Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 5 sesuatu yang hilang part 2


__ADS_3

Dia menghela nafas dan memetik bunga kuning di depannya. Bunga itu indah dengan lima kelopak yang sempurna. Dia tersenyum dan membelai kelopak-kelopak bunga itu. Senyumannya sangat manis dan indah.


“Naria...” terdengar seseorang memanggilnya. Suaranya penuh kasih sayang dan lembut.


“ibu ... Apa ada yang ibu sembunyikan?” dia masih memandang bunga itu dan membelainya.


“Tidak. Ibu tidak menyembunyikan sesuatu darimu.” Wanita tak kalah cantiknya menghampiri Naria. Wanita itu memakai gaun hijau tua.


“ibu .... Rasa kehilangan masih muncul di hatiku. Aku tidak tahu apa itu. Aku tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Dan aku juga bingung dengan semua itu.” Naria memetik kelopak-kelopak bunga dan menjatuhkannya.


“Mungkin kau rindu dengan pangeran kerajaan matahari terbit.”


“tidak, itu tidak mungkin. Itu sesuatu yang lain. Ibu ... Apakah ibu benar-benar ibuku? Apakah pria itu juga benar-benar ayahku?”


Wanita itu sejenak terdiam, lalu menjawab, “tentu saja. Kau adalah darah daging kami, dan kau adalah putri yang sangat kami sayangi. Kami tidak tenang bertahun-tahun setelah kau menghilang.” Sepasang mata mulai berkaca-kaca mengingat masa lalu. “ayahmu pernah mengatakan, kau sudah mati, tapi ibu tidak, ibu terus mencari dan mencarimu. Mendaki gunung, menuruni lembah, menyeberangi lautan, ibu lakukan demi menemukanmu. Ibu yakin, ibu pasti menemukanmu dalam keadaan sehat dan cantik.”


“tapi ... Setelah bertahun-tahun, ibu belum juga menemukanmu. Ayahmu sudah muak dengan ibu. Dia memilih menyimpan kesedihan dan impian bertemu denganmu dalam-dalam. Namun ibu tidak. Ibu bertahun-tahun mencarimu diam-diam. Dan akhirnya menemukanmu. Alangkah Senangnya ibu bisa menemukanmu. Keyakinan ibu tidak salah, kau masih hidup!”


“ibu, kenapa aku tidak mengingat sesuatu?” Naria berpaling kepada ibunya.


“ibu tidak tahu. Mungkin beberapa tahun lagi kau akan mengingatnya. Mari, ikut ibu. Sang pangeran sudah menunggumu.” Ibunya menarik tangan Naria dan membawanya masuk ke sebuah ruangan. Di sana sudah ada sang raja dan seorang pemuda gagah dan tampan berdiri.


“Pangeran, ini, Naria. Apa kau sudah puas melihatnya?”


Senyuman mekar di wajahnya.  Dia mengangguk. “ aku melihatnya yang mulia. Dia semakin cantik dan tampak lebih mempesona dari sebelumnya.”


“panggil saja ibu.”


“Baik ibu.”


“Naria, apa kau senang melihat tunanganmu sekarang?”


Naria mengangguk pelan. Dia terlihat ragu-ragu memandangnya. Pangeran itu tampan dan berkarisma, namun entah mengapa dia tidak bahagia dan tidak terlalu menyukainya. Padahal dia yang memilihnya dan ingin menikahinya, namun apa yang terjadi?


Dia memilihnya karena melihat pedang di punggungnya yang di balut perban. Entah mengapa dia sangat mengenal itu dan mengapa juga dia sangat menyukainya.


“Hahaha. Anakku malu denganmu pangeran,” kata raja yang duduk di singgasana. “ supaya dia tidak terlihat canggung dan malu-malu seperti itu, aku akan mengirim kalian pergi ke kerajaan radia untuk menghadiri upacara peringatan raja. Dengan seperti itu kalian akan bisa saling mengenal dan lebih dekat. Apa pangeran menyetujuinya?”

__ADS_1


“Tentu yang mulia, tapi... Kita harus mendengarkan keputusan putri Naria dulu.”


“hahaha. Putriku bagaimana?”


“b-baik.”


“Hahahaha. Lihatlah, anakku malu sekali. Dia pasti sangat menyukainya.”


“Kalian berdua jalan-jalan terlebih dahulu.”


“baik yang mulia.” Pangeran lalu mengajak putri Naria pergi. Meskipun ragu-ragu, putri Naria menyetujuinya.


Setelah mereka pergi, permaisuri akhirnya bertanya dengan sedikit marah. “ kenapa kau memberikannya? Apakah kau ingin putri kita dalam bahaya?”


“Tidak. Aku akan memerintahkan beberapa prajurit untuk mengikuti mereka. Aku mana berani membiarkannya berdua saja.”


“jika terjadi kenapa-kenapa dengan anak kita, kau harus tidur di luar satu bulan.” Setelah mendengus permaisuri pergi.


“Istriku! Kenapa kau kejam sekali kepada suamimu!”


...****************...


Saat ini ekspresi senang rani, dara dan nayaka di gantikan dengan ekspresi serius dan penuh kehati-hatian. Mereka tahu, kekuatan mereka belum cukup untuk mengalahkan simo. Mereka juga mulai memikirkan untuk menangkap Safia dan langsung pergi.


Rani mengangguk kepada nayaka. Dia lalu melesat ke arah Delisa dengan bola angin di tangannya.


Delisa langsung melempar selendangnya dengan kecepatan tinggi.


Namun rani berhasil menggenggam dan menariknya, membuat Delisa tertarik. Delisa kemudian memotong selendangnya. Dengan bola api di tangannya, dia bergerak maju menyerang rani.


Ledakan pun bergema di langit. Dua energi saling bertabrakan. Lalu terpental. Mereka lalu saling bertarung.


Nayaka yang melihatnya langsung menyerang Lasmaya. Meskipun rani menyuruhnya untuk mencari cara menculik Safia, rasanya mustahil untuk melakukannya, jika masih ada Lasmaya dan simo.


Lasmaya langsung bergerak dan menyerang nayaka dan dara yang mendekat. Dia mengepakkan sayapnya kuat-kuat menyebabkan nayaka dan dara kesulitan untuk bergerak.


Mereka saling mengeluarkan kekuatan.

__ADS_1


Simo hanya menontonnya sudah mempersiapkan pedang di punggungnya. Dia akan bergerak jika di perlukan.


“Ayah! Kenapa ayah tidak ikut menyerangnya?” Safia tiba-tiba ada di samping simo dan menarik celananya.


“ biarkan mereka lelah dulu, baru ayah akan maju. Kau masuk ke dalam, berbahaya berada di sini.”


“tidak! Ayah, aku ingin melihat ayah bertarung. Bisakah ayah melakukannya?” kedua mata Safia berbinar-binar.


Mendengar itu, simo menghela nafas. Sebenarnya, dia ingin beristirahat sebentar sebelum akhirnya terjun ke dalam pertarungan. Namun setelah melihat anaknya ingin melihat pertarungannya, membuatnya tidak tega.


“Baiklah.” Simo mengambil pedangnya dan tersenyum sambil perlahan-lahan menarik pedangnya dari selongsongan.


Perlahan-lahan bilah pedang yang di perban muncul dan mengeluarkan aura hitam mencekam dan aura merah. Pedangnya bukan lagi pedang seperti dulu, kali ini lebih kuat dan memiliki kekuatan gelap.  Rani, dara dan nayaka dapat merasakan kekuatan besar mengalir dari pedang simo. Semua perhatian tertuju kepadanya.


“Kalian bersiaplah untuk mati!” simo menarik pedangnya dengan kasar.


Aura hitam peka dan merah beterbangan seperti asap menghiasi bilah pedang simo.


Lasmaya dan Delisa juga merasakan kekuatan dari dalam pedang simo, tapi mereka terus melakukan serangan.


Simo lalu melesat dan mengayunkan pedangnya ke arah dara. Dara langsung menahannya dengan Pilarnya.


“Heh. Kau tidak bisa menghancurkannya.” Ucap dara sombong karena melihat pedang simo belum bisa menghancurkan Pilarnya.


“benarkah?” simo tersenyum dan memegang erat pedangnya. Bersama dengan itu, pilar dara hancur dan dara memilih mundur.


Simo menebaskan pedangnya, menyebabkan dara harus menghindar dan menggunakan elemen tanahnya untuk menyerang, akan tetapi di hadapan kekuatan simo sekarang, itu tidak ada artinya. Meski dia berada di tingkat alam, sama-sama dengan simo, dia seperti tidak setara dengannya.


Namun meski begitu, dara tetap berusaha. Dia mengeluarkan pilar-pilar tanah dan menyerang simo. Pilar-pilar itu muncul di belakang dara dan menyerang simo.


Namun simo dengan mudah menghancurkannya dan terus bergerak maju.


Di sisi lain, Lasmaya juga mulai bergerak menyerang nayaka dengan serius. Dia mengeluarkan pedang angin dan pusaran angin untuk menyerangnya. Nayaka semakin terdesak, akan tetapi dia tetap memilih untuk tenang. Elemen angin melawan elemen angin jelas ini seimbang, hanya saja kekuatan mereka jauh.


Delisa menyerang menggunakan bola api, panah api dan pedang api. Dia dengan intens menyerangnya.


Setelah beberapa saat akhirnya nayaka, rani dan dara mundur bersama. Dengan kelelahan mereka mulai memikirkan cara untuk lari.

__ADS_1


Namun simo tidak membiarkannya, dia melesat dan mengayunkan pedangnya. Rani, dara dan nayaka mengeluarkan semua elemen mereka untuk menahan akan tetapi simo bisa mengatasinya, membuat mereka mundur lagi.


“Kenapa kalian tidak menyerang?” Tanya simo sambil berjalan mendekat


__ADS_2