Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 35 membangkitkan elemen


__ADS_3

“ayah, ibu, lihatlah anakmu ini!” Talina berlari kencang. Orang-orang yang melihatnya heran, karena setahunya mustahil bisa berlari secepat itu dalam kondisi seperti itu.


Di area semua orang terkejut, bahkan hoshi yang berada di sebuah ruangan, melihat dari jendela, berdecap kagum melihat tekad dan semangat Talina. Hoshi tidak menyangka Talina yang sudah kehabisan tenaga dan energi bisa berlari secepat itu, bahkan samar-samar dia melihat aura mulai muncul dalam tubuh Talina.


“gadis ini sungguh menarik,” Gumam Hoshi lalu tersenyum melihat kecepatan Talina semakin cepat.


Di tempat juri, Klarika tersenyum. Dia senang melihat siswanya bisa bertahan sampai sejauh ini, yang mungkin tidak bisa Siswa lain lakukan. Walau dia tahu, Talina siswa yang memiliki bakat yang rendah dan mungkin sangat sulit untuk mengalahkan anulika, kini dia lebih yakin bisa menyeimbangkan anulika atau memberikan perlawanan yang sengit.


 Walaupun belum bisa mengalahkannya, tapi setidaknya ada harapan untuk mendapatkan nilai tinggi untuk lolos. “Talina kau layak menjadi siswaku.” Klarika tersenyum.


Kai dan Hendry melihat ini juga terkejut dengan perubahan Talina, mereka tidak menyangka Talina bisa lari secepat itu dalam kondisi tubuh yang kelelahan dan tekanan yang kuat seperti itu. Jika awalnya mereka tidak tertarik dan hanya ingin menunggu seberapa lama lagi Talina bisa bertahan, kini mereka tertarik dengan teknik-teknik yang akan dikeluarkan oleh Talina.


Di tempat para siswa, semuanya berbisik-bisik mengenai perubahan Talina dan berspekulasi tentang perubahan yang mendadak ini. Beberapa dari mereka berdiskusi mengenai ini, beberapa juga terlihat penasaran dan yang lainya sangat bersemangat lagi menonton pertarungan.


Thomi memandang Talina dengan tersenyum, dan berkata, “Talina, tunjukkan kekuatanmu.”


Simo dan namila di sampingnya memasang ekspresi serius ke arena. Mereka juga terkejut.


Setelah sekian lama mengamati, akhirnya namila berkata, “apa kau ada petunjuk mengenai ini?”


Di saat bersamaan dengan Namila bertanya, Talina dengan cepat mengayunkan payungnya. Payung yang tadinya sangat berat, kini dengan mudah dia ayunkan, bahkan angin yang mengikuti lebih kencang.


Merasakan ini, Talina sangat senang dan wajahnya mulai terbit seperti matahari setelah hujan. Talina mengayunkan payungnya dengan keras.


Setelah beberapa lama mengamati, simo akhirnya menjawab, “mari kita berdiskusi mengenai ini nanti.” Seolah itu sangat penting, dan namila mengerti.


Namila mengangguk. “kau membuatku penasaran.”


Setelah mengatakannya, namila dan simo tidak berkata-kata lagi, mereka sibuk mengamati pertarungan.

__ADS_1


Kembali ke arena. Di arena Talina menyerang anulika dengan intens. Setiap gerakannya sangat cepat dan kuat, membuat anulika heran dan penasaran, mengenai apa yang menyebabkan gadis di depannya kini memiliki energi begitu besar, seolah tidak pernah bertarung dengannya. Bahkan gerakan Talina seolah tidak terpengaruh oleh tekanan aura anulika.


Walau begitu, itu masih belum cukup mengenai anulika yang terus menghindar.


Setelah beberapa saat menyerang, jantung Talina berdegup kencang, Tubuhnya memanas. Seraya mengerutkan keningnya, Talina membatin, ‘apa yang terjadi?’


Walaupun terasa aneh, tapi tidak dipungkiri Talina masih memiliki kekuatan yang besar untuk bertarung. Dari dalam tubuhnya terlihat ribuan titik-titik biru di suatu tempat yang sangat gelap. Perlahan-lahan titik-titik biru bergerak menyatu, lalu membentuk pusaran biru seperti tornado.


Perlahan-lahan ruangan yang awalnya gelap perlahan berubah memutih dan akhirnya putih sepenuhnya, memperlihatkan pulau yang indah dan penuh bunga warna-warni dan rerumputan. Pusaran itu akhirnya menjadi butiran-butiran kuning keemasan dan membentuk sosok gadis cantik dengan rambut yang sangat panjang melebihi tubuhnya.


Gadis ini tersenyum sebelum akhirnya pecah menjadi butiran-butiran lagi. Butiran itu lalu bergerak melalui lubang darah dan tersebar dalam tubuh Talina.


Talina dapat merasakan tekadnya perlahan-lahan menjadi semakin kuat. Dari tangan kirinya muncul air.


“ini?” Talina Terkejut menyadari itu. Dia memilih mundur untuk melihatnya dengan cermat.


Melihat air di tangan Talina, anulika menghentikan serangannya.


Ini sungguh aneh, apalagi dia sangat ingat, terakhir, dia berada di tingkat fisik tahap tuju, yang berarti masih ada tiga tahap lagi untuk mencapai tingkat bumi untuk membangkitkan kekuatan elemennya. Dan membangkitkannya harus dengan bantuan orang lain. Selain itu, rasanya aneh jika bisa naik tingkat tiga tahap sekaligus dan langsung membangkitkan kekuatan elemen.


“apa ini nyata?” Talina berusaha menggunakan airnya dan mencoba menyentuhnya.


Saat jarinya menyentuh Air itu, dia merasa dingin. Senyuman seketika mekar di wajahnya. “ini asli!”


Dia kemudian mencoba airnya membentuk sesuatu. Perlahan-lahan air di tangannya berubah, dari setetes air menjadi bola air. “Akhirnya bisa. Ayah, ibu, aku bisa!” Gumam Talina. Hatinya kini sangat bergembira, mendapati dirinya bisa mengendalikan elemen air.


Sementara itu, thomi tersenyum Melihatnya. “kau selangkah lebih maju.” Dia senang dan bergembira atas keberhasilan dan berkah yang didapatkan Talina, tapi dia juga iri dengannya. Di dalam hatinya, dia menjadi bersemangat untuk mengejarnya.


Di lapangan Talina masih memperhatikan air di tangannya. Wajahnya sangat berseri-seri ketika melihat air di tangannya bergerak-gerak sesuai keinginannya. Awalnya agak sulit tapi setelah itu dia terbiasa melakukannya.

__ADS_1


Orang-orang yang melihat ini heran sekaligus kagum. Mereka tidak menyangka akan ada peristiwa seperti ini terjadi saat pertarungan. Walaupun ada beberapa orang iri, lebih banyak orang yang senang melihatnya, karena mereka tahu pasti gadis yang tengah berada di lapangan kini berjuang keras. Membangkitkan elemennya tanpa bantuan orang lain, tentu saja ini aneh, tapi hal itu mungkin setara dengan apa yang telah dia lakukan selama ini.


“Bisa kita bertarung sekarang!” ujar anulika setelah beberapa saat terdiam. Walau dia tidak peduli dengan keberhasilan Talina, dia sangat peduli dengan dirinya sendiri.


Udara yang terik, tentu saja membuat anulika gerah dan ingin cepat mengakhiri pertarungannya.


“b-baik.” Talina terkejut dan berkata gugup.


Talina kembali mempersiapkan diri. Dari telapak tangannya muncul dua bola air yang berputar-putar.


Anulika tersenyum. Saat hendak melesat, suara seseorang menghentikan langkahnya dan begitu pun dengan Talina. Mereka tanpa sadar menoleh ke arah Klarika.


“Ada apa bu Klarika?” tanya Talina yang penuh dengan rasa penasaran.


“kau menyerah saja.” Kata klarika tanpa ekspresi apa pun.


Menyerah? Tentu saja ini membuat Talina heran. Seraya mengerutkan keningnya, dia bertanya, “mengapa bu?”


“ikuti perintah walimu saja. Walau kau sudah membangkitkan elemenmu, kau belum bisa mengendalikannya dengan baik. Menyerah adalah keputusan yang terbaik. Jika kau tidak menurutinya, maka bersiaplah untuk angkat kaki dari sini.” Ancam Klarika yang membuat semuanya terkejut.


Hendry menoleh, lalu bertanya, “klarika, apa kau sudah gila?”


“Diam! Ini urusanku dengan siswaku, kau tidak boleh ikut campur.” Jawab klarika membentak. Dia tidak akan segan-segan menentang jika seseorang ingin mencampuri urusannya dengan siswanya, bahkan jika itu Kepala sekolah sekali pun.


Klarika bersikap seperti itu, bukan tanpa alasan. Saat melihat Talina mengeluarkan air, dia menyadari ada sesuatu yang aneh darinya, bukan karena peningkatan Talina yang cepat atau berhasil membangkitkan elemen secara tiba-tiba. Melainkan, elemen air yang Talina keluarkan sangat aneh.


Biasanya, energi yang di pancarkan oleh seseorang setelah membangkitkan elemen tidak bisa menyebar secara cepat, melainkan perlahan-lahan, dan juga biasanya orang yang membangkitkan elemennya tidak mungkin tidak merasakan sakit sedikit pun, apalagi bisa bertarung, itu sungguh aneh.


Selain itu, klarika merasakan bukan elemen air yang di miliki oleh Talina, melainkan elemen yang lain dan unik. Untuk menjaga keselamatan siswanya, klarika memilih menghentikan pertarungan dan menyuruh Talina menyerah saja. Walau menyerah, Klarika akan meluluskan untuk ujian pertamanya.

__ADS_1


Walaupun itu akan mengecewakannya, dia tidak punya pilihan lain, selain melakukan itu, baginya risikonya terlalu berbahaya, apalagi jika itu elemen yang belum di ketahui.


Di dunia ini, bukan hanya ada elemen alam saja, tapi banyak, dan itu belum dapat di pastikan.


__ADS_2