Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 7 istana


__ADS_3

Di depan gerbang istana sudah ada dua orang penjaga. Mereka gagah dengan pedang di pinggangnya. Mereka memakai seragam khas kerajaan radia. Melihat kereta berhenti. Salah satu dari mereka maju dan menanyakan perihal kedatangannya.


“Kami membawa tuan putri kembali.” Jawab simo sambil melihat ke arah kereta kuda


“putri? Apa aku boleh melihatnya?”


Simo mengangguk.


Meski tidak ada rasa curiga kepada simo penjaga itu tetap ingin memeriksa apa yang di bawanya. Mungkin saja apa yang di katakan simo tidak benar. Selain itu memeriksanya adalah salah satu hal yang harus dia lakukan. Walaupun wajah simo tidak memperlihatkan kebohongan sedikit pun, dia tetap melakukannya.


Di tambah kereta yang datang adalah kereta petani, tentu saja membuatnya agak tidak percaya. Tuan putri adalah seorang bangsawan, bagaimana bisa seseorang berpangkat tinggi seperti itu mau naik kereta seperti itu?


Karena mendengar percakapan, putri Dhiya kahrya keluar dari kereta. Dia keluar melalui pintu depan. Dia lalu memandang gerbang istana yang sangat megah dan menawan itu. Sebuah gerbang yang menyelimuti bangunan yang indah di dalamnya.


Ada rasa bahagia dan rindu setelah satu bulan tidak melihat istana tempat tinggalnya. Dia tanpa sadar melukiskan senyuman di wajahnya, kemudian memandang penjaga itu dan berkata dengan lembut, “biarkan aku masuk.”


“B-baik.” Setelah mengatakan itu, penjaga langsung memberi hormat dan mengisyaratkan temannya untuk membuka gerbang. Rasa curiganya langsung lenyap. Berbagai pertanyaan di pikirannya langsung dia hapus, dan memaklumi apa yang di lakukan tuan putri Dhiya kahrya.


Penjaga satunya mengerti dan membuka gerbang.


Setelah gerbang di buka, putri Dhiya kahrya kembali masuk. Dan simo kembali memacu kereta kudanya.


Tibanya di depan istana, Putri Dhiya kharya dan yang lainnya keluar. Mereka lalu melihat-lihat keindahan istana dan tingginya bangunan tersebut. Selain itu taman yang indah membuat safia bergembira. Gadis itu langsung berlari ke taman.


Simo yang melihatnya langsung memerintahkan untuk tidak terlalu lama.


Delisa hanya terlihat datar, tetapi di dalam hatinya, dia menikmati apa yang ada. Meski pun dia tidak ingin pergi, dia tentu tidak mengabaikan apa yang ada di sekelilingnya.


Para prajurit yang melihat kereta kuda petani masuk sedikit mengerutkan kening, tetapi setelah melihat siapa yang datang, mereka langsung memberi hormat. Salah satu dari mereka berlari ke dalam. Mungkin ingin mengabarkan kepada orang lain, bahwa putri yang hilang sudah kembali dalam keadaan selamat.


“putri Dhiya kahrya, apa kita langsung masuk?” setelah melihat putri Dhiya kahrya selesai menikmati pemandangan, simo bertanya.


Putri Dhiya kahrya mengangguk.


“Dasar anak nakal!”


Simo dan yang lainnya langsung menoleh karena mendengar itu.


Dari dalam istana muncul dua orang wanita. Mereka tidak lain adalah dira dan selir terakhir yang merupakan ibu dhiya kharya. Mereka berjalan lambat dan anggun.


Meski selir terakhir berkata demikian, dia sangat senang anaknya kembali dengan aman dan sehat.


Melihat ibunya datang, di dalam hatinya muncul sebuah perasaan yang lega, nyaman dan menyegarkan. Dia Tanpa sadar memanggil ‘ibu’ dan langsung berlari dan memeluk ibunya erat-erat.

__ADS_1


“dasar anak nakal! Kenapa kau pergi begitu saja. Ibu sudah mencarimu ke mana-mana.” Ibunya memeluk erat anaknya seperti tidak pernah bertemu sama sekali. Air matanya menetes tidak tertahankan.


“maaf ibu, tapi hehehe rasanya ini pertama kalinya aku melihat ibu menangis. Aku tidak menyangka ibu bisa sedih seperti ini.” Putri dhiya kharya tersentuh dan mengejek kepada ibunya setelah melepaskan pelukannya. Bagaimanapun juga ini adalah momen langka, di mana ibunya menangis, bukan karena sedih, melainkan terharu dan bahagia.


Selir terakhir langsung mengusap kedua matanya, dan dengan marah berkata, “Dasar anak nakal. Kau pikir ibumu apa? Hah? Ibu bukan manusia gitu?” dia lalu menarik telinga anaknya.


“adu... Adu... Ibu kenapa kau menjewerku di depan umun, ini sakit.”


“biarkan! Supaya kau tidak lari lagi.”


Sementara itu, setelah melihat simo datang, dira tersenyum. Ini adalah pertemuan kedua dengan anaknya. Ada rasa rindu setelah beberapa bulan tidak bertemu dengannya. Sebuah rasa dan ikatan kembali muncul di antara keduanya. Meski mereka tidak selalu bersama, mereka merasa sangat akrab dan seperti sudah bertemu beberapa kali. Apakah ini ikatan antara anak dan ibu?


Simo pun begitu. Dia ingin berlari dan memeluk ibunya, akan tetapi dia sadar bukan waktunya untuk melakukan itu.


“Ayah!” Safia tiba-tiba datang dan menarik celana simo. Simo Langsung menoleh.


“ayah! Aku ingin di gendong.” Safia mengangkat kedua tangannya. Gadis ini bisa-bisanya muncul di saat seperti ini.


“Baiklah.” Simo langsung menggendongnya. Akan tetapi, sebelum itu dia memandang ke arah ibunya. Dia malu di panggil ayah, apalagi jika itu di depan ibunya. Tapi karena melihat Safia sangat ingin di gendong, membuatnya tidak tega menolak.


Melihat gadis itu memanggil simo dengan sebutan ayah, membuat Dira terkejut dan penasaran, apakah anaknya sudah menikah atau tidak. Jika sudah menikah, maka dia akan memarahinya karena tidak diundang.


Namun setelah beberapa saat dia langsung menepis semua pikiran negatif di dalam kepalanya. Baginya tidak mungkin anaknya bisa menikah di usia semuda itu, di tambah tidak mengatakannya dan mengundangnya.


“Bibi benar! Ayo semuanya kita harus masuk dulu. Tidak ada yang boleh pergi sebelum masuk ke dalam.” Putri dhiya kharya menghampiri simo, delisa dan menarik tangan mereka untuk masuk. Sementara Lasmaya, dia sudah pergi saat perjalanan.


Karena tidak enak, simo memilih mengikutinya, sementara Delisa hanya bisa mengikutinya saja, bagaimana pun juga dia sudah akrab dengan putri Dhiya kahrya, ada rasa tidak enak jika menolaknya.


Mereka di bawa ke ruangan makan yang mewah. Di sana beberapa pelayan berdiri di samping kanan dan kiri. Ada sekitar 10 pelayan di sana, lelaki dan perempuan. Dira langsung memerintahkan untuk menghidangkan makanan. Para pelayan mengangguk dan pergi.


Ada beberapa dari mereka menarik kursi dan membiarkan rombongan simo duduk di sana. Tidak ada pembicaraan hingga masakan di hidangkan. Makanan-makanan yang di hidangkan sungguh membuat mata meleleh karena penampilannya yang indah. Selain itu aroma yang harum dan nikmat tidak kalah menarik.


Safia yang tidak pernah makan yang mewah berusaha makan sebanyak mungkin. Sementara simo dan yang lainnya hanya makan seadanya.


Delisa di layani putri Dhiya kahrya, merasa tidak enak. Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Dia hanya tamu.


setelah selesai makan. Rombongan Simo di minta untuk tinggal di istana beberapa hari karena ada upacara peringatan kematian raja.


Simo menerimanya karena ingin bertemu ibunya. Sementara Delisa harus di bujuk dulu baru mau tinggal di istana.


Saat hendak kembali beristirahat, dira memerintahkan simo untuk menemuinya di atap saat malam hari.


Waktu berjalan cepat, simo akhirnya tiba di atas dan tersenyum melihat ibunya tengah bersandar di tembok dengan kedua tangannya. Dia menikmati pemandangan malam yang cerah. Rambutnya bergelombang saat sang angin meniup.

__ADS_1


Di depannya, hamparan kota yang berkelap-kelip sangat indah untuk di pandang.


Namun setelah menoleh, bukannya senyuman yang menyambutnya, melainkan tatapan kemarahan.


“Anakku, bisa kau ceritakan siapa anak itu?”


Simo langsung terkejut. “i-itu...”


“Apa kau sudah menikah?” dira mendekati simo.


“T-tidak ibu. Mana mungkin aku menikah.”


“lalu?” tatapan penuh intimidasi di arahkan kepada simo


“dia bukan anakku.”


“Lalu mengapa dia memanggil dirimu sebagai ayah?” dira mendekat dan menuding dada simo dengan telunjuknya.


“i-ibu, bisa ibu tidak bersikap seperti itu?”


Dira menghela nafas dan menjaga jarak dengan simo.


“baiklah, sekarang katakan.”


“dia anak yang tidak tahu dari mana asalnya. Ketika aku sadar, aku menemukannya sudah ada di depaku dan memanggilku ayah. Menurutku, dia adalah Azka, gadis hasil penelitian–”


“Apakah ini dari organisasi Kaisar Galen?”


“bagaimana ibu tahu?”


“Itu tidak penting. Lanjutkan.”


Simo mengangguk. “iya. Dia dari sana. Karena dia selalu memanggilku ayah, aku menerimanya sebagai anak angkat.”


“Mereka sangat jahat! Untung saja kau yang datang, jika ibu, maka semua orang yang ada di sana, pasti ibu bantai.”


“apa ibu sudah merencanakannya?”


Dira mengangguk.


Saat simo hendak berbicara lagi, tiba-tiba, dia merasa seseorang menarik celananya. Dia memandangnya.


“Safia, sejak kapan kau ada di sana?”

__ADS_1


__ADS_2