
Simo membuka matanya setelah beberapa menit pingsan. Dia menyadari dirinya tengah berbaring di atas batu di dekat pohon bunga Magnolia. Selain itu, dia juga melihat jauzan tengah duduk di atas batu yang tidak jauh darinya. Dia tengah duduk seraya bersenandung dan menggoyangkan kedua kakinya.
Simo kemudian mendekati jauzan seraya memegang tangannya yang masih terasa dingin akibat bunga tadi. Selain itu, dia juga merasakan dingin itu sampai ke jantungnya dan membuatnya tidak berdekatan dalam beberapa detik.
Jauza menoleh, karena mendengar Suara langkah kaki simo. Dia tersenyum manis. “apa kau tidak apa-apa?”
“Tidak, aku tidak apa-apa, tapi aku ingin bertanya, bunga apa itu, Kenapa memiliki suhu sedingin itu, dan mengapa bisa bergerak-gerak sendiri, terakhir untuk apa bunga itu?” tanya simo seraya duduk di samping jauzan.
“Kau banyak bertanya ya. Tapi karena kau sudah memetikannya untukku, aku akan memberitahukanmu. Bunga itu bernama bunga Magnolia salju. Meski tidak berwarna putih seperti salju, bunga itu memiliki suhu yang dingin seperti salju. Kau pasti merasa aneh jika salju sedingin itu kan?” tutur jauzan dengan semangat.
Simo mengangguk.
“Dunia ini sangat luas, simo, kau harus menjelajahinya, atau mencari tahunya. Di Dunia ini ada salju sedingin itu. Salju itu sangat jarang turun. Setahuku, pernah sekali salju itu turun, dan menumbuhkan bunga Magnolia salju. Kejadian itu sangat jarang terjadi. Untuk salju itu, Jika orang bisa menyentuhnya, orang itu akan seketika membeku, kemudian hancur berkeping-keping.”
“Kegunaannya?” tanya simo. Dia heran dan mulai membayangkan jika bunga itu memiliki kegunaan yang tinggi. Apalagi jika orang biasa sulit untuk mendapatkannya. Di dalam benak simo, dia membayangkan jika bunga itu bernilai ratusan koin.
“Sayang sekali tidak ada kegunaannya. Aku mengambilnya, Karena aku menyukainya.”
“jadi kau tidak menembak seseorang?” tanya simo yang terkejut. Simo dari awal menduga, Jika jauzan mengambil itu untuk seseorang, tapi ternyata dia salah.
“Siap bilang? aku ingin menembak seseorang? Aku hanya ingin menjadikannya koleksiku. Sudahlah, ayo kita pergi, nanti waktu istirahat keburu habis.” Jauzan menarik tangan simo, lalu berlari tanpa mendengarkan jawaban simo. Meski begitu simo tidak berbicara, malahan dia mempercepat langkah kakinya. Bukan karena dia ingin, melainkan takut jika waktunya sudah habis. Apalagi dia tidak tahu sudah beberapa lama tidak sadarkan diri.
Saat tiba di luar, jauzan meletakan kedua tangannya di depan dada, lalu muncul bunga Magnolia salju. Dia menghela nafas lega, lalu berkata, “untung saja, Tidak ketinggalan.” Bunga mangnolia itu menghilang lahan-lahan, seperti menjadi ribuan butir debu.
Saat mencapai pinggir sungai, jauzan melompat lebih duluan, dan berbalik, “simo, terima kasih.” jauzan tersenyum dan memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang bersih. Kedua tangannya di depan seperti gadis pada umumnya, tapi bedanya, jauzan seperti lebih dari itu.
Simo sejenak terpana. Dia seperti mengingat seseorang yang sangat dia kenal dan orang itu yang membuatnya terpana. Bahkan untuk pertama kalinya. Siapa lagi jika bukan namila, sosok gadis yang membuatnya terkagum-kagum. Simo lalu menggelengkan kepalanya, berusaha menyadarkan dirinya, Jika di depannya sekarang adalah jauzan bukan namila. Apalagi aneh jika dia terpana kepada seorang laki-laki.
“apa kau tidak menerimanya?” tanya jauzan yang membuat simo sedikit terkejut. Ekspresi wajahnya penuh tanda tanya dan kebingungan seraya menatap simo.
“Ah, iya, aku menerimanya.” Jawab simo cepat dan berusaha terlihat seperti biasa. Akan aneh dan memalukan jika jauzan mengetahui dirinya terpana kepada seorang laki-laki.
“baiklah, ayo kita pergi.” Jauzan tersenyum sebelum akhirnya dia melangkah menjauh dari simo. Ekspresinya sangat bergembira, membuat simo lega dan akhirnya mengikutinya.
...*****...
Di sebuah ruangan yang tidak begitu besar. Cahaya-cahaya matahari menembus semua kaca jendela. Seorang pria tua yang berumur sekitar 75 tahun, berdiri seraya memandang ke luar jendela. Kedua tangannya di belakang dengan salah satu memegang cangkir teh. “apa kalian yakin ada seorang siswa berbakat seperti itu?” tanyanya kepada kai dan hendry yang tidak jauh berada.
__ADS_1
“iya, ketua, aku sangat yakin, memang ada siswa seperti itu.” Kata kai dengan yakin dan hendry mengangguk membenarkannya.
“Hem... Seperti aku harus menyelidikinya. Kalian boleh pergi. Setelah aku mendapatkan informasi, akan aku sampaikan kepada Kalian.”
“Terima kasih ketua.” Ucap kai dan hendry seraya memberi hormat.
Hoshi mengangguk.
Kai dan Hendry, kemudian pergi. Saat pintu sudah di tutup, segera buih-buih air berkumpul, kemudian membentuk tubuh manusia.
“ada apa namila?” tanya hoshi seraya melihat cucunya.
“apa yang kakek duga memang benar. Simo adalah salah satu keturunan kekaisaran.” Ucap namila dengan nada yang sedikit keras.
“Sudah kakek duga. Kau awasi dia, jangan sampai hal-hal buruk terjadi kepadanya.”
“tentu saja kakek. Apalagi sekarang dia adalah teman latihanku sekaligus rekanku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya, Jika ada yang menyakitinya, aku tidak akan segan-segan membunuhnya.” Jawab namila dengan nada cerita dan sedikit penekanan.
“kakek harap kau bisa melakukannya. Oh iya, apa kau mendengarkan rumor tentang siswa yang memilih kekuatan di tingkat alam itu.”
“Bagaimana bisa begitu?” hoshi sedikit mengerutkan keningnya.
“Mungkin, karena dia adalah hasil penelitian.” Jawab namila dengan ragu-ragu.
“Hasil penelitian!” hoshi terkejut setelah mendengar apa yang namila katakan. Hasil penelitian adalah hasil dari organisasi salju hitam, dan tentu saja sangat rahasia. Menurut informasi yang hoshi dengar, jika ada orang yang kabur dan itu merupakan hasil penelitian, orang itu akan selalu di buru. Meski orang itu sudah pergi menjauh.
“ada apa kakek?” tanya Namila yang melihat kakek seperti memikirkan sesuatu.
“t-tidak ada apa-apa. Tentu saja itu mungkin, karena hasil penelitian mendapatkan kekuatan secara instan, tentu saja itu lebih lemah dari orang yang bersusah payah melatih tubuhnya.”
“Jadi, kekuatannya tidak maksimal ya?”
“bisa di bilang begitu.”
“sudahlah, kakek aku pergi dulu.”
“tunggu namila.”
__ADS_1
Namila berhenti dan berbalik. “ada apa lagi kakek?”
“Apa kau tahu siapa orang itu?”
“Kenzo. Apa kakek penasaran?”
“ah, bisa dibilang begitu.” Ucap hoshi yang terlihat biasa saja. Meski begitu hoshi sebenarnya sangat terkejut dengan jawaban namila. Apalagi kenzo adalah siswa kelas C.
“Baiklah, kakek aku pergi dulu.” Namila lalu menghilang menjadi butiran-butiran air, kemudian menghilang.
Ekspresi hoshi yang sebelumnya senang, kini menjadi serius. “aku harus melindunginya.” Hoshi, kemudian kembali menatap keluar jendela.
...*****...
Di sore hari simo pergi ke bukit untuk berlatih. Selain itu, dia juga menepati janjinya kepada Namila. Sore itu turun hujan gerimis di sertai kabut dan cahaya matahari, yang membuat simo mau tidak mau harus memakai payung.
Saat di perjalanan, simo terlihat senang dan membayangkan bagaimana rupa gadis yang selalu membuatnya terpana itu. Jika di setarakan, gadis itu seperti ribuan bunga Kamboja, ribuan bunga mawar yang merah, dan lebih cantik dari seorang ratu sekali pun.
Saat tiba di depan pohon, lagi-lagi simo terpana, melihat kecantikan gadis itu. Apalagi sekarang dia memakai gaun berwarna merah yang membuatnya lebih cantik. Simo mendekatinya. Saat mendekatinya, dia dapat merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.
“apa kau sudah lama?” tanya simo yang berusaha bersikap seperti biasa dan menghilangkan keraguan di dalam hatinya.
“Tidak, aku baru tiba.” Jawab namila dengan nada selembut salju. “ayo kita latihan.” Namila lalu menarik tangan simo ke bawah pohon sakura dengan bunga-bunganya yang berguguran.
Namila lalu menaruh payungnya dan begitu pun simo.
“hari ini kita bertarung dulu sebelum kau belajar sihir. Jangan sampai lengah ya.” Ucap namila sebum akhirnya menghilang dan muncul beberapa meter dari simo.
Simo pun menarik pedangnya. “hari ini aku akan mengalahkan mu.” Gumam simo dengan serius. Meskipun di depannya adalah sosok yang dia sukai, itu tidak akan berpengaruh jika urusannya tentang pertarungan.
“Aku akan menunggunya.” Namila mengarahkan salah satu telapak tangannya ke depan. Butiran-butiran air segala arah membentuk gumpalan air di depan telapak tangan namila.
Simo melesat dan namila lalu menembakkan gumpalan itu, yang langsung di tebas oleh simo. Saat simo mengarahkan serangannya ke tubuh namila, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi air dan menghilang, lalu melayang di atas.
...*****...
jangan lupa kritikan dan sarannya ya
__ADS_1