Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 4 rasa khawatir


__ADS_3

Delisa menghela nafas setelah mengatakan itu, kemudian duduk di samping ranjang. “Pergilah. Aku ingin tidur. Jika kau tidak mau mengatakannya, kau pergi saja.”


Wajahnya terlihat sayu dan kecewa, jelas dia sangat kecewa dengan pemuda yang di bawanya. Dia sangat berharap mendapatkan jawabannya, tetapi malahan sebaliknya yang dia dapatkan. Dia juga kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh, tubuhnya memerlukan istirahat.


“bahkan jika aku mengatakannya, kau tidak akan mengerti.”


“Apa maksudmu? Katakan saja! Jangan membuatku marah! Aku bisa melenyapkanmu dalam hitungan detik. Jika nyawamu ingin selamat, kau harus mengatakannya.” Rasa kelelahannya membuat Delisa mudah marah, apalagi pria di depannya seperti ingin bermain-main dengannya.


“Aku akan mencobanya.” Pria itu mendekati Delisa. “ulurkan tanganmu.”


“Apa yang akan kau lakukan?” Delisa curiga. Dia meletakkan kedua tangannya di depan dan menggenggamnya.


“Kau ingin merasakannya?”


“Aku tidak akan menyerahkan tanganku. Pergi cepat! Aku tidak membutuhkanmu lagi.”


Pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari bajunya. Dia kemudian mengambil tangan Delisa dan meletakkan lipatan kertas di atas telapak tangannya.


Delisa ingin mengumpat karena pria di depannya telah berani menggenggam tangannya, tetapi dia urungkan.


“Dengan membaca ini, kau akan mengerti.”


Pemuda itu kemudian pergi dari sana. Delisa mengangkat wajahnya setelah melihat lipatan kertas di tangannya, memandang pemuda itu pergi.


Setelah pemuda itu menutup pintu, dia membuka kertas itu. Rasa penasaran tiba-tiba muncul di dalam hatinya.


...****************...


Keesokan harinya, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan. Mereka semua terlihat sangat menyegarkan, kecuali dengan Delisa, dia terlihat tidak tega meninggalkan penginapan.


Saat Rina bertanya, Delisa hanya mengatakan tidak apa-apa, hanya kurang tidur.


Semuanya masuk ke dalam kereta. Delisa diam sejenak. Dia menatap lantai dua. Menghela nafas, Kemudian masuk ke dalam. Entah apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.


Perjalanan selanjutnya memakan waktu tiga hari hingga sampai ke kota indah, ibu kota kerajaan timur. Kota itu tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kaya, tetapi bangunan-bangunan mereka sangat rapi, dan indah. Di kelilingi pegunungan yang indah dan hijau, membuat siapa pun dari atas ketinggian terkagum-kagum melihat keindahan kota indah ini. Sesuai namanya, kota ini sangat indah.

__ADS_1


Pohon-pohon daun berwarna putih menghiasi sisi-sisi jalan. Sangat indah ketika waktu ini, saat pohon-pohon itu memiliki daun-daun baru. Tentu saja, rombongan simo tidak akan melewatinya begitu saja, mereka akan tinggal semalam di kota ini.


Saat mereka tiba, hari sudah sore, tetapi mereka tidak pergi mencari penginapan lebih dulu, mereka ingin berkeliling kota terlebih dahulu.


“Simo, tolong antarkan aku pergi berbelanja!” Rina menarik tangan simo dan mengajaknya pergi.


Simo tidak bisa menolak, Rina menarik tangannya, dan tidak menunggunya menjawab. Dia sebenarnya ingin pergi dengan Naria, tetapi semuanya di kacaukan oleh Rina. Dengan berat hati, dia mengikuti Rina pergi.


Naria sedikit marah, tetapi dia tidak berusaha mengejarnya. Dia yakin, simo tidak akan berani melakukan hal-hal aneh. Dia lalu menoleh ke arah Delisa. “Delisa, bisa kau menemaniku?”


“Tidak. Hari ini aku sibuk,” jawab Delisa sedang duduk di depan sambil memegang secarik kertas. Ekspresinya sangat serius.


Chan yang duduk di sampingnya, tidak tahan untuk bertanya.


“Bukan apa-apa tuan Chan, hanya sebuah cerita,” Delisa tetap mengarahkan pandangannya ke arah kertas.


Melihatnya seperti itu, Naria hanya bisa menerimanya. “Baiklah, aku akan jalan-jalan sebentar.”


Meski ini adalah kota tempat tinggalnya, dia belum menjelajahi semua tempat yang ada. Dia sangat penasaran dengan keindahan kota ini.


Tentu saja dia mengerti. Orang tua yang telah lama mengharapkan anaknya muncul, kini telah dilihatnya, akan sangat ketat dengannya.


Suara-suara orang-orang berjalan begitu ramai di sore ini. Dia menikmati suara dan pemandangannya di sore hari yang cerah ini.


Meski dia tidak tahu, apa nama pohon berdaun putih itu, dia sangat menyukainya. Daunnya seperti bunga kembang kertas, dan sangat berkilauan ketika cahaya matahari menyorotnya.


Setelah beberapa detik berjalan, akhirnya dia menemukan kain yang di inginkannya.


“tuan, berapa harga untuk kain ini?” Naria bertanya sambil menunjuk kain berwarna kuning cerah.


“Hari ini adalah hari jadi tokoku, semua yang membeli daganganku akan mendapatkan potongan harga, tetapi untuk nona yang cantik ini, aku akan memberikannya gratis.”


Naria terkejut dan tanpa sadar bertanya, “Apa tuan tidak berbohong?”


“Tidak nona.”

__ADS_1


Naria mengusap-usap kain itu. Tekstur kain itu sangat lembut. Jika simo berada di sampingnya, akan sangat menyenangkan. Dia mengambilnya. “Baiklah, terima kasih tuan! Aku akan mencobanya.”


“Silakan nona masuk ke ruangan itu.”


Naria mengangguk.


Setelah Naria masuk, dari dalam toko kecil itu keluar seorang pria berjubah. Dia tersenyum jahat ketika memandang pedagang itu. Pedagang itu juga tersenyum jahat.


Pria jubah hitam itu menyerahkan beberapa koin emas seraya berkata, “terima kasih.”


“Anda tenang saja tuan. Ini sudah menjadi kewajibanku.”


...****************...


Setelah satu jam berlalu, akhirnya mereka kembali berkumpul, simo dan Rina datang lebih awal. Ekspresi Rina sangat gembira. Meski dia tahu, simo tidak menyukai dirinya di ajak keliling, setidaknya baginya simo sudah bersama dirinya. Dia membeli beberapa pakaian dan memakai pakaian yang di anggap simo paling bagus.


Pakaian itu berwarna hijau cerah yang indah, membuat wajah cantik dan gembiranya terlihat lebih mengagumkan. Meski dia tahu, simo asal mengatakannya, setidaknya dia sudah menjawabnya.


Gadis ini sangat tergila-gila dengan simo. Namun, ada satu perasaan aneh perlahan-lahan muncul di dalam hatinya. Dia tidak tahu apakah perasaan ini.


Karena tidak melihat Naria berada di sana, simo langsung menanyakannya kepada Chan dan Delisa.


Chan menjelaskan semuanya.


Ekspresi simo menjadi khawatir. Dia memutuskan untuk pergi ke tempat yang di katakan. Ketika dia hendak bergegas pergi, Rina memegang tangannya. “Mungkin dia sedang membeli beberapa pakaian, atau sedang jalan-jalan, kita lebih baik menunggunya.


Kita juga mengetahui, dia memiliki kekuatan, dengan kekuatannya sekarang, dia akan baik-baik saja. Selain itu... Ini adalah rumahnya, jika terjadi apa-apa dengannya, petugas yang berpatroli pasti akan menyelamatkannya. Juga, di sini sedang ramai, jika terjadi pertarungan, kita pasti akan mengetahuinya.”


Mereka semua mengetahui kemampuan masing-masing ketika berada di istana, hal itu di lakukan untuk mempermudah pembagian tugas ketika sudah sampai di tempat lokasi.


“Tidak. Aku harus pergi.” Simo menjawab tegas. Dia tidak akan merasa aman jika belum melihat Naria baik-baik saja. Dia berjalan.


Rina melepaskan tangannya, dia tidak mampu menghentikan simo. Simo sangat menyukai dan ingin melindungi Naria. Hati Rina tersayat-sayat melihat simo pergi. Kecemburuan menghiasi hatinya.


‘apakah jika aku dalam bahaya kau akan melakukan itu juga?’ Batinnya melihat simo pergi.

__ADS_1


__ADS_2