Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 16 hewan peliharaan


__ADS_3

30 menit pun berlalu setelah mereka beristirahat. Mereka berbicara banyak hal dalam waktu itu, dan tanpa terasa sudah 30 menit mereka duduk. Simo berdiri dan mengajak putri Naria untuk melanjutkan perjalanan.


Dengan senang hati putri Naria mengikutinya.


Mereka mulai memasuki gua-gua yang penuh dengan air. Setiap kali melangkah, mereka akan merasakan lantai di bawahnya basah. Selain itu, tetesan-tetesan air berjatuhan terdengar nyaring dari akar-akar yang menjuntai ke bawah dari langit-langit gua.


Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka tiba lagi di ruangan yang begitu besar. Di sana ada seorang gadis berpakaian ungu yang tidak lain adalah gadis yang mereka jumpai.


Gadis itu tersenyum jahat saat menyadari simo dan Naria datang.


Simo memandangnya tajam, dan menarik pedangnya. Dia yakin Gadis di depan pasti akan bertarung dengannya.


Gadis di depannya mengarahkan telunjuk ke arah Putri Naria. sedetik setelahnya muncul tangan tanah yang sangat besar di depan simo, lalu menangkap putri Naria dan membawanya ke sisi gadis itu.


Putri Naria ingin melepaskan diri tapi kekuatan cengkeraman tangan itu sangat kuat. Apalagi kedua tangannya terikat. Dia hanya bisa menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Simo ingin menolongnya, tetapi ketika dia hendak melakukannya, tangan itu sangat cepat. Dia ingin menebas, tapi tangan itu dengan cepat masuk ke tanah dan muncul di samping Gadis itu.


Kini simo tidak bisa menyerang gadis itu sesuka hatinya. Dan hanya bisa menyusun rencana.


“apa yang kau inginkan?” tanya simo.


“Aku? Tentu saja kematianmu!” ketika dia berkata seperti itu, 5 tangan tanah muncul di sampingnya, bergerak cepat menyerang simo.


Tangan-tangan itu ada yang terlentang dan ada yang mengepal kuat.


Simo mengeluarkan aura pedangnya, kemudian melompat ke salah satu tangan tanah, dan melompat lagi lalu menebaskan pedangnya ke arah tangan yang lain. Dengan sekali tebasan satu tangan terpotong dan roboh.


Tangan yang lainnya bergerak bervariasi menyerangnya tapi simo bisa menghindar dan terus memotong tangan-tangan tanah dengan mudah.


Melihat hal ini, alis gadis itu terangkat dan memandang tajam ke arah simo.


Dia kemudian masuk ke dalam tanah bersamaan dengan tangan yang menggenggam putri Naria.


Setelah beberapa menit berjuang, akhirnya semua tangan tanah hancur. Keringat mulai bermunculan di pelipis simo. Nafasnya mulai tidak beraturan.

__ADS_1


Namun meski demikian, energi alam kecilnya melimpah. Simo tidak mau membuang-buang waktu, dia lalu pergi dari sana untuk menyelamatkan putri Naria.


Dia yakin, putri Naria pasti akan di gunakan tameng untuk melawannya. Dan dapat di simpulkan gadis itu takut kepada simo dan memiliki kekuatan yang lebih lemah darinya.


Simo mengetahui itu, oleh karenanya, dia mulai menyusun cara untuk menyelamatkan putri Naria. Selain itu, dia juga sudah menyusun rencana dari awal.


Jika dia berhasil melakukan, maka kekalahan gadis itu sudah di depan mata.


Setelah berlari beberapa menit, akhirnya dia tiba di depan danau dengan tebing yang tinggi sebagai pembatas. Di tebing itu ada pohon gundul dengan lekukan yang indah. Di sana putri Naria tergelantung dan terikat.


Gadis berpakaian ungu berdiri di salah satu dahan pohon dengan mudah dan tidak terpengaruh ketinggian dia berdiri.


“akhirnya kau datang.” Gadis itu tersenyum. Dia kemudian menjentikkan jarinya ke dalam danau.


Sedetik kemudian air danau bergelombang, Seolah ada batu besar yang jatuh ke sana, tepat di tengah-tengahnya. Lalu dengan indah melesat seekor mahkluk yang besar panjang dan berbulu.


Mahkluk itu tidak lain adalah naga. Tubuhnya di penuhi bulu-bulu biru yang indah. Dia berkilau ketika muncul. Ada kumis di wajah seperti kucing.


Tubuhnya sangat indah.


Selain itu, batu-batu yang ada di langit-langit gua bergetar dan berjauhan karena suaranya.


“Kenapa bisa ada naga di sini?” Gerutu simo sembari berusaha berdiri dari raungan naga dan suaranya melengking.


Naga itu memiliki panjang 100 meter dan lebar 30 meter. Ketika dia muncul itu bagaikan bertemu mahkluk purba yang sangat langka.


Simo di sini hannyalah seperti semut melawan gajah yang amat besar. Dia dapat merasakan telinga sakit mendengar raungan naga itu. Selain itu, tubuhnya memiliki kekuatan fisik yang sangat kuat, tapi dengan Raung naga itu, dia sudah bergeser beberapa langkah dari tempat sebelumnya.


“Apa kau sudah melihat hewan peliharaanku?” kata gadis itu sambil tersenyum bangga. Bagaimana pun juga, jika orang memilikinya dia tidak mungkin tidak berkenan untuk sombong.


Simo memandang naga dan gadis itu dengan tatapan tajam. Di bandingkan dengan takut, di hatinya bergetar karena semangat yang tinggi. Jika di hadapkan bertarung yang sangat menantang, simo adalah orang yang paling menyukainya.


“naga yang besar, tapi apakah hewanmu itu bisa mengalahkanku?” wajah sombong sangat jelas terlihat di wajah simo.


Wanita itu tertawa terbahak-bahak, Seolah perkataan simo adalah lelucon yang paling lucu yang pernah dia dengar.

__ADS_1


Bagaimana bisa dia percaya dengan simo. Memang, dia merasakan kekuatannya, tapi di bandingkan dengan naga, itu jauh berbeda.


“aku ingin lihat, apa ucapanmu sesuai dengan perkataanmu, atau tidak. Nagaku, pergi dan beri pelajaran pemuda itu. Biarkan dia merasakan bagaimana kekuatanmu.”


Sementara itu, putri Naria tergantung tidak sadarkan diri. Dia bergelayut-gelayut karena angin. Kedua tangannya terikat.


Sang naga meraung, dan melesat menuju simo dengan tubuhnya yang panjang, menyebabkan gelombang di pinggir danau.


Kecepatan naga itu tidak bisa di bilang lambat, meski tubuhnya besar dan panjang. Selain itu, ruangan gua yang begitu besar, memungkinkannya untuk bergerak leluasa.


Simo dengan tatapan tajam menggenggam pedangnya. Walaupun dia memiliki tubuh yang tidak seimbang, di wajahnya tidak ada gentar sedikit pun. Dan meskipun bisa saja memanggil Lasmaya, dia sebisa mungkin tidak akan memanggilnya.


Aura putih, hitam, dan merah keluar dari bilah pedang simo. Tekanan di sekitar menjadi semakin berat, dan bertambah berat seiring naga mendekati simo.


Simo mengentakkan kaki kanannya, kemudian melesat ke atas. Dia meraung dan melempar pedangnya. Pedang simo berputar, seperti gangsing dalam posisi vertikal ke mulut naga. Gangsing itu hanya sekecil pil di Bandingkan mulut naga.


Semakin lama berputar, pedang simo semakin cepat dan lebih cepat lagi.


Gadis itu tersenyum melihat pedang simo berputar. Baginya itu adalah usaha yang sia-sia.


Tapi hal mengejutkan terjadi. Pedang simo membesar dan aura merah, putih dan hitam lebih deras mengalir di bilah pedang. Walaupun pedang itu tidak sebanding dengan naga, setidaknya akan membuat naga itu terpukul.


“Bagaimana mungkin!?” keterkejutan kini terlihat di wajah gadis itu. Baginya ini adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan sangat mustahil!


Naga yang melihatnya tidak berhenti bergerak, Bahkan dia tidak mengubah ekspresinya. Naga itu meraung dan membuka mulutnya, memperlihatkan gigi-giginya yang runcing dan tajam.


Sekali lagi, bebatuan-bebatuan yang ada di sekitarnya bergetar dan berjatuhan.


Teknik yang simo gunakan memang sudah dari awal dia persiapkan. Ketika beristirahat bersaman putri Naria, dia sudah merasakan ada ancaman yang besar, Terlebih lagi gadis yang ada di depannya pergi dari awal. Simo menebak pasti gadis itu akan mempersiapkan serangan yang besar, sehingga, simo langsung mempersiapkannya


Dia meminta bantuan para siren untuk melakukannya. Tapi tentu saja tidak mudah melakukannya. Para siren masuk ke dalam pedang dan akan memperkuatnya.


Para siren mengatakan bisa memperkuat senjatanya, tapi membutuhkan waktu dan energi alam simo.


Simo menyetujuinya. Bagaimana pun juga dia harus mempersiapkan kekuatannya, dan juga musuhnya tidak tahu seberapa kuat dia.

__ADS_1


__ADS_2