Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 44 mulut tajam


__ADS_3

“Ada hubungan apa di antara mereka?” gumam Rina dari kejauhan menatap adegan itu. Dia tanpa sengaja melihatnya ketika ingin menghibur simo yang sedang dalam keadaan tidak baik.


Mula-mula, dia ingin menanyakan apa membuatnya seperti itu, dan ingin membantunya. Namun, ketika dia tiba, dia tanpa sengaja melihat adegan berpelukan itu.


Kedua bibirnya bergetar, yang di ikuti kedua matanya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Sebuah penyakit mengganggu muncul. Dan kebencian tidak dapat di hindari ketika melihat kejadian itu. Dia cemburu, sangat cemburu. Air matanya mulai menetes dan mulai terdengar isak tangisan.


‘Tidak! Dia miliku. Sejak kecil aku dan simo saling mengenal, dia harus menjadi miliku, bukan orang lain. Aku sangat menyukainya. Tidak ada orang lain yang memilikinya selain diriku. Dia harus pergi dan meninggalkan simo!’ dalam kebakaran api cemburu, rina berjalan menjauh. Gadis itu tidak peduli apa yang di tatap para pelayan ketika dia berjalan. Hatinya sudah sangat sakit.


Dia sudah berjuang dari hutan untuk mencari simo, dan ingin hidup bersamanya. Dia sudah mengorbankan berbagai macam hal untuk menemukannya, harusnya simo menjadi miliknya.


Apakah semua yang dia lakukan akan sia-sia? Tidak mungkin! Dia sudah berjuang, perjuangan harus mencapai sesuatu. Dan dia hanya perlu bekerja lebih keras dari sebelumnya. Usahanya tidak akan sia-sia!


Bahkan dia sudah menjadi manusia, seharusnya tinggal beberapa langkah lagi untuk mendapatkan keinginannya. Dia hanya perlu bertarung dengan seorang tuan putri. Walaupun kecantikannya, tidak bisa di pandang remeh, namun seorang tuan putri itu juga tidak kalah cantiknya. Sikapnya juga tampak lembut dan ceria. Dia harus lebih ceria dan lebih lembut darinya, maka, dengan itu semua, dia pasti akan mendapatkan dan memenangkan simo.


Rina mengusap air matanya sambil terus berjalan keluar. Dia sedikit menunduk. Pikirannya di penuhi bayang-bayang itu. Setiap kali mengingatnya, hatinya menjadi sangat sakit, dan dia mulai menangis.


“Ada apa denganmu? Bukankah kau adalah teman dari anak muda yang ingin menemui tunanganku itu?”


Rina mengangkat wajahnya. Baru dia mengetahui, dia sudah berada di taman dan menuju tempat duduk kosong. Sebelum menjawab, dia menatap ke segala arah. Ini adalah momen yang pas untuknya, tidak ada siapapun di sekitarnya, hanya ada air terjun yang bersuara bergemericik.

__ADS_1


“Kalau iya, apa yang kau lakukan?” Rina mengusap air matanya dan mengubah ekspresi menjadi lebih tajam dan galak. Walaupun sudah melakukannya, dia tidak bisa menghilangkan kedua matanya memerah akibat menangis sebelumnya. Namun sepertinya pangeran matahari terbit tidak mempedulikannya.


“Tidak ada. Hanya saja, suruh temanmu untuk tidak mengganggu tunanganku. Dia bukan siapa-siapa baginya, harap tahu posisi jika ingin menemuinya.” Ekspresi penuh kesombongan terlihat jelas di wajah pangeran dari kerajaan matahari terbit itu. Dia menyilangkan kedua tangan, dan dengan acuh tak acuh berkata seperti itu.


Rina tidak mudah di bungkam seperti itu. Kesempatan ini adalah hal yang langka dan sangat tepat untuknya. Dia tentu tidak akan membuangnya secara percuma-cuma. Dengan melatih dan mengasah pedang lidahnya setelah bertahun-tahun dan mendapatkan beberapa informasi penting sebelumnya, dia cukup mempunyai keberanian untuk beradu argumentasi dengan pangeran di depannya.


“Kau bilang dia tidak tahu posisi? Memangnya siapa Anda? Anda adalah pangeran yang berasal dari kerajaan matahari terbit. Anda yang tahu posisi di sini! Dia adalah tamu kehormatan di kerajaan ini. Apalagi, dia sudah melindungi tuan putri Dhiya kharya sepanjang kepulangannya. Sedangkan anda, Hanya tamu yang tidak di undang. Aku tahu yang di undang itu adalah tuan putri Naria, bukan anda. Jika aku katakan lebih jelek lagi, andalah yang tidak tahu posisi di sini!”


Ekspresi pangeran matahari terbit menjadi lebih jelek ketika mendengar mulut tajam rina. Dia tidak pernah menyangka selain cantik ternyata gadis di depannya memiliki lidah yang sangat tajam. Dia tidak akan menanyakan dari mana dia mendapatkan informasi itu, yang lebih penting dia lakukan akan membungkam mulutnya, atau jika ingin lebih jauh, menjahitnya hingga tidak bisa berbicara lagi.


Kedua alisnya terajut setelah mendengar kata-kata ‘tamu tidak di undang’ ekspresi lebih pucat dan mengertakkan giginya.


“Apakah anda tidak malu jika masuk ke!...”


“Cukup!”


Ketika mendengar itu, Rina menghentikan kata-katanya. Dia cukup senang karena telah membuat orang di depannya terpancing. Andai ada orang lain di sekelilingnya, akan lebih baik lagi dan meriah suasana malam ini.


“cukup! Aku adalah pangeran dari kerajaan matahari terbit. Dan putri Naria adalah tunanganku. Jika dia di undang, maka aku pun juga ikut di undang. Kami akan menjadi sepasang suami istri. Untuk kedepannya, urusanku adalah urusannya juga, dan sebaliknya. Tolong jaga mulutmu itu baik-baik. Aku bisa saja menghancurkan mulutmu berkeping-keping jika aku mau.”

__ADS_1


“Benarkah demikian? Aku rasa tidak. Meski kalian sudah melakukan pertunangan, dan direstui oleh kedua orang tua kalian, kalian belum tentu akan berakhir di pernikahan! Siapapun tidak akan tahu, apa yang terjadi kedepannya. Aku rasa anda adalah pangeran yang bertindak seolah tuan putri Naria sudah menikah dengan anda. Pangeran, aku katakan, jangan terlalu jauh berpikir, nanti anda akan kecewa sendiri.”


Mendengar itu, wajah pangeran menjadi lebih kecewa, dan kemarahan meledak-ledak di hatinya.


Rina tersenyum jahat dan berjalan melintasi pangeran yang di permalukan itu. Dia berjalan dengan sedikit mengangkat wajahnya, sebagai simbol kemenangan. Namun, Ketika dia berjalan, tiba-tiba sesuatu menariknya, memegangnya dengan erat.


“Siapa namamu? Aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah kau katakan. Cepat katakan!” pangeran itu menarik tangan rina dan mendekati wajahnya.


Namun, Rina tidak gentar sedikit pun. Dia dengan berani menjawab, “pangeran aneh! Aku adalah orang rendahan, dan tidak punya kekuasaan, yang sebagai tamu di sini. Anda juga sebelumnya berkata, temanku adalah orang rendahan, itu juga mengacu kepadaku juga. Orang rendahan tidak layak di sandingkan dengan seorang pangeran bukan? Untuk apa anda ingin mengetahui namaku yang rendah ini, Apa anda ingin menelan kata-kata anda kembali? Anda sungguh orang yang lucu!”


Rina menarik tangannya dengan kasar kemudian pergi.


Pangeran matahari terbit memandang ke arah Rina. Wajahnya di penuhi kemarahan. Jika di depannya bukan seorang wanita, dia pasti akan memukulnya dan membuatnya babak belur.


“Jika kau tidak bisa ku hancurkan, maka aku akan menghancurkan temanmu itu!”


Setelah mengatakan itu, pangeran matahari terbit pergi.


Dia akan berencana menantang simo, dan membuatnya di permalukan. Hal ini cukup mudah di lakukan, mengingat dia adalah seorang pangeran. Dia akan mencari orang terkuat di ibu kota dan menantang simo. Apa pun yang akan terjadi, simo tidak akan menolaknya. Jika dia menolaknya, maka bersiaplah dia akan di permalukan.

__ADS_1


__ADS_2