
Ini tidak berlangsung lama karena mereka tahu teknik pedang yang mereka miliki sama-sama kuat. Namun untuk simo, dia bisa meningkatkan kekuatannya, tapi dia tidak ingin mencolok di babak pertama ini.
Oleh karena itu, mereka berdua memilih melompat mundur, menjaga jarak. Walau pertarungannya singkat, baik simo ataupun Anaya keduanya sama-sama kelelahan.
Setelah lima tarikan nafas, Anaya muncul seketika di depan simo. Dengan kedua tangannya dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
Simo dengan cepat meletakan pedangnya secara vertikal. Walau simo kuat, dia tidak menyangka serangan Anaya mampu membuatnya mundur.
Anaya tidak berhenti di sana saja, dia muncul di belakang simo, dan melakukan gerakan yang sama. Tidak hanya itu saja, bahkan dia muncul dari samping dan atas.
Semua serangannya mampu membuat simo bergeser beberapa meter, tapi itu tidak membuatnya jatuh atau terluka.
Setelah beberapa gerakan, Anaya memutuskan mengayunkan pedangnya ke segala arah menyerang simo. Simo dengan senang hati mengikutinya. Semua orang terkagum-kagum melihat kecepatan mereka berdua yang seperti tidak terlihat. Percikan-percikan api mengitari keduanya. Itu bagaikan pesta kembang api.
Mereka saling mendorong satu sama lainnya. Ini berlangsung beberapa menit sebelum akhirnya Anaya mundur karena terdesak.
Ekspresi serius Anaya semakin meningkat setelah di pukul mundur oleh simo. Dia lalu berlari dengan cepat. Ketika tiba di depan simo dengan keras mengayunkan pedangnya, tapi saat mengayunkannya, dia tiba-tiba menghilang, lalu muncul di belakang simo.
Simo terkejut, tapi dia mampu menahannya. Retakan-retakan terlihat di kaki simo yang masih menahan serangan Anaya. Dengan berat pedangnya dan kekuatan Anaya hal ini jelas membuat lawan kewalahan. Tapi berbeda dengan simo, walau dia terlihat kewalahan, sebenarnya dia tidak kewalahan. Dia hanya berpura-pura.
Namila yang menyadari ini hanya bisa menghela nafas. Walau dia tahu simo ingin menyembunyikan kekuatannya, ini juga tentu membuatnya di remehkan musuh, apalagi musuh hebat selanjutnya. Walau itu baik, tapi bagi namila itu jelas penghinaan baginya yang tidak dia sukai.
Delisa tersenyum setelah menyadari ada yang janggal dengan pertarungan simo. “sepertinya ini akan menarik.”
Di lain sisi, anulika mengamati dan menganalisis jalannya pertarungan merasa heran kepada simo yang masih bisa tetap mempertahankan kekuatannya dari awal hingga sekarang tanpa pengurangan sedikit pun, ini jelas membuatnya heran dan ingin menebak-nebak seberapa kuat simo.
Di lapangan pertarungan pedang terus terjadi. Mereka masih seimbang, Walau Anaya sudah mulai kelelahan, dia masih belum mengeluarkan teknik-tekniknya secara keseluruhan.
Klarika yang melihat pertarungan simo hanya bisa menghela nafas panjang. Dia ingin sekali simo menang cepat tanpa kesulitan apa pun dan membuatnya terkejut. Namun siapa sangka simo memilih meladeni Anaya secara profesional.
__ADS_1
Setelah beberapa tukaran ayunan, akhirnya Anaya mampu di dorong beberapa langkah. Anaya lalu membanting pedang beratnya, membuat tanah retak beberapa meter. Retakan-retakan itu merambat menuju simo. Lalu saat tiba di depan simo, sebuah tanah runcing muncul ingin menusuk simo. Simo secara refleks melompat dan memotongnya.
Simo kembali memandang Anaya, namun Anaya tidak ada di sana.
“kau mencariku!?”
Simo menoleh. Anaya sudah ada di belakangnya dengan membawa kotak tanah besar. Dia meraung dan mendorong kotak itu hingga masuk ke dalam tanah. Semua orang terkejut. Di antara mereka ada yang menduga-duga apakah pertarungan sudah selesai.
Anaya yang merasa pertarungan sudah selesai bisa menghela nafas. Gadis itu mengusap air keringat dengan kasar. Namun, beberapa saat kemudian energi alam yang besar terpancar dari dalam kotak yang Anaya duduki. Gadis itu tanpa sadar melompat menjaga jarak.
Retakan-retakan mulai terlihat di kotak tanah. Kedua alis Anaya terangkat. Dia heran bagaimana bisa energi sebesar ini terpancar dari tanah secara tiba-tiba. Anaya langsung menarik pedangnya yang berada tidak jauh darinya.
Bomm!
Kota tanah Anaya akhirnya hancur berkeping-keping dan menyisakan simo yang berdiri seraya memegang pedangnya dengan erat.
Anaya yang melihat itu langsung meluncur ingin menyerang simo dari segala arah dengan teknik tercepatnya, tapi simo selalu berhasil menghalaunya dengan cepat dan tepat.
Dengan kecepatan yang meningkat, Anaya kembali menyerang simo. Namun, lagi-lagi simo berhasil menahan serangannya tanpa kesulitan yang berarti. Anaya kembali mengeluarkan gunung-gunung tanah yang runcing dari bawah simo, tapi simo berhasil menghindarinya.
Tidak menyerah, Anaya terus menyerang simo dengan berbagai teknik yang dia punya, tapi apa daya dia kehabisan tenaga dan akhirnya menyerah.
Semua orang terkejut dengan pengumuman itu. Soalnya ini adalah pertama kalinya ada seseorang menyerah. Semuanya mulai berbisik-bisik membicarakannya.
Setelah pertarungan selesai simo kembali ke tempatnya. Saat melewati kerumunan para siswa, Delisa mengatakan akan mengalahkannya.
Simo tidak menanggapinya, dia tetap berjalan ke luar, tapi dia tahu bahwa itu adalah gadis yang di katakan namila.
“aku tidak menyangka kau bisa bertahan selama itu tanpa kelelahan.” Ucap namila ketika simo tiba.
__ADS_1
“itu karena aku bisa mengendalikan energi alam di dalam tubuhku. Jika kau ingin aku bisa mengajarimu.”
“Mungkin nanti. Tapi ngomong-ngomong dari perkiraanku gadis itu kuat dan mungkin berada di bawahmu, tapi mengapa dia sangat kelelahan? Aku tahu kau bisa mengendalikan energi alam kecilmu, tapi tidak mungkin sehemat itu, ‘kan?”
“itu karena aku tidak menggunakan energi alam kecil dalam beberapa waktu, jadi itu menghemat energiku.”
“jadi, itu hanya kekuatan fisikmu saja?”
“simo mengangguk.”
“Kau selalu membuatku kagum.”
Simo tidak menjawab.
Pertarungan terus berlanjut. Semua siswa mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat itu. Beberapa siswa ada yang gugup, ada juga yang terlalu bersemangat dan memandang tinggi dirinya, sehingga baik yang gugup atau terlalu sombong dapat merugikan diri mereka sendiri.
Dari banyaknya siswa yang gugup salah satu adalah Talina. Walau gadis itu terlihat sudah berubah, namun tidak dapat di pungkiri dia gugup saat bertarung.
Hal itulah yang membuatnya kesulitan dalam bertarung. Tapi, terlepas dari semua itu, dia akhirnya bisa keluar sebagai pemenang.
Mendengar dirinya menang, gadis itu sangat gembira. Usahanya tidak sia-sia. Dia bahkan memeluk Thomi ketika tiba di tempat simo dan namila berada. Menggoyang-goyangkan tubuh thomi dengan sangat keras.
Ketika dia sadar akan perilakunya, dia cepat-cepat meminta maaf. Rona merah menyebar di wajahnya ketika berkata seperti itu.
Simo dan namila yang menyadarinya hanya bisa tersenyum. Mereka memaklumi apa yang di rasakan Talina. Mereka juga akan melakukan itu, jika mencapai sesuatu yang sangat mereka inginkan.
Namun tidak lama berselang lama, thomi maju, tapi kali ini berita sedih terdengar. Thomi dengan mudah di kalahkan oleh salah satu siswa kelas B yang memang memiliki kekuatan di atasnya. Hal itu jelas membuatnya sedih, tapi mau bagaimana lagi, dia sudah kalah dan hanya bisa memperbaikinya dengan berlatih keras.
Simo, namila dan Talina berusaha mengobati rasa sakit itu, namun perasaan manusia memang sulit diobati. Thomi hanya mengangguk dengan tatapan sedih.
__ADS_1
Melihat itu, semuanya hanya bisa pasrah.
Setelah ujian kali itu selesai, semua siswa mendapat libur dua hari guna mengisi tenaganya untuk persiapan ujian tahap selanjutnya. Salam dan keluh kesah pun turut di katakan dalam penutupan itu. Selain untuk menyemangati para siswa, itu juga untuk memajukan dan membesarkan semangat para siswa yang kalah. Dan untuk yang menang, mereka di himbau untuk berlatih lebih keras karena sesuatu yang mengejutkan dan berbahaya bisa datang tiba-tiba.