
Bola api semakin membesar dan membesar. Ketika sebesar bongkahan batu besar, Pria itu melambaikan kedua tangan ke arah simo. Dengan segera bola api seperti matahari kecil itu bergerak ke arah simo. Kecepatannya sangat cepat. Ketika melewati apa pun yang ada di sekitarnya, akan langsung hangus menjadi debu. Akan tampak hitam di sekitar area yang di lewatinya.
“hahaha! Matilah bocah kurang ngajar!”
Simo tersenyum dan dengan tenang bersiap-siap menangkisnya. Dia memandang tajam ke arah bola api itu sambil mengambil ancang-ancang dan memegang pedangnya.
Ketika pas, dia menginjak tanah dan melesat.
“maaf! Kalian terlalu meremehkanku!”
Wussss bommmm!!!!
Hanya dengan satu ayunan, pedang simo berhasil memutar balik bola itu, bahkan dia dengan mudah melakukannya.
Bola api itu melesat dengan cepat ke arah 5 orang berkumpul tadi. Mereka langsung ketakutan dan berlari, tapi sayangnya kecepatan bola itu sangat cepat, membuatnya meledak sebelum mereka berhasil menghindar.
Teriakan-teriakan kesakitan terdengar setelah bola itu meledak. Area ledakannya menyebar seperti ledakan sebuah bom. Asap membentuk jamur sedikit terlihat ketika ledakan terjadi.
Tentu saja dengan bola api itu, simo belum tentu membuat mereka mati. Ia menyalurkan api biru ke dalam bola api itu secara diam-diam.
Selain itu, kekuatan mereka juga sudah terkuras akibat bertarung dengan simo, sehingga membuat mereka sulit mempertahankan diri.
Mereka tentu cepat bergerak, hanya saja kecepatannya kalah dengan kecepatan simo.
Empat orang tersisa takut dan gemetar melihatnya. Walaupun mereka masih mampu menyerang simo, tapi setelah melihat bagaimana teman-temannya di kalahkan dengan mudah, membuat mereka takut sebelum bertarung.
Simo tentu tidak membiarkannya, dia menggunakan teknik lauthing linght dan membunuh mereka dengan mudah.
Hanya beberapa detik, kepala-kepala mereka melayang, darah segar keluar seperti hujan setelah simo melakukannya.
Dia kemudian muncul tidak jauh dari sana dengan tatapan dingin. Darah masih menempel sedikit di bilah pedangnya.
Sementara di lain sisi, Naria agak kesulitan melawan 10 orang, tapi setelah beberapa lama, dia akhirnya bisa membunuh mereka semua dengan teknik peledak airnya.
Teknik itu sama seperti apa yang di gunakan namila saat membunuh dua siren di desa padang pasir. Jika tidak, dia harus berusaha lebih keras untuk membunuhnya.
Dan di lain sisi lagi, Safia dapat dengan mudah menyerang orang-orang. Dia tampak tidak kesulitan sedikit pun.
Dia mengeluarkan tombak api ungu dan menusuk mereka dengan sadis, bahkan orang yang ingin minta ampun tidak di biarkannya. Gadis ini seperti memiliki darah dingin.
__ADS_1
Setelah mereka selesai, mereka akhirnya kembali bersama simo.
Setelah tiba, suara tepuk tangan berbunyi dari balik pepohonan. Benar apa yang perkiraan simo, tapi untungnya orang itu tidak muncul saat mereka sedang bertarung.
Seorang pria paru baya muncul sambil tersenyum menyeringai. Niat jahat terlihat jelas di wajahnya. Dia muncul dengan dua orang di sampingnya.
Menurut perkiraan simo, tiga pria ini memiliki kekuatan yang tidak bisa di pandang remeh.
“kau adalah anak yang hebat, bagaimana kalau kau bergabung denganku saja? Kau akan mendapatkan harta yang berlimpah, gadis cantik yang tidak terhitung jumlahnya, juga mendapatkan kekuasaan. Bagaimana, Apa kau tertarik?”
Mendengar ucapan pria itu, Naria sedikit takut dan memandang simo. Dia tidak ingin jika simo menerimanya. Walaupun dia tahu simo akan sulit menerimanya, tapi entah kenapa dia menjadi takut.
“Itu adalah penawaran yang menarik, tapi... Maaf, aku tidak tertarik.”
Mendengar ucapan itu, Naria menjadi lega, tapi lain halnya dengan pria itu, dia sedikit mengerutkan kening. Mungkin dia keheranan dengan simo. Setelah mengerutkan kening, ekspresinya menjadi marah, dan dia berseru, “kau bocah tidak tahu untung!”
Setelah mengatakan itu, dia memerintahkan dua orang di belakangnya untuk maju menyerang simo.
Dua orang itu maju tanpa menjawab. Salah satu orang mengeluarkan belati, dan satunya lagi mengeluarkan tombak besi panjang.
“Heh! Bocah! Bersiap-siaplah!” seru salah satunya sambil mengambil ancang-ancang.
“bahkan tanpa kau suruh, aku sudah bersiap-siap.” Simo ikut bersiap-siap, Tapi Naria menghentikannya dengan melentangkan tangan di depan simo.
“tapi apa kau sanggup?”
“tentu saja, aku kekasihmu tidak mudah di kalahkan.” Putri Naria tersenyum tipis ke arah simo, Kemudian memandang tajam ke arah pria yang memakai tombak.
Dari tangan Naria muncul pedang air panjang dan sangat berkilauan. Tekanan yang ada di sekitarnya samar-samar menjadi berat. Dia menunjuk yang memakai tombak dan berseru, “lawanmu adalah aku!”
Putri Naria kemudian pergi ke tengah hutan.
“hahaha! Baiklah, gadis kecil!”
Pria yang memakai tombak melesat mengikutinya.
“oh, apakah aku yang akan melawanmu bocah!”
“bukan! Tapi aku!” ujar Safia dengan menatap tajam ke arah Pria yang menggenggam belati.
__ADS_1
Melihat gadis kecil itu berkata, membuatnya tertawa. “nona kecil, bagaimana kau akan bisa mengalahkanku!?”
“Tentu saja dengan ini!” Di tangan Safia muncul segumpal api ungu kehitaman, membuat Pria itu langsung terkejut.
Dia dapat merasakan api yang sangat panas dari Safia. Ekspresi meremehkan sebelumnya samar-samar berubah menjadi ekspresi serius.
“Menarik! Nona! Aku akan menangkapmu!” pria itu menuding Safia dengan belati panjangnya.
“Coba saja kalau kau bisa!” Safia pergi ke hutan yang berlawanan dengan Naria.
Simo tidak berusaha menghentikannya sebab dia tahu, Safia bukan gadis biasa. Dia yakin Safia bisa mengalahkannya.
Setelah mereka pergi, kini simo bersama pria itu saja.
“Ah... Kenapa aku harus bertarung hari ini. Bocah! Kau hanya punya dua pilihan, mati atau bergabung dengan kami!”
“Bagaimana kalau aku memilih pilihan yang ketiga!” simo muncul di belakang kepala pria itu secepat kilat. Dia mengayunkan kakinya ke arah Pria itu.
“Heh, kau terlalu meremehkanku!” pria itu dengan cepat menangkap kaki simo dan membantingnya ke tanah.
Tanah menjadi retak setelah menerima kekuatan pria itu. Tubuh simo terasa remuk, tapi dia untungnya bisa menghindar dan menjaga jarak dengan pria itu.
Pria itu menyeringai setelah melancarkan satu serangnya kepada simo. Dia tidak buru-buru menyerang simo kembali, dia ingin membuatnya kalah perlahan-lahan.
‘dia sangat kuat,' batin simo. Dia tidak merasakan kekuatan energi alam kecil ketika pria itu melancarkan serangannya, jadi dapat disimpulkan pria itu lebih kuat dari perkiraannya.
Simo menggunakan teknik lauthing linght, kemudian bergerak ke belakang dengan cepat. Dia ingin menjaga jarak dengan pria itu. Ada pirasat buruk jika dia tidak melakukannya.
“bocah! Kau sangat beruntung bisa merasakan kekuatanku! Anggap saja itu adalah salam dariku sebelum kau mati.”
“Bocah, lihatlah ini!” Pria itu mengangkat tangan kanannya. Samar-samar muncul asap putih dari sana dan membentuk tombak panjang. Perlahan-lahan tombak itu memanjang dan menjadi tombak sungguhan.
Pria itu memutar tombak di udara dan dengan kasar menusukkannya di tanah.
Kemudian dari belakangnya, tanah-tanah retak, semakin besar dan memajang.
Asap putih keluar dari sana dengan cepat seperti ada sesuatu yang meniupnya.
Asap itu semakin banyak. Lalu, saat 10 meter, asap-asap itu memadat dan menjadi sosok pria raksasa yang kekar dan kuat. Otot-ototnya menyimpul ke luar. Tubuhnya bidang dan sangat pas.
__ADS_1
Sebagian tubuhnya membentuk kuda.
Melihatnya, membuat simo terkesan dan heran, seberapa kuat pria di depannya ini?