
Saat membuka mata, langit-langit ruangan berwarna coklat menyambut pandangan simo. Dia kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri serta melihat ada seseorang yang tidur di atas perutnya seraya memegang tangannya.
Simo dapat merasakan, jika tangan orang yang memegangnya lembut dam hangat. Entah mengapa dia merasa sangat nyaman saat tangan orang itu menyentuhnya.
Simo kemudian bangun. Dia memperhatikan seseorang yang tidur di pangkuannya.
“bukankah, dia...” Simo tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, karena kepalanya terasa sakit yang membuatnya seketika berbaring seraya memegang kepalnya yang sakit.
“Huh, aku tidak menyangka hal itu terjadi lagi.”. Gumam simo seraya melihat-lihat langit ruangan setelah rasa sakit di kepala sudah mereda. Dia tidak menyangka jika hal yang selalu ingin dihindari kembali terjadi. Hal-hal yang di maksud adalah kehilangan kendali atas tubuh dan pikirannya. Saat hal itu terjadi, dia akan pergi ke sebuah tempat yang di kelilingi aura hitam yang masuk ke dalam tubuhnya dan pada saat itu, dia tidak bisa menghentikan ataupun kembali ke tempat asalnya.
“Apa kau sudah sadar?” tanya jauzan seraya mengusap-usap matanya dan merentangkan tangannya ke atas. Pada saat itu, simo dapat mengetahui jika orang yang tidur di atas perutnya adalah jauzan.
Simo mengangguk.
“apa masih terasa sakit?”
“Tidak, aku sudah lebih baik.”
Simo perlahan-lahan bangun, karena kepalanya yang sakit sudah lebih baik. Saat hendak bangun, sebuah pedang air mengarah ke lehernya, seperti hendak menebasnya dengan kecepatan tinggi.
“Apa yang kau lakukan?” tanya simo.
“Aku sarankan kau berbaring atau pedang ini akan menusuk lehermu.” Kata jauzan dengan nada dingin dan tatapan kematian yang membuat simo sedikit takut.
“Tenang saja, aku sudah lebih baik.” Kata simo.
“Tidak! Aku tidak akan membiarkannya!” tegas jauzan seperti sangat ingin simo berbaring.
“baiklah.” Jawab simo setelah melihat tatapan jauzan yang sepertinya tidak memberikannya bangun. Apalagi tidak ada ruginya jika dia berbaring.
Setelah Melihat simo berbaring, jauzan tersenyum manis, kemudian pergi mengambil segelas air di samping jendela yang sudah dia sediakan.
“minum ini.” Ucap jauzan seraya menyerahkan segala air itu kepada simo. Simo mengambilnya lalu bangun dan meminumnya. Dia dapat merasakan segarnya air setelah beberapa jam bertarung tanpa istirahat.
“siapa kau?” tanya simo setelah menyerahkan kembali gelas itu. Dia penasaran dengan jauzan yang seperti sangat mengenalnya, padahal dia baru bertemu dengannya dan itu baru sehari.
“bukankah kau sudah mengetahuinya.” Jawab jauzan seraya kembali meletakan gelas.
“Bukan itu maksudku, tapi mengapa kau menolong ku?”
Jauzan berjalan keluar. Saat tiba di pintu dia menghentikan langkahnya, seperti ada yang dia lupakan. “suatu saat nanti kau akan mengetahuinya.” Kata jauzan lalu pergi.
__ADS_1
...****...
Di sebuah ruangan terlihat dua orang laki-laki sedang duduk menghadap seorang perempuan cantik. Dua laki-laki itu, memperlihatkan ekspresi rasa penasaran yang tinggi sedangkan perempuan itu terlihat merasa jengkel dengan tatapan itu.
“Huh, sudah aku bilang kan, tidak ada yang terjadi.”
“kami tidak mempercayainya.” Tegas salah satu laki-laki itu yang tidak lain adalah kai. Dia ingin menyelidiki apa yang terjadi di tempat latihan. Meskipun Klarika sudah menjawabnya, dia tetap ingin mendapatkan jawaban yang tepat. Apalagi setelah dia menanyai semua siswa kelas C yang sebelumnya mengatakan rumor tentang siswa yang memiliki kekuatan luar bisa itu, seperti hilang ingatan dan seperti ada sesuatu yang membuatnya begitu, entah sengaja ataupun tidak.
“apa yang kalian inginkan?” tanya klarika dengan alis merajut dan urat-urat di kepala sedikit menonjol. Baginya itu sudah keterlaluan. Menanyakan hal yang sudah dia jawab Sebelumnya.
“kami ingin mengetahui apa yang terjadi di tempat latihan.” Ucap kai dengan tegas dan Hendry mengangguk membenarkan.
Mendengar itu, klarika menghela nafas kesal. “bukankah aku sudah bilang tidak ada hal yang terjadi!” ujar kalrika seraya memukul meja dan mengeluarkan energi di sekitarnya.
“kau berbohong!” ujar kai ikut mengeluarkan energinya untuk menekan energi yang di pancarkan tubuh Klarika.
“dasar berengsek! Laki-laki tidak berguna!” ujar Klarika seraya mengeluarkannya energi yang lebih besar. Kalrika lalu pergi tanpa memberikan jawaban kepada kai dan Hendry.
Kai ingin mengejarnya, tapi Hendry segera menghentikannya. “kita tidak bisa menggali informasi darinya. Kita tanyakan saja pada tetua hoshi, mungkin dia mengetahuinya.” Saran Hendry.
“Bagaimana caranya?”
Kai menghela nafas kesal lalu mengangguk. “aku serahkan padamu.”
Hendry mengangguk
...****...
apakah dia menyukai ku? Batin simo seraya berjalan. Di dalam pikirannya, dia membayangkan bagaimana jauzan memperlakukannya seperti anak kecil berumur 6 tahun yang selalu menjaga dan memperlihatkannya. Padahal dia sudah besar dan tidak perlu di perlakukan seperti itu.
Ah, sudahlah. Batin simo seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana jadinya jika jauzan benar-benar menyukainya? Akan jadi masalah jika itu memang benar.
Tidak beberapa lama, simo berbalik menuju gang. Dari kejauhan simo dapat melihat sepasang adik dan kak menunggunya, yang tidak lain ivander bersama adiknya kenzo.
“Apa yang kalian inginkan? Jika ingin bertarung, maaf aku tidak bisa.” Ucap simo saat sudah di depan mereka.
Di antara mereka berdua tidak ada yang menjawab, tapi ivander dengan kasar menghempaskan kenzo ke depan, membuatnya berlutut di hadapan simo.
“apa yang kakak lakukan?” tanya kenzo.
“Minta maaf.”
__ADS_1
Mendengar itu, simo sedikit terkejut. Dia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari ivander yang merupakan musuh lamanya.
“tapi...”
“Aku bilang minta maaf!” pekik ivander dengan tatapan marah.
“Simo aku minta maaf.” Kata kenzo dengan cepat seraya menyentuhkan kepalanya ke tanah beberapa kali.
“Baiklah.” Ucap simo dengan nada pasrah, karena tidak ada kata-kata lain yang layak baginya. Simo lalu pergi dari sana.
“Kak apa yang kau lakukan?” tanya kenzo ketika simo sudah menjauh.
“Jangan cari masalah dengannya. Kita tidak tahu apa yang dia sembunyikan. Sebelum kak juga pernah bertarung dengannya, seperti ada kekuatan lain di tubuhnya. Tersembunyi begitu dalam. Apa kau juga merasakannya?”
“tidak, tapi saat aku bertarung dengannya, aku melihat ada energi aneh yang di keluarkan. Apa itu yang kak maksud?”
“mungkin dam juga aku ingin berdamai dengannya. Setelah kau memperlihatkan kekuatan mu yang sebenarnya akan menjadi masalah jika ada orang lain yang mengetahuinya. Sebelum itu terjadi, kakak ingin mengajaknya untuk merahasiakan identitas mu yang sebenarnya.”
“apa kau mengerti?” tanya ivander yang di jawab anggukan oleh kenzo.
...****...
Di sore hari, simo memutuskan untuk mengunjungi pohon sakura yang ada di atas bukit dekat kota gunung salju. Selain itu, dia juga ingin melatih ilmu berpedangnya. Meski dia sudah mahir dalam menggunakan berbagai teknik pedang, dia mengerti sebagai manusia yang mudah lupa akan semua ilmu yang di pelajarinya, oleh karena itulah, simo terus berlatih, meski sudah mahir.
Saat di perjalanan, simo selalu di sapa oleh para petani yang pulang dari kerjanya. Meski para petani itu kelihatan kelelahan dan dekil, mereka selalu menyapa simo. Bahkan sesekali salah satu petani akan berbincang-bincang dengan simo.
Cahaya matahari sudah berwarna kuning tua dan menyisakan cahaya yang seperti mata tuhan yang bersinar saat simo sudah tiba di dekat pohon sakura, Tapi bukan cahaya ataupun matahari yang membuatnya tertegun atau kagum sekarang, melainkan sosok gadis tengah berdiri di ujung tebing seraya melihat ke arah cahaya matahari itu. Gadis itu memiliki wajah yang cantik, kulit yang putih, rambut hitam panjang dan memakai gaun berwarna biru panjang yang bergelombang-gelombang di tiup oleh angin.
Tidak beberapa lama simo tertegun, dia kembali mendapatkan pikirannya. Simo memutuskan untuk mendekati gadis itu, terapi saat hendak melangkah, gadis itu berjalan mendekatinya, membuat dirinya tersipu malu. Jantungnya berdetak lebih kencang seraya gadis itu mendekat. Seperti pendeteksi logam yang semakin bersuara di kala logam di dekatnya.
“Aku sudah lama menunggu mu.” Kata gadis itu dengan lembut seperti air yang tenang dan angin lembut.
“hey, apa kau mendengarkan ku?” tanya lagi setelah beberapa saat simo tidak menjawabnya.
“ah, iya, iya.” Simo tersetak kaget.
Melihat itu, gadis itu tertawa kecil. “ Apa kau sedang melamun atau ada sesuatu yang memberatkan pikiran mu?” tanya gadis itu.
“Tidak ada.”
“mari ikut aku.” Kata gadis itu seraya menuju pohon sakura.
__ADS_1