Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 35 pengejaran


__ADS_3

“ibu apa aku bisa bertemu dengan kakak itu lagi?” Tanya Lasmaya seraya menunjuk simo yang semakin menjauh.


“Mungkin dan asalkan kau ingin, walaupun dia berada di ujung dunia sekalipun kau pasti akan bertemu dengannya lagi.” Jawab ibunya seraya memandang cahaya matahari Sore yang indah. Dia seperti mengingat sesuatu.


“Ibu... Ibu... Ibu!!”


“ iya, ada apa?” Ibunya langsung memandang Lasmaya yang sudah menarik tangannya.


“Apa ibu baik-baik saja?” Tanyanya khawatir


“Iya, ibu hanya kelelahan saja. Ayo kita kembali mencuci.”


Saat ibunya ingin menariknya, Lasmaya tidak mau berjalan, sehingga ibunya pun bertanya ada apa.


“Ibu, bagaimana ibu bisa memberikan nama secepat itu?” Tanya Lasmaya yang sangat penasaran bagaimana ibunya bisa memberikan nama secepat itu. Padahal dari dulu ibunya tidak pernah memikirkannya, walaupun ayahnya masih hidup.


Sejak masih di dalam telur Lasmaya memang sudah memiliki kesadaran, tapi dia tidak pernah merespon kata-kata dari ibunya. Bukannya dia tidak mau bicara, tapi saat hendak berbicara ibunya tidak pernah mendengarnya, meski dia berteriak sekeras apa pun. Dia menduga hal itu ada hubungannya dengan cangkang telur yang dia miliki.


Oleh karena itu dia memeriksa cangkangnya, tapi tidak menemukan Mengapa suaranya tidak kedengaran dari luar, padahal suara dari luar sangat jelas kedengaran.


Mulai sejak itu dia terus mencari dan mencari, tapi tidak ada hasilnya.


“karena ibu , sebagai ibumu pasti akan memikirkan nama untuk anaknya yang akan lahir.”


“Ibu, aku sudah mendengar semua percakapan ibu dengan ayah, tapi tidak satu pun di antaranya membicarakan namaku.”


“Itu rahasia. Apakah kau menyukainya?”


“Emm, aku sangat menyukainya.


“syukurlah jika begitu. Ayo kita mencuci lagi.” Ibunya langsung menggendong Lasmaya.


...****...


Simo dan jauzan memutuskan untuk bergerak ke Utara, mencari hulu sungai. Meski mereka sudah di peringati oleh siluman kupu-kupu, mereka tetap melakukannya. Tentu saja mereka melakukan dengan perhitungan yang jelas dan teliti.


Jauzan pernah membaca hal seperti apa yang di katakan siluman kupu-kupu dengan nama tempat ilusi. Tempat yang seolah seseorang berada di tempat yang sama, tapi yang sebenarnya apa yang dilihatnya hanya ilusi yang menipu mata saja dan yang sebenarnya terjadi mereka terus berjalan.


Jauzan juga tahu bagaimana cara mengatasinya, dia bercerita untuk mengatasinya seseorang harus fokus terhadap apa yang menjadi tujuannya, contohnya jika orang ingin makanan maka mereka harus fokus memikirkan makanan itu saja, Tanpa ada yang lain.


Jika tidak, maka mereka akan tersesat dan melihat tempat yang sama Setiap kali mereka melangkah.


Walau terkesan sulit, mereka tetap melakukan, mereka tahu pikiran Tidak mudah untuk fokus pada satu objek saja, sehingga mereka tidak melakukan komunikasi apa pun dan hanya fokus mencari jalan ke atas saat berada di titik lokasi yang berpotensi memiliki ilusi.


Akhirnya malam pun tiba, simo dan jauzan akhirnya memutuskan untuk beristirahat di tempat yang di apit oleh dua titik lokasi tempat ilusi. Mereka bisa saja mencari tempat lain, tapi mereka tidak mau, alasnya karena mungkin tempat itu aman untuk bermalam.

__ADS_1


Saat tengah malam simo menyadari ada orang yang mengikutinya. Dari aura yang terasa setidaknya ada beberapa orang kuat yang tidak mungkin simo dan jauza lawan.


Oleh karena itu, dia bergegas membangunkan jauzan.


“Apakah sudah pagi?” tanya jauzan seraya menenangkan tubuhnya dan mengusap kedua matanya yang belum pulih, setelah itu bergegas bangun.


“tidak, tapi kita harus pergi sekarang.”


“Kenapa harus...”


Sebelum jauzan di berikan waktu bertanya, simo langsung menarik tangan dengan cepat, sebab kaisar Pedang memberitahunya ada orang-orang yang sedang mengincarnya.


Dan meski Kaisar pedang orang melegenda, dia tidak bisa membantu simo melawan mereka dalam wujud roh sekarang ini. Walau simo memiliki aura pedang yang kuat, itu belum bisa menandingi beberapa orang yang mengintainya.


Beberapa menit simo dan jauzan berlari, dua orang menghalanginya.


“kita bertemu lagi Jauzan, simo.” Sapa Sakya dengan pedang di bahunya. Dia bersama Wulin di sampingnya


“apa yang ingin kalian lakukan?” ujar jauzan cuek.


“tidak banyak, serahkan kaisar pedang Kepadaku dan kalian akan ku bebaskan.”


“Kaisar pedang? Maaf sepertinya kau salah orang.” Jawab jauzan.


“Tanyakan saja kepada teman di sampingmu itu.” Ujar Wulin.


“sepertinya aku tidak bisa lari tanpa bertarung denganmu.” Kata simo dengan dingin seraya menarik pedangnya.


“ahahah sudah aku duga kau memang pencuri. Sudahlah tidak perlu banyak bicara lagi.”


Sakya dan Wulin melesat.


Simo dan jauzan pun ikut. Saat mereka sudah dekat, simo dengan cepat menarik tangan jauzan lalu melompati Sakya dan Wulin membuat jauzan, Wulin dan Sakya terkejut oleh tindakan Simo yang tiba-tiba.


“Maaf aku tidak ada waktu.” Ujar simo lalu berlari.


“Apakah kita akan mengejarnya?” tanya Wulin.


“eh, tenang saja, dengan begini dia tidak akan bisa lari lagi. Kita sekarang hanya perlu mengikuti mereka saja.”


Setelah mengatakan itu Wulin dan Sakya berlari, tapi dengan kecepatan normal.


Sementara itu, simo dan jauzan terus berlari. Nafas simo tergesa-gesa, keringat mulai bercucuran membasahi pakaian.


Jauzan yang di pegang simo dengan erat merasa aneh, baginya melawan dua siswa kelas c itu bukan apa-apa. Namun mengapa simo tetap berlari sehingga dia memutuskan untuk bertanya.

__ADS_1


“Nanti aku jelaskan, pokoknya kita lari sebisa mungkin sekarang.” Ujar simo dengan cepat. Tidak ada waktu baginya untuk menjelaskan situasinya sekarang.


Jauzan pung mengangguk dan ikut berlari dengan cepat.


“semoga mereka tidak mengejar.” Batin simo.


Tidak beberapa lama mereka di hadang oleh 3 orang yang tidak lain nayaka, rani dan dara.


“Akhirnya kita bertemu lagi bocah.” Ujar rani.


“sepertinya akan menarik.” Ucap Nayaka seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“hehehe bocah yang tampan.” Kata dara.


“Seperti aku tidak punya pilihan lain.” Simo langsung mencari-cari kristalnya, tapi semua barang-barang hilang. Bahkan kerincingan yang di berikan Lasmaya juga ikut menghilang dan begitu pun punya jauzan.


Pemuda itu terus memeriksa barang bawaannya seraya berharap menemukannya, tapi tidak ada satu pun barangnya yang tertinggal.


“apa kalian mencari ini.” Ujar Sakya seraya melemparkan beberapa kali dua Kristal ungu.


“kau! Bagaimana bisa?” ujar jauzan dengan marah seraya menunjuk ke arah Sakya.


“Maaf kalian berdua sepertinya akhir dari hidup kalian tidak lama lagi.”


“brengsek! aku pasti akan mendapatkannya kembali.”


Brungg!


Jauzan hendak melesat, tetapi pilar besar entah dari mana muncul membuatnya melompat mundur.


“hehehe gadis manis, sepertinya kau tidak sabaran.


Setelah dara muncul terlukis senyuman puas dari wajah Sakya yang membuat jauzan marah dan mengepalkan tangannya erat-erat.


“Sudah, sekarang tangkap dia!” ujar rani.


Saat hendak melesat, tiba-tiba saja gemuruh di sertai awah hitam berkumpul di langit seperti badai, membuat pergerakan rani terhenti. Semua orang memandang ke atas seperti bertanya-tanya apa yang terjadi.


Setelah beberapa detik, muncul pusaran – pusaran angin di berbagai tempat.


Simo yang melihatnya dengan cepat menarik tangan jauzan dan masuk ke dalam pusaran terdekat.


Rani yang melihatnya berteriak dan berlari menuju pusaran itu, namun mendadak pusaran itu menghilang.


Semua orang mengerutkan keningnya. Terlihat jelas ada rasa kemarahan, kebencian dan kekecewaan di antara mereka, tapi Sakya dan Wulin bingung dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


“Egrhh! Dia kabur lagi!” ujar rani marah membuat angin di sekeliling terhempas.


__ADS_2