
“Karla, beberapa kapal datang mendekati markas, sepertinya mereka ingin menyerang kita.” Lara datang melapor.
“Apakah mereka semua manusia?”
“Emn.” Lara mengangguk.
“Huh, sepertinya, sudah saatnya kita berdamai dengan para manusia.” Karla berjalan mendekatinya pinggir tebing dan melihat titik-titik coklat, yang merupakan kapal-kapal yang semakin mendekat. Kedua sudut bibirnya terangkat setelah melihatnya. Ini adalah hal yang sangat dia impikan sebelum berhasil membunuh jendral raksasa, Herry.
Kedamaian, dan ketenangan semakin mendekatinya.
Semua siren tersenyum dan mengangguk.
Sementara itu, namila duduk di bawah pohon besar seraya menyembuhkan simo yang masih kelelahan, dan pingsan. Tangan kanannya terus mengalirkan energi hijau, yang kemudian menyebar ke tubuh simo. Hal itu dia lakukan untuk mengantisipasi jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
“Kau selalu membuatku kagum.” Kata Namila seraya tersenyum manis.
30 menit kemudian kapal-kapal itu akhirnya berlabuh di pesisir pantai.
Para siren terbang ke pesisir pantai untuk menyambut mereka.
Karla tersenyum melihat para manusia turun dengan membawa sebilah pedang.
“Pasukan pemanah! Serang!” seorang di kapal berteriak.
Semua orang berbaris, lalu melepaskan anak panah mereka bersama-sama.
Puluhan anak panah mengarah ke arah para siren, tetapi tidak satu pun di antaranya berhasil mengenai para siren, sebab dinding air langsung memblokirnya.
“kalian tidak akan bisa mengalahkan kami.” Ujar Karla.
“Walaupun kalian kuat, belum tentu kalian tidak terkalahkan!” ayu akhirnya muncul bersamaan Frey dan Andros.
“ayu!” Seru salah satu siren yang merupakan siren yang melayaninya.
“kenapa kau menyerang kami?”
“Kenapa? Bukankah kalian sudah mengetahuinya?”
“maafkan kami, itu... Karena kami terpaksa melakukannya.” Kata siren itu lirih.
“terpaksa? Aku dengar Kalian membunuh orang dengan gembira, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.”
“itu karena...” siren itu berhenti setelah melihat isyarat dari Karla.
__ADS_1
“Maafkan kami atas semua hal yang telah kami perbuat, sekarang bisakah kita berdamai?” kata Karla dengan nada bersalah
“Berdamai katamu? Kau bilang berdamai? Apa kalian tidak merasakan betapa terpukul, dan sakitnya kami menunggu anggota keluarga kami pulang sambil berharap akan membawa sekeranjang ikan, tapi malah hanya namanya saja yang pulang. Kalian sungguh tidak berperasaan.” Ucap ayu lirih dengan setetes air matanya jatuh.
“Apa yang bisa kami lakukan untuk membayarnya?”
“Bisakah kalian mengembalikan anggota keluarga kami? Jika bisa, maka kami akan berdamai dengan kalian, dan menganggap semuanya seolah tidak terjadi.”
Semua orang di dekat ayu mengangguk.
Mendengar itu, Karla menunduk, dan dengan pasrah menggelengkan kepalanya. Menghidupkan orang yang sudah mati bukanlah sesuatu yang dia bisa lakukan.
“sudah, Jangan membuang waktumu dengan para siren yang tidak tahu diri itu. Sekarang biar aku yang akan membunuh mereka satu persatu.” Frey menarik pedangnya. “ Kalian semua akan aku bunuh!” Frey melesat dengan kecepatan cahaya. Kecepatannya sangat cepat, itu melebihi kecamatan sebelumnya.
Salah satu siren melompat, lalu bertarung dengan Frey.
Serangan demi serangan terlontarkan. Mereka seimbang. Namun karena energi siren itu mulai habis, dia menjadi terpojok, hingga saat Frey ingin mengakhiri pertarungan. Karla langsung menarik tubuh Siren itu dengan pusara airnya.
“Chih, hampir saja aku membunuhnya.” Gumam Frey kesal saat melompat ke geladak kapal.
Ayu melirik Andros, mengisyaratkan apakah serangan bisa di mulai.
Andros menggelengkan kepalanya pelan. Dia lalu menoleh ke arah Frey, dengan pelan berkata, “frey, sekarang pergilah, coba kau tunjukan kekuatanmu sekang.”
Frey melompat ke pesisir pantai. Saat kedua kakinya mengenai ombak air, tiba-tiba saja dia merasa kesakitan yang sangat mengerikan, itu bagaikan di tusuk oleh jarum yang sangat besar, tepat di jantungnya berada. Dia berteriak kesakitan seraya memegang dadanya yang sakit.
“apa yang terjadi?” Andros memandang heran, kemudian melompat, dan membantu anaknya.
Semua orang yang ada di sekitar menjadi bingung dan heran memandangnya.
“A-ayah.” Kata Frey lirih setelah ayahnya membantunya berdiri.
“Apa yang terjadi nak?” dengan takut dan heran Andros bertanya.
“A-aku.... Aggaaahhh!”
Tiba-tiba saja tubuh Frey terangkat, lalu cahaya putih seperti pilar dari langit melesat mengarahnya. Frey berteriak sebelum akhirnya berubah menjadi enam butiran cahaya putih. Cahaya itu terbang ke arah tebing. Perlahan-lahan membentuk sosok enam siren.
Para siren itu memakai gaun putih yang indah dengan tombak di tangannya.
“ah! Leluhur!” Ujar Karla Terkejut, lalu dengan cepat memberi hormat dan di susul oleh semua siren. Walaupun dia tidak tahu mengapa leluhur yang di kabarkan sudah meninggal kembali muncul di dunia ini.
Andros, semua orang menjadi bingung dengan semua yang terjadi.
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Andros kepada ayu yang sudah ada di sampingnya
“Mu-mungkinkah Karena itu...” jawab ayu ragu-ragu.
“coba katakan?” Andros penasaran
Ayu menceritakan, saat dia berenang mengarungi lautan untuk kabur dari markas siren, dia secara tidak sengaja menemukan sebuah kristal yang berwarna putih seperti mutiara. Saat tiba di rumah, dia berdiskusi dengan Frey mengenai benda itu. Benda itu terlihat bercahaya, dan sangat indah, oleh karena itu pasti memiliki harga yang tinggi.
Tidak disangka kristal itu masuk ke dalam tubuh Frey, dan akhirnya menghilang seperti menjadi ribuan butir.
Awalnya, ayu khawatir dengan Frey, sebab saat menghilangnya Krista, dia jatuh tidak sadarkan diri.
Namun saat sadar, Frey terlihat bisa-bisa saja, dan dia juga mengatakan kekuatannya meningkatkan dua kali lipat.
“mungkinkah itu penyebabnya, paman?” tanya ayu khawatir.
“Ini aneh.” Andros berkata seraya berpikir. Namun tidak lama, salah satunya siren yang ada di tebing berucap dan merenggut perhatiannya.
Walaupun mengenai keselamatan anaknya, Andros tidak bertindak gegabah. Dia akan memantau situasi dan mencari apa yang sebenarnya terjadi. Walau di dalam hatinya, dia sangat takut kehilangan anaknya.
“Semoga kalian di berkati.” Kata salah satu siren seraya mengangkat sedikit tombaknya di depan, memberi restu.
Nama para siren itu adalah Anika, Amara, Belinda, Daria, Elodie, Frida.
“Tidak ku sangka Kalian bisa bangkit kembali.” Istri Andros muncul di geladak kapal. Suaranya tidak terlalu keras. Namun dapat menyita semua orang yang ada.
“isla.” Kata Andros pelan. Dia tidak menyangka istrinya, isla, bisa muncul di kapal, padahal saat berangkat isla tidak ikut.
“kenapa bibi bisa ada di sana?” tanya ayu.
Andros menggelengkan kepalanya.
Sedetik kemudian muncul cahaya emas dari tubuh isla. Cahaya itu sangat terang, membuat orang-orang di sekitar memejamkan matanya.
Perlahan-lahan muncul sayap putih dari punggungnya, bersama dengan itu di tangannya muncul tongkat emas dengan pucuk bunga di puncaknya.
Semua orang menjadi kagum dan tidak sadar membuka mulutnya, sebab Isla berubah menjadi wanita yang sangat cantik. Apalagi dengan sayapnya yang menawan, itu menambah kecantikannya.
“apa yang terjadi?” Tanya Andros kepada dirinya sendiri. Dia terlihat bingung, dan linglung setelah dua kejadian aneh menimpanya.
“i-itu.” Gumam karla tidak menyangka sosok yang selama ini menghilang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
“aku juga tidak menyangka kau masih hidup?” kata Daria, siren yang berdiri di paling tengah.
__ADS_1