Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 22 god of death sword


__ADS_3

“Sakya, apa aku boleh menyerangnya?” Tanya Wulin seraya memegang pedangnya dan memandang jauzan remeh. Meski jauzan baginya tidak ada artinya, dia tetap menanyakan pendapat Sakya. Selain untuk mengambil tindakan yang pas, itu juga sebagai rasa hormatnya Kepada Sakya yang merupakan peringkat 1 di kelas C.


“Heh, lakukan apa saja. Aku pikir mereka akan menyiapkan strategi yang baik, tapi ternyata mereka hanya berdiskusi tentang siapa yang maju. Membuang-buang waktuku saja.” Jawab Sakya dengan nada meremehkan. Bahkan dia belum mengeluarkan senjatanya.


“Baiklah, kalau begitu.” Seru Wulin lalu melesat membuat debu-debu berterbangan dan jejak di tanah.


“Bisakah kau pergi dengan tenang?” Batin Sakya seraya menutup hidungnya dan melompat di tempat lain.


“ayo kita lihat, seberapa kuat kau, anak baru.” Batin Sakya seraya tersenyum meremehkan.


“siswa baru! kau beruntung bisa merasakan pedangku ini. Hahah!” ujar Wulin seraya berlari dan membentangkan pedangnya.


“kita akan lihat siapa yang akan merasakan kekuatannya di sini.” Batin jauzan seraya berlari dengan senyuman percaya dirinya.


Di saat ini, situasinya sangat tegang. Bahkan para siswa seperti sedang tidak bernafas. Bagi mereka ini sepertinya akan menjadi pertarungan yang sengit dan menegangkan. Apalagi yang bertarung sepertinya bukan orang yang lemah.


Trangkk!!!


Dua bilah pedang beradu, menyebabkan angin yang keras di sekitar. Dua pedang itu seperti menggapi udara dan menghancurkannya. Debu-debu berterbangan membuat padangan semua siswa terhalang.


Tidak beberapa detik, jauzan dan Wulin terlihat dengan pedang bersilang dan saling mendorong.


“Bagaimana bisa dia sekuat itu.”


“ya tuhan keajaiban apa yang terjadi di sini?”


“Siapa sebenarnya si jauzan itu.”


Berbagai pertanyaan dan pendapat menjadi ramai setelah melihat jauzan bisa menahan serangan Wulin. Selain itu mereka mulai merasakan kekuatan jauzan kian meningkat. Bahkan hampir menyamai kekuatan Wulin saat ini, yaitu tingkat fisik tahap 8.


Awalnya mereka sudah menduga jika pertarungannya akan sengit, tapi sekarang itu sudah lebih dari sengit itu sendiri. Apalagi jika bertarung siswa baru melawan siswa berbakat.

__ADS_1


“Sudah aku duga.” Ucap Klarika seraya menghela nafas. Dirinya sudah mengetahui jika hal itu akan terjadi.


Sejak dulu Klarika tahu jika jauzan merupakan cucu kepala sekolah yang terkenal cantik dan jenius dan tentu saja melawan para siswanya itu bukan apa-apa bagi jauzan, oleh karena itu Klarika tidak terkejut dengan apa yang terjadi.


“Kau hebat juga anak baru.” Ujar Wulin seraya menyeringai dan menahan pedang jauzan. Walaupun dirinya mengetahui tingkat kekuatan jauzan, dia tetap tidak memperlihatkan ekspresi serius dan sebaliknya, dia terlihat biasa-biasa saja, bahkan dia Tidak meningkatkan pertahanan. Baginya, jauzan hanya lalat kecil yang mudah di kalahkan, tanpa harus serius.


“maaf aku tidak menerima pujian dari orang seperti mu.” Kata jauzan dengan nada dingin, kemudian melompat ke belakang dan melempar pedang simo.


Pedang simo berputar-putar seperti gangsing mengarah Wulin.


“ hanya serangan kecil.” Wulin menangkis pedang jauzan, namun Sebelum itu terjadi tiba-tiba saja jauzan muncul di hadapannya.


“maaf ya.”


Plak brukkk!!


Jauzan Berhasil mendaratkan pukulannya di dagu Wulin dengan keras dan membuat pemuda itu meluncur bagaikan bola dan akhirnya di tahan oleh Sakya. Jika saja dia tidak di tahan maka dapat dipastikan dia akan menghantam tembok pembatas.


Pukul yang mendarat di dagu Wulin bukalah pukulan yang lemah, jika Wulin orang biasa maka dapat di pastikan tulang retak dan beberapa giginya copot.


“tidak, kau tidak lengah, tapi dia memang Kuat, kita akan melawannya bersama dan tentu saja sebelum tulang dan darahnya menetes, kita tidak akan berhenti melawannya.” Saat mengatakan itu, ekspresi Sakya penuh dengan aura pembunuh yang kejam. Tatapannya bagaikan serigala haus darah yang siap mengoyak-ngoyak mangsanya.


“kau adalah orang pertama yang akan merasakan pedangku ini, seharusnya kau beruntung merasakan.” Di saat bersamaan Sakya menarik pedangnya dari sarung dan berjalan ke depan. Saat pedang itu di tarik seketika suhu menjadi dingin membuat para siswa kedinginan dan bertanya-tanya apakah pedang Sakya penyebabnya.


Selain suhu mendingin, aura putih keluar dari bilah pedang itu. Aura itu keluar seperti menari-nari kegirangan setelah sekian lama tidak di keluarkan.


“i-i-itu pedang god of death!” seru salah satu siswa dengan wajah terkejut sekaligus takut.


Semua orang menjadi terkejut dan mengeri melihat pedang itu. Bagaimana tidak


Menurut kabar, pedang itu adalah milik salah satu orang terkuat di dataran ini. Orang Itu bernama Keiyler yang bisanya orang-orang memanggilnya keiyler si kaisar pedang.

__ADS_1


Nama itu orang-orang berikan, karena dia memiliki kekuatan pedang yang kuat dan bermacam-macam sehingga membuat siapa saja iri karena. Bahkan seorang kaisar tidak sedikit merasa iri dengan pencapaiannya.


Oleh karena itu para kaisar ingin merekrutnya untuk menjadi Jendral akan tetapi tidak satu pun di antara mereka yang berhasil membujuknya untuk bergabung dengan kekaisaran mereka.


Benih-benih kebencian timbul di hati para kaisar, karena keiyler menolak dengan kasar bahkan berkali-kali. Selain penolakan, kata-kata kasar kerap ke keluar dari mulutnya. Sehingga wajar saja semua kaisar bersekongkol membunuhnya, namun berkali-kali keiyler Berhasil loloh.


Tapi akhirnya dia juga berhasil di lumpuhkan. Dengan tubuh di penuhi darah, dia bersumpah akan membunuh orang-orang yang telah membunuhnya. Orang-orang yang membunuhnya menganggap itu hanya omong kosong, sehingga memutuskan untuk meninggalkannya begitu saja, biar di makan hewan buas


Namun saat mereka meninggalkannya ada hal yang sangat misterius terjadi, aura putih keluar dari tubuh keiyler seperti embut yang disinari matahari pagi.


Aura itu masuk ke dalam pedangnya dan membunuh orang-orang yang telah membunuhnya dan oleh karena itu pedang itu di namakan god of death sword dan di segel di gunung suci, namun sepertinya pedang itu berhasil di dapatkan oleh seorang.


“Bagaimana bisa dia memiliki pedang itu?” batin Klarika dengan ekspresi serius memandang Sakya sari kejauhan.


“Maaf jauzan seperti aku harus berpartisipasi dalam peraturan kali ini.


Jauzan mengangguk lalu mengembalikan pedang simo. Setelah mengembalikan pedang simo, jauzan mengeluarkan dua pedang airnya dan seketika membuat semua orang terkejut dan heran, ternyata siswa baru yang baru datang bukanlah orang biasa.


“Hahahaha! Menarik menarik, tapi maaf sebelum kau mencapai puncak, kau harus pergi ke neraka dulu.” Sakya terus berjalan semakin mendekati jauzan dan simo berdiri. Aura kematian lebih kuat di pancarkan. 5 meter dari Sakya semua tumbuhan dan serangga membeku dan terbakar habis karena tekanan yang begitu kuat.


“aku akan maju duluan.” Ujar jauzan tanpa menunggu jawaban simo.


Saat jauzan melesat, itu bagaikan membelah angin. Debu-debu beterbangan.


“kau ingin mati duluan? Baik-baik aku akan mengabulkannya.” Sakya menebaskan pedangnya secara vertikal dan saat itu muncul aura merah darah yang melesat mengarah jauzan.


Jauzan dengan cepat menahan aura itu dengan menyilang pedangnya, tapi tidak sesuai harapannya, dia terdorong beberapa meter dan akhirnya simo muncul menahannya.


“apa kau tidak apa-apa?” tanya simo.


“tidak. Sepertinya aku harus mengeluarkan kekuatanku lagi."

__ADS_1


...*****...


jangan lupa like, komentar dan votenya ya


__ADS_2