
Setelah melihat Naria berjalan menjauh, simo langsung ingin mengejarnya, akan tetapi rina memegang tangannya dengan erat. Simo melihat rina kemudian kembali melihat Naria yang menjauh. Dia tanpa berpikir panjang, langsung berlari dan menyambar tangan Naria. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan pernah membuat Naria sakit kembali. Apalagi setelah sekian lama dia telah kehilangannya. Dia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi kembali lagi.
Melihat simo tidak mempedulikannya, kedua mata Rina di penuhi kekecewaan dan kecemburuan, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa. Sementara Dira sedikit mengerutkan keningnya, setelah melihat simo pergi tergesa-gesa menyusul Naria. Dia mulai bertanya-tanya ada hubungan apa anaknya dengan putri Naria. Tidak mungkin tidak ada hubungan spesial sampai-sampai simo mengejar Naria.
“Ada apa denganmu?”
“Aku hanya ingin pergi lebih awal. Lepaskan! Aku ini tuan putri! Kau Jangan bertindak tidak sopan di depan putri ini!” Naria ingin melepaskan tangannya dari genggaman simo.
Simo tetap menggenggamnya. “Kenapa kau bisa berubah-ubah sikap seperti ini?”
Mendengar itu, Naria sedikit terkejut. Setelah beberapa saat terdiam, dia bertanya, “Apakah...aku berubah?”
Simo mengangguk. “kau terlalu cepat marah. Jangan pergi lagi, aku tidak mau lagi berpisah denganmu.”
“Apakah aku terlihat seperti itu?” Naria ingin memastikannya.
Simo lagi-lagi mengangguk. “Kita pergi bersama-sama saja. Aku akan tetap bersamamu.”
“Aku percaya, kau tidak akan pernah mengkhianatiku. Namun aku tak bisa hanya dengan percaya saja. Kau adalah pria nakal yang suka melanggar janji. Jika kau berjanji di sini, hatiku akan lebih tenang. Ya... Walaupun itu tidak membuatku sangat percaya denganmu, setidaknya...aku lebih tenang.”
“Baiklah, jika begitu, aku akan berjanji. Akan selalu bersamamu, tidak akan pernah meninggalkanmu. Apa pun yang terjadi.”
“Aku percaya denganmu!” Naria mendorong tubuhnya dan memeluk simo dengan erat.
Namun tidak lama kemudian, Dira harus membuat suara untuk menyudahkan mereka. Mereka berdua terkejut dan tidak tahu apa yang harus mereka katakan. Itu sungguh memalukan dan mereka tanpa sadar melakukannya di depan umum.
Wajah Naria memerah tidak karuan, namun dia tampak lebih cantik, sementara simo menggosok belakang kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum canggung.
“Simo, ada hubungan apa kau dengan putri Naria, ibu harap kau tidak menghianati rina ‘kan?”
“Rina? Ibu, aku tidak punya hubungan apa pun dengan Rina, hanya sebatas teman. Aku menganggapnya sebagai kakak yang selalu melindungiku dan keluarga yang aku miliki. Untuk Naria... Kami sudah lama saling kenal. Aku dan dirinya.....”
__ADS_1
“Berarti dia adalah pacarmu?” dira menebak.
Simo ragu-ragu mengangguk. Dia malu mengatakannya, namun apa yang bisa dia katakan? Ibunya sudah melihat apa yang telah di lakukannya, mustahil jika dia bilang tidak.
Di tambah lagi, mereka juga berbicara yang mengarah pada hal-hal seperti itu, maka mustahil baginya untuk mengelak.
“Baiklah, sekarang katakan bagaimana bisa kalian bertemu dan menjalin cinta? Ibu harap ini bukan hanya beberapa hari sebelumnya saja. Itu sungguh aneh jika seperti itu.”
“Tentu saja bukan seperti itu ibu.”
“lalu cepat ceritakan?”
Maka simo pun mulai menceritakan bagaimana mereka bisa bertemu, mulai saling menyukai, hingga perpisahan sampai bertemu lagi. Simo mengatakan semuanya, tidak ada satu pun hal yang dia sembunyikan.
Dira mengangguk dan menerima semua penjelasan. “Hemm.... Tuan putri Naria.... Dia sungguh cantik. Tapi, bukankah anda sudah bertunangan?”
“Soal itu.... Aku akan berbicara dengan ayah dan ibu. Meskipun kami sudah restu bertunangan, aku tidak menyukainya. Saat itu aku kehilangan ingatan, sehingga tanpa sadar menerimanya begitu saja dan hanya karena pedang yang selalu dia bawa ketika berkunjung ke istana, aku memutuskan hal itu. Yang mulia ratu tenang saja, aku akan menyelesaikannya.”
“Tentu saja bukan. Itu karena aku dan simo memiliki pengalaman buruk ketika di hutan. Kami saling bermusuhan. Selain itu, untuk menjaga diri, aku tidak suka di ganggu oleh para laki-laki karena wajahku. Dan satu lagi, ketika itu aku memiliki emosi yang tidak stabil, aku bisa membunuh orang-orang jika mereka menggangguku.”
“Berarti anakku tidak pernah mengganggumu?”
“tentu saja pernah, tapi ketika di akademi, dia tidak pernah menggangguku.”
“oh... ternyata putraku tampan hingga membuat bidadari dari surga seperti anda bertekuk lutut di hadapannya, bahkan sangat cemburuan.”
Mendengar itu, Naria merasa malu, tapi apa yang di katakannya memang benar.
Melihat wajah keduanya malu, Dira tertawa kecil. “baiklah, ayo kita pergi...eh... Di mana Rina?”
Simo dan Naria menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Baiklah, mau bagaimana lagi, dia sudah pergi. Aku ingin lihat bagaimana keadaan di luar.”
Mereka lalu pergi bersama-sama.
...****************...
Rina yang malang. Dia berlari tanpa arah dan tujuan. Hatinya kembali sakit setelah melihat adegan itu. Dia sungguh tidak ingin melihatnya lagi, perasaannya tidak karuan melihat hal itu. Buih-buih air matanya menetes tidak terbendung. Terdengar isak tangisan yang lembut.
Rina duduk di taman. Dia menangis lagi. Dia tahu ini adalah cara yang cengeng dan sangat lemah. Seorang gadis sepertinya harus berjuang lebih keras lagi. Namun ketika dia melihat pria yang sangat di sukainya mengabaikannya, itu sungguh terlalu sakit di hatinya.
Dia tahu, dia bukan siapa-siapa terhadapnya. Namun sebagai seorang gadis, dia tentu juga memiliki perasaan.
“yo... bukankah ini gadis cerewet itu?” dari arah kiri pangeran matahari terbit datang. Senyuman mengejek terlihat di wajahnya.
Rina langsung mengusap air matanya dan mengubah ekspresi. “Bukankah ini pangeran matahari terbit yang sombong itu... Pergi dari sini! Anda tidak di perlukan saat ini, anda hanya pengganggu. Pergi! Melihat anda saja sudah mengotori kedua mataku. Cepat pergi!”
“Oh... Mengotori? Kau juga mengotori mataku. Aku hanya melintas saja, apakah itu tidak boleh? Tapi... Tunggu dulu... Kau menangis?”
“Siapa yang menangis? Aku hanya memotong bawang sebelumnya.”
“Memotong bawang? Sungguh lucu! Baru kau menyadari dirimu orang rendah di sini? Sehingga harus membantu para pelayan istana.”
“Aku memang orang rendahan, apakah itu tidak boleh dilakukan? Dari pada anda, seorang pangeran yang hanya tahu berbicara tanpa melakukan apa-apa.”
“Aku akan menjadi raja... Kenapa aku harus memotong bawang?”
“itulah, anda tidak berguna sama sekali! Seorang pangeran pasti tidak akan mau melakukannya, anda terlalu di manjakan!”
“siapa bilang? Aku bisa memotong bawang. Jika kau tidak percaya, aku akan menunjukkannya hari ini juga.”
“Ayo! Jika anda berani!”
__ADS_1
Mereka pun pergi ke dapur. Pangeran matahari terbit merasa sedikit jijik dengan memotong bawang, namun sebagai seorang laki-laki, dia harus memperjuangkan alat kelaminnya.