
“Akhirnya kau sadar.” Ujar namila seraya memeluk simo yang sudah sadar. Dia menangis tersedu-sedu.
“N-namila.”
Simo mengusap-menguap rambut gadis itu berharap bisa menenangkannya.
“kau tahu, kau sudah pingsan selama 3 hari dan aku pikir kau akan pergi secepat itu.” Namila masih menangis.
“tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku akan mati secepat itu.”
“iya aku percaya, tapi melihatmu seperti itu, aku sangat takut.”
“sudah, sudah jangan takut, aku tidak akan apa-apa.”
Namila melepaskan pelukannya, lalu mengambil segelas air yang tidak jauh berada.
“cepat minum.” Namila menyodorkannya seraya mengusap air matanya.
“akhirnya kau sudah sadar.” Hoshi datang seraya tersenyum. Namila yang melihatnya langsung memanggilnya kakek dan memeluknya.
“kakek terima kasih.” Ucap Namila seraya tersenyum.
“Ahahaha, apa pun yang cucuku inginkan kakek pasti akan mengabulkannya. Bahkan tanpa di suruh pun kakek akan melakukannya seperti tadi contohnya.”
“Ah, simo perkenalkan ini adalah kakekku sekaligus kepala sekolah akademi gunung salju.” Ujar Namila yang melihat simo heran dan bingung.
“Ah, tidak usah berdiri, kau beristirahatlah, aku adalah teman kakekmu, kau tidak perlu sungkan denganku.” Ucap Hoshi seraya mendekati simo dan mencegahnya bangun.
Simo mengangguk dan memutuskan untuk berbaring, karena tubuhnya masih tersisa sakit, akibat pertarungan dengan Amelia. Dia juga bersyukur karena berhasil selamat. Dia kemudian bertanya apa yang terjadi.
Hoshi menjelaskan saat tebasan itu hampir mengenai simo, dia berhasil menyelamatkannya dan jauzan, tapi saat itu kondisi simo maupun jauzan sama-sama sudah pingsan dan kelelahan.
Hoshi menarik mereka di tempat yang aman dan kembali lagi, tapi sayangnya Amelia sudah tidak ada di sana.
Dia juga menjelaskan Amelia adalah Rani yang merupakan salah satu anggota pasukan pembunuh yang di kirim pemerintah kekaisaran untuk menangkapnya.
Hoshi juga yakin yang menangkap kenzo dan kakaknya adalah Rani dan mungkin sedang di penjara di suatu tempat.
“kau tidak perlu khawatir dengan mereka, aku juga akan mencari mereka.” Kata Hoshi menenangkan simo yang terlihat marah setelah mendengar itu.
__ADS_1
Simo menarik nafas, kemudian mengangguk. “ tuan mengapa pemerintah kekaisaran ingin menangkapku?” simo mengeluarkan pertanyaan yang mengganjal di pikirannya. Setahunya dia bukanlah penjahat atau orang yang mengancam pihak pemerintah.
Hoshi menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak tahu, tapi yang pasti kau bukanlah orang biasa, maka berhati-hatilah. Sudahlah aku pergi dulu, kau beristirahat saja dulu.” Ujar hoshi sebisa mungkin untuk tenang, sebab tangannya di tekan dengan kuat oleh Namila.
“Kau jaga cucuku dengan baik.” Ucap Hoshi sebelum akhirnya dia keluar.
Setelah langkah kaki Hoshi tidak terdengar, namila hendak berkata, tapi aoba datang seperti hantu dan menyapa cucunya dengan kasar.
“dasar cucu tidak tahu diri. Apa kau tahu jika bukan karena hoshi mungkin saja kau sudah menjadi arwah saat ini.” Aoba menggoyang-goyangkan bahu simo yang membuatnya pusing.
“k-k-kakek bi-bisakah kau berhenti.”
Aoba berhenti, kemudian memeluk cucunya dengan erat. “huhuhu cucuku akhirnya kau selamat, kakek tidak menyangka saat usiamu yang masih belia ini harus merasa penderitaan seperti itu.”
“Sudah kakek, kakek memelukku dengan erat.” Lirih simo yang memang aoba memeluknya dengan erat. Meski di saat bersedih ataupun bisa-bisa saja kakeknya tetap kejam.
“Maaf, maaf, kakek tidak sengaja. Cucuku siapa dia?” aoba baru menyadari namila berdiri di dekatnya seraya memandangnya kesal.
“oh, dia adalah temanku, dia yang selalu mengajakku berlatih setiap malam dan membuatku meningkatkan secepat ini. Namanya namila.”
“oh, namila. Ya sudah kakek pergi dulu. Sepertinya namila ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Ujar aoba yang sedikit takut dengan tatapan kesal Namila, walaupun itu tatapan kesal mungkin saja akan menjadi tatapan marah. Oleh karena itu dia ingin pergi secepatnya.
Ekspresi simo menjadi pucat setelah mendengar itu. Dia mulai membayangkan jenis hukum apalagi yang akan di berikan kakeknya. Apalagi jika hukuman yang selalu di berikan kakeknya sangat mengerikan. Membayangkannya saja membuat simo takut.
Tidak beberapa lama namila berucap dan menyebabkan bayangan simo buyar.
“Simo, apa kau tidak apa-apa?” tanya Namila dengan nada lembut.
“Tidak.”
“benarkah?”
“iya, apa kau tidak lihat dan ngomong-ngomong apa kau sudah sembuh?” tanya simo mengalihkan pembicaraan, karena dia masih merasakan sakit.
“Sembuh kenapa? Aku tidak sakit sama sekali.”
“jangan berbohong, kau namila sekaligus jauzan. Aku sedikit heran kau itu lelaki atau perempuan sebenarnya?” tanya simo.
Sejak dia bertemu kaisar pedang, dia mengetahui jauzan bukan penampilan sebenarnya alias menyamar. Kaisar pedang juga mengatakan bahwa itu gadis yang selalu bersamanya di malam hari yang tidak lain adalah namila.
__ADS_1
Alasan kenapa simo bertanya seperti itu, karena dia ingin bercanda.
“ah, seperti aku tidak bisa berbohong lagi, tentu saja aku seorang perempuan. Apa karena kau terlalu bodoh sehingga sulit membedakan kulit wanita dan lelaki.”
“iya, karena aku hanya mengetahui jika kulit perempuan itu lembut. Aku mengetahui dari sebuah buku, tapi tidak mengetahui yang sebenarnya.” Jawab simo apa adanya mengenai kulit wanita.
“Saat pertama kali aku merasakan tanganmu yang lembut, aku kira kau memiliki kelainan, karena saat pertama kali kau memperkenalkan diri, kau seolah-olah memiliki kelainan.”
Apa yang dikatakan simo ada benarnya, sebab dia tidak mengetahuinya tentang teknik-teknik penyamaran. Wajar saja dia berpikir seperti itu, sebab namila yang sebelumnya menyamar menjadi jauzan memiliki sikap seperti perempuan.
Selain itu, sejak kecil dia bahkan tidak pernah menyentuh tangan seorang perempuan.
“apa aku kelihatan seperti itu?”
Simo mengangguk.
“Ah, sepertinya aku belum bisa bersikap seperti pria. Jangan di pikirkan ya. Ada berita penting mengenai latihan di pulau sijiriah.”
“apa itu?”
Namila menjelaskan Klarika datang sebelum simo sadar. Kedatangan bukan hanya untuk mengunjungi siswanya yang sakit, tapi juga menanyakan apakah simo dan namila akan mengikuti latihan di pulau sijiriah, karena semua siswa sudah pergi ke sana.
Klarika juga menjelaskan enggan untuk menanyakannya, sebab itu mungkin akan membuat simo pergi, tapi sebagai seorang guru yang baik, dia mau tidak mau harus menanyakannya.
Saat Namila menjelaskannya, simo mencermatinya dan pada saat namila mengatakan latihan ke pulau sijiriah, dia sangat bersemangat. Apalagi itulah yang di tunggu-tunggunya. Dia tidak sabar untuk pergi ke sana.
Simo tanpa ragu memutuskan akan pergi ke sana.
“Aku tahu kau sangat ingin pergi ke sana, tapi pikiran lah baik-baik. Pulau itu merupakan tempat berbahaya dan merupakan sarang para monster. Ada banyak jenis monster kuat yang belum terdeteksi. Aku sarankan kau tidak mengikutinya, aku juga akan menemanimu sepanjang hari, bagaimana?”
“maaf, tapi aku harus pergi ke sana. Dalam beberapa hari lagi aku akan sembuh kembali. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Bagiku ini adalah kesempatan yang tidak datang dua kali, pasti akan mendapatkan pengalaman berharga di sana.” Jawab simo menolak sebisa mungkin dengan halus, karena dia tidak ingin melukai perasaan namila.
“baiklah jika itu keputusanmu aku beri waktu dalam 3 hari, jika kau tidak sembuh, jangan harap kau bisa melangkah keluar dari akademi ini.”
Simo mengangguk dengan yakin
...****...
jangan lupa like dan komentar nya
__ADS_1