
Pagi-pagi sekali Naria pergi ke kamar pangeran matahari terbit. Dia mengetuk pintu beberapa saat sebelum akhirnya pangeran matahari terbit membuka pintu.
“Ada apa Naria?”
“ini.” Naria menyerahkan sebuah surat yang telah di bawanya. “ini adalah surat untuk ibu dan ayahku. Sampaikan kepada mereka, aku akan pergi berpetualang besok. Katakan, jangan mengkhawatirkanku, aku bisa menjaga diri dengan baik. Katakan juga, putri mereka tidak akan hilang lagi. Aku tidak menentu untuk kembali. Mungkin tiga bulan atau empat bulan. Mengirim surat adalah hal penting untuk meyakinkan mereka tolong sampaikan dengan baik. Dan rayu juga ibuku, dia yang paling mengkhawatirkanku. Tolong ya.”
“Berpetualang? Kau berpetualang dengan siapa, dan ke mana?”
“bersama temanku, aku akan pergi besok. Temanku sangat kuat dan mampu melindungiku, kau tidak perlu khawatir. Dia mampu melindungi diriku.”
“Tidak. Kau tidak boleh pergi. Temanmu belum tentu orang baik. Aku akan ikut bersamamu untuk berjaga-jaga. Aku adalah pelindungmu dan juga tunanganmu, aku tidak boleh membiarkanmu pergi dengan orang yang tidak di kenal.”
Naria cemberut ketika mendengar itu. Dia menatap pangeran matahari terbit dengan tajam. “Tidak perlu. Aku bisa menjaga diriku dengan baik. Jika kau memaksa untuk ikut atau mengirim pasukan untuk melindungiku, jangan pernah kau berharap pulang dengan selamat.”
Pangeran matahari terbit terkejut mendengar itu. Dia menatap Naria dengan mata menyelidik. Dia tidak pernah mendengar Naria berkata seperti ini, dan menjadi dingin seperti ini kepadanya.
Setelah melihat kedua mata Naria yang tidak terbantahkan, dia berkata, “Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau adalah tunanganku, aku berhak melindungimu dan mengikutimu ke mana pun kau pergi.”
“Jangan salahkan diriku jika kau memaksaku. Aku harus pergi. Jika kau melangkah satu langkah ke depan, kau harus berhadapan denganku.”
Ketika Naria hendak pergi, pangeran matahari terbit langsung memegang tangannya. “Apa yang kau bisa lakukan? Tunjukkan di depanku saat ini.”
Pangeran matahari terbit cukup percaya diri ketika melakukan itu. Dia sudah mengetahui bagaimana kekuatan Naria, dia tidak ubahnya seperti gadis biasa yang tidak mempunyai kekuatan apa pun.
Meski dia hanya berada di tingkat bumi tahap lima, itu lebih dari cukup untuk menghentikannya. Namun, tiba-tiba tatapan Naria menjadi tajam dan sangat dingin. Dia dengan cepat memegang tangan pangeran matahari terbit, dan melemparkannya ke depan dengan sangat cepat, dan di saat bersamaan berseru, “kau yang memintanya!”
Tubuh pangeran terlempar cepat dan menghantam tembok pembatas koridor. Kekuatan hantaman itu sangat cepat dan kuat, membuat darah menyembur keluar dari mulutnya. Dia langsung berusaha berdiri dan memandang tidak percaya ke arah Naria. “Siapa kau sebenar....”
Dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, lima pedang air melesat ke arahnya. Dia langsung melompat ke samping dengan cepat. Lima pedang itu menusuk berurutan di tembok menimbulkan suara mendesis yang tajam.
“Apakah dia Naria?” seru pangeran matahari terbit. Dia tidak percaya dengan Naria di depannya. Dia tidak pernah mengenal Naria yang dingin seperti ini dan memiliki kekuatan yang kuat seperti ini. Naria yang dia kenal sangat berbeda dengan Naria yang ada di depannya saat ini.
__ADS_1
“siapa kau?!” tanyanya ketika Naria ke luar.
Tatapan Naria sangat dingin, pangeran matahari terbit dapat melihat dan merasakan aura yang sangat dingin keluar dari kedua matanya.
Naria tidak menjawab. Dia mengangkat satu tangannya. Dalam sekejap, lima pedang air yang berada di tembok bergetar dan melesat ke arahnya, dan berputar-putar di belakangnya.
“Pertanyaan yang bodoh. Jika kau menghentikanku untuk pergi, aku tidak akan ragu-ragu menyerangmu saat ini. Meski kau seorang pangeran sekali pun. Di mataku, jika menghalangi diriku, mereka pantas untuk di beri pelajaran. Apakah kau mengerti?”
Melihat tatapan Naria yang dingin, pangeran matahari terbit langsung menjawab mengerti dua kali dengan cepat. Dia sangat mengetahui dan merasakan bagaimana aura yang di keluarkan Naria saat ini. Jika Naria mau, dia bisa saja melenyapkannya saat ini juga.
Meski dia seorang bangsawan tingkat tinggi, hari ini dia harus merendahkan diri. Naria terlihat sangat serius saat ini.
Naria berbalik pergi. Saat dia berjalan lima langkah, dia tiba-tiba berhenti, dan melirik pangeran matahari terbit. “Aku adalah Naria yang asli. Kau jangan pernah menggaguku lagi. Dan satu lagi, jika kau tidak membawa surat itu kepada orang tuaku dan berkata macam-macam di depannya, aku tidak akan berbelas kasih kepadamu lagi.”
Setelah Naria pergi, pangeran matahari terbit mengerutkan kening ketika menatap Naria dari jauh. Setelah sejenak terdiam, dia mengingat Naria hanya memiliki sebagian ingatannya. Itu membuatnya bertanya, Apakah dia sudah memiliki semua ingatannya?
...****************...
“Apakah aku terlambat?” di bandingkan sebelumnya, dia terlihat ceria dan sangat bergembira.
Simo menggelengkan kepalanya. “tidak. Kau tidak terlambat.”
“kau terlambat beberapa detik,” ujar Rina terlihat tidak suka.
“Kalau begitu maaf.”
Delisa tidak berkata apa-apa, dia hanya memandang acuh tak acuh terhadap Naria. Bagaimana pun juga dia tidak mengenal Naria dan ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengannya. Dia tidak mempedulikannya.
“Kakak, kau akhirnya datang, aku lama menunggumu!” Safia menghampiri Naria. Gadis itu tersenyum dan meletakkan kedua tangannya di belakang.
“Kau lagi, mari kakak gendong, kakak ingin merasakan apakah kau lebih berat dari sebelumnya.” Naria mengangkat tubuh Safia dan menggendongnya.
__ADS_1
“Aku tidak berat kan?”
“Tidak. Kau lebih berat dari sebelumnya.”
“Tidak mungkin!” Safia cemberut.
Naria tertawa. “baiklah, baiklah, kau tidak berat, tapi tumbuh lebih tinggi.”
Perlahan-lahan ekspresi wajah Safia menjadi lebih cerah setelah mendengarnya. “tentu saja, itu karena aku tumbuh lebih besar.”
Setelah semua datang, dira bersama citra lalu masuk. Semuanya menjadi fokus kepada dira.
“ini adalah peta yang harus kalian bawa ke sana. Semua perlengkapan sudah aku persiapkan. kalian tinggal berangkat saja.” Dira lalu mengalihkan perhatian kepada simo. “Simo, biarkan saja Safia berada di istana. Dia masih kecil. Dan dia juga akan menjadi beban ketika kau bepergian.”
“Tidak! Aku ingin bersama ayah! Aku mau pergi!”
“Safia sayang, jika kau pergi bersama ayahmu, kau akan mengganggu ayahmu dan teman-temannya. Apakah kau mau menjadi anak yang nakal, keras kepala dan tidak berbakti kepada orang tua?”
“tidak. Tapi aku ingin bersama ayah.”
Melihat Safia yang keras kepala, Naria berkata, “kau tenang saja. Ayahmu akan baik-baik saja. Nanti, jika kau dalam bahaya pergi ke sana, ayahmu akan merasa bersalah atas hal itu. Safia anak yang baik kan, Safia tidak akan merepotkan ayah safi akan?”
“T-tapi....” Safia menoleh ke arah simo. Dia sangat enggan meninggalkan simo. Namun, dia mengetahui bagaimana kondisinya.
Simo mengangguk. “ yang mulia ratu benar, Safia, kau harus berada di sini. Ayah, akan datang lebih cepat.”
“janji?”
Simo mengangguk.
Meski enggan, Safia tidak punya pilihan lain, dia mengangguk. “aku akan menerimanya! Ayah jangan pergi terlalu lama!”
__ADS_1
Simo mengangguk. “pasti.”