Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 37 butiran-butiran itu terbang


__ADS_3

Perlahan-lahan, tapi pasti, simo tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya lagi. Bahkan jantungnya terasa sangat sakit. Dalam keadaan seperti itu, simo tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain hanya bisa pasrah.


Dia terus berusaha untuk sadar, namun rasa sakitnya terlalu sakit untuknya.


“simo, cepat mendarat dan pulihkan tubuhmu,” ucap kaisar pedang dengan nada khawatir.


Simo mengangguk. Namun sebelum dia berhasil melakukannya, dia terjatuh tidak sadarkan diri.


Tubuhnya meluncur tanpa halangan dari langit. Dia sudah kehilangan kesadarannya. Namun, sebelum menyentuh tanah, sosok indah melesat dan menangkapnya.


Rambut biru peraknya melambai-lambai indah di langit. Alisnya sangat indah seolah terbentuk oleh ahli salon terkemuka. Bibirnya sangat manis, dan berwarna merah merona. Liontinnya berdenting ketika dia menangkap simo. Yang paling indah, adalah gaun biru putih yang sangat panjang dan berterbangan. Jika seseorang melihatnya sekarang, dia bagaikan bidadari.


Senyuman lembut terbentuk di sudut bibirnya, membawa seseorang terbenam dalam lembutnya air. Namun kedua matanya kosong seolah warna putih di matanya tidak berguna sama sekali.


“Dasar ceroboh! Mulai saat ini, kau harus pergi bersamaku. Tidak peduli entah itu penting atau tidak, kau harus bersamaku.” Naria sedikit marah melihat ini. Akibat teknik yang di gunakannya, membuat simo sampai seperti ini. Untungnya dia memiliki cara untuk menyembuhkannya.


Dia kemudian melayang dengan lembut ke tempat terdekat. Siapapun akan menganggapnya bisa terbang. Namun sebenarnya, dia berjalan di atas buih-buih air. Kelancaran gerakannya lah membuatnya seperti terbang.


Dia membaringkan tubuh Simo dengan lembut. Alisnya terangkat sambil memandang simo. Dia menghela nafas.


“Apakah kekuatanku cukup menyembuhkannya hari ini?”


Meski dia bisa melakukan, kekuatan yang di perlukannya sangat banyak dan menguras tenaga. Itulah sebabnya dia menjadi khawatir dengan keadaan simo.


Dalam renungannya kali ini, tiba-tiba terdengar suara gadis kecil.


“kakak! Aku bisa membantumu!” Safia mendekati simo dan Naria.


“baiklah, Azka, kau memang harus membantuku. Jika bukan karena kau, mungkin ini tidak akan terjadi.”


Meski Naria berkata seperti itu, Safia tidak marah, tapi dia membalas, “jangan panggil aku Azka, aku Safia, bukan Azka.”


Mendengar balasan itu, Naria tidak mengubah ekspresi sedikit pun. “Terserah diriku.”


Safia ikut membantu Naria.


*****

__ADS_1


Cahaya matahari sudah bersinar dari ufuk timur, membawa kehangatan bagi bumi yang tidak pernah tersentuh semalam itu.


Angin mulai bertiup. Burung-burung mulai bangun dan mencari makanan.


Di depan rumah yang tidak begitu besar, seorang gadis berdiri sambil membawa selendang merah di tangannya. Selendang sangat panjang, menyapu rumput-rumput hijau di bawahnya.


Rambut merahnya terurai bebas. Dia menggerakkan sedikit bibir ketika menatap rumah di depannya. Pandangan sedikit tajam dan sedikit dendam.


Dia sedikit mengangkat wajahnya. “Seharusnya ini tempatnya. Aku tidak mungkin salah lagi. Aku telah mencari jejak di seluruh ibu kota, dan semuanya salah. Tempat ini pasti benar. Dia pasti ada di dalam.” Dia menghirup udara di sekitar. “Benar, dia ada di dalam.”


Semenjak upacara di mulai, Delisa tidak terlalu tertarik dengan upacara yang menurutnya membosankan itu. Dia berniat untuk diam saja di kamar seharian itu. Namun hal itu ternyata lebih membosankan dari pada ikut dalam upacara. Dia lalu keluar dan sedikit menengok upacara itu. Dia kecewa karena orang-orang terlalu banyak dan sangat berisik.


Dia tanpa sengaja melihat sesuatu dari balkon. Sesuatu itu membuatnya tertarik. Sebuah kain melambai-lambai di sana. Dia tidak tahu siapa yang memilikinya, dan mengapa itu bisa berada di sana. Namun setelah dia mengamatinya lagi, dia mengenalnya. Kain itu berwarna biru, itu tidak lain adalah pakaian yang di pakai putri Dhiya kharya yang di lihatnya.


Tentu saja dia tidak langsung mengambil kesimpulan dengan cepat. Dia mendatanginya dan mengambilnya.


Dia meraba-rabanya. Tekstur kain itu memang mirip dengan kain putri Dhiya kharya. Dia mulai berargumen mungkin saja itu kain dari para tamu atau pelayan.


Karena ingin memastikannya, Delisa langsung mencari putri Dhiya kahrya di kamarnya, tapi dia tidak ada di sana, Delisa Langsung berkeliling istana mencarinya, tetapi tetap juga dia tidak menemukannya. Delisa tidak menyerah begitu saja, dia lalu mencari-cari dan bertanya-tanya.


Dia lalu mencium bau yang ada di kain itu. Karena dia dan putri Dhiya kahrya saling akrab, dia langsung mengenalinya. Kain itu tidak lain punya putri Dhiya kharya. Dia lalu bertanya-tanya apa yang terjadi dengannya.


Dia lalu mencium bau-bau dan mencarinya. Rasa khawatirnya membuatnya lupa akan keadaan orang-orang di istana. Dia pergi tanpa seorang pun yang tahu akan dirinya.


Oleh karena itulah, dia kini berada di tempat asing dengan bangunan tua berdiri di depannya.


Dia mengangkat tangannya, sebuah api ungu muncul. Dia langsung melemparnya. Pintu itu langsung hancur lebur, menciptakan suara yang nyaring.


Dia berjalan sambil memegang kain di tangannya. Setelah masuk, Delisa menoleh ke sana kemari, mengamati bangunan itu.


Dia terkejut dengan isi bangunan itu yang sangat rapi dan bersih, yang sangat berbeda dengan penampilan luarnya.


“ternyata ada tamu.”


Delisa mengangkat wajahnya, dia memandang sosok bayangan di atas balkon.


“Siapa kau!?” Delisa mempersiapkan senjatanya.

__ADS_1


“Aku yang harusnya bertanya seperti itu, bukan? Nona..., Kau sudah masuk tanpa ijin dan telah merusak pintuku, apa yang akan kau lakukan untuk membayarnya?”


“Orang yang telah menculik memangnya pantas untuk di beri kompensasi?”


“cepat kembalikan gadis itu kepadaku! Jika tidak, aku akan menghancurkan bangunan ini!”


Meski di ancam seperti itu, sosok yang berdiri di sana tidak terpengaruh sedikit pun. “Mulutmu memang pedas. Apa kau mempunyai kekuatan untuk melakukannya?”


“Kau terlalu meremehkanku,” Delisa memutar selendang menyebabkannya berputar-putar di udara seperti baling-baling, memberikan perasaan yang indah ketika menatapnya. Selendangnya berputar-putar lebih cepat seiring waktu, membuat hempasan angin di sekitarnya tambah lebih kencang; membuat baju yang dia kenakan melambai-lambai dan mengepak.


“Heh, kau terlalu meremehkanku, jadi, terima ini!” Delisa melempar selendangnya ke atas, tempat di mana bayangan itu berada.


Selendang yang indah nan ramping itu melesat cepat. Ketika mencapai batasnya, akan terdengar suara hentakkan keras dan melengking. Namun sosok itu sudah tidak ada di sana. Dia seperti bayangan hantu yang dengan cepat menghilang.


Delisa menarik kembali selendangnya, kemudian memutar kembali.


“Bahkan dalam keadaan tidak menyerang, kau tidak bisa menyerangku, bagaimana kau akan membawa gadis itu? Apakah yang kau maksud adalah gadis kecil berawalan huruf D itu?” suara sosok itu terdengar di segala arah.


Delisa tidak bisa menentukan di mana sumbernya. Suaranya seperti berada di mana-mana dan menggema. Dalam hal seperti itu, dia hanya bisa mengamati segala arah yang ada. Kedua matanya bergerak dan tidak berkedip sekali pun.


“Entah siapa yang kau maksud, aku tidak peduli. Yang terpenting bagiku, kau harus mengembalikan gadis itu. Entah dia adalah orang yang aku cari atau bukan, kau tidak berhak mengambilnya.”


“Apakah kau bisa mengambilnya?”


“Kau terlalu meremehkanku. Sudah aku bilang, jika kau tidak mengembalikannya, aku akan menghancurkan rumah ini.”


“Apakah rumah ini berharga bagiku?”


“Kenapa kau menanyakan itu kepadaku? Jawabnya ada di dalam dirimu.”


“kau benar.”


Perlahan-lahan muncul sekali lagi, bayangan di balkon. Delisa langsung menyerang dengan selendangnya lagi.


sosok itu diam kali ini, tapi ketika selendang itu mendekatinya, tiba-tiba selendang itu berhenti. Butiran-butiran warna merah di selendang itu terangkat seperti pasir yang berwarna. Itu sangat indah ketika di lihat.


Delisa sedikit mengangkat wajahnya. Dia terkejut dengan kemunculan butiran-butiran itu, dan dapat menghentikan serangannya.

__ADS_1


__ADS_2