
Wuss bomm!!!
Dari telunjuk Amelia muncul segumpal angin merah lalu melesat mengarah simo. Meski hanya segumpal, itu membuat simo bergerak beberapa meter dari tempat awalnya. Bahkan menyebabkan kerusakan yang besar pada tanah.
Walau begitu ekspresi percaya diri di wajah simo tidak kurang sedikit pun, tapi malahan megedebu-debu.
“jauzan jika ada celah usahakan untuk menyerangnya.”
Setelah mengatakan itu, simo melesat menyerang Amelia berbagai ayunan. Berbagai teknik simo keluarkan untuk menyerangnya, tapi tidak satu pun serangannya mengenai Amelia.
Simo sudah mengetahui Amelia bukalah orang biasa, juga bukan siswa akademi. Oleh karena itu simo terus meluncurkan serangannya dengan cepat, tapi sebisa mungkin untuk menghemat tenaganya. Selain itu, dari perkiraan simo, Amelia mungkin sudah berada di tingkat alam tahap 5 dan sebentar lagi akan menerobos tahap selanjutnya, jadi dia juga harus bersikap waspada untuk berbagai teknik kuat yang mungkin akan di gunakannya.
Jauzan tidak diam saja, dia mengeluarkan busur, panah airnya dan sebisa mungkin memanah Amelia, tapi sekarang Amelia bukalah lawannya, walau dua lawan satu itu tidak berpengaruh kepadanya. Setiap kali jauzan melesatkan panah, setiap kali juga Amelia bisa menghindarinya.
Pertarungan simo dan Amelia berjalan beberapa menit hingga simo kelelahan dan memilih mundur, jauzan ingin maju, tapi di tahan oleh simo.
Simo sudah kehabisan tenaga fisiknya, tapi energi alam kecilnya masih melimpah, sedangkan Amelia masih terlihat segar bugar, walau keringat sudah mulai keluar dari pelipisnya.
“sekarang saatnya.” Gumam Amelia yang nyaris tidak terdengar.
Amelia mengarahkan telapak tangannya tepat ke arah simo. Tidak beberapa lama ekspresi terkejut menghiasi wajahnya.
“bagaimana bisa?” batinnya.
“kau pasti ingin mengendalikanku kan, tapi maaf, aku sudah mengeluarkan semua racun itu, jadi jika ingin mengendalikanku kau harus mengalahkanku atau menggunakan racun itu sekali lagi, tapi sayangnya itu tidak akan terjadi.”
Pedang simo tiba-tiba mengeluarkan aura putih bercampur biru. Aura itu membuat tanaman sekitar menjadi layu seketika. Bahkan jauzan tidak jauh merasakan aura panas dan tekanan yang kuat.
Aura itu mirip dengan aura pedang yang di keluarkan oleh pedang Sakya hanya saja ada tambahan warna biru.
Ekspresi Amelia menjadi lebih serius setelah melihat aura itu. Dia lalu mengeluarkan pedangnya.
“Maaf ya, Walaupun aku mungkin kalah darimu, tapi kau harus membayar harga yang mahal untuk itu.”
simo melesat dan mengayunkan pedangnya dengan keras.
Bomm!
Tabrakan energi pun terjadi. Langit di penuhi aura putih, biru dan merah dari kedua bilah pedang itu. Pohon-pohon bergoyang keras. Setelah itu, di lanjutkan dengan pertarungan pedang kilat.
Jauzan ingin membantu, tapi melihat kecepatan mereka kian meningkat membuatnya memilih diam dan mengamati saja. Bukannya Dia tidak bisa maju, tapi dia takut itu akan mengangguk pertarungan simo.
Di langit dua bayangan saling berbenturan dan saling memojokkan. 3 menit kemudian simo melompat ke belakang.
__ADS_1
Keringat mengalir deras. Nafasnya terburu-buru. Melawan seseorang yang berada di tingkat yang lebih tinggi bukalah pilihan yang bijak, tapi menyerah dan lari juga bukan pilihan yang baik. Simo tidak menyangka pasokan energi yang di miliki musuhnya sangat melimpah. Bahkan sekarang pun Amelia masih terlihat bugar, padahal kecepatannya itu pasti memakan tenaga yang begitu banyak.
Jika bukan karena simo berlatih teknik pedang, mungkin saja dirinya dapat di kalahkan dengan mudah. Meski dia pernah melawan kenzo yang setingkat lebih bawah dari Amelia, kekuatan itu tidak sekuat ini.
“Maaf ya bocah, meski kau memiliki kekuatan yang hebat, tapi di hadapanku kau tidak lebih hanya bocah ingusan.”
Amelia mengarahkan pedangnya tepat mengarah simo.
“Sebenarnya aku ingin membawamu dengan utuh, tapi sepertinya aku tidak bisa melakukan. Maaf ya.”
Amelia menebaskannya pedangnya yang seketika muncul tebasan angin merah.
Simo sudah bersiap-siap untuk menghindari, tapi sebuah dinding air melindunginya.
“Maaf Amelia kau sepertinya melupakan diriku.” Ucap Jauzan Seraya mendekati simo.
“eh, kau tidak akan bisa menghalangiku.” Ucap Amelia seraya tersenyum meremehkan.
“kita lihat saja. Simo tolong kerja samanya.”
Simo mengangguk
Setelah itu jauzan dan simo melesat menyerang Amelia dari segala sisi. Simo mengeluarkan bola-bola api, tebasan api dan sesekali menggunakan pedangnya. Walau kekuatan pedang simo lebih kuat, dia tidak bisa menggunakannya dengan sembarang, sebab masih memiliki batas waktu untuk mengendalikannya.
Menurut saran kaisar pedang, pedangnya hanya bisa di gunakan 1 jam saja setiap hari, tidak lebih.
Pertarungan tidak begitu lama terjadi, karena perbedaan kekuatan yang jauh. Simo dan Jauzan terlempar menjauh. Keduanya hampir kehabisan energi.
Simo heran sekaligus bingung, bagaimana bisa Amelia masih segar, padahal semua kekuatannya sudah di keluarkan dan begitu pun jauzan. Oleh karena itu dia berpendapat mungkinkah ini adalah kekuatan tingkat alam yang sebenarnya.
“selamat tinggal kalian berdua.”
Amelia mengangkat tangannya dan muncul angin berbentuk gangsing merah besar. Gangsing itu berputar-putar dengan kecepatan yang tinggi, kemudian melemparkannya.
Simo dan Jauzan ingin menghindari, tapi seperti ada lumpur hisap yang membuatnya tidak bisa menghindar ataupun berlari. Simo dan jauzan memutuskan untuk menyerang angin itu. Simo dengan bola apinya sedangkan jauzan dengan panah airnya.
Namun serangan mereka menghilang sebelum bertabrakan dengan angin itu yang membuat mereka terkejut.
Tanpa membuang waktu simo menghempaskan tubuhnya jauzan ke belakang, karena dia tidak ingin dirinya terluka. Walau sulit dia berhasil melakukannya.
“apa yang kau laku...”
Bomm!
__ADS_1
Sebelum jauzan menyelesaikan kata-katanya, gangsing itu menabrak tanah tepat berdirinya simo. Gangsing itu berputar sebelum akhirnya meledak.
“Ah, kenapa aku tidak menggunakannya saja dari tadi.”
Amelia menarik nafas kesal, karena lupa menggunakan teknik terkuatnya.
Setelah ledakan dan asap berakhir, Amelia terkejut melihat simo masih bisa berdiri di tengah lubang yang besar. Di sekujur tubuhnya sudah terluka, bajunya robek.
“bagaimana bisa?” gumam Amelia di dalam hatinya.
Sementara jauzan tergeletak tidak sadarkan diri. Tubuhnya di penuhi luka-luka, pakaiannya robek-robek.
“Maaf kau mungkin harus menggunakan teknik yang lebih kuat.” Ujar simo memandang tajam ke arah Amelia.
“aku pastikan kau akan menyesal bocah!”
Amelia mengangkat pedangnya ke atas dengan kedua tangannya.
“terima ini bocah!”
Amelia mengayunkan pedangnya dengan keras.
“Kaisar pedang, apa kau bisa menghalanginya?” tanya simo dalam hati.
“maaf sekarang aku tidak bisa. Kau harus melawannya sendirian.” Jawab kaisar pedang dengan nada lemah.
Mendengar itu, simo terkejut. Tentu saja jika dirinya menghalangi serangan Amelia sendirian tidak akan mungkin bisa di lakukan. Apalagi tebasan itu memiliki tekanan yang kuat. Jika sebelumnya dia bisa bertahan, karena bantuan dari kaisar pedang, sekarang dia harus sekuat tenaga untuk melawannya.
Tanpa membuang waktu simo menggapai tubuh jauzan lalu pergi dan untung saja tidak ada lagi lumpur hisap yang menghalanginya.
“tidak semudah itu untuk kabur.”
Sekejam mata Amelia muncul di depan simo. Dengan refleks simo mengayunkan pedangnya, tapi hanya dengan telunjuknya saja Amelia berhasil menghentikan pedangnya dan menendang simo dengan keras.
Bomm!!
Simo terlempar ke tanah dan membuat lubang besar.
“aku pikir kau memiliki kekuatan yang lebih kuat, tapi ternyata hanya sampai di sini saja. Ah, jika saja kau menyerah, kau pasti tidak akan babak belur seperti itu.” Ujar Amelia melayang seraya melihat Simo batuk-batuk dan memuntahkan seteguk darah segar.
“terima ini.”
Amelia melemparkan tebasan pedangnya lagi.
__ADS_1
“Apakah sudah berakhir.” Batin simo seraya melihat tebasan seperti bulan sabit mendekatinya. Dia sudah kehabisan tenaga fisik ataupun energi alam kecil, sekarang dia hanya bisa pasrah seraya mengumpat dalam hati. Kenapa kekuatan aneh itu tidak muncul di saat seperti ini
bomm!!