
Di sore hari, simo berdiri menatap cahaya matahari sore yang indah. Di bandingkan sebelumnya, dia lebih terlihat bahagia. Tentu saja ini karena dia melihat Naria keluar di pagi hari dengan wajah ceria. Dia melihatnya duduk di taman hanya sekedar berjemur.
Dia terlihat damai dan lembut. Simo ingin menghampirinya, Namun dia berhenti bergerak ketika menyadari Naria tidak ada yang menjaga. Muncul di pikirannya, jika saat itu Naria ingin sendirian tanpa gangguan sedikit pun.
Meski Naria tidak memandangnya, dia sudah senang melihat seperti itu.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki banyak mendekati simo.
“Apakah kau yang bernama simo?” jelas sekali nada itu mengandung kesombongan dan ingin mencari masalah.
Simo mengerutkan kening dan menatap orang-orang yang datang. Di paling depan adalah pangeran kerajaan matahari terbit, sementara di sampingnya adalah dua pria paru baya yang gagah dan memiliki otot-otot menonjol. Kedua ekspresi mereka memandang rendah simo.
Simo mulai curiga. Dengan sikap pangeran matahari terbit beberapa saat lalu, mungkin dia ingin mencari masalah dengannya. Tentu saja dia ingin mempermainkannya atau ingin mencelakainya.
“Iya.” Simo menjawab tenang. Walaupun kecurigaan muncul di hatinya, dia akan melayaninya dengan baik. Namun, dia sudah melepaskan energi alam kecilnya dan mulai mengintimidasi musuh.
Kedua orang berotot itu pun juga mengeluarkan semua kekuatan mereka. Dari yang simo kira, mungkin dua orang itu sama-sama tingkat bumi tahap lima. Sebuah tingkat yang berada di bawah simo. Namun, tingkat ini bisa di bilang kuat dia antara orang-orang kuat. Mereka bisa menjadi penjaga keluarga bangsawan dan memiliki banyak harta, serta pujian.
Namun bagaimanapun dua orang ini belum cukup membuat simo bergetar. Dua orang di depannya ini dapat dengan mudah simo lawan. Meski perbedaannya hanya enam tahap, itu sudah bisa di katakan sangat jauh.
Ekspresi keduanya terlihat gembira ketika menyadari aura simo yang di keluarkan hanya tahap fisik tahap sembilan. Mereka pun mulai mencibir.
“Baru mencapai tingkat fisik tahap sembilan berani mengeluarkan aura seperti itu. Bukankah ini terlalu memalukan!?”
“Apakah ada urusannya denganmu?” simo bertanya sambil menatap tajam ke arah pria yang mencibirnya.
__ADS_1
Memang benar, dia tidak mengeluarkan semua kekuatannya, namun tentu saja bukan tanpa sebab. Dia ingin tidak terlalu mencolok dan membuat musuh terkejut di awal. Dia ingin membuatnya meremehkannya dan membuat mereka berbicara omong besar dan kemudian mempermalukan mereka berdua habis-habisan tanpa sedikit pun ampun. Ini adalah sesuatu yang sangat dia harapkan.
Simo kemudian bertanya kepada pangeran matahari terbit dengan sopan, “Salam pangeran. Ada apa anda mencariku?”
“ya. Aku ingin menantangmu untuk bertarung dengan mereka berdua. Aku dengar, kau adalah pelindung dari tuan putri Dhiya karya. Seorang pelindung dari tuan putri tentu saja memiliki kekuatan yang kuat, bukan? Aku ingin melihatnya, apakah memang benar informasi yang aku dapatkan.”
“Aku juga dengar, kau adalah orang yang berasal dari kekaisaran gunung salju yang terkenal akan orang-orang hebatnya. Tentu saja aku penasaran denganmu yang di kirim oleh kekaisaran gunung salju dalam menjalankan tugas penting dan berat seperti itu. Tidak mungkin ‘kan orang biasa-biasa saja di kirim oleh pihak kekaisaran?”
“Tidak perlu. Apa yang anda katakan memang benar. Dan informasi yang anda peroleh sesuai dengan fakta. Untuk apa anda mencarinya? Semua itu sudah benar.”
Meski pun simo adalah penggila bertarung, dia tidak secara terang-terangan langsung menantang mereka berdua. Dia ingin menikmati sensasi sebelum bertarung dan membuat dua orang berotot itu memanas.
Setelah mengatakan itu, simo berjalan menjauh seolah tidak peduli dan tertarik dengan apa yang di katakan pangeran lagi. Namun, sebelum berjalan lebih jauh, pangeran langsung mencegahnya.
Ekspresi pangeran menjadi lebih pucat dari sebelumnya. Kedua alisnya tertekan. Dan dia menekan giginya. Tentu saja dia sangat marah dengan simo, yang seolah tidak mempedulikannya dan menganggapnya hanya orang tidak penting.
“Bagaimana bisa kau pergi begitu saja tanpa bertarung? Apa yang aku inginkan, harus kau lakukan. Aku adalah seorang bangsawan di sini dan kau hanya rakyat rendahan, kau tidak punya hak untuk memutuskan hal ini.”
“Kalian berdua! Cepat habisi dia! Aku ingin lihat, apakah dia berani tampil acuh tak acuh di depanku setelah tubuhnya di penuhi luka.”
“Baik!” keduanya menerima, dan langsung melompat ke depan. Lompatan mereka sangat panjang dan cepat. Bisa di bandingkan dengan tiga lompatan orang dewasa. Namun untuk kecepatannya, sungguh luar biasa.
Orang di depan langsung mengulurkan tangannya dan mengepal erat-erat. Otot-ototnya mengeras, dan bergerak ke depan. Walaupun jarak simo dan dua orang itu sedikit jauh, mereka berdua bisa mencapai simo dalam hitungan detik.
Simo tidak ambil pusing mengambil langkah. dia tersenyum dingin dan meremehkan. Dia menangkap pergelangan tangan pria berotot di depan dengan mudah dan memegangnya erat-erat.
__ADS_1
Pria itu membelalakkan matanya karena terkejut. Bagaimana mungkin bisa anak muda yang dia rasa lemah mampu memegang tangannya dengan mudah. Sesaat kemudian, pria itu berteriak kesakitan. Suaranya melengking dan cukup membuat orang-orang Istana memperhatikannya.
Pria itu tidak tahu, apa yang terjadi, Namun dia merasakan hantaman begitu keras mengenai punggungnya dan terjatuh dari ketinggian kemudian, kembali merasakan sakit yang luar biasa. Seteguk darah segar keluar dari mulutnya.
Dia merasakan tulang punggungnya remuk dan hancur beberapa titik. Setelah itu, dia baru menyadari dia terjatuh dari lantai atas. Kemudian, tangannya yang memukul terasa sangat sakit. Mungkin sama dengan nasib tulang punggungnya.
Benar, simo langsung membantingnya ke belakang dengan sangat keras, sehingga membuat lantai hancur.
Simo hanya bisa tersenyum masam melihat hal itu. Dia terlalu refleks dan mengeluarkan kekuatan yang besar hanya untuk meladeni serangan yang lemah. Ibunya pasti akan marah dengan hal itu. Selain uangnya di habiskan untuk ganti rugi ibu kota, dia sekarang harus juga mengeluarkan uang atas apa yang di lakukan oleh anaknya itu.
Naria yang mendengar suara itu langsung menoleh. Dia langsung mengenalnya kemudian berlari ke dalam. Dia saat itu sedang jalan-jalan sendirian di lantai bawah.
Simo berbalik dan menatap dingin ke arah pangeran dan pria berotot. Pria itu terlihat terkejut dengan apa yang di keluarkan simo dan mampu mengalahkan temannya dalam satu serangan. Bukankah itu sangat kuat?
Dia yang sebelumnya hendak menyerang langsung kembali ke samping pangeran.
Pangeran juga terkejut melihatnya. Namun di bandingkan dengan pria berotot, pandangannya sangat tajam dan mengandung kebencian.
“Sudah aku duga, kau memang hebat. Tapi aku tidak percaya kau bisa semudah itu mengakhirinya, bagaimana kalau kau perlihatkan kekuatanmu di arena saja? Dengan seperti itu, kau akan leluasa mengeluarkan kekuatanmu. Apakah kau mau? Aku juga akan mencari lawan yang lebih kuat dari yang ini.”
“Sudah aku bilang, tidak perlu membuktikannya lebih jauh. Jika kau banyak berbicara, aku akan menghancurkanmu lebih para dari orang itu.”
Walaupun dia penggemar bertarung, jika lawannya sangat mudah seperti ini, itu hanya akan membuang-buang waktu. Di tambah lagi, jika menerima usulan pangeran, tentu saja pangeran itu akan berbuat curang untuk ke depannya.
“Oh iya. Karena kalian yang telah membuat masalah, kalian harus mengganti rugi atas apa yang telah kalian perbuat.” Simo berbicara ketika melintasi pangeran.
__ADS_1