
“Ini sungguh merepotkan!” gerutu Carissa melayang di udara.
Dia sedang berhadapan dengan latif yang masih saja kokoh dengan kekuatannya, meski sudah babak belur dan terluka. Bahkan latif tidak terlihat kelelahan sedikit pun. Dia memang Monster.
Jika itu manusia, seharusnya sudah mati dari tadi, atau setidaknya sudah terluka parah akibat serangan dua orang kuat itu.
Nafas Carissa tergesa-gesa, keringat muncul di dahinya, dan tentu saja energi sudah terkuras. Dengan wajah kesal dia memandang Latif yang berdiri gagah, dia tidak menyangka akan berhadapan dengan musuh yang sangat merepotkan seperti ini.
Di sampingnya, Lasmaya juga sama, dia kelelahan. Bahkan wajah cerianya kini di gantikan wajah pucat yang tidak enak di pandang.
‘kakak, dia bukan manusia.’ gerutunya setelah beberapa saat menghadapi latif. Baru kali ini dia berkomentar mengenai tugas yang di terimanya.
Latif meraung seperti gorila kemudian melesat ke arah Carissa dan Lasmaya berada. Dia mengepalkan tangannya dengan erat dan ingin memukul Carissa.
Carissa langsung mengeluarkan 10 pedang api ungu di udara, kemudian mengarahkannya dengan cepat ke arah Latif. Sementara Lasmaya, mengeluarkan hempasan anginnya sekali lagi.
Latif akhirnya tertiup oleh angin Lasmaya, membuatnya menghantam tanah dengan keras. Lalu di hujani oleh pedang Carissa. Pedang-pedang itu tidak menembus tubuh latif sedikit pun, bahkan tidak tergores. Tubuhnya sangat keras.
Bahkan ada beberapa pedangnya patah saat menyentuh kulit latif.
Carissa lalu mengangkat salah satu tangannya. Dia kemudian mengepalkannya dengan kuat. Seketika pedang-pedang yang menyerang latif, berubah menjadi api ungu, lalu membakar semua yang ada.
Baru kali ini latif merasakan sakit, dia berguling-guling karena panas. Kemudian setelah Api Padam, tubuh latif menjadi gosong. Rambutnya sudah terbakar dan menyisakan kulitnya yang hitam karena terbakar.
Latif memandang tajam ke arah Carissa. Kedua bibirnya terbuka, memperlihatkan giginya di tahan begitu keras, kedua pipinya di tarik ke samping. Dia meraung karena marah, lalu memukul tanah di depannya. Seketika muncul beberapa bongkahan tanah runcing di sekitarnya.
Saat di udara, dia menendang dan memukul tanah-tanah ke arah Carissa dan Lasmaya.
Tanah-tanah itu melesat dengan ujungnya ke arah Lasmaya dan Carissa. Selain itu, bongkahan tanah juga berputar-putar dengan cepat.
“Biar aku yang menanganinya.” Kata Lasmaya, lalu bergerak ke depan. Gadis itu kemudian menggerakkan tangannya ke depan, membuat beberapa angin seperti jarum melesat dan membuat bongkahan-bongkahan tanah itu hancur.
Namun tidak semuanya hancur. Salah-satunya melesat.
Lasmaya mengambil tindakan untuk memukulnya dan menghancurkannya seperti debu.
__ADS_1
Meski kelihatannya masih kuat, Carissa dan Lasmaya sama-sama kelelahan dan kehabisan energi.
“Aku tidak bisa melakukannya lagi.” Kata Lasmaya ketika kembali di samping Carissa.
“Aku juga. Sepertinya kita harus menyelamatkan diri kita masing-masing.” Carissa menghela nafas panjang. “andai saja kita bisa menjebaknya, mungkin saja kita tidak akan mengalami hal seperti ini.”
Sebelumnya, setelah melakukan beberapa penyerangan, Carissa dan Lasmaya ingin mengurungnya dan menahannya karena tidak bisa di bunuh, namun hal itu gagal, karena latif sangat kuat dan selalu saja berhasil menggagalkan rencana mereka.
“bibi benar.”
Saat hendak pergi, seorang gadis yang entah dari mana berjalan memakai payung dengan tenang mendekati latif yang meraung marah.
Lasmaya dan Carissa terkejut melihatnya. Mereka langsung mendekati gadis itu.
“Bahaya! Kau harus pergi dari sini.” Saran Carissa seraya menepuk bahunya.
Talina menoleh. Dia tersenyum, kemudian berkata, “tenanglah. Bibi, aku akan baik-baik saja.”
“Kau pikir, dengan kekuatanmu, kau bisa melawannya? Dasar tidak tahu diri! Aku perintahkan menjauh sebelum monster itu menyerang!” bentak Carissa sesekali melihat ke arah Latif.
Dan betapa terkejutnya dirinya menemukan informasi mengenai kekuatan elemennya. Oleh karena itu dia kembali, dan melihat Carissa dan Lasmaya tidak bisa bertahan lagi, dia dengan nekat mendekati latif.
“aku tahu.” Jawab Talina singkat seraya menahan air matanya. Dia tahu di depannya adalah orang penting, dan harus di hormati. Dia lebih berpengalaman darinya, wajar saja Carissa membentak Talina.
Di sisi lain, Lasmaya diam seraya memandang latif yang memandang tajam ke arahnya. Di tangannya sudah ada senjata jika latif mendadak menyerang. Dia tidak berminat ingin berkata-kata.
Tanpa mempedulikan saran Carissa, Talina maju mendekat.
“percayalah kepadaku.” Katanya berbalik dan sebisa mungkin tersenyum.
Carissa ingin menghentikannya, Namun dia tidak bisa, tekad dan keputusan gadis di depannya sudah bulat.
“Huh, aku hanya bisa melindunginya.” Gumam Carissa pasrah, lalu mempersiapkan senjatanya.
‘aku bisa. Aku harus bisa’ batin Talina seraya berjalan mendekat.
__ADS_1
Beberapa orang perlahan-lahan mendekat, mereka berjumlah dua orang, yang tidak lain para wali kelas yang ingin membatu mereka.
“Monster, aku akan mengakhirimu!” Talina mengangkat payungnya ke atas.
‘ayo kita mulai!’
Seketika angin berembus di sekitarnya, lalu di susul api berkobar seperti dinding yang melindungi Talina. Di atas, awan-awan hujan terkumpul lalu menjatuhkan bintik-bintik air yang tidak dapat di hitung. Suara gemuruh yang di sertai petir yang menggelegar tidak mau kalah.
Wajah terkejut terlihat jelas saat Carissa melihat ini. Dia tidak menyangka akan melihat fenomena aneh seperti ini, dan sangat langka. Di tambah energi alam yang di keluarkan Talina semakin besar.
“apakah ini mimpi?” Carissa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Perlahan-lahan angin, petir, api, air dan tanah penyatuan membentuk pusaran di atas payung Talina seperti mereka bersaudara. Aura yang di pancarkannya Setara dengan tingkat alam. Ini sungguh menarik dan aneh!
Seperti menyadari sesuatu, Latif meraung lalu berlari ke arah Talina.
“sekarang matilah!”
Talina mengayunkan payungnya ke depan, membuat elemen-elemen itu bergerak ke depan. Lalu seperti di Tembakan, pusaran itu membentuk bola lalu menghancurkan semuanya yang di lewatinya.
Wuuusssssss!
Akhirnya bola itu menabrak Latif dengan keras, membuatnya sedikit terdorong ke belakang.
Latif meraung dan berusaha mendorong balik bola tersebut. Namun, bola itu berputar mengembang kemudian meledak, menghancurkan apa pun di sekitarnya. Ledakannya berdiameter sekitar 10 meter, namun kekuatannya setara dengan serangan Lasmaya.
Latif meraung kesakitan, kemudian perlahan-lahan menghilang seiring ledakan terjadi.
“Akhirnya aku bisa.” Gumam Talina seraya mengatur nafasnya. Keringat muncul di dahinya. Meski hanya satu serangan, itu menguras semua energinya.
Talina perlahan-lahan menutup mata lalu akhirnya terjatuh. Sebelum akhirnya jatuh ke tanah, Carissa dengan cepat memegang tubuhnya.
“gadis ini sungguh menarik.” Katanya lalu tersenyum.
Carissa kemudian Melihat bekas ledakan. Dan betapa terkejutnya dia melihatnya. Ledakan itu menimbulkan cekungan yang sangat dalam dan hangus terbakar. Asap-asap terlihat seiring memudarnya hujan dan awan-awan
__ADS_1