Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 40 penyerangan


__ADS_3

Namila Bergerak cepat, mengayunkan pedangnya ke tempat-tempat yang sulit Delisa tangkis. Saat dapat di tangkis, Namila akan berubah menjadi air, lalu muncul di tempat lainnya. Hal itu beberapa kali dia lakukan, membuat Delisa geram. Delisa kemudian mengerakkan tangannya melingkar, membuat selendang panjangnya berputar-putar di sekitarnya, membentuk pusaran seperti pelindung.


Namila yang melihat ini, mundur, bersamaan dengan itu, dia memperagakan sedang memegang panah dan busur. Dengan cepat air muncul dari tangannya, membentuk busur dan anak panah yang siap di tembakan.


Setelah merasa pas dia langsung melepaskan anak panahnya. Anak panahnya melesat dengan kecepatan tinggi. Saat satu meter dari pelindung Delisa, anak panah itu pecah menjadi tiga, lalu bergerak mencari celah yang ada.


Bomm!!!


Walaupun ketiga anak panah meledak, siapa pun akan tahu, bahwa pertarungan jauh dari kata selesai. Selendang Delisa masih berputar-putar di udara. Setelah percikan-percikan air menghilang, terlihat delisa menahan serangan Namila dengan segumpal api ungu yang di arahkannya ke depan.


Melihat ini, semua orang terkejut, tidak kecuali dengan para wali kelas. Pasalnya, api ungu merupakan Salah satu api terkuat yang pernah ada. Meski pun mereka tahu jika api ini di miliki oleh Carissa atau jendral kedua, tetap saja mereka terkejut melihatnya secara langsung.


“Dia memang anak jendral kedua, aku harus merasakan kekuatannya,” Gumam kai dengan kedua mata yang penuh dengan semangat.


“dengan api ini, dia sudah membuktikan dirinya sebagai putri Jendral Kedua.” Setelah mengatakan itu, klarika menggelengkan kepalanya, kasihan. “Sayang sekali, dia kini tidak mempunyai ibu lagi.” Tambahnya yang tidak tahu jendral kedua masih hidup.


Sementara itu, di tempat penonton simo mengamati api ungu di tangan Delisa sebelum berkata, “api ini sungguh menarik, aku harus mempelajarinya, siapa tahu ada hubungannya dengan api biruku.”


Kembali ke petarungan. Saat menyadari dirinya di lihat oleh namila, Delisa tersenyum. Sesaat kemudian melesat. Saat dekat dengan namila, dia langsung melemparkan selendangnya ke dua arah, kiri dan kanan.


Melihat ini, namila terkejut, dan langsung menghindar dan mulai melesat ke arah Delisa.


Melihat itu, Delisa langsung mengeluarkan beberapa bola api ungunya, lalu mengeluarkan pedangnya, Kemudian muncul di belakang namila tanpa selendangnya. Meski tanpa selendangnya, selendang itu tetap melayang seperti terbang.


Delisa langsung melemparkan bola ungunya, namun, serangannya berhasil di tahan oleh dinding air Namila. Walau begitu, namila harus membuat 3 lapis pertahanan untuk menahan serangan Delisa. Itu membuktikan bola api itu lebih kuat, dan secara praktis membuktikan namila lebih lemah dari Delisa.


Secara normal, seharusnya api itu akan padam setelah mengenai air, namun kemampuan api ini lebih kuat dan luar biasa, sehingga bukan hanya saja tidak padam, api itu juga membuat air menguap saat bersentuhan dengan air. Itu terbukti saat mengenai dinding Namila.


“kau akan kalah!” dengan kedua tangannya, Delisa mengayunkan pedangnya, membuat pertahanan namila hancur kemudian memilih melompat mundur untuk menghindar.


Nafas namila kini tersengal-sengal akibat menahan serangan Delisa. Dia tidak menyangka jarak kekuatannya begitu jauh.


“Kenapa? Apa kau lelah?” tanya Delisa lalu tersenyum menyeringai.


“Aku akan mengalahkanmu sekarang. Tolong beri aku perlawanan yang berarti.” Setelah mengatakan itu, Delisa tersenyum, memegang erat pedangnya, lalu muncul di belakang namila.


Namila sontak mengeluarkan pelindungnya lagi. Namun sayang, dia lengah, kedua tangan dan kakinya di lilit oleh selendang Delisa yang membuatnya tidak bisa bergerak.

__ADS_1


“Rasakan ini!”


Delisa mengayunkan pedangnya, membuat Namila terpental, menabrak lantai dengan keras, bahkan membuat cekungan di sana.


Melihat ini, praktis simo dan Talina berteriak, tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa.


Setelah kabut menghilang, namila terlihat terbatuk-batuk darah. Tubuhnya lecet-lecet.


‘Dia terlalu kuat.’ Batinya seraya melihat Delisa melayang seraya tersenyum puas. Selain terkejut karena itu, namila juga terkejut, melihat selendang Delisa kini terikat baik di pinggangnya.


‘namun sayang kau harus kalah.’ Batinya lagi, lalu tersenyum penuh kemenangan.


Melihat senyuman namila, Delisa merasakan pirasat buruk. Dan benar saja, tiba-tiba Delisa merasakan hatinya tertusuk jarum, kemudian roboh di tanah.


Melihat ini, semua orang terkejut dan heran apa yang sebenarnya terjadi.


Di tempat juri Klarika tersenyum, lalu berkata, “delisa, meski kau kuat, tapi kau melupakan semut bisa mengalahkan gajah sekali pun.”


“Apa yang terjadi?” Lirih Delisa seraya memegang dadanya yang sakit.


“kau sudah kalah!” ujar namila lalu berusaha berdiri, kemudian berjalan tertatih-tatih mendekati Delisa.


“saat kau menyerang pelindungku, aku memanfaatkannya untuk menggunakan teknikku. Kau terlalu percaya diri untuk mengalahkanku, sehingga kau tidak sadar sudah terkena teknikku. Jadi Sekarang, kau tidak akan bisa mengalahkanku sebelum kau bisa mengeluarkan air di dalam tubuhmu.”


Mendengar ini, Delisa terlihat tidak percaya dengan apa yang terjadi dengannya sekarang. Namun, semuanya sudah terbukti, Jantungnya sangat sakit, yang menyebabkannya tidak bisa bergerak. Dengan pasrah dia mengakui kekalahannya, namun sebelum itu ada seseorang berteriak di udara.


“beraninya Kalian melanjutkan ujian sampah ini tanpa mempedulikan anakku!”


Di udara theo berteriak keras. Suaranya bergema di lapangan, membuat orang-orang tanpa sadar menengadah, melihatnya.


Theo menyebarkan pandangannya ke sekitar. Saat melihat simo, dia langsung mengarahkan jarinya.


Melihat itu, simo terkejut. Namun sayang sekali, dia tidak bisa menghindari pedang panjang yang langsung muncul di atasnya, dan menahannya dengan tekanan yang tinggi.


Simo hanya bisa menahannya Seraya mengertakkan gigi. Kedua kakinya bergetar hebat, itu menunjukkan seberapa kuat serangan jendral Theo.


Namila yang melihatnya, langsung buru-buru ingin menyelamatkannya. Tapi sayang sekali, sebuah pedang terbang menabraknya dengan keras, membuatnya membentur tanah dan memuntahkan seteguk darah.

__ADS_1


Seraya kesakitan, Namila berusaha berdiri dan menyelamatkan simo. Dia tahu, simo pasti akan mati jika tidak di selamatkan. Perbedaan kekuatannya sangat jauh.


Klarika, Hendry dan kai tidak diam saja, mereka melesat menyelamatkan simo.


Klarika langsung mengeluarkan pedangnya dan menebaskannya ke arah pedang besar yang menahan simo. Tentu saja Theo tidak membiarkannya, dia mengeluarkan pedang terbang yang satunya lagi. Tapi keberuntungan berpihak kepada Klarika, Hendry memukul pedang yang mengarah Klarika dari samping dan kai menebaskan pedangnya dari kanan, membuat pedang itu hancur lebur.


“Terima kasih, Hendry, kai.”


Hendry mengangguk.


“Kau tidak perlu berterima kasih,” jawab kai tersenyum.


Klarika meraung lalu menebaskan pedangnya dengan keras, membuat pedang itu akhirnya hancur. Walau begitu, tenaganya sudah terkuras, sedangkan simo, dia akhirnya roboh karena tidak kuat menahannya.


Walau simo kuat, dia belum bisa di bandingkan dengan Theo. Kemampuannya sangat jauh di bawah. Dengan kelelahan simo memandang Theo yang kini terbang di depannya, dia tidak menyangka jendral Theo terlalu barbar menyerangnya tanpa pandang bulu.


“tuan, kenapa anda menyerangnya?” tanya Hendry kepada Theo yang terlihat tidak suka kepada tiga wali kelas menolong simo.


“kau tanyakan saja Kepadanya! Hari ini aku harus membunuhnya! Siapa pun yang menghalanginya akan ku bunuh!” Ujar Theo seraya mengeluarkan energi alam kecilnya Yang berlimpah.


Saat energinya di keluarkan, semua siswa langsung berlari ketakutan, kecuali beberapa siswa yang memiliki kekuatan yang cukup untuk menahannya.


“untuk apa anda ingin membunuhnya?”


“untuk apa!? Anakku mati kalian bertanya untuk apa? Dasar bodoh! Apa Kalian pura-pura tidak tahu anakku mati dengan menyedihkan, tanpa ada seorang pun dari pihak akademi meminta maaf akan hal itu?”


“tuan, untuk masalah itu, kami masih menyelidikinya,” ucap Hendy berusaha tenang.


“tidak! Tidak perlu menyelidikinya lagi! Aku sudah menemukan pembunuhnya, dia tidak lain adalah bocah itu. Dia harus mati sekarang!”


Saat mengatakan itu, Theo mengeluarkan lima bilah pedang besar di atas kepalanya. Lalu mengarahkannya ke arah simo yang kini di bantu oleh Namila.


Senyum penuh kemenangan terlihat di wajah Theo. Akhirnya dia bisa membalaskan kematian anaknya dan menyelesaikan semua keinginan Kaisar Galen.


“apa anda punya bukti?” ucap Hendry ingin mencegah Theo.


“Aku tidak memerlukan bukti, yang aku perlukan adalah membunuhnya!”

__ADS_1


saat hendak menyerang, tiba-tiba seseorang muncul di depannya.


“tuan Jendral, anda tanpa bukti menyerang salah satu siswa kami, bukankah itu di sebut kejahatan?”


__ADS_2