
Di atas bukit yang jauh dari pusat kota, tiga orang berjubah berdiri menyaksikan semua pertarungan yang ada.
Orang yang paling depan membuka kerudungnya, memperlihatkan wajahnya yang dewasa dengan rambut pirang berwarna kuning. Dia tersenyum, kemudian berkata, “tidak kusangka mereka berhasil membunuh salah satu Jendralku.”
Nadanya jelas mengadu kekecewaan dan kemarahan.
Dua orang di belakangnya kemudian membuka jubahnya. Yang satu adalah perempuan cantik dengan rambut biru sebahu. Dia memilih perawakan wanita yang ideal; tidak terlalu gemuk dan langsing dan sangat cocok untuk petarung.
Di seberang, seorang pria paru baya dengan rambut hitam panjang dan kulit sawo matangnya. Jika orang yang melihatnya, mereka akan melihat sosok pria gagah dan kuat.
“Kenapa kalian tidak membantu rekan kalian?” tanya galen seraya tetap memandang ke depan.
“jika sudah masuk dalam anggota kami, kami tidak akan ikut campur dengan tugas masing-masing anggota.” Jawab wanita rambut biru yang merupakan iris.
“katakan saja, kalian tidak mau mati?”
Iris dan Hugo terdiam.
“Baiklah. Tidak ada salahnya juga. Sebentar lagi bala bantuan tiba untuk menolong mereka. Jika kalian datang merupakan keputusan yang buruk.”
“Sayang sekali, salah satu jenderalku mati di tangannya. Cepat atau lambat, aku pasti akan memutilasinya.” Dengan kata-kata itu, Galen pergi dengan marah dan di ikuti oleh isis dan Hugo yang kembali memakai jubahnya.
...****************...
Ketika hendak keluar dari ruangan itu, 4 orang muncul secara tiba-tiba, 3 orang memakai baju hitam sesuai dengan deskripsi yang dikatakan kenzo.
Satunya lagi, seorang gadis muda dengan rambut perak panjang terurai dan poni datar di dahinya. Dia memandang tajam ke arah kelompok simo.
Pria berpakaian hitam kurus tersenyum jahat, lalu berkata, “tidak perlu mencari kami, kami sudah berada di sini untuk menyambut kalian. Hahaha!”
“kau benar bos.” Ucap kompak dua orang gendut.
“apa dia yang kalian maksud?” tanya gadis itu yang di jawab anggukan oleh pria kurus di belakangnya.
“kau bisa membunuh mereka di sini sekarang.”
Gadis itu memandang simo dan namila secara bergiliran, lalu tersenyum meremehkan.
“Jika kalian sudah masuk, maka kalian tidak boleh keluar hidup-hidup dari sini.”
Azka menarik pedang dari sarungnya. Dia kemudian mengangkatnya dengan tinggi. Seketika hawa sedingin es keluar dari pedangnya. Hawa hijau dingin menyebar ke area sekitar, membuat orang-orang kedinginan.
“Azka!”
Azka terkejut dengan suara itu, dia kemudian menghilangkan aura es itu. Anulika tiba-tiba muncul dari pecahan-pecahan es kemudian memeluk Azka dengan erat.
“kakak...”
__ADS_1
Azka memeluk kakaknya dengan erat. Air matanya mengalir deras. Dia terlihat tidak bisa menahan kebahagiaannya ketika menyadari kakak yang dia sayangi ada di depannya.
“akhirnya.... akhirnya.... Kakak bisa menemukanmu.” Ucap Anulika memeluk Azka dengan erat dengan air mata menetes
Tiga orang di sampingnya terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
Simo dan Namila mempersiapkan pedang air dan bola apinya untuk berjaga-jaga.
“ ayo kita...”
Tiba-tiba anulika merasakan perutnya di tusuk oleh benda tajam dan sangat sakit. Dia kemudian melepaskan pelukannya, lalu memandang Azka di depannya yang memasang ekspresi tersenyum jahat.
Anulika kemudian memandang ke bawah, dan melihat perutnya di tusuk oleh pedang tajam. Darah mengalir dari dalam tubuh anulika.
“Maaf kak, kau tidak di perlukan lagi di sini.”
Azka Kemudian menarik pedangnya yang masih di selimuti darah anulika.
Saat melihat Azka ingin membunuh anulika, simo dan namila melempar senjatanya masing-masing, tapi senjatanya di halangi sesuatu. Mereka langsung bergegas, Namun, tidak sempat.
“kini giliran kalian.” Ucap Azka dengan nada dingin memandang simo dan namila berhenti tidak jauh darinya.
“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Anulika seraya menahan sakit di perutnya.
“Kenapa? Hahaha! Tidak ada hubungannya denganmu! Matilah dengan tenang. Aku jamin temanmu ini akan menyusulmu.”
Tiga orang itu kemudian mendekati pintu, menutupnya dan menekan tombol di sampingnya.
Simo dan Namila hanya diam, menyaksikan apa yang akan terjadi, karena mengambil tindakan tanpa tahu apa pun adalah sesuatu yang salah.
Setelah mereka menekan tombol itu, tiba-tiba semuanya menjadi gelap gulita. Simo dan namila waspada dengan sekitarnya.
Tidak beberapa lama, kepingan salju mulai turun, satu, dua, tiga dan tidak terhitung jumlahnya. Lalu angin dingin berembus dan samar-samar memperlihatkan hamparan salju di sekitar mereka.
Pohon-pohon cemara tumbuh subur di sekitar mereka.
“kenapa kita berada di sini?” tanya namila sembari melihat area sekitarnya.
Simo mengamati sebentar, sebelum menjawab tidak tahu.
Mereka berdua saling memandang ke pohon-pohon cemara di sekitarnya dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
‘Apakah ini ilusi? Tapi mengapa aku merasakan hawa dingin seperti ini?’ batin simo seraya mengerutkan keningnya.
“namila, apa kau mengetahui sesuatu tentang ini?”
Pengetahuan Namila sangat luas, jadi bisa mungkin dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
“tidak. Kejadian ini sungguh aneh. Ini bukan ilusi, aku sangat yakin, tapi mengapa kita berada di sini?”
“apakah ini semacam lubang teleportasi yang ada di pulau sijiriah?”
“Tidak, itu tidak mungkin. Aku sudah membaca banyak buku, tapi tidak ada satu pun yang menjelaskan situasi seperti ini.”
“tapi mungkin saja.... Ini adalah hasil penelitian lagi!” dugaan namila
Mendengar ucapan Namila, simo sedikit terkejut. Jika bisa sampai seperti ini, bukankah itu sesuatu yang mengagumkan?
“Sepertinya, kita harus melawannya!”
Simo menuding ke salah satu arah dengan pedangnya.
“ternyata aku ketahuan.”
Azka muncul samar-samar di mana arah pedang simo.
“siapa kau sebenarnya?” tanya simo dengan tatapan tajam.
“Memangnya itu penting? Tidak. Yang terpenting Adalah Kematian kalian berdua.”
Azka menghilang. Lalu muncul di depan simo dan mengayunkan pedang esnya.
Wuuusssssss!
Aura hijau dingin menyebar dari Pedang Azka.
Simo terkejut dengan kemunculan Azka yang mendadak, namun, akhirnya dia bisa menahannya, walaupun dia kesulitan.
“Kau layak menjadi lawanku.” Kata Azka lalu menghilang ketika namila ingin menyerang ke arahnya
“berengsek! Simo, kita harus kerja sama.” Namila lalu membelakangi simo. Mereka berputar-putar untuk mencari keberadaan musuh.
Di sekitar mereka muncul beberapa boneka salju. Boneka-boneka itu langsung berlari dan menyerang simo dan namila.
Simo dan namila langsung mengeluarkan teknik-teknik mereka untuk memotongnya. Meski mudah menghancurkan mereka, Namun jumlah mereka sangat banyak dan terus muncul.
“Simo, apa yang harus kita lakukan?” Namila tidak punya solusi untuk masalah ini.
Walaupun mereka belum mengeluarkan teknik-teknik terkuat mereka, mereka tentu tidak akan melakukan di awal. Karena itu di dipakai untuk melawan Azka.
Simo mengamati boneka-boneka salju di sekitarnya yang semakin mendekat. Setelah itu menghela nafas, lalu berkata, “aku tidak punya pilihan lain.”
Simo langsung memeluk Namila, kemudian melompat. Dan ketika di udara, dia memutar tubuhnya, lalu melempar bola api biru besar ke bawah.
Ketika dia mendarat, ledakan api pun terdengar di belakangnya. Tanpa memberi jeda, simo menarik tangan namila untuk mengajaknya lari.
__ADS_1
Simo tahu, mereka tidak jelas berada di mana, Entah nyata atau tidak. Yang pasti dia tahu, Azka merupakan penguasa di tempat ini, jadi, dengan berlari seraya memikirkan cara kabur yang tepat adalah keputusan yang terbaik untuk saat ini.