Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 38 Carissa


__ADS_3

“Kami tidak mengetahui apa pun kecuali orang yang melakukan ini mempunyai kekuatan yang sangat tinggi, jauh dari kita bertiga,” ucap Hendry.


“ah, sayang sekali orang itu sudah pergi. Jika belum, aku ingin sekali merasakan kekuatannya,” ucap kai menyayangkan gadis kupu-kupu itu pergi.


“kenapa kau tidak bertarung dengan kepala sekolah saja?” saran Hendry.


“Aku sudah pernah bertarung dengannya dengan hasil kekalahan di tanganku,” ucap kai sedih mengingat-ingat kekalahannya.


“sudah dipastikan kau juga akan kalah jika bertarung dengan orang yang telah melakukan ini.”


“Belum tentu! Aku kalah saat dulu, tapi kini aku sudah lebih kuat, jadi hasilnya tidak jelas. Walaupun tingkatan juga penting, kau jangan melupakan kecerdasan juga penting.”


“Terserah katamu,” jawab Hendry menutup pembicaraan, dia ingin mengamati lubang di depannya ini.


Sementara di samping Hendry, Klarika mengerutkan keningnya, dia heran bagaimana bisa ada seseorang sekuat ini, apalagi jika itu membela seorang siswa. Menurut informasi yang dia dapatkan, ini dilakukan oleh gadis bersayap kupu-kupu, tapi mengapa ada gadis seperti itu?


Dia mengetahui memang ada banyak mahkluk seperti itu di dunia ini, tapi mustahil jika ada mahluk seperti itu muncul di sekolah, dan jika ada pasti kepala sekolah akan melarangnya, karena akan sangat berbahaya. Dia menduga pasti ada tempat persembunyian atau lubang teleportasi di sekitar taman yang tersembunyi


Walau ini Cuma asumsi, tetap saja ini menjadi pertimbangan Klarika untuk mengetahui orang yang melakukannya. Tentu saja hanya melihatnya tidak akan membuahkan hasil, jadi Klarika akan menanyakannya kepada simo dan namila, karena ciri-ciri yang dikatakan siswa tadi mengarah kepada mereka berdua.


Sementara Klarika mengamati lubang di depannya, orang-orang sudah bubar, dan mulai melanjutkan ujian mereka.


Klarika lalu pergi ke kantin untuk memerintahkan Talina untuk ke ruangan sekarang. Saat mendengar itu, Talina mengerutkan keningnya, dia heran mengapa klarika memanggilnya secara pribadi seperti ini. Selain rasa heran, dia juga takut dengan klarika. Di dalam hati Gadis itu, dia mencari-cari apakah ada sesuatu yang menyinggung Klarika.


Alasan mengapa orang-orang di kantin tidak ikut melihat lubang itu, di Karenakan tempatnya lumayan jauh, jadi lebih sulit di rasakan, apalagi jika itu orang-orang yang memiliki kekuatan yang berada di tingkat rendah.


Saat tiba di ruangan, klarika duduk di bangku. Sementara Talina duduk di seberang seraya menunduk karena takut. Walau gadis ini tahu sepertinya tidak ada masalah yang dia perbuat, rasa takut itu tetap ada di dalam hatinya. Bagaimana pun juga, klarika adalah seorang wali yang tegas dan ketat, jadi kemungkinan besar akan memberi hukuman entah untuk kesalahan besar atau kecil.


Hal ini dilakukan tentu untuk mendisiplinkan para siswanya.


Memainkan kedua tangannya, Talina menunduk.


“tenang saja, aku hanya ingin menanyakan beberapa hal penting. Kau tidak perlu takut denganku,” ucap Klarika menyadari Talina menunduk dan terlihat sedikit ketakutan.


Sedikit mengangkat wajahnya, Talina menjawab, “b-baik.”


“Ini masalah mengenai kekuatan elemenmu. Bagi ibu, ini terlalu aneh. Membangkitkan elemen saat pertarungan, dan tanpa merasakan sakit sedikit pun itu terlalu aneh. Kau juga merasa begitu, ‘kan?”


Talina mengangguk. “iya bu, tapi aku bersyukur bisa membangkitkannya. Walaupun ini aneh, membangkitkannya saat bertarung dan langsung naik tingkat bumi mendadak, aku bangga dengan itu.”


“ibu ingin bertanya, apa saja yang kau rasakan saat bertarung?”


Talina pun menceritakan semuanya pada klarika tanpa sedikit pun tersisa.

__ADS_1


“Ini aneh.” Kata klarika setelah mendengar itu. Dia kini memikirkan kemungkinan-kemungkinan elemen yang dimiliki Talina.


Setelah beberapa saat berpikir, klarika berkata, “kau sudah bisa pergi.”


“baik. Setelah ibu mendapatkannya, ibu harus mengabariku.” Walaupun talina mengetahui elemennya sekarang air, dia percaya dengan klarika, bawah elemennya bukan air.


Klarika mengangguk.


Setelah Gadis itu pergi, klarika menghela nafas. “ini aneh.”


...****************...


Di malam yang dingin, terlihat seorang wanita berdiri di ujung batu dengan pemandangan kota indah di depannya. Lampu-lampu kota seolah seperti bintang-bintang yang berada di bawah dan tidak terhitung jumlahnya.


Wanita ini memakai gaun merah panjang dengan selendang merah panjang menari-nari kala angin berembus, menciptakan suasana yang indah.


Wajahnya oval, nyaris sempurna. Kulitnya seputih salju dan selembut sutra. Lekuk tubuhnya sangat sempurna, seperti gitar Spanyol, namun lebih ramping.


Wanita ini sangat cantik dan indah, berdiri di ujung Tebing malam. Jika orang-orang yang melihatnya, dia solah wanita yang ada di lukisan-lukisan kuno.


Wajahnya tenang seperti air danau tanpa angin, namun tidak lama berselang, kedua alisnya terangkat, bersamaan dengan itu, dia berbalik dan melempar salah satu selendangnya ke suatu tempat.


Sebuah tangan ramping berhasil memegang selendang itu. Tubuh orang yang memegangnya tidak terlihat, karena memakai jubah hitam.


Orang yang melemparkan selendang Adalah Jendral kedua, namanya Carissa. Carissa mengerutkan keningnya, lalu berkata, “siapa kau? Mengapa kau datang ke sini?”


Bibir wanita di depan Carissa bergerak membentuk senyuman.


“apa kau tidak mengetahuiku?”


Carissa sedikit menunduk, dia memikirkan siapa wanita di depannya. Dia merasa akrab dan mengenalnya, tapi tidak tahu entah di mana.


Setelah beberapa saat memikirkannya, Carissa tersenyum. “aku harus membuka jubahmu untuk mengetahuinya!”


Setelah mengatakannya, Carissa menarik selendangnya, lalu melemparkan yang satunya lagi, namun serangannya berhasil di tangkis dan berhasil di tangkap.


“apa kau memiliki kekuatan untuk melakukannya?”


“heh. jika kau bertanya seperti itu, aku bisa saja memusnahkan dirimu sekarang, jika aku mau,” jawab Carissa sombong.


“lalu mengapa kau tidak melakukannya?” kata wanita di depannya dengan nada dingin, dan bahkan di wajah yang sedikit terlihat tidak ada intimidasi sedikit pun.


Energi alam meledak dari dalam tubuh Carissa. Pedang panjang yang di selubungi api ungu keluar. Carissa mengambilnya, lalu melesat seperti bayangan. Saat berada di atas wanita berjubah, Carissa berteriak seraya mengayunkannya, “rasakan ini!”

__ADS_1


Bomm!!!


Ledakan api ungu terjadi. Ledakannya seperti batu yang di lempar ke air; bergejolak. Menyebabkan beberapa tanaman, hewan dan kehidupan lainnya mati terbakar.


Kekuatan yang Jendral kedua keluarkan Setara berada di tingkat alam tahap 9, yang berarti dia bersungguh-sungguh melawan wanita di depannya. Tapi bukan itu batas kekuatannya, sekarang dia berada di tingkat surgawi tahap 6 yang tentu saja jika di keluarkan akan sangat mengerikan.


Alasan dia tidak mengeluarkannya, karena baginya wanita di depannya sekarang belum layak mendapatkannya.


Setelah melancarkan serangannya, pandangannya kini di tutupi oleh api ungu. Dia tidak merasa senang atau pun kemenangan sudah berada di pihaknya, karena dia masih merasakan nafas dalam api di depannya. Dan dia juga berpikir wanita di depannya bukan orang sembarangan.


Dan perkiraannya benar. Setelah api menghilang, wanita di depan masih gagah berdiri tanpa sedikit pun luka di tubuhnya. Dan ada akar-akar mengelilinginya, seperti pelindung atau seperti benteng. Akar-akar ini sedikit pun tidak terbakar walau terbuat dari kayu. Ini sudah membuktikan wanita di depan Carissa bukan orang biasa.


Wanita di depannya menahan serangan dengan dua jari terselip di pedangnya tanpa terluka sedikit pun.


“apa kau ingin melawan tuanmu? Carissa.”


Carissa melompat mundur. Dia mengerutkan keningnya seraya berkata, “siapa kau?”


Walaupun namanya Carissa, tidak banyak yang tahu itu nama aslinya. Biasanya, orang-orang akan memanggilnya jenderal kedua saja atau jendral, tanpa nama aslinya. Hanya ada beberapa orang yang mengetahui nama aslinya, dan itu bukan orang sembarangan.


Perlahan-lahan wanita di depan Carissa membuka kerudungnya, memperlihatkan wajah cantiknya dengan rambut biru laut yang indah.


Seketika Carissa terkejut. Dia cepat-cepat membungkuk memberi hormat. “hormat yang mulia,” katanya dengan tulus tanpa sedikit pun kearoganan saat sebelumnya.


Wanita di depannya tersenyum lalu berjalan mendekatinya. “bangunlah,” perintahnya dengan lembut. Dia tidak lain adalah Dira.


Dengan ragu-ragu Carissa berdiri. Ada rasa malu setelah apa yang dia lakukan sebelumnya.


Dira mengetahui itu, oleh karenanya dia menepuk pundaknya, lalu berkata, “aku tahu Mengapa kau melakukan itu. Tidak usaha seperti ini, anggap saja aku hanya orang biasa sekarang.”


“Yang mulia, anda tetap Ratu di kekaisaran ini, hamba tidak boleh bersikap sembarangan dengan anda.”


Dira mengangguk.


“maaf sebelum hamba tidak bisa menolong anda di saat-saat seperti itu. Andai saja hamba ada di kota waktu itu, hamba pasti bisa menolong anda.”


“itu hanya masa lalu, kau tidak perlu mempermasalahkannya.” Setelah mengatakannya, dira berjalan ke tebing, lalu berkata lagi, “aku ada tugas untukmu, apakah kau bersedia?”


“tentu yang mulia, hamba pasti akan melakukan yang terbaik.”


Dira mengangguk. “ sebarkan desas-desus mengenai gedung penelitian itu. Buatlah huru-hara dan lindungi anakku. Kau tahu apa yang aku maksud?”


Carissa mengangguk. “hamba akan melakukan yang terbaik

__ADS_1


__ADS_2