
Mereka semua mengeluarkan aura masing-masing. Amara berada di tingkat bumi tahap delapan, sementara Jerome berada di tingkat bumi tahap enam. Mereka berdua jelas dua orang yang sangat berbakat. Mereka sudah berada di kelas tiga saat ini, yang berarti kemampuan mereka sudah hebat.
Namun tentunya mereka masih kalah dengan para siswa akademi gunung salju.
Sementara simo mengeluarkan aura berada di tingkat bumi tahap empat. Dia menyimpan sebagian kekuatannya. Jika orang-orang mengetahui kekuatannya saat ini, mereka pasti akan terkejut. Tidak mungkin ada seseorang berada di tingkat alam semuda itu!
Meski begitu, semuanya tidak ada yang meremehkannya. Sebaliknya, mereka semakin penasaran apa saja yang akan di lakukan simo. Terutama kepala sekolah, dia memiliki beberapa dugaan besar mengenai kemampuan simo, dan juga tidak mungkin Dira membawa simo yang hanya biasa-biasa saja.
Dari telapak tangan kiri simo, keluar sebongkah api biru cerah. Dia langsung mengalirkannya ke dalam bilah pedangnya, seolah pedang itu di bakar oleh api biru itu.
Ketika semua orang melihat api biru itu, mereka semua terkejut dan terkagum-kagum melihatnya. Mereka mulai yakin, siswa dari akademi gunung salju ini bukan orang sembarangan.
Kekuatan api biru sangat kuat, dan merupakan salah satu elemen yang sangat kuat. Jika seseorang memilikinya, orang itu akan memiliki kekuatan yang lebih kuat dari pada elemen biasanya.
Kepala sekolah mengerutkan keningnya ketika melihat api biru cerah itu. Di dalam hatinya, dia berpikir : memang benar-benar kuat, aku tidak perlu merasa malu mengirimkan dua siswaku untuk bertarung dengannya. Meski pemuda ini tidak terlalu kuat, aku tidak bisa memastikan pihak mana yang akan menang.
Dira tersenyum bangga melihat anaknya. Dia tidak akan pernah menyangka anaknya akan mewariskan kemampuan elemen ayahnya. Meski ini tidak unik, kemampuan ayah simo sangat kuat, sehingga Dira lebih yakin, anaknya akan tubuh lebih kuat dari ayahnya.
Semua siswa dan para guru menajamkan pandangan. Mereka tidak mengalihkan sedetik pun fokusnya kepada hal-hal lainnya. Api biru adalah kekuatan yang kuat dan unik.
Amara juga sama dengan yang lainnya. Dia menajamkan pandangan, dan berpikir : aku sudah mengetahui kekuatanmu sedikit. Namun, aku tidak pernah menyangka kau memiliki kekuatan yang lain. Kau pemuda yang sangat menarik.
Pada saat Amara memikirkan ini, Jerome sudah melewatinya. Dia menjadi bersemangat setelah melihat kemampuan simo. Dia mengeluarkan dua pedang putih langsing. Ketika sudah berada di tangannya, kilatan-kilatan petir biru cerah menari-nari di bilahnya. Kemudian disusul suara-suara yang melengking.
Dia berseru, “aku mulai lebih dulu!”
Jerome melempar pedang di tangan kirinya. Pedang itu melesat dengan cepat seperti gangsing petir yang cerah. Ketika melewati sesuatu, semuanya akan terkena sengatan listrik. Tidak diragukan lagi, bahwa itu adalah serangan tunggal tipe area.
Suasana semakin tegang.
Simo tersenyum melihat pedang Jerome. Dia mengangkat tinggi pedang, kemudian mengayunkannya ke depan. Tepat pada saat bersamaan, muncul api berbentuk bulan sabit dari bilah pedangnya.
Ledakan!
__ADS_1
Suara nyaring pun terdengar.
Meski itu hanya api bulan sabit, api itu tetap berhasil mempertahankan bentuknya. Setelah ledakan, kilatan-kilatan petir terlihat di sekitarnya. Tidak dapat di pungkiri pedang Jerome mampu di tahan.
Jerome terkejut melihatnya. Dia tanpa sadar mengangkat kedua alisnya dan membesarkan pupil matanya. “ bagaimana mungkin! Itu... Itu... Sungguh aneh!”
Kejadian yang terjadi di depannya di luar dugaannya. Pedangnya tentu saja sudah di alirkan kekuatan petir yang tidak sedikit, sehingga sangat mustahil mampu di tahan oleh bentuk api seperti itu. Namun, kejadian di depannya sungguh membuatnya terkejut dan terheran-heran.
Selain dia, para guru dan kepala sekolah juga terkejut. Mereka tanpa sadar berseru setelah melihat kejadian itu. Kebisingan pun pecah setelahnya.
Meski mereka yakin api biru sangat kuat, mereka tidak pernah berpikir, hanya bentuk api bulan sabit saja bisa menahan serangan Jerome yang kuat.
Dira tersenyum. Dia sudah memprediksi kejadian ini. Anaknya sangat berbakat dan mempunyai kejutan-kejutan. Tetapi, dia belum puas melihat hal ini saja.
Sementara itu, rina tersenyum. Dia sudah menduga juga.
Naria di sampingnya berkata renyah, “Sudah aku duga, dia memiliki beberapa kejutan. Dia memang selalu membuatku kagum.”
“Apakah tuan putri selalu bersamanya?” tanya Rina.
“iya. Kami selalu bersama. Aku bertemu dengannya di akademi. Dia laki-laki yang aneh, selalu saja memakai pakaian kusut ketika bertemu.”
“Apakah kalian selalu bersama?” tanya Rina malu.
“iya. Saat di sore hari, kami selalu berlatih bersama.”
Rina tidak lanjut bertanya. Dia merasa iri dengan Naria yang selalu bersama simo.
Sementara mereka bercakap-cakap, simo muncul di belakang Jerome sangat cepat seperti bayangan. Dia tanpa berkata langsung mengayunkan pedangnya ke leher Jerome.
Jerome terkejut. Dia refleks mengayun pedangnya ke belakang.
Kilatan-kilatan petir terlihat intens ketika dua pedang mereka beradu. Meski simo berada di udara, dia yang menekan lawannya. Jerome merasa tangannya mati rasa ketika menghadang pedang simo. Kedua kakinya bergeser ke belakang perlahan-lahan. Dan keringat mulai bermunculan di tubuhnya. Dia kini terdesak dan kewalahan melawan serangan simo.
__ADS_1
Pada saat seperti itu akhirnya Amara berujar, “aku akan membantumu!”
Belum sempat simo menoleh, pilar cahaya keemasan muncul tepat di atasnya dan mencerahkan simo.
Cahaya itu sangat cerah dan menyilaukan, membuat simo kesulitan melihat. Dia juga tanpa sadar mengendorkan pertahanan. Dia bagaikan mandi dalam cahaya itu. Pilar itu juga terlihat sangat indah dari kejauhan.
Memanfaatkan itu, Jerome menarik pedang yang satunya lagi. Mengaliri petir dan berseru sambil mengayunkannya. “Kena kau!”
Namun tepat ketika menyentuh simo, dia hilang seketika, dan muncul 50 meter dari mereka berdua.
Simo mengusap-usap matanya. Dia kesulitan melihat. Walaupun cahaya itu sudah tidak mengenainya, dia masih tidak bisa melihat. Dia hanya bisa melihat cahaya kuning cerah. Selain itu, kedua matanya terasa sangat sakit.
Itu adalah efek dari elemen cahaya milik Amara dan merupakan kemampuan dasarnya.
“Jerome!” seru Amara sambil menoleh ke arahnya.
Jerome langsung mengerti. Dia mengangkat satu pedangnya. Tiba-tiba langit di penuhi awan-awan dan kilatan-kilatan petir. Pilar petir yang bercahaya biru cerah muncul di langit, dan langsung mendarat di ujung pedang Jerome.
Semua siswa dan para guru memandang langit, kemudian memandang ke arah Jerome. Mereka semua memfokuskan pandangannya pada Jerome.
“ini adalah salah satu teknik terkuat yang di miliki Jerome! Dia benar-benar ingin mengakhiri pertarungan dengan cepat!” salah satu siswa bergumam.
“Ini adalah momen yang langka!” tambah siswa laki-laki lainnya
“Ini sungguh benar-benar keberuntungan bagi kita semua bisa menyaksikannya di depan kepala kita sendiri!” gumam siswa perempuan yang terlihat gembira menyaksikannya.
Kepala sekolah tersenyum puas setelah melihat Dira memandang langit. Ini adalah sebuah kebanggaan bagi dirinya yang telah memiliki siswa berbakat.
Setelah beberapa detik berlalu, Jerome mengayunkan pedangnya ke arah simo
Empat pilar petir langsung muncul di langit lalu menerjang ke bawah tepat ke arah simo.
“Apakah kau bisa menerima ini?” Jerome tersenyum puas setelah menyaksikannya.
__ADS_1