu masih memiliki kepercayaan diri yang tinggi.


Dan benar saja tiba-tiba muncul beberapa siren di langit. Saat muncul mereka semua mengurutkan keningnya, tidak percaya apa yang mereka lihat sekarang. Beberapa juga ada yang ingin menghampiri temannya yang masih terikat, tapi pemimpi mereka menghadangnya.


“Ada apa?” tanya salah satu siren.


“kita bertanya dulu.” Jawab siren yang menghadang.


Mendengar itu, siren temannya ingin berkata, tetapi pemimpinnya melesat mendekati simo dan berhenti beberapa meter darinya.


“Oh, apa kau ingin menyaksikan temanmu mati sekarang?” tanya Namila dingin


Siren itu menggelengkan kepalanya.


“Lalu untuk apa?”


“Perkenalkan namaku karla. Aku ingin menjemput temanku itu, bisakah kau memberikannya?”


“apa yang kau lakukan!?” bentak siren yang terikat.


“diam kau Diana!” bentak Karla kepada Diana yang terikat dengan mata tajam dan menusuk membuatnya tidak berani berkata-kata apalagi.


“Karla, apa kau sudah gila!” Ujar teman Karla tadi dan semua temannya mengangguk membenarkan.


Walaupun sebenarnya para siren yang di pimpin Karla dapat bertarung tanpa mendengarkan perintahnya, mereka memilih untuk taat. Apalagi Diana teman mereka masih terikat oleh simo dan Namila. Menyerang bukanlah pilihan terbaik.


Alasan teman Karla mengatakan itu, karena Karla terlalu sopan kepada simo dan namila. Hal yang seharusnya tidak perlu di lakukan kepada musuh.

__ADS_1


__ADS_2