
Matahari sudah tidak terlihat di ufuk barat. Langit Perlahan-lahan mulai menghitam dan menerbitkan ribuan cahaya bintang-bintang di langit. Berbagai binatang malam mulai menampakkan diri dan keluar. Mereka terlihat melompat -lompat, bersuara dan beterbangan menyambut malam hari dengan suka cita seperti yang biasanya mereka lakukan.
Di sebuah jalan sempit yang menjadi penghubung antara Padang rumput dan desa terlihat kakek namila sedang duduk di atas batang pohon yang sudah roboh karena usia, meski sudah roboh pohon itu masih tetap utuh dan kuat.
Pohon itu terlihat berlumut dan basah karena lembab, meskipun begitu dia terlihat seperti biasa-biasa saja seperti lumut dan lembab itu tidak mampu mengganggunya.
Tidak jauh darinya aoba terkulai lemas tidak sadarkan diri di atas batang pohon yang juga roboh karena usia, tetapi bedanya pohon itu bersih dan nyaman untuk di duduki.
Di tangan kakek namila terdapat secangkir teh. beberapa kali dia terlihat menggoyang-goyangkannya, meniup kemudian meminumnya.
Sesekali juga dia melirik aoba yang masih tidak sadarkan diri.
“apakah dia sudah mati!” ujar kakek namila yang sudah merasa bosan dan kesal dengan aoba yang dari tadi siang tidak sadar- sadarkan diri. Rasa kesal dan bosannya bukan tanpa alasan, dia sudah menyembuhkannya beberapa kali dan sudah lebih dari 10 kali dia mengecek tubuh aoba yang memang tidak ada yang salah.
Sepanjang hidupnya baru kali ini dia melihat ada seseorang yang tidak sadarkan diri sebegitu lamanya, apalagi dia yang menyembuhkannya bahkan jika orang itu putus kaki dan tangan serta jantungnya copot pun dia dengan mudah menyembuhkannya seperti sedia kala.
Kakek namila kemudian meneguk tehnya tanpa tersisa lalu melemparnya dengan kasar membuat cangkir itu hancur berkeping-keping lalu memutuskan pergi mencari binatang buas terdekat —mungkin dapat menghiburnya sebentar.
Dalam sekejam mata kakek namila menghilang tanpa jejak. Hanya desiran angin tipis terasa.
Tidak beberapa lama kakek namila pergi, pelipis aoba mulai mengeluarkan beberapa buih-buih keringat kemudian di susul oleh dahinya mengerut.
Seperempat detik kemudian dia terlihat menggerak-gerakan kepalanya ke kanan dan kiri dengan kencang seperti ada sesuatu yang tidak dia kehendaki.
seketika matanya terbuka dan terperanjat bangun. Seketika juga nafasnya tidak karuan seolah -olah dia sedang mengikuti lari sprint 100 meter.
Dia kemudian memandang sekitar dengan wajah kebingungan lalu menenangkan diri
Tidak beberapa lama Aoba lalu menarik nafas lega dan bersyukur karena masih hidup kemudian dengan kasar dia menyekat buih-buih keringat di pelipisnya.
ingatan buruk tentang mimpinya muncul dalam pikirnya, dalam mimpi itu dia melihat raka membunuh cucunya dengan sadis dan yang paling membuatnya tidak bisa melupakannya adalah saat dia tidak bisa menyelamatkan cucunya dan hanya bisa menyaksikan tragedi itu berlangsung.
“Aku harus cepat mencarinya.” Gumam aoba lalu mencari-cari pedangnya, tetapi dia tidak mendapatkan pedang di tubuhnya membuatnya teringat pedangnya terlepas saat pertarungannya dengan Raka.
Tanpa pedangnya aoba tetap ingin pergi dari sana. Dia tidak peduli apa yang terjadi saat tidak sadarkan diri begitu pun orang yang telah menyelamatkannya dari bahaya. yang ada dalam pikirannya sekarang hanya ada simo, cucunya serta yang menjadi murid satu satunya.
Saat sudah menginjakkan kaki beberapa langkah, dia merasa kakinya menyentuh sesuatu, merasa heran aoba memutuskan untuk menyentuh dan merabanya, dia merasakan ada dinding yang tidak terlihat menghalangi langkahnya.
Dia mengetahui bahwa itu adalah dinding pelindung yang mungkin di gunakan untuk menahannya. Aoba memutuskan untuk mengalirkan energi ke dalam dinding itu untuk mengukur apakah ada celah dan seberapa kuat dinding itu.
__ADS_1
Dan untung saja dia masih memiliki sisa energi untuk memeriksanya dan jumlah energi yang di miliki lebih dari cukup untuk memeriksanya.
Setelah memeriksanya dia memutuskan untuk tidak menghancurkannya karena dinding itu sangat kuat dan tidak memiliki celah sedikit pun.
Dari pengetahuannya dia mengetahui dinding itu sangat kuat dan mustahil bagi orang di sekitar yang membuatnya maka aoba memikirkan siapa sebenarnya yang membuat dinding itu dan mengira-ngira apakah orang itu yang telah menyelamatkannya
Sejenak memikirkannya dia dikejutkan oleh suara seseorang yang datang dari belakangnya yang berkata. “aku pikir kau sudah mati.”
Mendengar itu aoba langsung berbalik, di depannya kakek namila sudah membawa dua daging kelinci di bahu dan seikat kayu bakar.
Setelah berkata seperti itu kakek namila langsung menyusun kayu bakar tanpa memperhatikan aoba yang mulai mendekatinya.
Saat aoba sudah tiba didekat kakek namila, dia hanya diam memperhatikannya baginya tidak baik memulai pembicaraan dengan seorang yang sedang sibuk maka dia memutuskan untuk duduk di atas batang pohon terdekat.
Tidak beberapa lama akhirnya kakek namila menyelesaikan tugasnya bahkan dua daging kelinci tadi sudah ada di atas api dan tinggal menunggunya matang saja.
Saat kakek Namila duduk di batang pohon yang ada di dekatnya yang berseberangan dengan Aoba dengan cepat aoba memulai pembicaraan. “Terima kasih karena menolongku.” Ucap aoba dengan sopan.
“Aku cuma kebetulan menolongmu dan ucapan terima kasih mu sangat di sayangkan di berikan kepadaku.” Ucap kakek namila dengan datar.
“Maksudmu?” tanya aoba sambil mengerutkan kening dan sedikit melebarkan matanya.
“Kenapa bisa begitu?” tanya aoba. Sepanjang hidupnya dia mengetahui setiap daerah kekaisaran memiliki penjagaan yang ketat apalagi saat sekarang banyak sekali ahli bela diri yang siap untuk mempertahan negara mereka, sangat aneh jika para raksasa sudah bertindak sejauh itu.
“karena ada kelompok yang menginginkan kekaisaran hancur.” Ucap kakek namila dengan nada yang lebih serius dan berat.
Mendengar itu Aoba sedikit terkejut karena dia tidak menyangka ada kelompok seperti itu di jaman yang harusnya setiap manusia harus bersatu melawan kekejaman raksasa.
“kau tidak perlu terkejut dengan itu. Semuanya sudah terjadi dan mungkin akan terjadi lagi dan lagi.” Ucap kakek namila lalu membalik kedua kelinci panggangnya.
“kau sepertinya tidak pernah ke kekaisaran?” tanya kakek namila.
“Aku pernah menjabat menjadi guru di kekaisaran Tarakan dan sudah pensiun sejak 7 tahun yang lalu. Sekarang aku hidup bersama cucuku dan mempertahankan keamanan desa kecil yang ada di sekitar yang tidak ada ahli bela diri dan mungkin karena aku terlalu sibuk sehingga kekurangan informasi.” Jawab aoba dengan jujur.
“Dari yang aku lihat kenapa kau dan cucumu saja yang berjuang melawan para raksasa itu.”
“mereka tidak bisa bertarung.”
Kenapa kau tidak mengajari anak-anak di desa itu untuk berlatih bela diri?”
__ADS_1
“karena mereka tidak mau berlatih bela diri dengan berbagi alasan, kesibukan dan tuntutan orang tuanya. di desa itu sebelumnya sangat damai, penduduknya tidak ada yang keluar desa, mereka hanya diam di dalam, menunggu para pedagang yang ingin menjemput sayur-sayuran mereka untuk di bawa ke kota.
Aoba berhenti sejenak untuk menari nafas. “ orang-orang di sana sangat tidak memedulikan hal-hal yang ada di luar desanya, yang mereka pedulikan hanya nasib mereka sendiri oleh karena itulah mereka tidak ada yang menjadi ahli bela diri dan belajar pun tidak ada.”
Kakek namila membalik daging kelincinya kemudian berkata. “Desa yang aneh, tetapi sekarang mungkin mereka akan mulai berlatih bela diri.”
“mungkin saja. Ah maaf namaku aoba dan siapa namamu?”
“Panggil saja ketua, orang-orang menyebutku begitu.”
“Ketua?” ujar aoba yang merasa aneh dengan nama itu.
“kenapa, apa kau tidak suka?”
“tidak, tetapi aneh saja.”
“asal kau tahu jika bukan aku yang menyelamatkanku mungkin kau sudah di akhirat sekarang dan menangis sedih mati dengan tragis.” Kakek namila mengumpat tidak senang dengan reaksi aoba.
“baiklah, aku akan memanggilmu ketua dan apa maksudmu tidak layak menerima ucapan terima kasihku?” ujar aoba membelokkan percakapan, dia sadar jika membuat orang di depannya marah dia bisa hancur seketika dan hilang dari muka bumi ini.
“Aku menginginkan sesuatu dari mu.” Sekarang wajah kakek namila menjadi serius.
“Sesuatu?” ucap aoba sambil memikirkan apa yang akan di inginkan orang di depannya.
Melihat aoba yang sedang memikirkannya, Kakek namila langsung berkata. “cucumu!” Ujar kakek namila dengan suara lebih tinggi.
Mendengar itu aoba terkejut.
“aku menginginkan cucumu.” Jelas kakek namila.
“Ta...tapi dia adalah cucu serta murid satu-satunya yang aku miliki.”
Kakek namila membalik daging kelincinya kemudian berkata. “aku menginginkannya tapi bukan ingin mengadopsi ataupun mengangkatnya melainkan hanya ingin dia belajar di akademi bersama cucuku.”
Mendengar itu wajah aoba menjadi sedih, dia ingin sekali mengajari muridnya itu beberapa jurus yang menjadi kebanggaannya selama ini dan melihat apakah lebih hebat darinya atau hanya biasa- biasa saja.
...*****...
jangan lupa suka dan komentar nya ya. setiap komentar kalian akan sangat berguna untuk pengembangan author
__ADS_1