Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 1 musuh lama


__ADS_3

Kota gunung salju adalah ibu kota dari kekaisaran gunung salju dan merupakan pusat pemerintahan. Kota itu adalah salah satu tempat terindah yang ada di wilayah kekuasaan kekaisaran gunung salju.


Kota ini berada di dalam lembah yang besar, di kelilingi pegunungan dan pepohonan yang rindang. Dari semua pegunungan hanya dua gunung yang selalu di selimuti salju dan menjadi pusat perhatian semua orang, dua gunung itu lah asal nama kekaisaran gunung salju.


Tidak ada informasi yang jelas mengapa gunung itu terus di selimuti salju. Jika bertanya dengan orang-orang sekitar mereka akan menjawab gunung itu adalah simbol ketenangan, tempat untuk leluhurnya bertapa dan mendamaikan pikiran.


Di siang hari yang panas. Di atas tebing terlihat seorang anak muda berumur sekitar 16 tahun tengah duduk. Dia memiliki wajah yang tampan, rambut pirang kuning dan kebiruan. Dia adalah simo.


Di tangannya ada pedang panjang yang menjadi kebanggaannya dan merupakan hadiah yang di berikan kakeknya sejak kecil.


Simo mengusap-ngusap pedang itu beberapa kali lalu mengangkat wajahnya.


Hamparan kota di siang hari dan angin dingin menyambut pandangannya.


Melihat itu simo menarik nafas panjang. Sudah beberapa tahun dia tinggal di kota yang penuh konflik itu, setiap hari dia selalu menerima cacian dan makian serta ejekan yang tiada henti-hentinya. jika saja bukan karena simo tidak menahan diri, sudah dari dulu dia bereskan semuanya, tetapi kakeknya melarangnya, kakeknya takut jika simo di incar oleh orang-orang jahat yang ingin membunuhnya.


Karena hanya memakai baju dari desa membuatnya terus di hina dan bully. Simo memang suka memakai baju desa yang kesannya sederhana dan tidak mewah. Beberapa kali dia berusaha menggantinya, tetapi dia merasa sangat tidak nyaman memakainya oleh karena itu dia selalu menerima hinaan.


Simo hanya memandang mereka sinis dan tidak mempedulikannya. beberapa kali dia terlihat selalu menghidar dan menahan amarahnya.


Pembunuhan sudah biasa terjadi di dunia ini, dunia yang kuat, licik dan pandai berbicara akan menang dan yang baik, jujur dan murah hati akan selalu ditindas.


Simo beranjak berdiri lalu berbalik. Dia menatap pohon sakura yang menjadi lapisan kemarahan dan tempat latihannya setia hari.


Simo mendekati pohon itu hingga dia dan pohon itu berjarak 10 meter.


Simo mengayunkan pedangnya. Saat pedang itu terayun muncul api biru berbentuk bulan sabit lalu meninggal jejak tebasan di pohon sakura itu.


Simo melakukannya beberapa kali lalu menghampiri pohon sakura itu.


Senyuman bermekaran saat dia melihat tebasannya lebih dalam merobek pohon itu, dengan kata lain dia berhasil meningkatkan kekuatannya.


Simo lalu kembali ke pinggir tebing, dia ingin duduk tetapi seorang pria datang lalu berkata, “tuan, kakek memanggil anda.”


Mendengar itu simo berbalik. “ada apa?”


“hamba tidak tahu, hamba hanya di perintahkan untuk memanggil anda untuk menghadapnya di aula menara.” Ucap pria itu dengan hormat dan nada yang sopan.


“baiklah.”


“hamba undur diri.”


Simo mengangguk.


Dalam sedetik pria itu sudah menghilang dari pandangan simo seperti angin kencang yang lewat.

__ADS_1


Simon berbaik dan lagi-lagi menghela nafas panjang lalu melompat dari tebing dan menghilang. Dalam beberapa puluh meter terlihat lagi dan lagi-lagi menghilang.


...****...


Di ruangan yang indah dan luas dengan berbagi dekorasi yang menghiasi, seorang kakek terlihat berdiri menghadap jalan keluar dengan kedua tangannya di belakang.


Kakek itu memiliki rambut panjang sedikit beruban, wajahnya sedikit keriput dan jenggot panjang tumbuh di dagunya layaknya seperti rambut yang selalu di rawat. Kakek itu bernama aoba.


Tidak beberapa lama dia tersenyum melihat pemuda yang di panggilnya; seorang yang selalu mendampinginya dan menjadi cucu angkatnya.


“apa kakek memanggilku?” tanya simo seraya memberi hormat.


Aoba mengangguk. “ aku dengar di akademi gunung salju sekarang membuka pendaftaran bagi siswa dan kau pasti tahu apa yang kakek inginkan.”


“apa kakek ingin aku menjadi salah satu murid di sana?” jawab simo yang tidak lain pasti kakeknya ingin dia menjadi murid di sana.


Aoba mengangguk. “benar.” Aoba mengambil sesuatu dari dalam bajunya lalu melemparnya dengan keras dalam seperempat detik benda itu sudah ada di tangan simo.


“Benda ini lagi.” Gumam simo seraya memandang benda yang menjadi andalannya saat masuk ke kota kekaisaran. Benda itu berbentuk bulat dengan gambar gunung salju.


“kau hanya perlu membawanya, dengan begitu kau tidak perlu membayar uang sepeser pun.”


Mendengar itu simo sedikit terkejut. Dia tidak menyangka jika benda kecil yang hanya memiliki harga 10 koin emas itu sangat bermanfaat.


Sudah dari dulu simo ingin bertarung, tetapi kakeknya tidak membiarkannya. mendengar permintaan kakeknya dia berharap kakek membolehkannya karena di akademi selalu berhubungan dengan pertarungan.


Aoba mengangguk. “tetapi kau hanya bisa menggunakan ilmu berpedangmu saja dan jangan pernah kau gunakan api biru itu.”


Mendengar itu simo tersenyum, meski tidak bisa menggunakan api biru dia masih bisa menggunakan ilmu berpedang dan bela dirinya.


Simo beranjak pergi.


Aoba tersenyum memandang punggung cucunya itu. Sejak dulu simo memang sangat berbakat apalagi sejak dia berlatih di kekaisaran gunung salju, peningkatannya di luar nalar dalam beberapa tahun dia sudah mencapai tingkat bumi tahap 4 bintang 5 itu adalah prestasi yang sangat membanggakan mengingat simo baru berumur 16 tahun oleh karena itu juga menjadi alasan aoba tidak membiarkannya bertarung dan hanya berlatih saja.


Jika bukan karena desakan ketua Hoshi, kakek namila, yang memiliki janji kepadanya mungkin saja aoba ingin mengundur masuknya simo ke akademi, setidaknya untuk satu tahun.


...****...


Di siang hari yang cerah simo berjalan-jalan menuju akademi gunung salju yang letaknya tidak jauh dari tempatnya tinggal sekarang.


Simo memakai jubah dan capil untuk menghalau panas matahari.


Sepanjang perjalanan dia melihat-lihat orang-orang menjual berbagai macam barang-barang, sayuran, tumbuhan dan lain-lain selain itu keramaian kota yang seperti bisanya ikut menjadi perhatiannya.


Tidak beberapa lama simo berbelok menuju gang kecil untuk mempersingkat waktu. Saat simo masuk gang, gang itu sangat sepi dan hanya terlihat sorang pria muda yang sedang berjalan, simo sangat mengenal orang itu yang tidak lain adalah musuhnya.

__ADS_1


Dia adalah ivander, seorang pemuda berumur 19 tahun dengan tingkat bumi tahap satu bintang 4


Dia memiliki wajah yang bisa-bisa saja, tetapi dengan memakai baju bangsawan dia terlihat lebih menawan dan karena itulah tidak heran jika dia sombong dan selalu menghina simo.


Simo menurunkan capilnya agar tidak ketahuan, bukan karena simo takut, tetapi dia ingin pergi ke akademi sebelum antrian panjang terbentuk dan membuatnya harus berdiri di depan akademi seharian.


Menurut informasi yang simo dapatkan sekitar 300 orang akan mendaftar di akademi setiap tahunnya. orang-orang yang mendaftar belum tentu bisa masuk karena harus melalui ujian pertarungan.


mereka harus melalui pertarungan dulu untuk menguji kemampuan mereka dan jika memiliki potensi akan langsung lulus dan menjadi murid di sana.


Akademi gunung salju adalah simbol pendidikan yang menjadi andalan kekaisaran gunung salju sehingga tidak heran jika mereka ingin merenggut murid yang berbakat, selain lebih mudah di ajari mereka dapat dengan cepat dapat membantu kekaisaran dalam melawan ras raksasa.


Saat berpapasan dengan simo, ivander tidak memperhatikan simo sedikit pun dan sepertinya ivander sedang sibuk hari ini.


Saat beberapa meter dari simo, ivander berhenti seperti dia melihat sesuatu yang familiar. Dia berbalik. “hey! Bukankah kau simo, si anak kampung itu kan?” ujar ivander menebak-nebak.


Mendengar itu simo terdiam, “Bukan, buka aku, kau salah orang.” Simo melanjutkan perjalanannya


mendengar itu ivander melebarkan senyumnya. “ahaha, bahkan anak kecil pun lebih pintar darimu saat berbohong!”


Mendengar itu simo berbalik. “apa maksudmu?” ucap simo berpura-pura.


“kau tidak perlu berbohong seperti itu. jika kau ingin berbohong maka buang dulu pedang mumimu itu. Pedang rongsokan seperti itu kau bawa, kau benar-benar memang kampungan!” ujar ivander seraya menunjuk pedang simo yang terbalut kain putih di punggungnya.


Mendengar penghinaan seperti itu, simo mengertakkan gigi, mengepalkan tangannya dengan erat, menahan amarahnya yang sudah di ambang puncaknya. Simo ingin melawan, tetapi dia harus pergi mendaftar.


“Aku tidak ada waktu untukmu.” Ucap simo dengan nada dingin lalu berbalik dengan kasar.


Mendengar itu, ekspresi wajah ivander menjadi jelek. Sepanjang hidupnya dia tidak pernah diperlakukan seperti itu, apalagi dengan seorang kampungan. Dengan marah ivander menarik pedangnya lalu melesat dengan kecepatan tinggi seperti elang yang sudah mengincar targetnya.


“Aku pastikan kau menyesali perkataan mu itu!” ujar ivander dengan marah.


Mendengar itu simo tersenyum sinis lalu menarik pedangnya kemudian memutarnya ke belakang dengan lembut.


Trangkkk!!!


Ujung pedang ivander menyentuh bilah pedang simo dan berhasil menghentikan gerakannya.


Melihat itu ekspresi ivander yang sebelumnya percaya diri kini terkejut dan heran. Sepanjang dia mengenal simo, simo tidak pernah melawan dan hanya berlari saat dia bertemu dengannya, tetapi tidak di sangka simo hanya menyembunyikan kekuatannya membuat ivander terkejut.


Ivander ingin menyerang simo lagi, tetapi seperti ada yang mendorongnya membuatnya terpental beberapa meter.


“kita lanjutkan nanti!” ucap simo dengan dingin lalu berbalik kemudian berlari dan melompat-lompat ke atap-atap rumah.


Mendengar itu jelas membuat ivander menjadi marah dan kesal, baru kali ini dia di permalukan seperti itu. Dengan kesal dia berbalik. “Huh, aku pastikan kau akan kalah saat pertarungan nanti.” Ivander lalu berjalan dengan langkah besar.

__ADS_1


__ADS_2