Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 1 pencarian


__ADS_3

“Ayah! Apa yang akan ayah lakukan?”


“Kita akan berjalan-jalan cepat! Pegangan erat-erat.”


Simo mulai melompat-lompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Safia yang ada di gendong simo tidak sedikit pun terlihat takut. Sebaliknya, dia sangat menyukainya. Meski kecepatan simo bisa di bilang cepat, Safia tidak berpegangan kepada simo. Gadis ini sangat mengagumkan!


Setelah melompat-lompat beberapa saat, akhirnya simo berhenti tidak jauh dari gedung tua itu. Dia berhenti karena merasakan ada beberapa orang ada di sana. Simo menduga itu adalah orang-orang kaisar.


“ayah, kenapa berhenti?”


Seraya mengerutkan dahi, simo menjawab, “ada beberapa orang di depan. Mereka orang-orang jahat, ayah harus melindungimu.”


“Ayah, aku bisa membunuhnya. Ayo kita pergi ke sana, kita hajar mereka supaya tidak berbuat jahat lagi.”


Mendengar itu, simo hanya bisa tersenyum. Walaupun dia tahu, gadis di depannya adalah Azka tapi jika sudah menjadi kecil seperti itu, itu sangat berbeda, seolah dia bukan Azka sebelumnya. Di dalam pikirannya dia bertanya-tanya apakah gadis di depannya adalah Azka yang mengecil atau gadis yang hanya mirip Azka.


“tidak, itu terlalu berbahaya.” Simo mengelus-elus rambut Sofia dengan lembut.


“Baiklah, ayo kita berangkat. Jika jumlahnya sedikit kita akan menghajarnya.” Tiba-tiba simo berubah pikiran.


Meski simo berkata seperti itu, dia kini lebih kuat dari sebelumnya. Segel pertama yang mengunci kekuatannya terbuka, dia sekarang berada di tingkat alam tahap 1 bintang 5. Jika orang-orang mendengarnya, maka mereka akan terkejut dan tidak percaya, seorang pemuda berusia 16 tahun sudah memiliki kekuatan seperti itu.


Setelah berjalan lagi, akhirnya simo berhenti di balik pohon. Lalu mengintip dari sana. Bangunan itu sudah hancur dan meninggalkan puing-puingnya saja. Beberapa orang berpakaian hitam berdiri di sana seperti sedang mengawasi.


Simo menduga pasti orang yang menghancurkan gedung itulah orang yang membawanya hingga ke hutan perbatasan. Jika melihat hancurnya, orang itu berada di pihaknya. Di dalam hati simo ada beberapa harapan bisa bertemu dengan namila, mungkin saja orang itu ikut membawanya pergi.


“Ayah, aku akan membunuh mereka, apakah boleh?”


“Tidak, itu terlalu berbahaya. Biarkan aku saja yang melakukannya.”


Simo melepas auranya lalu melompat di depan 5 orang berjubah hitam, dan membuat mereka terkejut, lalu refleks menghunuskan pedangnya.


Simo memperlihatkan ekspresi haus darah yang tinggi. Dia kemudian menurunkan Safia.


“si-siapa kau! Beraninya muncul di depan kami seperti itu!” seru salah satu orang yang bersiap menyerang simo.


Simo hanya tersenyum. Saat ingin melangkah, Safia mengambil tangannya, lalu berkata, “ayah, biarkan aku saja yang melawannya.”

__ADS_1


“Kau masih kecil.”


“tidak apa, aku sanggup melawannya. Ayah diam saja. Jika terjadi apa-apa, ayah bisa menyelamatkanku.”


Simo mengangguk setelah melihat mata Safia.


Dengan begitu Safia melangkah maju. “tunjukan semua kemampuan kalian!” ekspresi tajam dan menusuk terlihat di wajah Sofia.


5 orang itu sedikit terpojok oleh pandangan Safia dan memikirkan gadis itu bukan gadis biasa. Namun ada juga yang menganggapnya tidak demikian, dan melangkah maju menyerang.


Safia tersenyum meremehkan. Saat dekat dengannya tiba-tiba saja muncul tentakel air dan menembus tubuhnya dengan cepat. Darah muncrat dari belakang punggungnya. Seketika pria itu tewas.


4 orang rekannya terkejut. Bagaimana tidak, hanya beberapa detik saja temannya sudah mati dengan cara yang tragis.


Di sisi lain, simo mulai memikirkan jika anak angkatnya ini adalah Aska yang kehilangan ingatan karena bisa melakukan itu. Di tambah lagi, dia mengingat Diana menyerahkan elemen, bisa jadi itu adalah elemen namila. Apakah dia mati? Tidak, simo berharap tidak demikian.


Oleh karena itu, dia mulai berjaga-jaga, jika ada orang kuat di sekitarnya. Dia tidak mau Azka kembali di culik dan di manfaatkan seperti itu, meski sebelumnya dialah yang membunuh Namila.


“maju kalian berempat!” seru Sofia.


Mendengar itu, empat orang itu ragu-ragu maju ke depan. Setelah beberapa saat, mereka memilih Kabur, tapi sayang sekali mereka tidak bisa; mereka langsung tertusuk oleh tentakel-tentakel air Safia.


“iya, kau hebat.” Simo jongkok dan mengelus-elus kepalanya. “ayo kita pergi.” Simo menggandengnya.


“emm.”


Simo mendekati bangunan yang lebur dengan tanah tersebut. Dia perlahan-lahan mengamati dan mencium bau yang ada. Perasaannya lega ketika merasakan tidak ada bau mayat dan hanya bau busuk berasal dari cairan-cairan aneh di dalam.


“Ayah! Mengapa kau melakukan itu? Apakah ada sesuatu yang aneh dari bangunan itu?” Safia menengadah dan memandang aneh simo.


“tidak ada, hanya penasaran.”


Penasaran? Tentu saja Safia tidak mempercayainya. Anak ini cerdas, akan tetapi ketika dia ingin bertanya, simo langsung menggendongnya.


Setelah itu, mereka mulai berjalan-jalan. Simo berjalan sangat lambat seperti keong. Dia tidak menikmati pemandangan di sisi jalan, tetapi sedang memikirkan di mana semua tahanan itu? Apakah mereka bebas? Atau di tangkap orang kaisar?


Beberapa kemungkinan bisa di tangkap atau bebas sebab, simo menduga orang-orang itu sedang mencari para tahanan mereka atau juga mungkin mereka memastikan penyebab bangunan itu runtuh.

__ADS_1


“ayah! Kenapa kau murung seperti itu? Ada apa?” seru Safia menyadari simo.


“Tidak ada, hanya masalah kecil. Safia, kita akan berjalan-jalan ke dalam hutan, apakah kau tidak takut?”


“Jika bersama ayah, aku tidak akan takut.” Riang gadis itu.


‘tentu, bagaimana bisa kau takut? Aku terlalu bodoh.’ batin simo lalu mulai melompat-lompat ke atas pohon. Dia berencana pergi ke hutan yang lebih dalam, siapa tau menemukan petunjuk lainnya.


...****************...


Sementara itu, di Padang pasir daerah tengah, ribuan raksasa berbaris. Di tangan mereka masing-masing ada senjata. Aura mereka menyebar dari tubuh mereka. Beberapa Jendral berbaris di depan.


Sang raja raksasa dengan pakaian kebesarannya berdiri dengan gagah di depan pasukan. Alisnya berkedut dan ekspresi marah terlihat di wajahnya ketika mengingat salah satu jenderalnya di bunuh oleh seorang pemuda yang entah dari mana.


Dia berencana menginvasi daerah timur yang terkenal lebih lemah dari barat. Dia juga sudah diskusi mengenai strategi yang akan mereka lakukan, sehingga kemungkinan besar untuk menang.


Di sampingnya, penasihat terlihat murung dan khawatir. Bagaimana tidak, baginya ini terlalu cepat untuk melaksanakan rencana raja. Namun dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan peperangan ini, Rajanya sudah amat marah dan membulatkan keputusannya


Meskipun dia tahu daerah timur lemah, belum tentu mudah untuk di taklukan. Mungkin saja ada bantuan atau semacamnya dari pihak barat. Alasan dia ingin mengundurkan peperangan adalah untuk mengumpulkan kekuatan sebanyak mungkin. Namun sekarang apa boleh buat, tidak ada yang bisa dia lakukan.


...****************...


Setelah pencarian hari itu simo belum menemukan sedikit pun titik cerah dalam pencarian namila. Dia memutuskan untuk bertemu dengan Hoshi dan berbincang dengan masalah ini.


Saat Hoshi mendengar itu, dia mengangguk tanpa ekspresi, namun di hatinya dia sangat terpukul dan bersedih atas kehilangan cucunya.


Simo yang melihat itu, merasa bersalah, dia yang mengajak Namila ke sana. Dengan sedih dan penuh penyesalan, simo mengatakan semuanya tanpa sedikit pun di sembunyikan dan meminta maaf.


Hoshi mengangguk dan berkata, “tidak perlu meminta maaf, semuanya sudah terjadi, kita tidak bisa menebak apa pun yang akan terjadi. Tapi apa kau sudah bertemu dengan teman perempuanmu itu?”


Simo menggelengkan kepalanya pelan dan sedikit menunduk. “belum, dia juga menghilang.” Simo mengusap-usap kepala Safia yang tertidur nyenyak di pangkuannya. Nafasnya sangat lembut dan imut.


Saat itu mereka berada di ruangan tamu. Simo duduk di kursi, sedangkan Hoshi berdiri dan memandang langit malam yang di penuhi bintang-bintang.


Hoshi berbalik dan duduk berseberangan dengan simo.


“aku akan mengirimkan beberapa orang untuk menyelidiki gedung itu dan mencari petunjuk mengenai para tahanan, cucuku dan temanmu itu. Aku harap semuanya akan baik-baik saja.”

__ADS_1


“Simo mengangguk. “semoga saja.”


__ADS_2