
Meski di sini simo memiliki tingkat kultivasi yang rendah, yaitu tahap bumi tingkat delapan, dengan aura pedang dan keunggulan api birunya, dia sudah Setara dengan tingkat alam. Di tambah dengan kekuatan naga es hitam di dalam tubuhnya yang sewaktu-waktu meledak karena emosi, itu sudah melampaui kekuatan Diana saat ini.
Namun, kekuatan yang liar dan seperti hewan buas seperti itu, tentu akan membuat simo juga di kalahkan oleh kecerdikan Lawanya. Tetapi, dari segi kekuatan dia sangat kuat.
Dia bahkan tidak lagi merasakan sakit ketika menerobos ke tingkat selanjutnya, hal itu tentu adalah hal yang baik dari semua hal buruk yang pernah menimpanya.
Namun, jika tubuhnya tidak kuat mengendalikan kekuatan sebesar itu, maka dia akan mati.
Sebelumnya setelah bertarung dengan Herry, dia beruntung karena tubuhnya masih kuat dengan Serangan kekuatan naga es hitam, Namun jika sekarang, itu belum bisa di pastikan.
Di langit, simo melesat dengan kecepatan tinggi, itu lebih cepat dari pada Cahaya, membelah angin dan menghancurkan butiran-butiran salju yang ada. Sedetik kemudian, dia mengayunkan pedangnya dan mengeluarkan beberapa teknik-teknik kuat yang dia miliki. Seperti teknik yang cepat sebelumnya dia perlihatkan.
Tapi, selain itu, dia juga mengeluarkan beberapa teknik lainnya, seperti teknik pedang seribu bayangan.
Teknik ini, membuat lawan melihat pedang seseorang lebih dari satu dan bergerak ke arah lain ketika di ayunkan, hal ini tentu di gunakan untuk mengecoh dan menyerang lawan.
Namun untuk Diana saat ini yang berada di alam mimpinya, tentu tidak terlalu sulit untuk melihat yang asli. Dia memanfaatkan salju-salju yang ada untuk merasakan pedang mana yang palsu dan asli sehingga membuatnya lebih mudah mengambil keputusan yang tepat.
Ya, walaupun itu sungguh sulit karena di halangi aura pedang simo yang kuat.
Selain teknik tersebut, ada lagi teknik kelihaian dalam menggunakan pedang. Teknik ini memerlukan keahlian dalam menggunakan pedang. Cara kerjanya, adalah menggunakan tenaga sedikit mungkin dan memberikan efek sebesar mungkin.
Tentu ini sangat sulit karena harus mengontrol pedang dengan baik dan menggunakan momentum yang tepat pula.
Sudah beberapa tebasan dan teknik simo keluarkan, namun tidak satu pun dari itu yang bisa melukai Diana. Dia sangat Kuat. Namun, tentu saja, simo tidak akan menyerah, dan menganggap ini adalah latihan terberat dan tersulit yang pernah dia alami saat ini.
Simo bergerak mundur menjaga jarak dari Diana. Di tangan kirinya, dia mengeluarkan api biru yang semakin besar dan membesar, membentuk teratai biru yang indah. Ini adalah salah satu teknik terkuat yang dia miliki jika ini tidak mempan maka sulit untuk mengalahkan Diana. Tapi memang simo sulit untuk mengalahkannya, dan terbilang sangat mustahil.
Diana merasakan energi kuat mengalir di teratai tersebut, Namun tentu saja dia tidak akan terpengaruh olehnya. Dengan nafas yang masih lembut, dia berkata, “apakah ini adalah kartu asmu? Aku kira ini akan lebih menarik dari punya Anulika, Tetapi ini lebih buruk dari sebelumnya.”
Alasan anulika terbilang bisa menyaingi kekuatan Anulika sebelumnya, karena dia melawan belahannya saja. Tapi jika dia melawan yang asli, mungkin juga sama seperti simo. Selain itu, dia juga menggunakan teknik terlarang.
__ADS_1
Dengan nafas tidak beraturan, dan di penuhi buih-buih keringat di pelipisnya, simo menginjak udara, lalu melesat.
Dia muncul di belakang Diana, tanpa menarik nafas, dia langsung mengarahkan teratai api birunya.
Namun sayang sekali, Diana berbalik dan menahan dengan telapak tangan es putih, Tanpa kesulitan apa pun. Bahkan tidak ada ekspresi serius di wajahnya, dia menahan dengan santai.
Simo meraung dan terus mendorong apinya, lalu ledakan keras pun terjadi. Ledakan itu berpusar seperti tornado dan meledak kembali.
Simo terhempas dan akhirnya mendarat di gunung. Tidak ada ekspresi lega, hanya ada ekspresi lelah, dan Nafasnya sangat tidak beraturan.
‘apa yang harus aku lakukan?’ simo memandang Diana yang tersenyum kepadanya. ‘apakah aku harus menggunakannya lagi?’
Sebelumnya, setelah beberapa saat terdiam, simo berkomunikasi dengan kaisar pedang di dalam alam mimpinya. Kaisar Pedang memberikan solusi akhir, yaitu dengan mengeluarkan kekuatan naga es hitam itu sekali lagi. Tapi, tentu risikonya akan sangat besar.
Simo akan seperti monster yang harus darah, dan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Selain itu, jika dia kalah, maka dia dapat di pastikan akan mati.
Risikonya juga, dia akan bergerak secara gegabah dan tidak memperhitungkan apa pun yang ada. Di dalam pikirannya hanya ada menyerang dan menyerang.
Diana yang melihatnya, tersenyum, tentu dengan Serangan seperti itu, tidak akan ada efeknya.
Saat pedang masih berputar-putar, dari tangan simo keluar pedang-pedang api biru yang sangat panas. Ketika muncul, dia langsung melemparkannya. 10 Pedang api biru melesat menyerang Diana.
Tidak sampai di sana saja, simo muncul di arah lain dan melakukan gerakan yang sama. Dia melakukannya di empat arah.
Diana yang sebelumnya terlihat santai, kini lebih serius. Dia lalu mengarahkan tangannya ke arah pedang-pedang itu dan menyerangnya dengan butiran es yang tajam, kecuali pedang simo dia hanya menghindarinya.
Setelah empat arah Serangan simo di hancurkan, simo muncul dan mengambil pedangnya. Dia meluncur mengarah dan bersiap menebaskan pedangnya ke arah Diana.
“Apa kau sudah menyerah?” Diana menduga simo akan menyerah, karena Serangan simo terlalu ceroboh.
“Bagaimana aku bisa menyerah!” Simo meraung keras, bersamaan dengan itu, aura hitam ke luar dari bilah pedangnya. Itu adalah aura naga hitam. Dia memutuskan untuk menggunakannya sedikit.
__ADS_1
Walaupun sedikit, kekuatan itu sangat mempengaruhi pikirannya.
Kaisar pedang yang ada di dalam alam mimpi berusaha mengendalikan kekuatan besar itu.
Dari tangan Diana muncul tombak. Dia lalu mengayunkannya ke atas. Suara dentingan pun terdengar nyaring ketika dua senjata itu beradu. Gelombang angin menyebar seperti ledakan di area sekitar, menyebabkan salju-salju berhamburan.
Simo memegang erat pedang dan berusaha mendorongnya. Gigi-gigi terlihat saling menekan. Kedua matanya sedikit membesar.
Selain aura hitam, aura putih, dan merah muncul dan saling membantu. Diana yang awalnya tenang kini terlihat terkejut. Dia tidak menyangka simo mampu mendorong tombak esnya. Bahkan membuatnya retak.
Selain itu, dia juga merasakan kedinginan dan aura pembunuhan peka keluar dari pedang simo. Di dalam pikirannya, dia mulai memikirkan kekuatan apa sebenarnya yang di miliki pemuda di depannya.
Setelah meraung beberapa saat, simo belum bisa mendorong Diana, Bahkan sedikit pun tidak. Dia hanya bisa mendorong senjatanya.
Diana tidak tinggal diam. Wanita itu pun mengeluarkan kekuatan esnya. Perlahan-lahan muncul es hijau dari tangan, lalu merambat dan melilit senjatanya. Setelah beberapa saat muncul beberapa jarum-jarum panjang dan menyerang simo.
Namun, sebelum menyentuh simo, jarum-jarum itu hancur tanpa sisa, seperti ada yang meremas dengan keras.
Diana membulatkan kedua matanya. Dia tidak percaya tekniknya bisa di hancurkan begitu saja. Setelah sadar, dia langsung mengeluarkan tenaga yang lebih besar dan mendorong simo dengan keras.
Simo langsung terpental dan Menabrak dinding gunung di sekitarnya. Dan menyisakan lubang besar di sana.
“Anak ini monster.” Gerutu Diana. Dia tahu, ada sumber kekuatan lain yang mengalir dari tubuh simo, dan sangat aneh. Auranya terasa sangat dingin dan kelam. Selain itu, kekuatan simo juga sangat aneh dan lebih kuat dari tingkatnya sekarang. Jadi, sangat mungkin untuk memanggilnya monster.
Simo berbaring di dalam lubang dan melentangkan kedua tangannya. Nafas seperti sudah berlari 100 meter dengan cepat. Keringat panas membanjiri tubuhnya.
“apakah aku bisa mengalahkannya?” simo memandang Diana yang sedang mengatur nafasnya. Dia tidak percaya dengan kekuatannya sekarang. Di tambah kekuatannya yang sekarang tertinggal jauh dari Diana.
Dengan lemas simo bangun. Dan dengan pedangnya, dia berdiri.
Saat simo hendak melesat lagi, tiba-tiba semua rantai yang ada bergetar hebat lalu patah.
__ADS_1
Diana yang melihat itu tersenyum. Tentu saja ini adalah hal yang dia inginkan selama ini. Dengan senang dia berkata, “akhirnya rencanaku berhasil.”