
Seorang wanita paru baya bersenandung merdu seraya duduk di teras rumah. Angin sepoi-sepoi berembus bersama dengan ombak danau datang membentur tiang-tiang penyangga rumah. Menimbulkan suara-suara khas yang indah dan misterius.
Wanita itu tersenyum saat memandang hamparan danau yang indah di bawah langit biru. Rambutnya yang hitam menari-nari kala tertiup angin seolah bergembira, karena kesejukan yang di berikan oleh sang angin.
Simo terperanjat bangun oleh Senandung itu. Dia heran sekaligus bingung, mengapa dirinya bisa di tempat lain, padahal sebelumnya dia berada di pulau sijiriah dan sedang bertarung melawan sosok monster seperti peri.
Dia memeriksa sekujur tubuhnya dan merasa heran, tidak ada satu pun goresan terjadi. Apalagi seluruh tubuh serasa sehat-sehat saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Dia memutuskan untuk mencari sumber suara dan menanyakan apa yang terjadi, mengapa? Dan bagaimana?
Beberapa detik, akhirnya dia sampai di teras rumah tempat seseorang wanita tadi yang sekarang bersandar di pagar rumah.
“S-siapa kau?” tanya simo ragu-ragu.
Wanita itu berhenti bersenandung, lalu menoleh simo. Dia tersenyum kala melihat wajah simo.
“seharusnya kau tahu siapa aku.” Katanya dengan lembut.
Simo diam dan menunduk sebentar sebelum akhirnya menjawab tidak tahu, tapi di dalam hatinya dia merasa memiliki hubungan spesial dengan wanita paru baya di depannya.
“Dasar anak bodoh!” umpat wanita itu lalu mendekat.
“Siapa yang mendidikmu seperti ini? Ibumu saja tidak kau ketahui.” Ya, dia adalah Dira, ibu simo yang sekarang membelai kedua pipi anaknya
Simo dapat merasakan kasih sayang dan kelembutan dari belaiannya, itu terasa lembut dan membuatnya nyaman.
“i-i-ibu?”
“Akhirnya ibu menemukanmu.” Seru Dira seraya memeluk anaknya dengan erat. Air mata tidak dapat dia tahan. Dia menangis tersedu-sedu. Ada rasa gembira dan bahagia saat melihat anaknya sekarang tumbuh dengan baik dan sehat. Awalnya dia mengira anaknya sudah meninggal dimakan buaya, tapi seperti keajaiban, anaknya tumbuh dengan baik dan tampan.
Simo pun juga memeluk Diara yang mengaku ibunya. Walau dia tidak tahu apakah sosok wanita di depannya adalah ibu kandungnya atau bukan, dia tetap memeluknya dengan erat.
Entah mengapa di dalam hati simo, dia sangat yakin wanita yang sedang memeluknya adalah ibu aslinya, walaupun dia belum menyelidikinya.
“Kau pasti lapar, mari ikut ibu.” Dira menyeka air matanya, lalu menarik tangan simo dan menyeretnya ke ruangan makan yang sudah ada berbagai jenis makanan di atasnya.
Dira langsung saja menghidangkan makan dan menyuapi anaknya. Walau anaknya sudah besar dan tidak perlu di suapi, sebagai seorang ibu yang baru bertemu anaknya setelah belasan tahun, dia rasa perlu melakukannya, selain karena kewajibannya, itu juga sebagai penebus kesalahan, karena tidak mendidik dan bersamaan anaknya.
Simo yang di suapi hanya bisa menerimanya begitu saja, tanpa perlawanan atau enggan. Walau terasa tidak enak, dia tetap melakukannya.
Awalnya agak aneh, tapi lama-lama dia menikmatinya.
Setelah itu dira mengajak anaknya untuk kembali ke teras rumah dan meminta maaf karena tidak bisa menemani anaknya sampai sebesar ini.
“Mengapa bu?” tanya simo, jika alasannya logis dia akan menerimanya dan jika tidak dia akan menuntutnya, walaupun baru pertama kali bertemu.
Dira menghela nafas panjang sebelum akhirnya menceriakan semuanya dari awal hingga mengapa simo harus dia tinggalkan.
Saat mengatakannya, wajah Dira terlihat sedih. Jelas sekali semua yang dia katakan adalah pengalaman pahit yang buruk sepanjang hidupnya.
Saat mendengarnya, simo hampir tidak bisa menahan amarah, dia sangat membenci orang-orang yang telah menyakiti ibu dan ayahnya, dia juga berjanji akan membunuh orang yang telah membunuh ayahnya.
“Sudah nak mungkin sudah menjadi nasib ibu.” Kata dira memenangkan anaknya yang marah. Sebagai seorang ibu dia tahu bagaimana perasaan anaknya setelah mendengar semua kejadian buruk yang menimpa orang tuannya.
__ADS_1
“Iya ibu, tapi aku harus tetap membalas kematian ayah dan tidak akan pernah melepaskannya hingga aku mati.” Kata simo dengan dingin.
“Iya, nak, tapi kau tidak boleh terluka, terlebih lagi ibu juga akan membalas kematian ayahnya. Jika waktunya sudah tepat ibu akan menemuimu lagi.” Seru dira seraya mengelus-elus rambut anaknya berwarna biru kekuningan seperti ayahnya
“Siapa namamu nak?” Meski enggan untuk bertanya dira tetap menanyakan nama anaknya. Bukan untuk mengubah, melainkan untuk mengetahuinya saja.
Entah siapa pun itu yang telah menyelamatkannya dan memberinya nama anaknya dia tetap memanggil anaknya sesuai apa yang telah di diberikannya.
“simo, namaku simo. Ibu jangan Tertawa, namaku agak jelek.” Jawab simo ragu-ragu dan sedikit malu.
Dira tertawa kecil. “mana mungkin ibu Tertawa, itu nama yang bagus, ibu suka.”
“jelas-jelas ibu sudah tertawa.” Seru simo kesal. Entah mengapa dalam beberapa menit saja dia sudah akrab dengan ibunya.
“Ah benarkah? Jika begitu maaf. Nama yang indah, ibu suka. Sekarang ceritakan semua hal yang kau alami saat ibu tidak bersamamu?”
Simo pun menceritakan semuanya dengan terperinci dan tidak ada hal yang dia sembunyikan.
Sesekali mata dira berbinar dan sesekali juga marah dengan perlakuan orang-orang kepada anaknya.
“Berengsek! Berani sekali kakek tua itu menghukummu dengan kejam seperti itu!” Ujar dira seraya memukul lantai dengan keras.
“ibu, ibu jangan marah, itu karena aku yang salah.” Seru simo seperti anak kecil.
Dira menghela nafas panjang menahan amarah. “baiklah, tapi jika Kakek itu menghukummu tanpa sebab, laporkan saja kepada ibu, ibu akan membalasnya dua kali lipat.”
Simo bergidik ngeri saat mendengar itu. Selain kedalaman lembah, ternyata dia juga takut dengan ibunya.
“ah, ibu lupa, sekarang kau berada di alam mimpi ibu. Maaf jika membuatmu bingung dengan semua ini, tapi tenang saja semua baik-baik saja. Ibu memanggilmu kesini hanya ingin bertemu denganmu dan memastikan kau baik-baik saja.”
“Ibu, boleh kah aku pergi sekarang?”
“tentu saja, tapi sebelum itu ada sesuatu yang ingin ibu berikan.
Tidak beberapa lama Dira mengeluarkan gelang yang telah dia buat khusus untuk anaknya.
“Pakai ini, jangan pernah kau lepas, meski harus melepaskannya.”
Simo mengangguk, meski tidak mengetahui apa fungsinya dia percaya dengan ibunya.
Setelah itu simo di bawa dira menuju portal.
“ingat jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa kau masih memiliki ibu yang siap melindungimu kapan pun dan di mana pun saja.”
“Iya bu aku akan mengingatnya, tapi kapan lagi aku bisa menemu ibu?"
“Secepatnya.” Jawab dira seraya tersenyum manis, lalu mencium kening anaknya.
“Jadi anak yang baik.” Dira melambaikan tangannya.
“Ya bu.” Simo membalasnya, kemudian akhirnya dia memasuki portal.
“Toru, lihatnya anak kita sudah besar.” Gumam dira seraya memandang hamparan langit cerah
__ADS_1
...****...
Saat simo terbangun, dia menyadari dirinya tengah berada di bawah pohon yang dikelilingi air.
“aku pikir kau sudah mati.” Ujar cuek sosok yang menyerangnya tadi yang sekarang tengah duduk menghangatkan tubuhnya dengan api yang telah dia buat.
“tentu saja tidak. Apa mau mu?” tanya simo dingin.
“Aku tidak menginginkan apa-apa, hanya memintamu untuk mengambil sebuah telur yang ada di atas sana.” Serunya seraya menunjuk sarang burung yang ada di tebing di atas simo.
“jika kau tidak melakukannya jangan harap untuk membawa temanmu hidup-hidup.” Sosok itu menjentikkan jarinya, seketika ribuan kupu-kupu membawa batang pohon dengan jauzan yang terikat tidak sadarkan diri.
Simo mengepalkan tangannya erat-erat, karena harus mengikuti perintahnya. Tentu saja pasti ada bahaya yang besar mengancamnya di atas sana, jika tidak, mustahil sosok kuat di depannya memerintahkannya.
“Baik, tapi kau harus menyembuhkannya.”
“Hahaha, baik, tapi ingat kau harus mendapatkannya sebelum matahari tenggelam.”
“Baik.” Jawab simo dengan yakin, Walau di dalam hatinya dia sangat meragukannya.
Ketinggian tebing itu sangat tinggi, terlebih lagi tidak ada batu yang menjulur, membuatnya sulit untuk mendakinya.
Dengan terpaksa simo melakukannya.
Simo mulai memanjat tebing dan memantapkan pegangannya dengan erat, lalu mulai mendaki. Perlahan-lahan tapi pasti dia mulai memanjat tebing itu.
Saat beberapa meter memanjat, keringat mulai berjatuhan. Nafas simo mulai tergesa-gesa yang menandakan dia sudah kelelahan. Di saat itu simo mulai menyadari semakin dia memanjat, maka semakin kuat tekanan ke bawah. Dia dapat merasakan tubuhnya dua kali lebih berat dari sebelumnya, jika itu latihan, Simo memutuskan untuk menyerah saja.
Walau dia memiliki teknik kecepatan, itu tidak berarti dengan tekanan tebing yang sedang dia taklukannya sekarang. Bahkan energi alam kecil pun tidak bisa di digunakannya saat ini dan mungkin inilah alasan Monster itu memerintahkannya.
Simo terus berusaha mendaki, walau tekanan semakin besar dan mulai melebihi kekuatannya, dia tetap memaksakan diri.
10 menit kemudian dia akhirnya mencapai setengah dari perjalanannya. Tentu saja bayarannya besar. Kaki dan tangannya mulai berdarah akibat memegang batu-batu, bajunya basah oleh keringat, nafasnya sudah terputus-putus dan terakhir dia dapat merasakan kesadarannya semakin menghilang.
“kaisar pedang, bisakah kau membantuku?” batin simo. Beberapa saat. Sebelum dia sudah memanggil kaisar pedang, tapi tidak ada respon darinya.
Dan lagi-lagi kaisar pedang tidak menjawab, membuat simo kesal dan marah, bisa-bisa dia tidak muncul di saat dibutuhkan seperti ini.
Dengan terpaksa dan kelelahan simo mulai mendaki lagi.
10 menit kemudian akhirnya dia bisa sampai di atas dan tentu saja kondisinya sangat menyedihkan, dia dapat merasakan tangan, kaki, perutnya sangat sakit, tapi di lain sisi dia juga bersyukur akhirnya berhasil menaklukkan tebing yang membuatnya tersiksa tanpa telat sedikit pun.
Setelah di rasa baikan, simo memutuskan untuk mengambil telur yang di maksud. Seperti keajaiban, telur itu tidak ada yang menjaganya sehingga simo dapat dengan mudah mendapatkannya dan cepat-cepat turun.
“Ini telur yang kau maksud.” Ucap simo setelah mendarat di depan sosok Monster itu.
“baiklah.” Monster itu mengambilnya. “temanmu sekarang sudah sehat kau bisa mengunjunginya.”
“Syukurlah....”
Berugg
Akhirnya simo roboh tidak sadarkan diri.
__ADS_1