
Malam berganti siang dan siang berganti malam, perubahan itu kian menemani perjalanan rombongan simo menuju kekaisaran gunung salju yang letaknya di utara desa.
Sepanjang perjalanan, para penduduk terlihat senang dan bergembira seraya menikmati pemandangan yang tidak pernah mereka lihat begitu pun simo dan aoba.
Kawanan burung-burung beterbangan di langit seraya menemani perjalanan mereka di saat siang hari yang cerah.
Tidak kalah juga segerombolan bebek dan jangkrik berbunyi menyambut kedatangan mereka dam sesekali sebagai musik peneman mereka di kala malam tiba.
Sudah 15 hari mereka melakukan perjalanan dan tinggal 10 hari lagi mereka akan tiba di pusat kota untuk mendaftarkan diri menjadi penduduk.
Malam itu sesuai permintaan simo, Aoba mengabulkan permintaannya untuk membangkitkan alam kecil/mikrosmos.
Aoba mengajak simo ke tempat lain untuk melakukannya karena di khawatir akan mengganggu tidur para penduduk yang kelelahan dan lelap.
Setelah mereka tiba di sebuah pohon besar aoba memerintahkan simo untuk duduk dan bersila.
Sedangkan aoba lalu duduk di belakang simo.
“Cucuku, ini akan sedikit menyakitkan, kau harus menahannya sebentar.” Ucap Aoba dengan suara datar. Dia tidak memberikan penekanan atau pun hiasan pada nadanya karena demi melegakan hati dan perasaan cucunya yang akan melalui proses pembangkitan.
Aoba tahu jika pembangkitan adalah proses yang sulit dan menyakitkan. Apalagi akan di lakukan oleh bocah kecil yang baru berumur 6 tahun di depannya itu.
Simo mengangguk tanpa ekspresi lalu memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat untuk mengantipasi jika rasa sakit yang di rasakan tidak bisa dia tahan.
Aoba menepatkan kedua telapak tangannya ke punggung simo lalu mengalirkan energinya untuk memicu bangkitnya alam kecil yang berada di tubuh simo.
Simo perlahan-lahan merasakan energi hangat dan lembut memasuki tubuhnya. Energi itu perlahan-lahan menimbulkan rasa sakit dan semakin sakit membuat simo semakin mengepalkan tangannya dengan erat dan menekan giginya
ekspresi wajahnya juga mengerut. Semakin lama energi itu semakin sakit membuat simo membuka mulutnya dan berteriak.
Dia tidak bergerak dan tetap menahan rasa sakit itu dengan kuat. Mulutnya sebisa mungkin dia tutup dan tidak mengeluarkan suara.
Ekspresi wajah aoba datar sebelum dia merajut alisnya. Dalam benaknya dia melihat dua pulau yang berbeda di dalam tubuh simo. Dua pulau itu sangat berbeda, yang satu hanya ada tanah gundul dan yang satunya lagi membeku dan ada naga hitam melingkar dia atasnya.
Apakah ini dua energi alam kecil yang berbeda? Batin aoba. Dia tidak menyangka jika simo memiliki dua alam kecil yang berbeda. seperti tidak berasal dari induk yang sama.
Biasanya fenomena ini sangat jarang sekali. bahkan lebih jarang dari seorang yang bisa mengendalikan dua elemen sekaligus.
Aoba tersenyum puas setelah melihat dua pulau itu terbentuk.
Di pulau ada sebidang tanah gundul dengan sebutir api biru besar melayang dan menerangi tanah gundul itu, seolah-olah api itu menjaga dan tidak membiarkan satu pun tanaman tumbuh di tanah gundul itu.
__ADS_1
Aoba lagi-lagi mengerutkan keningnya. Dia heran bagaimana bisa api berwarna biru seperti itu.
Sekian detik kemudian aoba menggelengkan kepalanya. Dia menyerah tidak bisa mencari jawabannya.
Aoba memutuskan untuk membangkitkan keduanya dengan mengalirkan energinya ke dua alam kecil itu secara terus-menerus.
Sementara itu simo tetap mempertahankan kesadarannya hingga sekarang, bahkan dia rela tangannya berdarah demi tetap sadarkan diri.
“Sebentar lagi cucuku.” Aoba menyadari simo kesakitan.
Simo tidak menjawab karena dia fokus mempertahan kesadarannya.
10 menit kemudian.
Energi api meledak dalam tubuh simo seperti bunga yang bermekaran dengan cepat.
Simo berteriak lalu tidak sadarkan diri.
Aoba menarik nafas panjang. “ Akhirnya selesai juga.” Kemudian dia tersenyum seraya membayangkan bagaimana kuatnya cucunya itu di masa depan.
Setelah kejadian itu akhirnya simo berhasil membangkitkan energi mikrosmosnya dan dengan kata lain dia sekarang bisa menggunakan salah satu elemen dari alam.
Elemen yang bisa dia kendalikan adalah elemen api biru, tapi dia masih berlatih hingga berhari-hari hingga akhirnya dia bisa menggunakannya.
Memikirkannya membuat aoba geleng-geleng kepala karena tidak menemukan jawabannya.
Sepanjang pelatihannya mereka akhirnya tiba di gerbang pusat kota kekaisaran gunung salju.
Di depan gerbang sudah ada dua orang prajurit yang siap menyambut mereka semuanya.
Saat rombongan simo datang, salah satu prajurit menghampiri mereka.
“apakah kalian ingin mendaftar menjadi warga di kekaisaran gunung salju? jika begitu kalian harus membayar 100. 000 koin emas untuk satu orangnya.”
“Kami ingin menjadi warga di sini, tapi kami tidak bisa membayar semahal itu.” Jawab aoba.
Mendengar itu kedua alis perajut itu terangkat. Dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Segerombolan warga datang dan ingin mendaftar menjadi warga kekaisaran gunung salju tanpa membawa uang sepeser pun.
Prajurit itu lalu menyebarkan pandangnya sebelum senyuman menyeringai bermekaran di bibirnya. “ Hahaha, apa aku salah dengar! kalian datang tanpa membawa uang sedikit pun, jika begitu kalian harus mengubur dalam-dalam keinginan kalian dan kembali ke perkampungan yang kumuh itu.” Ucap pria itu dengan nada yang lebih tinggi.
Bagi prajurit itu sekarang seorang yang membawa uang layak untuk dilayani dan jika tidak maka cacian yang mereka dapatkan.
__ADS_1
Mendengar itu simo menjadi marah. Tangannya sudah memegang ganggang pedang yang hendak di gunakan untuk membunuh prajurit itu, namun sebelum dia berhasil menariknya aoba menghentikannya.
“Tuan, kami dari desa terpencil memang, tetapi kami tidak sebodoh itu. Datang tanpa membawa apa pun. Kami mempunya ini.” Aoba mengeluarkan benda bulat yang di berikan kakek namila.
“ini tuan, seorang dari kekaisaran gunung salju memberikannya kepada kami dan katanya hanya perlu menyerahkan ini.”
Setelah menerimanya, lagi-lagi kedua alis prajurit itu terangkat, dia heran bagaimana bisa simbol kekaisaran ada pada orang yang sepertinya berasal dari desa yang kumuh dan jauh.
Prajurit itu mengangkat wajahnya menatap Aoba, dia memperhatikan wajah aoba dan mencari-cari kebohongan darinya, namun prajurit itu tidak menemukannya.
“apa kalian berbohong?” Tanya prajurit itu dengan nada yang lebih rendah.
“tidak tuan, kami tidak berbohong dan untuk apa kami melakukan itu yang hanya akan membuat kami di hukum.” Jawab aoba.
Semua penduduk yang mendengarnya mengangguk.
Prajurit memperhatikan simbol itu sebelum bertanya, “siapa orang yang memberikannya?”
“Yang aku tahu, dia menyebut orang-orang memanggilnya ketua dan maaf itu saja yang aku tahu.”
“Ketua? Apakah.....” Perajut itu menghentikan kata-kata sejenak lalu berkata, “ Baiklah baiklah kalian bisa masuk sekarang.”
“mari aku antar sekarang.” Prajurit itu menjadi ramah.
Melihat itu semuanya gembira tidak kecuali dengan simo yang sebelumnya geram dengan prajurit itu.
Setelah itu mereka di bawa masuk ke dalam.
Saat menginjakkan kakinya di atas tanah kekaisaran, angin lembut menerpa wajah mereka dengan lembut seolah angin itu menyambut mereka.
Di depan mereka terlihat kota yang besar dan indah.
Simo menjadi semakin senang, dia tidak menyangka jika kota kekaisaran gunung salju berada di lembah yang indah. Dari tempatnya berdiri dia dapat melihat dua buah gunung yang di selimuti salju di ujungnya.
Melihat itu simo tidak dapat menahan kekagumannya dan jika bisa dia mungkin akan berteriak.
Baiklah, petualangan yang baru sudah menanti. Batin simo.
seanson 1 tamat.
...*****...
__ADS_1
author note : mungkin seanson 2 akan di buat secara terpisah