
Setelah Namila pergi, simo lagi-lagi muntah darah dan terbatuk-batuk. Simo menyentuh dadanya, dia merasakan jantungnya hancur, darahnya mengalir dalam kekacauan, dan kepala terasa sangat sakit. Dia lagi-lagi terbatuk, kemudian akhirnya tidak sadarkan diri.
Anulika yang ada tidak jauh darinya, tidak mempedulikannya, dan menganggap itu batuk biasa.
Luka simo disebabkan oleh kekuatan Kaisar pedang yang secara paksa dialirkan ke tubuhnya.
Kaisar Pedang memang punya caranya, tapi apa pun yang dilakukan pasti ada yang harus dibayar. Kaisar pedang menjelaskan efek dari cara yang akan dia gunakan, dan dia tidak mungkin bisa membantu simo dalam situasi tersebut.
Simo dengan cepat menerimanya. Dia akan menerima akibatnya, meski dia akan terluka parah. Di dalam pikirannya, dia berpikir, lebih baik seperti itu, daripada dia tidak bisa lepas dari latif.
Walaupun dia akan terluka parah, itu setidaknya akan bisa diobati, tapi jika kalah dalam pertempuran itu, maka entah apa yang akan terjadi kepadanya.
Selain itu, lebih baik mengorbankan satu orang daripada dua orang.
Di waktu selanjutnya, simo perlahan-lahan membuka matanya. Anulika berdiri di depan dengan wajah khawatir. Dia mengetahui apa yang terjadi, tapi dia juga senang melihatnya, dengan begitu upayanya berhasil.
Simo ingin bangkit dan bertanya, tapi sekarang itu tidak bisa dia lakukan. Dia memeriksa energi di dalam tubuhnya, tapi tidak ada energi yang tersisa.
Di jam selanjutnya, simo kemudian membuka matanya. Langit sudah gelap. Dia bangkit dan memeriksa tubuhnya. Alangkah terkejutnya dia merasakan tubuhnya sudah sembuh.
Simo berpikir, ini pasti perbuatan Namila.
“ini, aku memetikannya untukmu.” Tawar anulika menyerahkan buah apel kepada simo. Di tangan gadis itu ada beberapa buah apel.
“terima kasih.”
Anulika mengangguk, lalu duduk. Saat hendak makan, dia teringat sesuatu. “ oh iya, maaf, aku tidak bisa menyembuhkanmu.” Nada anulika sangat datar seperti tidak mengucapkan dengan tulus.
Namun simo memakluminya. “iya, aku tahu. Di mana Namila sekarang?” tanya simo setelah menggigit apelnya.
“Mungkin sedang mencari bantuan.”
“bantuan?”
“iya. Katanya, kau terluka parah, jadi dia pergi mencari bantuan. Mungkin sekarang dia sedang perjalanan kembali.”
“Sejak kapan?”
“dari sore.”
“Aku akan mencarinya.”
“tunggu. Jika kau mencarinya, dia akan kesulitan mencarimu.”
“Kau tunggu disini.”
“tidak bisa! Kau pikir, jika nanti orang itu datang lagi, aku bisa melawannya?”
Simo menghela nafas. “baiklah. Kita tunggu saja di sini dulu.”
Setelah itu, Anulika duduk dan menikmati buah apel di tangannya. Dia terlihat sangat menikmati makanan itu. Dia memakannya dengan lahap, Bahkan sampai ke biji-bijinya.
Simo yang melihatnya hanya bisa tersenyum.
Jika simo baru menghabiskan satu buah apel, maka anulika menghabiskannya tiga apel. Seleranya sangat tinggi!
__ADS_1
Setelah selesai makan, simo teringat dengan tubuhnya yang sembuh yang dia duga Namila yang menyembuhkannya, tapi ternyata tidak. Dia menoleh ke arah Anulika, yang kini hampir menghabiskan apelnya. Tidak mau menunggu Anulika selesai makan, simo bertanya mengenai siapa yang menyembuhkannya.
“menyembuhkanmu?” Ekspresi bingung terlihat di wajahnya ketika simo menanyakannya, dia seolah tidak tahu apa-apa mengenai itu.
Anulika kemudian melanjutkan, “aku tidak tahu, tapi untunglah kau sudah sembuh. Dengan begitu aku tidak akan repot-repot merawatmu.”
“Apa kau tahu siapa yang menyembuhkanku?” tanya simo serius.
“tidak. Untuk apa kau menanyakannya? Sekarang dia tidak penting, yang terpenting kau sudah sembuh. Mengenai kekuatanmu, apakah sudah pulih?”
“belum.”
“ah, jadi kita tindak bisa melanjutkan rencana kita.” Kata Anulika dengan wajah kesal.
“Kau tenang saja, aku sudah mendapatkan sedikit informasi mengenai gedung itu.”
“baguslah, kalau begitu cepat katakan, aku ingin mendengarnya sekarang.”
“maaf, aku harus mencari namila.”
“tenang saja, cepat katakan, aku tidak sabar mendengarnya.”
“tidak. Aku ingin pergi mencari namila sekarang.” Jawab simo tegas.
“jangan khawatir, aku percaya dia sekarang baik-baik saja. Mungkin dia sekarang sedang dalam perjalanan. Selagi menunggu dia kembali, ada baiknya kau mengatakan semua hal yang kau ketahui.”
“tidak. Aku mengkhawatirkannya.” tegas simo lalu beranjak berdiri.
“dasar keras kepala. Jika dia mati, masih banyak wanita di dunia ini.” Bisik Anulika.
Setelah itu, simo pergi tanpa mempedulikan Anulika.
“hey, tunggu.” Anulika menyusul simo.
Simo dan anulika mencarinya ke berbagai tempat, namun mereka tidak menemukan Namila. Tidak menyerah, mereka terus mencarinya hingga larut malam.
Simo semakin menjadi khawatir dengan keadaan Namila. Berbagai pikiran negatif muncul dalam benaknya. Rasa khawatirnya menjadi-jadi saat malam semakin larut.
Anulika yang ikut bersamanya, merasa jengkel, dia beberapa kali menyarankan simo untuk pulang saja dan kembali melanjutkan pencarian besok. Dia juga mengatakan Namila akan baik-baik saja. Namun, simo tidak mempedulikannya dan menyuruhnya pergi.
Karena larut malam dan tidak tahu apa yang menimpa dirinya, anulika tetap mengikuti simo. Dia khawatir, jika bertemu dengan latif lagi. Walau dia mengenalnya, dia percaya sebagai anggota kelompok Kesatria bayaran, tentu saja orang seperti itu tidak memiliki perasaan sama sekali.
Hingga bulan bersinar terang, tidak ada lagi awan di langit, dingin yang mencekam, anulika tidak tahan. Oleh karena itu, dia membentak simo untuk pulang.
Tapi, simo tidak mempedulikannya, dia tetap berjalan.
Anulika tidak membiarkannya, dia dengan cepat memegang tangan simo.
“dasar keras kepala! Jika kau terus mencarinya tanpa arah, kau tidak akan menemukannya. Ayo kita pulang. Pikirkan, di mana kira-kira Namila berada. Diskusi dengan orang tuamu dan orang tuanya. Jika kau mencarinya seperti ini, kau akan kelelahan dan tidak akan kuat mencarinya lagi.”
“Tapi....” Simo enggan pergi.
“ayo pergi!” kata anulika seraya mengambil tangan simo dan menuntunnya pulang.
Simo hanya bisa mengikutinya saja. Apa yang dikatakan anulika ada benarnya.
__ADS_1
...****************...
Setelah berpisah dengan anulika, simo berjalan pulang. Saat tiba di depan rumahnya, kedua matanya berlinang air mata. Perasaan lega dan nyaman muncul dalam perasaannya. Rasa khawatir mulai samar-samar menghilang.
“Aku menunggumu dari tadi.”
Namila berlari ke arah simo. Saat 2 meter darinya, dia melompat dan memeluk simo dengan erat.
“Aku sangat mengkhawatirkanmu.”
Tangisan pun meledak, saat Namila memeluk simo.
“aku juga.” Balas simo seraya mengelus-elus rambut Namila.
Tidak jauh dari sana, aoba tersenyum memandang cucunya kemudian pergi.
Setelah itu, mereka berdua masuk ke dalam rumah. Saat tiba di aula seperti biasa aoba ada di sana dengan memegang secangkir teh.
Simo dan namila memberi hormat.
Aoba mengangguk dan memerintahkan mereka untuk duduk. Simo duduk di kanan kakeknya, sedangkan namila suduk di sebelah kiri.
“Kakek, bagaimana bisa namila ada disini?” simo membuka pertanyaan.
“Kakek tidak tahu. Kakek menemukannya berdiri di luar dengan tatapan kosong dan tidak sadarkan diri. Kakek berusaha menyadarinya, tapi ternyata sulit melakukannya. Tapi, setelah beberapa menit berjuang, akhirnya Kakek bisa melakukannya. Kakek langsung bertanya, tapi Namila tidak mengingat sesuatu. Dia hanya ingat bertemu dengan seseorang misterius di hutan, setelah itu tidak ingat lagi.”
Simo mengangguk. Walaupun ada beberapa pertanyaan mengganjal di dalam pikirannya, sekarang ada sesuatu yang lebih penting yang harus di bicarakannya.
“kakek, mengenai gedung itu, aku sudah memeriksanya. Di sana di jaga oleh tiga orang, tidak lebih. Namun, aku tidak menemukan alat-alat atau semacamnya di sana. Aku duga itu bukan tempatnya, tapi aku harus memeriksa lagi, bisa saja ada tempat rahasia di bawah sana.”
“kau benar, kakek akan mengirim seseorang pergi ke sana.”
Mendengar itu, Namila tidak tahan untuk bertanya, “bagaimana bisa kau menyelidikinya?” rasa heran memenuhi perasan namila. Seingatnya, simo waktu itu terluka parah, jadi sangat mustahil untuk melakukannya. Apalagi mengingat musuhnya sangat kuat.
“Apa kau mengingat siren itu?”
“aku mengingatnya. Apa kau memerintahkannya untuk melakukan itu?”
“simo mengangguk.
“entah apa yang kau berikan sehingga siren itu mau menuruti perintahmu.”
“tidak banyak, hanya sebuah ruangan.”
“Ruangan?”
“itu tidak penting. Kakek aku ingin mendapatkan informasi mengenai tiga orang itu. Apa saja kekuatannya dan kelemahannya.”
“Kakek akan mencarinya.”
“baiklah, jika sudah selesai, ayo simo, aku ada sesuatu yang harus di bicarakan.” Namila seketika beranjak mendekati simo, lalu menarik tangannya.
Simo terkejut dengan perilaku Namila, tapi dia tidak berkomentar. Saat di tarik, dia tidak lupa mengucapkan salam kepada kakeknya.
Aoba yang melihatnya lagi-lagi tersenyum. “kehidupan masa muda yang indah."
__ADS_1