
“Tap...”
Sebelum jauzan selesai menjawab, simo sudah melompat dan mengayunkan pedangnya dengan keras tepat di atas kepala kucing itu. Suara pedang pun terdengar kala bilah pedang itu membentur kepala kucing, tapi bukannya keluar darah, malahan sebaliknya bilah pedang simo retak yang membuatnya terkejut.
“Sudah aku duga dia kuat, tapi kenapa sekeras ini?” gumam simo yang terkejut setelah menyadari kulit dan daging moster di depannya sekeras batu. Itu juga sangat jauh dari perkiraannya, jika dia sebelumnya mengetahuinya dia pasti akan mencari moster yang lain.
Namun sekarang itu sudah terjadi. Kedua mata kucing itu terbuka, karena terkejut dan marah. Dengan refleks kucing itu mengayunkan cakarnya yang tajam seraya bersuara marah.
Simo dengan cepat menggunakan teknik lauthing linght untuk menghindari serangannya.
“huh, hampir saja.”
Kucing itu mencari-cari simo dan setelah menemukannya, dia berlari dengan cepat dan mengayunkan cakar-cakaran yang tajam. Simo terus berusaha sebisa mungkin untuk menghindar dan mencari celah untuk menyerangnya. Karena pedangnya sulit untuk menembus kulit monster dia berusaha memotong kuku-kukunya.
Sementara itu, jauzan hanya bisa menghela nafas, melihat simo yang bertarung dengan gigih.
“Dasar bodoh, kenapa tidak baca buku tentang moster saja sebelumnya.” Celoteh jauzan seraya mengamati pertarungan simo.
Swusss!
Akhirnya simo berhasil memotong salah satu kukunya dan membuatnya lebih marah. Kucing itu lebih intens mengayunkan kuku-kukunya. Selain itu, dia juga berusaha memakan simo dan menyergapnya, tapi simo selalu bisa menghindar menggunakan teknik lauthing linght.
“langkah yang cerdas.” Puji jauzan yang sekarang duduk dengan santai menyaksikan simo. Dia seperti menonton sebuah pertunjukan.
Tidak beberapa lama simo berhasil memotong semua kuku-kukunya. Tentu saja itu membuat kucing itu lebih marah sehingga menyerang simo dengan semua anggota tubuhnya.
Namun sekarang itu tidak ada artinya, simo sekarang menggunakan api biru untuk menyerang dan hasilnya membuat kulit kucing itu terbakar sedikit. Membuat simo senang dan ingin menyerangnya lagi, tapi jauzan menghentikannya.
“ada apa?” tanya simo heran.
“Sudah cukup, dia sudah kalah.”
“Maksudmu?”
Jauzan tidak menjawab, dia pergi mendekati kucing itu dan mengurungnya dengan selaput air.
“maaf ya, mungkin ini akan sedikit sakit.” Katanya yang sudah berada di bagian tubuh kucing yang terbakar.
Kucing itu meronta-ronta dan berteriak-teriak keras, tapi itu sia-sia saja, karena tubuhnya sudah terkunci sepenuhnya.
__ADS_1
Teriaknya lebih keras dari sebelumnya terdengar saat jauzan menyembuhkannya. Namun setelah itu kucing itu menjadi lebih tenang.
Simo yang melihatnya hanya bisa tertegun. Dia tidak menyangka jauzan bisa melakukan itu. Setelah ingatannya kembali, dia mengetahui jauzan adalah sosok yang dingin dan kasar, tapi setelah melihat ini dia yakin jauzan sudah berubah.
“Kau sudah tidak apa-apa.” Kata jauzan seraya mengelus-elus kepalanya. Kucing itu terlihat nyaman, dia juga mendengkur seperti sedang berada di dekat majikan.
“meong.” Suara kucing itu yang seperti mengerti apa yang di katakan jauzan.
Perlahan-lahan jauzan melepaskannya.
“Bagaimana kau bisa melakukannya?” tanya simo mendekati jauzan yang duduk bersama kucing besar itu. Dia berdiri menjaga jarak dengan kucing itu, karena sorotan mata kucing itu masih penuh dengan kebencian dan kemarahan.
“Rahasia.” Jawab jauzan, lalu tersenyum nakal.
Mendengar itu simo sedikit terkejut, tapi dia tidak berusaha menanyakannya lagi, sebab jauzan pasti tidak akan mengatakan. Apalagi setelah simo mengatakan itu sebelumnya kepadanya. Dengan kata lain, itu adalah balasan Jauzan.
Simo tersenyum. “jika kau tidak ingin mengatakan, aku tidak akan menanyakannya lagi.” Kata simo sebisa mungkin terlihat tidak peduli dengan rahasia jauzan.
Jauzan hanya tersenyum seraya mengelus-elus bulu-bulu kucing itu.
Setelah memetik bunga dailelo ungu, mereka memutuskan untuk mencari kayu bakar dan makanan, karena hari sudah semakin gelap. Apalagi pohon-pohon di pulau sijiriah sangat tinggi-tinggi, jadi, walaupun di sore hari itu sudah kelihatan gelap.
Selama mencari makanan, simo dan jauzan harus memeriksanya dengan teliti, karena tidak semua buah-buahan dapat di makan. Buah-buahan beracun di sana juga mirip-mirip dengan buah-buahan yang dapat di makan.
Setelah memastikan tidak ada monster, simo dan jauzan masuk ke dalam gua. Simo langsung saja menyalakan api birunya sebagai penerangan.
Tidak beberapa lama, akhirnya mereka tiba di suatu ruangan dengan lubang di atasnya. Dengan begitu mereka dapat melihat bintang-bintang dari dalam gua, tanpa takut ancaman hewan buas.
Mereka langsung saja menyalakan api dan makan bersama.
“Apa rencana kita selanjutnya?” tanya jauzan seraya memakan Buah apel. Dia berada tidak jauh dari simo.
“Mungkin aku ingin mencari moster yang lebih kuat dan mendapatkan tanaman herbal yang berharga terlebih dahulu.” Jawab simo seraya menghangatkan kedua telapak tangannya. Entah mengapa malam di pulau sijiriah sangat dingin, padahal pulau itu dekat dengan lautan.
“Baiklah, aku setuju, lagi pula aku juga ingin mendapatkan pengalaman yang berharga. Kenapa tubuhmu bergetar, apakah kau sakit?” tanya jauzan menyadari tubuh simo bergetar.
“Tidak, aku hanya kedinginan saja.” Jawab simo yang berusaha membuat tubuhnya tidak bergetar. Walau begitu tetap saja tubuhnya sedikit bergetar.
Jauzan menghela nafas, “apa kau tahu kegunaan bunga dailelo itu?”
__ADS_1
“Untuk asupan energi.”
“Lagi?”
“Tidak ada hanya itu saja yang tertera di buku yang aku baca.”
“patesan saja kau tidak menggunakannya. Berikan itu.” Jauzan mengulurkan tangannya dan simo langsung mengeluarkan bunga itu dan menyerahkannya.
“bunga ini dapat di gunakan sebagai penghangat tubuh. Mari ikut aku.” Jauzan mendekati salah satu batu dan mengulek bunga itu hingga hancur.
Simo melihatnya mengerti jika bunga itu di hancurkan untuk di gunakan sebagai penghangat tubuh.
“coba kau sentuh dan rasakan.” Pinta jauzan yang sudah menyelesaikan kegiatannya.
“bagaimana?” tanya jauzan seraya melihat telunjuk simo mengenai ramuan bunga dailelo.
“hangat.” Mata simo cerah setelah merasakan kehangatan yang nyaman dari telunjuknya. Dia lalu memoleskan ke seluruhnya bagian tubuhnya.
“Apa sekarang sudah hangat?” tanya jauzan yang sudah kembali duduk dan begitu pun simo.
Simo mengangguk. “kenapa kau tidak merasa kedinginan?”
“Aku sudah terbiasa dengan suhu sedingin ingin dan kau kenapa bisa kedinginan? Padahal kau berasal dari desa terpencil di tengah hutan?”
“di sana suhunya lebih hangat, kau tahu aku tidak pernah kedinginan di sana, meski berada di tengah hutan rimba.”
“Mengapa?” jauzan heran.
“karena kakekku adalah seorang penggunaan elemen api, dia bisa menghangatkan seisi rumah dengan mudah, layaknya penghangat otomatis. Andai saja aku bisa melakukannya.” Ucap simo dengan ceria dan membayangkan dirinya bisa seperti kakeknya.
“bukankah kau juga penggunaan api?”
“iya, tapi aku belum bisa seperti kakekku.” Jawab simo dengan nada sedih, kemudian berkata lagi, “ngomong-ngomong aku akan berjaga sampai tengah malam dan kau akan menggantikanku setelahnya. Bagaimana?”
“ide bagus, tapi efek bunga itu hanya beberapa jam saja, apa kau tidak keberatan?”
“tenang saja aku tidak akan apa-apa, lagi pula itu akan menempa tubuhku menjadi lebih kuat. Sekarang tidurlah.”
Walaupun enggan, jauzan tetap memutuskan untuk tidur. Dia sebenarnya ingin sekali menemani simo, tapi dia sadar itu bukanlah keputusan yang bijak di lakukan, apalagi sekarang bukan saatnya mengkhawatirkan atau memenuhi keinginan pribadi. Jauzan berjalan beberapa meter lalu membaringkan tubuhnya di sebuah tempat yang sudah dia persiapkan sebelumnya.
__ADS_1
Setelah mendengar nafas jauzan lembut, yang memadakan dia sudah tertidur, simo memutuskan untuk duduk seraya memandang bintang-bintang yang berkelap-kelip di kubah hitam langit malam. Simo duduk bersila seraya memejamkan matanya seperti bersemedi, tapi sebenarnya dia ingin menghemat tenaganya, agar dapat bertahan lebih lama.
Dia ingin berjaga sepanjang malam, jika bisa, sebab dia enggan menyuruh jauzan, karena dia seorang perempuan. Bagi simo seorang lelaki harus bisa menjaganya. Apalagi jika dia adalah wanita yang dia sukai.