
Di Tempat simo dan Karla berada semuanya sudah hancur berantakan. Jembatan yang tadinya berdiri kokoh, kini hanya tersisa puing-puingnya saja, bebatuan yang erat-eratnya berada berserakan di tempat mereka, semua itu seolah menjadi bukti pertarungan sengit mereka.
Simo dan Karla saling menjaga jarak. Tidak ada di antara mereka yang ingin menyerang atau ingin bersiap-siap bertarung lagi. Suara nafas tersengal-sengal terdengar di antara mereka. Buih-buih keringat bercampur air berjatuhan seperti hujan.
Keduanya basah kuyuh.
Plak...plak...plak...
Suara tepuk tangan terdengar, dan mendominasi gua setelah suara nafas. Semua orang tanpa sadar menoleh mencari sumber suara itu. Saat menoleh, semua orang terkejut dan heran, bagaimana bisa makhluk yang sangat mereka takuti kini berdiri di salah satu batu yang menjulur.
“sungguh... Pertunjukan yang hebat. Hahaha!” Herry berdiri seraya menancapkan tombaknya ke batu dengan mudah, seolah batu itu seperti tanah; yang mudah di tembus.
“Tuan, akhirnya anda datang.”
“tuan, cepat bunuh kedua bocah itu.”
Lucia, dan Diana terbang menghampiri Herry. Namun sebelum itu simo menoleh ke arah namila mengisyaratkan sesuatu.
Namila dengan cepat mengangguk. Gadis itu kemudian mengepalkan tangannya erat-erat.
Plak Byurrr!!
Tubuh Diana dan Lucia tiba-tiba meledak. Darah segar muncrat seperti hujan. Tubuh keduanya hancur tanpa sisa.
Semua Siren terlihat ngeri dan terkejut melihat kejadian itu. Di antara mereka ada beberapa yang memekik histeris, ada juga yang menutup matanya karena tidak ingin melihatnya.
Sedangkan untuk Karla, dia hanya bisa menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan.
“itulah jadinya jika kalian menjadi penghianat.” Kata namila dingin, kemudian tersenyum seraya mengingat kejadian saat dia melihat air di pertarungan antara simo dan Karla.
Dia saat itu, dia tersenyum melihat simo dengan sengaja menghancurkan batu-batu itu hingga berserakan. Dia juga melukai tubuhnya sendiri. Karena air naik terlalu tinggi, dan tidak terlihat apa pun di dalamnya, membuat para siren menduga itu suara pertarungan, sementara untuk Namila yang merupakan pengendalian air, itu bukan masalah baginya, dia dapat melihat dengan jelas apa pun yang ada di dalam air itu.
Simo juga menginstruksikan namila untuk membunuh Lucia, dan Diana dengan cara apa pun saat mereka terungkap berkhianat.
Sementara Karla terlihat menghela nafas, kemudian mengikuti rencana simo.
Herry yang semula tertarik pada simo, tiba-tiba memandang namila. Kedua Alisnya terangkat setelah melihatnya. Teknik yang di gunakan namila sangat mematikan, dan kuat, sehingga membuat Herry berhati-hati dengannya.
Setelah mengetahui yang menggunakan teknik itu adalah gadis berusia 16 tahun, dia tidak bisa menghindar dari ke tidak kepeduliannya terhadap gadis itu.
__ADS_1
Sebenarnya, teknik yang digunakan namila bukan teknik yang kuat, dan tidak memerlukan energi yang besar. Teknik itu mengandalkan buih-buih air. Saat air terangkat dan melayang-layang, saat itulah Namila menggunakan energinya untuk mengendalikan air itu, sehingga Lucia dan Diana yang fokus pada pertarungan, tidak sadar buih-buih air itu masuk ke tubuhnya.
Tidak sekali saja. Bahkan beberapa kali itu terjadi, sehingga buih-buih air cukup untuk meledakkan tubuh mereka, hingga berkeping-keping.
“Aku harus mengalahkan bocah dan siren itu dengan cepat.” Batin Herry, sebelum akhirnya melompat dan mempersiapkan tombaknya.
Tombak itu memiliki panjang kira-kira 5 meter dengan mata panah yang bergerigi. Dengan ketajaman yang sungguh mengerikan.
Wuss bomm!
Herry mengayunkan tombaknya tepat ke arah simo berada. Dia sempat berpikir sudah berakhir. Namun saat kumpulan asap menghilang, dia terkejut tidak ada siapa pun di sana, padahal jelas-jelas dia melihat simo tidak bergerak. Jika bergerak pun itu pun sulit menghindari serangannya.
“wah, seperti serangan mu meleset.”
Sesuai insting, Herry mengayunkan tombaknya ke belakang. Namun lagi-lagi tidak mengenainya.
“eghh, beraninya kau mempermainkanku!!” pekik Herry marah. Ini adalah pertama kalinya dia di permainkan oleh seseorang. Bahkan itu Seorang pemuda! ini jelas hinaan baginya.
Herry memandang Karla tersenyum, tanpa berpikir panjang, dia melesat mengayunkan tombaknya dengan keras. Namun lagi-lagi tidak mengenainya.
Karla dengan cepat terbang, menghindarinya.
Itu adalah energi khusus yang di miliki para raksasa. Tapi tidak semua raksasa bisa menggunakan, selain karena faktor ketrampilan, takdir juga berpengaruh.
Tekanan yang begitu kuat terasa kala aura itu muncul. Para siren menjadi takut setelah merasakan kekuatan yang begitu dahsyat di depan mereka. Beberapa ada yang berlari menyelamatkan diri.
“Karla sekarang!” pekik simo, yang sudah berdiri di atas batu.
Karla mengangguk, kemudian membuat beberapa gerakan. Setelah gerakannya selesai. Tiba-tiba saja gelombang besarnya muncul dari luar gua.
“lemah.” Kata Herry seraya menggerakkan tangannya ke arah datangnya gelombang air. Mendadak gelombang itu tertahan, seperti ada dinding penghalang yang sangat kuat.
Itu menimbulkan suara yang khas, bergema di dalam gua. Beberapa batu runtuh saat gelombang itu tertahan.
Simo, namila, dan Karla terkejut. Serangan itu adalah salah satu teknik terkuat yang di miliki Karla. Selain dapat menenggelamkan musuh, teknik itu juga akan menghisap energi yang ada di dalam tubuh musuhnya.
Semuanya sudah di atur, air yang di injak Herry merupakan air yang bisa melemahkan. Walaupun begitu ternyata itu hanya berdampak kecil bagi tubuh Herry.
“ke mana kau memandang!”
__ADS_1
Bomm!!
Simo tidak sempat menghindar. Akhirnya Pukulan Herry mendarat tepat di perutnya, membuat dia terpental, dan akhirnya membentur dinding gua. Dia dapat merasakan tulang punggungnya hancur. Seteguk darah akhirnya keluar.
Itu sungguh serangan yang sangat kuat, dan tidak terduga. Kecepatannya melebihi kekuatan simo.
“Sekarang kau!” Herry melesat menuju Karla.
Bomm!!
Baru Karla ingin menggunakan teknik, tiba-tiba saja pukulan yang sangat kuat berhasil mengenai wajahnya.
“Karla!” pekik beberapa siren yang masih ada. Mereka langsung terbang menyelamatkannya.
Herry mendekati namila, yang masih berdiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Jika menyerang, maka hanya luka saja yang dia dapatkan. Musuhnya sekarang terlalu kuat. Bahkan melebihi perkiraannya sebelumnya.
Herry tersenyum, kemudian berkata, “gadis manis, ayo ikut denganku ke istana kerajaan raksasa , setidaknya kau akan menjadi pelayan yang memiliki kekuasaan melebihi pelayan lainnya, bagaimana?”
“Kau pikir dia mau menerima sesuatu yang busuk seperti itu! Langkahi dulu diriku!” simo melompat di depan namila, kemudian mengusap bibirnya yang berdarah. Tanpa basa basi dia melesat seraya berteriak keras.
Saat melesat aura hitam muncul dari pedangnya. Sekilas Herry tertarik dengannya, membuatnya ingin merasakan kekuatan yang di miliki simo.
“majulah!” Herry memutar tombaknya, kemudian menyerang simo dengan berbagai teknik.
Setiap ayunan yang dia lontarkan, itu sudah membuat simo kelelahan, sehingga mau tidak mau dia harus terpental lagi. Merasakan kerasnya dinding gua.
Sementara itu, Karla langsung di tolong oleh para siren. Dugaannya tepat, kekuatan jendral raksasa sangat mengerikan, dia bahkan berpikir dua kali sebelum menyerangnya.
“Bagaimana gadis manis?”
Namila terkejut mendengar itu. Ini ada hal yang sangat sulit dia tentukan, jika melawan, sudah dipastikan tidak ada di antara mereka yang akan hidup, maka dari itu, hanya ada satu keputusan yang terbaik.
“baik, tapi aku....”
“Erghhhh!” simo berteriak keras. Bersama dengan itu, aura hitam muncul dari tubuhnya.
“aku akan membunuhmu!” ujarnya marah.
Herry tersenyum melihatnya. “hahaha! Sungguh bocah keras kepala. Aku akan mengirimu ke neraka.”
__ADS_1
Herry melesat seraya memegang tombaknya dengan erat.